
Foto bersama Teman Tuli dan Teman Dengar
“Cerisyarat” atau Cerita Tentang Kita dan Bahasa Isyarat merupakan wadah diskusi yang diselenggarakan pertama kali oleh teman-teman Juru Bahasa Isyarat (JBI) se-DIY.
Berslogan “Ngobrol Santai Tentang Juru Bahasa Isyarat” kegiatan ini dilaksanakan Minggu (20/01/19).
Berawal dari keresahan teman-teman JBI yang merasakan ketiadaan generasi jurbah, maka munculah ide kegiatan ini.
Sesuai namanya “Cerisyarat”, acara ini membahas seputar bahasa Isyarat, Tuli, sekaligus sharing pengalaman teman-teman JBI selama menjadi JBI untuk teman-teman Tuli.
Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 55 peserta dengar dan 6 orang Tuli. Bertempat di
Rumah Makan Lohjinawi Sleman Yogyakarta. Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00—12.00 WIB.

Sambutan oleh Teman Tuli
Kegiatan ini dibuka oleh MC, dilanjutkan dengan sambutan oleh teman-teman Tuli. Mereka mengungkapkan kebahagiannya melalui kata-kata dan dari raut wajah mereka. Dengan kedatangan para peserta yang di luar ekspektasi panitia penyelenggara, memberi keyakinan bahwa kepedulian masih mengalir di zaman milenial ini, untuk peduli terhadap sesama.

Sesi Acara
Harapan mereka dan tentunya juga harapan kita semua melalui kegiatan ini, adalah kita sebagai manusia dapat lebih menyadari keberadaan manusia yang lain bahwa perlunya saling membantu. Selain itu, terselenggaranya Cerisyarat ini merupakan langkah awal para relawan JBI untuk terkumpul dalam satu wadah. Wadah ini akan memudahkan komunikasi apabila ada kebutuhan JBI untuk acara informal. Dalam kegiatan ini juga disampaikan informasi bahwa komunitas Deaf Art Community akan mengadakan pelatihan juru bahasa Isyarat dengan memperhatikan etika JBI. Sehingga akan ada generasi baru untuk JBI.
(PSIBK, Januari 2019)
Belum lama ini Indonesia menyelenggarakan dua event olahraga terbesar se-Asia, yaitu Asian Games dan Asian Para Games. Nah, kali ini kami akan membahas tentang Asian Para Games 2018 (APG). Sebelum membahas lebih lanjut, kita cari tahu dulu bedanya Asian dengan ASEAN yuk…
Negara ASEAN (Association of South East Asian Nations) hanya terdiri dari negara-negara yang terletak di Asia Tenggara, sedang Asian mencakup wilayah yang lebih luas yaitu seluruh benua Asia. Nah, teman-teman sudah paham kan sekarang perbedaannya. Pembahasan kali ini akan lebih membahas tentang Asian Para Games, pesta olahraga terbesar se-Asia untuk atlet-atlet disabilitas.

Di tahun ini, APG dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta mulai dari tanggal 6 – 13 Oktober 2018. Ini untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga difabel tingkat Asia. Sebanyak 18 cabang olahraga dipertandingkan termasuk tiga cabang olahraga baru yang baru diperkenalkan. Mengambil tema “The Inspiring Spirit and Energy of Asia”, APG bertekad untuk menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi seluruh masyarakat baik di Indonesia, Asia, maupun dunia.
Ada yang menarik dari APG tahun ini. Logo dan maskot APG dibuat untuk mengenalkan dan menggambarkan keharmonisan antara tiga elemen dasar yang dipegang teguh dalam filosofi Asia, yaitu The Sky, The Sun, and Nature. Di dalam logonya juga terdapat lingkaran stadion Gelora Bung Karno yang berisi siluet moving man yang mewakili mobilitas. Maskot APG memiliki panggilan unik yaitu Momo yang berarti motivasi dan mobilitas, berupa seekor Elang Bondol yang hampir punah.

