Shafa – Saatnya Tunarungu Bicara

Shafa – Saatnya Tunarungu Bicara

 

Judul                           : Shafa – Saatnya Tunarungu Bicara

Pengarang                  : Eimond Eisya

Penerbit                      : Memoira Publisher

Tahun Terbit             : 2009 – Cetakan pertama

Jumlah halaman        : 218 halaman

 

 

Resensi

Shafa Husnul Khatimah atau kerap disapa Shafa merupakan seorang Tuli sejak lahir. Dunia senyap yang telah ia alami sejak lahir ini, tidak pernah disadari oleh kedua orangtuanya sedari awal. Dengan kemolekan paras dan kesantunan sikapnya, banyak orang yang seakan terbius sosok Shafa. Berbagai kelebihan yang melekat padanya membuat Shafa tampak seperti anak-anak lain yang tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Hingga pada suatu hari salah satu anggota keluarga merasa ada yang tidak beres dengan Shafa.

Pembuktian dilakukan ibu Shafa melalui tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry). Shafa dinyatakan mengalami Tuli berat, tidak dapat mendengar apapun kecuali mendengar suara pesawat dalam jarak 10 meter. Hasil dari tes tersebut membuat kondisi keluarga Shafa berubah total. Orangtua Shafa semakin terpuruk saat mengetahui vonis dari dokter pada tes BERA yang kedua. Shafa dinyatakan tuli total. Namun mereka bangkit kembali dan tetap berjuang demi masa depan Shafa.

Tindakan apakah yang dilakukan oleh keluarga untuk mendukung Shafa hingga akhirnya dapat meraih banyak prestasi? Bagaimana Shafa berinteraksi dengan teman-teman sebaya dan lingkungannya? Semua pencapaian yang berhasil diraih tentu merupakan buah dari perjuangan diri Shafa sendiri, keluarganya dan juga berkat kebaikan banyak orang di sekitar.

 Kelebihan

Penulis menceritakan kisah hidupnya dengan alur yang sangat teratur. Bermula sejak ia dilahirkan hingga perjuangannya mencapai apa yang ia harapkan. Penulis juga mendeskripsikan setiap peristiwa yang dialami dengan terperinci sehingga membuat pembaca turut hanyut dalam situasi yang diceritakan. Selain itu, dalam buku ini juga terdapat foto-foto penulis beserta orang-orang terdekatnya yang selalu membantu menghadapi berbagai problema yang ada. Media foto tersebut membantu pembaca membayangkan kisahnya dengan secara lebih nyata.

Kekurangan

Terdapat beberapa istilah yang menggunakan bahasa Sunda, yang merupakan bahasa daerah penulis. Hal tersebut membuat pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda harus mencari tahu makna kata-kata tersebut agar mengerti jalan cerita dengan lebih jelas. Pembaca buku ini juga dituntut untuk mau belajar dan mengenal kata-kata ilmiah kedokteran karena penulis kerap menyertakan beberapa istilah medis tanpa penjelasan yang lengkap.

 

Sumber gambar :

https://www.google.com/search?q=Shafa+-+Saatnya+Tunarungu+Bicara&safe=strict&client=firefox-b-ab&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiUxPHtyoreAhUV2o8KHTeVDawQ_AUIDygC&biw=1366&bih=627#imgrc=UFjoP66UwsDVMM:

(PSIBK, Oktober 2018)

About the author

Admin PSIBK administrator

Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Englighting and empowering people with special needs

You must be logged in to post a comment.