Opening ceremony yang begitu berkesan di hati masyarakat Asia membuat closing ceremony APG 2018 yang dilaksanakan 8 hari setelahnya sangat dinantikan. Dimeriahkan oleh penampilan menarik dari berbagai bintang tamu nasional dan mancanegara serta berbagai atraksi yang menghibur, semua orang terutama teman-teman disabilitas merasa bahagia menghadiri perhelatan tersebut. Kemudahan akses dan fasilitas juga dirasakan oleh teman-teman disabilitas. Bukan hanya karena keistimewaan acaranya, seluruh rakyat Indonesia bangga karena Indonesia berhasil meraih peringkat 5 dengan perolehan medali 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu (total 135 medali). Prestasi yang membanggakan ini diraih oleh atlet-atlet disabilitas Indonesia dari berbagai cabang olahraga. Hal ini merupakan kemajuan yang signifikan jika dibandingkan dengan Asian Para Games 2014 yang berhasil membawa pulang 38 medali saja.
Akhir kata, kami berharap agar atlet disabilitas Indonesia dapat terus berkarya dan meraih prestasi di Asian Para Games berikutnya maupun di ajang perlombaan yang lain. Tak lupa juga kami sampaikan pesan untuk teman-teman semua agar turut berpartisipasi aktif menyemarakkan ajang perlombaan disabilitas dimanapun, khususnya Indonesia. Karena, dukungan kita adalah energi kemenangan bagi mereka.
Sumber foto :
https://www.sattoraji.com/2017/12/asian-para-games-2018-logo-dan-maskot-baru-yang-penuh-makna.html
Referensi :
https://asianparagames2018.id/en/
(PSIBK, November 2018)
You could even purchase permanent paper if you’re essay writing service really looking to get creative together.
Terdapat 3 faktor penyebab Tuna Daksa, yakni Prenatal (sebelum kelahiran), faktor Neonatal (saat lahir) dan Postnatal (setelah kelahiran).
Kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang terjadi sebelum bayi lahir atau ketika dalam kandungan dikarenakan faktor genetik dan kerusakan pada sistem saraf pusat. Faktor yang menyebabkan bayi mengalami kelainan saat dalam kandungan adalah: Anoxia prenatal, hal ini disebabkan pemisahan bayi dari plasenta, penyakit anemia, kondisi jantung yang gawat, shock, dan percobaan pengguguran kandungan atau aborsi, gangguan metabolisme pada ibu, bayi dalam kandungan terkena radiasi, radiasi langsung mempengaruhi sistem syaraf pusat sehingga sehingga struktur maupun fungsinya terganggu, ibu mengalami trauma (kecelakaan). Trauma ini dapat mempengaruhi sistem pembentukan syaraf pusat. Misalnya ibu yang jatuh dan mengalami benturan keras pada perutnya dan mengenai kepala bayi akan mengganggu sistem syaraf pusat, infeksi atau virus yang menyerang ibu hamil sehingga mengganggu perkembangan otak bayi yang dikandungnya.
Mengalami kendala saat melahirkan, seperti: Kesulitan melahirkan karena posisi bayi sungsang atau bentuk pinggul ibu yang terlalu kecil, pendarahan pada otak saat kelahiran, kelahiran prematur, penggunaan alat bantu kelahiran berupa tang karena mengalami kesulitan kelahiran yang mengganggu fungsi otak pada bayi, gangguan plasenta yang mengakibatkan kekurangan oksigen yang dapat mengakibatkan terjadinya anoxia dan pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan adalah contoh faktor Neonatal penderita Tuna Daksa. Pemakaian anestasi yang berlebihan ketika proses operasi juga dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi yang berakibat pada disfungsi otak.
Walaupun proses melahirkan sudah berlalu, tidak ada jaminan seorang individu untuk terbebas dari Tuna Daksa seumur hidupnya. Penyakit seperti meningitis (radang selaput otak), enchepalitis (radang otak), influenza, diphteria, dan partusis adalah beberapa penyakit yang dapat berdampak fatal menyebabkan disfungsi otak. Selain itu, mengalami benturan keras di bagian kepala, dan terjatuh dari tempat yang tinggi tanpa menggunakan pengaman kepala juga merupakan faktor penyebab Tuna Daksa.
Sumber : http://digilib.uinsby.ac.id/
(PSIBK, November 2018)

Judul Film : Koe No Katachi (A Silent Voice)
Tahun Rilis : 2016
Negara : Jepang
Sutradara : Naoko Yamada
Penulis Naskah : Reiko Yoshida
Produksi : Kyoto Animation
Jenis Film : Drama
Durasi Film : 2 jam 10 menit
Resensi
Film Koe No Katachi (A Silent Voice) merupakan sebuah film drama remaja animasi Jepang. Film ini menceritakan kisah cinta remaja Tuli dan dengar. Terdengar cukup klise, namun menariknya, film ini tidak banyak menyuguhkan melodrama sebagaimana film romansa yang lain.
Kisahnya berawal sejak Shouya Ishida dan Shouko Nishimiya duduk di bangku Sekolah Dasar. Nishimiya adalah seorang siswi pindahan yang selalu menjadi ejekan teman-teman di kelasnya hanya karena ia adalah seorang Tuli. Sedangkan Ishida merupakan teman sekelas Nishimiya yang paling sering mengejek dan melakukan perbuatan yang jahil kepada Nishimiya. Perbuatan Ishida dan teman-teman sekelasnya membuat Nishimiya lelah dan memutuskan untuk keluar dari sekolah barunya. Diluar dugaan, momen tersebutlah yang menjadi titik balik hidup Ishida. Ishida berubah drastis.
Singkat cerita, takdir kembali mempertemukan Ishida dengan Nishimiya. Ishida meminta maaf kepada Nishimiya dengan tulus atas semua perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Namun bukanlah hal yang mudah untuk memperbaiki hubungan. Keduanya membutuhkan waktu lama untuk akhirnya menjalin hubungan sebagai teman karena memiliki luka batin dan trauma yang besar. Ishida dengan ketulusan hatinya berusaha meruntuhkan tembok penghalang itu dengan sungguh-sungguh mempelajari bahasa isyarat agar dapat memperbaiki kondisi yang ada. Hingga pada akhirnya, Ishida mampu meluluhkan hati Nishimiya dan memulai kisah baru yang bahagia.
Kelebihan
Film ini menceritakan kehidupan sehari-hari dengan sangat realistis. Salah satu yang paling dominan dalam film ini adalah peristiwa bullying yang juga marak terdengar di telinga masyarakat. Beragam pesan moral secara tak langsung dibagikan kepada penontonnya, terutama dalam mendorong sikap empati masyarakat terhadap teman-teman berkebutuhan khusus di sekeliling kita. Masyarakat secara tak langsung juga diajak untuk ikut mempelajari bahasa isyarat karena nyatanya komunikasi tak hanya lewat suara, komunikasi bisa berbentuk apa saja, termasuk tanpa produksi suara. Selain itu, alur cerita yang disuguhkan tidak mudah ditebak. Penonton akan banyak dibuat penasaran pada beberapa segmen film sekaligus tak bosan untuk menontonnya hingga selesai. Keindahan grafis animasi yang ditampilkanpun sangat ciamik dan menjadi salah satu keunggulan film ini.
Kekurangan
Kekuatan emosional antara dua tokoh utama dirasa kurang tereskplor dengan massive. Hal itu membuat kesan romansa film kurang dapat dirasakan oleh penonton. Namun bisa jadi faktor tersebut disukai oleh beberapa pihak tertentu. Akhir ceritapun kurang jelas serta meninggalkan kesan janggal.
Komunikasi tak hanya lewat suara. Komunikasi bisa berbentuk apa saja, termasuk tanpa produksi suara, misalnya isyarat bahasa
(PSIBK, November 2018)

Judul : Shafa – Saatnya Tunarungu Bicara
Pengarang : Eimond Eisya
Penerbit : Memoira Publisher
Tahun Terbit : 2009 – Cetakan pertama
Jumlah halaman : 218 halaman
Resensi
Shafa Husnul Khatimah atau kerap disapa Shafa merupakan seorang Tuli sejak lahir. Dunia senyap yang telah ia alami sejak lahir ini, tidak pernah disadari oleh kedua orangtuanya sedari awal. Dengan kemolekan paras dan kesantunan sikapnya, banyak orang yang seakan terbius sosok Shafa. Berbagai kelebihan yang melekat padanya membuat Shafa tampak seperti anak-anak lain yang tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Hingga pada suatu hari salah satu anggota keluarga merasa ada yang tidak beres dengan Shafa.
Pembuktian dilakukan ibu Shafa melalui tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry). Shafa dinyatakan mengalami Tuli berat, tidak dapat mendengar apapun kecuali mendengar suara pesawat dalam jarak 10 meter. Hasil dari tes tersebut membuat kondisi keluarga Shafa berubah total. Orangtua Shafa semakin terpuruk saat mengetahui vonis dari dokter pada tes BERA yang kedua. Shafa dinyatakan tuli total. Namun mereka bangkit kembali dan tetap berjuang demi masa depan Shafa.
Tindakan apakah yang dilakukan oleh keluarga untuk mendukung Shafa hingga akhirnya dapat meraih banyak prestasi? Bagaimana Shafa berinteraksi dengan teman-teman sebaya dan lingkungannya? Semua pencapaian yang berhasil diraih tentu merupakan buah dari perjuangan diri Shafa sendiri, keluarganya dan juga berkat kebaikan banyak orang di sekitar.
Kelebihan
Penulis menceritakan kisah hidupnya dengan alur yang sangat teratur. Bermula sejak ia dilahirkan hingga perjuangannya mencapai apa yang ia harapkan. Penulis juga mendeskripsikan setiap peristiwa yang dialami dengan terperinci sehingga membuat pembaca turut hanyut dalam situasi yang diceritakan. Selain itu, dalam buku ini juga terdapat foto-foto penulis beserta orang-orang terdekatnya yang selalu membantu menghadapi berbagai problema yang ada. Media foto tersebut membantu pembaca membayangkan kisahnya dengan secara lebih nyata.
Kekurangan
Terdapat beberapa istilah yang menggunakan bahasa Sunda, yang merupakan bahasa daerah penulis. Hal tersebut membuat pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda harus mencari tahu makna kata-kata tersebut agar mengerti jalan cerita dengan lebih jelas. Pembaca buku ini juga dituntut untuk mau belajar dan mengenal kata-kata ilmiah kedokteran karena penulis kerap menyertakan beberapa istilah medis tanpa penjelasan yang lengkap.
Sumber gambar :
(PSIBK, Oktober 2018)

Judul Film : Taare Zameen Par
Tanggal Rilis : 21 Desember 2007
Negara : India
Sutradara : Aamir Khan
Penulis : Amole Gupte
Produksi : Aamir Khan Productions
Sinematografi: Setu
Durasi : 2 jam 42 menit 32 detik
Music : Shankar-Ehsaan-Loy, Prasoon Joshi
Jenis Film : Drama Edukasi
Resensi
Film ini bercerita tentang jatuh bangun hidup seorang Ishaan, anak berusia 8 tahun yang memiliki kesulitan belajar. Diusianya saat itu, Ishaan belum bisa menghafal angka maupun huruf dengan benar. Kemampuan akademisnya di sekolah sangat tertinggal dibandingkan dengan teman-teman sebayanya dan juga kakak kandungnya. Film ini menarik untuk disaksikan karena mengandung banyak pesan moral, seluruh aktornya sangat menjiwai peran sehingga membuat penontonnya hanyut dalam cerita. Sosok Ishaan memiliki karakter sebagai anak yang sulit mengikuti pembelajaran di kelas, namun selalu ceria, ekspresif dan suka berimajinasi. Yohaan, kakak Ishaan, memiliki karakter pintar, penurut, dan kalem. Ayahnya memiliki sifat sangat tegas dan kaku. Berbeda dengan sang Ayah, sosok sang Ibu berkarakter lemah lembut dan pengertian. Pak Nikumbh, guru Ishaan, digambarkan sebagai sosok yang peka, sabar dan berjiwa sosial.
Masalah mulai muncul ketika keluarga Ishaan yang tidak menyadari bahwa Ishaan adalah anak dengan kebutuhan khusus. Kelurganya, terutama sang Ayah, selalu menuntut Ishaan untuk terus belajar dan meraih nilai tinggi. Ayahnya juga kerap membandingkan Ishaan dengan kakaknya yang sangat pintar secara akademis. Berdasarkan berberapa pertimbangan, Ayahnya memasukkan Ishaan ke sekolah asrama biasa. Sang Ayah enggan memasukkan Ishaan ke Sekolah Luar Biasa karena ia menolak untuk percaya bahwa anaknya memiliki keterbatasan. Hal tersebut berdampak negatif pada kondisi psikologis Ishaan.
Pak Nikumbh, salah satu guru di sekolah, ingin mengembalikan sifat Ishaan yang ceria dan kreatif. Ia selalu memberi dukungan dengan mengatakan bahwa Ishaan pasti akan menjadi orang hebat dan sukses. Dengan seizin kepala sekolah, Pak Nikumbh mendampingi Ishaan belajar membaca dan menulis dengan sabar dan intensif. Seiring berjalannya waktu, Ishaan tidak pernah lagi mendapat nilai merah di sekolah. Hal itu membuat keluarga dan orang-orang yang mengenal Ishaan sangat bangga terhadapnya. Tak berhenti berusaha untuk membantu, Pak Nikumbh juga memiliki ide untuk mengadakan lomba melukis di sekolah. Melalui perlombaan itu, seluruh hadirin tercengang melihat hasil karya Ishaan yang luar biasa indah. Tak ada satupun yang menyangka bahwa Ishaan memiliki talenta melukis.
Perpaduan antara alur, tokoh, suasana latar, dinamika konflik yang tersaji dalam film ini membuat para penontonnya hanyut terbawa suasana. Selain itu, film ini juga menyuarakan beragam pesan moral bagi pemirsanya. Secara tidak langsung, film ini ingin mengedukasi masyarakat agar memiliki sikap peduli, peka dan berwawasan luas terhadap segala keterbatasan dan kelebihan seseorang. Selain itu, film ini juga menghimbau para orang tua agar senantiasa menjalin komunikasi yang baik dan mendukung anak bagaimanapun kondisinya. Ada juga amanat untuk para pendidik, yakni hendaknya selalu mendidik siswanya dengan tulus dan sabar sesuai dengan keistimewaannya.
Selain menyerukan berbagai pesan moral, film ini juga memberikan pengetahuan bagi para penontonnya tentang ciri-ciri anak dengan disleksia (salah satu tipe kesulitan belajar). Film ini juga memberi pengetahuan mengenai metode pembelajaran khusus bagi anak dengan disleksia seperti Ishaan. Sebagai penutup, film edukatif ini sangat layak ditonton bagi semua kalangan. Siap-siap terhanyut dalam suasana yaaa… Selamat menyaksikan.
(PSIBK, Oktober 2018)
Faktor Penyebab Tunagrahita
Sebelum menyinggung tentang penyebab Tunagrahita, dalam DSM-5 American Psychiatric Association-Diagnostic sudah mengganti sebutan Retardasi Mental (Mental Retardation) menjadi Keterbatasan Intelektual (Intellectual Disability). Di Indonesia sendiri, istilah tersebut dikenal dengan Tunagrahita.
Merujuk pada DSM-5, faktor penyebab Tunagrahita adalah karena faktor genetik atau fisiologis. Ketika masih berada dalam kandungan, bayi dapat mengalami gangguan kromosom atau penyakit bawaan dari ibu atau adanya pengaruh eksternal seperti alkohol, obat-obatan, dan racun yang mempengaruhi pertumbuhan otak janin. Bayi yang pernah memiliki riwayat kejang juga berpotensi mengalami Tunagrahita.
Klasifikasi Tunagrahita
Klasifikasi pada Tunagrahita dibagi menjadi 4 jenis berdasarkan tingkatan IQ anak, yaitu mild, moderate, severe, dan profound.
Karakteristik anak pada kategori ini mengalami perkembangan fisik yang agak lambat dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Mereka juga kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik di sekolah. Namun mereka dapat melakukan keterampilan praktis dan rumah tangga sehingga kelak dapat hidup secara mandiri.
Dilihat dari perkembangan bahasanya, anak memiliki kemampuan komunikasi yang sederhana bahkan hanya komunikasi untuk menyampaikan kebutuhan dasar seperti makan, mandi, dan minum. Penampilan fisiknya juga menunjukkan kelainan sebagai gejala bawaan. Meskipun begitu, mereka masih dapat dididik untuk mengurus dirinya sendiri meskipun membutuhkan proses yang cukup lama.
Pada rentang ini, anak tidak mampu untuk mengurus dirinya sendiri maupun melakukan tugas-tugas sederhana. Anak dengan Tunagrahita memiliki gangguan bicara dan kelainan fisik yang dapat dilihat pada bagian lidah serta ukuran kepala yang lebih besar dari ukuran kepala normal. Secara keseluruhan, kondisi fisik mereka lemah karena mengalami gangguan fisik motorik yang cukup berat.
Pada kategori terberat ini, anak menunjukkan kelainan fisik dan intelegensi dalam bentuk ukuran kepala yang membesar seperti hyrdrochephalus dan mongolism. Mereka juga membutuhkan pelayanan medis yang intensif karena kemampuan beradaptasi yang sangat kurang. Terlebih lagi, mereka tidak dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan orang lain.
Ciri-Ciri Tunagrahita
James D. Page (1995) menyebutkan beberapa ciri-ciri yang dimiliki oleh penyandang Tunagrahita, yaitu kecerdasan intelektual, sosial, fungsi mental, dorongan dan emosi, kemampuan berbahasa, kemampuan secara akademis, dan kemampuan berorganisasi. Berikut penjelasannya:
Tingkat kecerdasan penyandang Tunagrahita selalu di bawah rata-rata teman sebayanya. Perkembangan kecerdasannya juga sangat terbatas. Umumnya, mereka hanya mampu mencapai tingkat usia mental setingkat anak SD kelas IV atau bahkan ada yang hanya mampu mencapai tingkat usia mental anak pra-sekolah.
Kemampuan bidang sosial anak Tunagrahita mengalami keterlambatan. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan anak Tunagrahita yang rendah dalam hal mengurus, memelihara, dan memimpin dirinya sendiri sehingga acap kali tidak mampu bersosialisasi dengan orang lain.
Anak Tunagrahita mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang mampu menghadapi tugas.
Perkembangan dorongan emosi anak Tunagrahita berbeda-beda tergantung pada tingkat klasifikasi Tunagrahita yang dimiliki. Pada tingkat Severe dan Profound, penyandang Tunagrahita umumnya tidak dapat menunjukkan dorongan untuk mempertahankan diri. Contoh, mereka tidak dapat memberi tahu saat sedang merasa lapar, tidak dapat menjaukan diri saat mendapat stimulus yang memberikan rasa sakit. Secara umum, kehidupan emosinya terbatas pada perasaan senang, takut, marah, dan benci.
Kemampuan bahasa anak Tunagrahita sangat terbatas, terutama pada perbendaharaan kata. Anak Tunagrahita tingkat Severe dan Profound umumnya memiliki gangguan bicara berat yang disebabkan cacat artikulasi dan masalah dalam pembentukan bunyi di pita suara dan rongga mulut.
Anak Tunagrahita sulit mempelajari sesuatu yang bersifat akademis, terutama membaca dan berhitung. Namun, hal ini dapat diatasi dengan melakukan pendampingan belajar yang mendasar dan intensif.
Dari berbagai penelitian oleh Leahy, Balla, dan Zigler (dalam Hallahan & Kauffman, 1988), disebutkan bahwa anak Tunagrahita umumnya memiliki kepercayaan diri yang rendah sebab tidak mampu mengontrol dirinya sendiri dan bergantung pada orang lain. Hal tersebut berdampak pada kemampuan berorganisasi yang sangat kurang.
Sumber:
(PSIBK, Oktober 2018)
So if you would like how to start paper to be prosperous, you need to make sure that you’re writing an essay your audience is going to be interested in.


Bahasa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam komunikasi antar umat manusia. Tepat pada tanggal 23 September 2018, dunia merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional. Bahasa tersebut menjadi sarana komunikasi dengan teman-teman Tuli di seluruh dunia. Hal yang sama juga dirasakan di Kota Yogyakarta, dimana teman-teman Tuli maupun dengar turut berpartisipasi merayakan hari istimewa ini. Acara yang dibuka dengan pawai pada pukul 15.00 WIB tersebut dimulai dari Hotel Grand Inna Malioboro dan diakhiri di titik 0 Kilometer Malioboro.
Semangat yang dipancarkan oleh seluruh peserta memberikan makna mendalam bagi masyarakat yang berada di sepanjang Jalan Malioboro. Baik pedagang, pembeli, pengguna jalan, maupun pejalan kaki turut menyaksikan pawai dan mengapresiasi kegiatan ini. Mengangkat tema “Dengan Bahasa Isyarat, Semua Orang Terlibat” memberi gambaran secara nyata respon positif yang diberikan masyarakat terhadap acara perayaan Hari Bahasa Isyarat Internasional di Yogyakarta. Hal ini terlihat dari adanya beberapa pengunjung yang mendekati teman Tuli untuk belajar bahasa isyarat. Tak hanya itu, beberapa pedagang dan pejalan kaki juga meminta ornamen pawai untuk mempromosikan kegiatan ini.
Setibanya di 0 Kilometer Yogyakarta, seluruh peserta diberikan waktu untuk beristirahat sejenak sembari menyantap makanan yang disediakan panitia. Peserta kemudian dipersilakan duduk di tempat yang telah disediakan untuk menikmati rangkaian acara selanjutnya. Sambutan disampaikan oleh ketua panitia, Arief Wicaksono, yang mengucapkan terima kasih atas keterlibatan seluruh partisipan serta menjelaskan secara singkat mengenai sejarah Hari Bahasa Isyarat Internasional. Sesi selanjutnya ialah pelepasan balon merah jambu dan putih yang dilakukan oleh beberapa peserta. Setelah seluruh balon diterbangkan, seluruh peserta acara disuguhkan pertunjukkan tari yang mengagumkan dari perwakilan Deaf Art Community. Sebagai acara penutup, panitia menyediakan hadiah undian bagi peserta yang dapat menjawab pertanyaan dari pemandu acara dengan menggunakan bahasa isyarat.
Seluruh peserta terlihat antusias dan ceria mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir. Semua orang bahagia, semua orang terlibat menggunakan bahasa isyarat.
(PSIBK, September 2018)

Data Film
Judul : Breathe (2017)
Jenis film : Drama, Romantis
Durasi film : 117 menit
Breathe merupakan salah satu film yang diangkat dari kisah nyata keluarga Cavendish yang mampu mendorong para penontonnya untuk terus memiliki semangat hidup meskipun dilingkupi keterbatasan. Dibintangi oleh aktor papan atas Hollywood, Andrew Garfield dan Claire Foy sebagai pasangan suami-isteri, membuat jalan cerita dalam film ini berhasil menyayat hati. Film yang mengangkat konflik hidup Robin Cavendish ini diproduseri oleh anak kandungnya sendiri, Jonathan Cavendish. Bertemakan kehidupan pada tahun 50-70an, ia mengangkat kisah ayahnya dalam sebuah sekuel sebagai penghargaan atas perjuangan hidup mendiang ayah dan ibunya yang menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Robin merupakan seorang pemuda berkharisma, tak terkecuali Diana yang memiliki pesona kecantikan yang luar biasa. Kedua pribadi ini kemudian saling jatuh cinta hingga memutuskan ke jenjang pernikahan. Mereka melalui masa-masa awal pernikahan yang bahagia di Afrika, hingga kabar baik pun menghampiri mereka. Mereka akan segera menjadi sosok orang tua.
Sangat disayangkan, di masa kehamilan Diana, Robin dikabarkan terkena penyakit polio yang menyebabkan seumur hidupnya akan dijalani di rumah sakit. Hal ini menyebabkan Robin depresi dan menginginkan hidupnya berakhir. Sampai pada kelahiran putranya dan beriringan dengan pertumbuhanya, Robin tidak mau melihat anaknya dan menginginkan kematiannya. Hingga Diana mempertanyakan apa yang diinginkan Robin. Robin menginginkan dirinya bebas dan keluar dari rumah sakit. Perjuangan Diana mengeluarkan Robin dari rumah sakit tidaklah mudah. Risiko kematian dapat mengancam kehidupan Robin. Perjuangan Diana tidaklah sia-sia. Berbekal dari bantuan seorang dokter yang sangat peduli pada dirinya, Robin berhasil menikmati hari-harinya bersama keluarga yang
sangat dicintainya. Teddy, teman Robin, mengembangkan kursi roda dengan alat respirator yang melekat di belakangnya. Berkat kursi roda inilah, pengidap polio lainnya turut serta dapat menikmati kehidupan di luar wilayah rumah sakit. Semangat yang dihidupi oleh Robin untuk tetap bertahan hidup telah memberikan inspirasi bagi banyak orang dan membuat dia dapat melihat putranya tumbuh dan berkembang hingga dewasa.
(PSIBK, September 2018)