Category Archive Artikel

Upaya yang Dapat Dilakukan Dosen untuk Menangani Anak Autis

Semakin banyak anak dan remaja dengan autisme yang bersekolah hingga perguruan tinggi. Perkembangan ini menjadi langkah positif menuju pendidikan yang lebih inklusif. Namun, transisi ke lingkungan akademik yang kompleks sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa dengan autisme baik dalam aspek sosial, komunikasi, maupun penyesuaian terhadap rutinitas belajar yang dinamis. Dalam konteks ini, peran tenaga pengajar sangatlah penting. Dosen tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang aman, suportif, dan ramah terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa. Berikut beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mendukung mahasiswa dengan autisme di perguruan tinggi:

  • Raising Awareness and Acceptance: Upaya ini berfokus pada peningkatan kesadaran dan penerimaan terhadap mahasiswa dengan autisme di lingkungan kampus. Dosen dapat berperan dengan mendorong kegiatan yang meningkatkan pemahaman komunitas kampus, seperti seminar, diskusi publik, atau perayaan Autism Awareness Month yang mengangkat tema inklusivitas. Selain itu, pembentukan kelompok dukungan (ally or support groups) dapat menjadi wadah berbagi pengalaman dan membangun empati di antara civitas akademika. Melalui pendekatan ini, kampus dapat menciptakan budaya yang lebih terbuka terhadap keberagaman, menjadikan autisme bagian dari spektrum keragaman manusia, serta memperhatikan kebutuhan sensorik mahasiswa agar mereka dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan akademik dan sosial (Ackles et al., 2014).
  • Coaching and Mentoring: Pendekatan ini menekankan hubungan pendampingan yang suportif antara dosen dan mahasiswa dengan autisme. Melalui proses coaching dan mentoring, mahasiswa dibimbing untuk mengidentifikasi kekuatan diri, menetapkan tujuan akademik, serta mengembangkan keterampilan sosial dan emosional. Hubungan yang nonjudgmental dan penuh empati memungkinkan mahasiswa merasa aman untuk bereksperimen dengan perilaku baru dan membangun kepercayaan diri. Pendampingan dapat dilakukan secara individual, dalam kelompok kecil, maupun melalui peer mentoring, dengan tujuan akhir menumbuhkan kemandirian, keterhubungan sosial, serta keberhasilan akademik mahasiswa dengan autisme (Ackles et al., 2014).
  • Menawarkan survei atau Kuesioner pra-semester: Dosen dapat memberikan survei singkat sebelum perkuliahan dimulai untuk mengenali kekhawatiran atau kebutuhan mahasiswa terkait mata kuliah. Informasi ini membantu dosen menyesuaikan aktivitas kelas dan jenis tugas agar lebih sesuai dengan kebutuhan individu. Selain itu, teknik ini memungkinkan mahasiswa, termasuk mereka yang berada dalam spektrum autisme, untuk menyesuaikan tugas dengan minat pribadi mereka. Pendekatan seperti ini dapat membantu mengurangi rasa kewalahan, kebingungan, atau stimulasi berlebih yang sering dialami mahasiswa autis (Nachman, 2022).
  • Menggunakan prinsip Universal Design for Learning (UDL): Dosen bisa menyediakan tugas alternatif (misalnya: pilihan menulis, presentasi visual, atau proyek video) dan menyediakan berbagai format materi (video, teks, grafik) sehingga mahasiswa dengan autisme dapat memilih yang paling sesuai dengan gaya belajar mereka (Grogan, 2015).
  • Menciptakan struktur kelas yang jelas dan konsisten: Dosen sebaiknya membuka kelas dengan agenda harian, menggunakan slide yang menampilkan urutan aktivitas, dan mengumumkan perubahan (misalnya pergantian dosen atau lokasi kelas) beberapa hari sebelumnya. Langkah sederhana ini dapat membantu mahasiswa autis yang sering kali merasa cemas dengan perubahan mendadak (Dixon, 2019).

 

 

 

Daftar Pustaka

Ackles, L., Boman, M., Brown, J. T., Cornman, D., Lubbers, P., McGarry, B., & Rigler, M. (2014). Emerging practices for supporting students on the autism spectrum in higher education: A guide for higher education professionals. Rochester Institute of Technology. https://paautism.org/wp-content/uploads/2019/05/A-Guide-for-Higher-Education-Professionals.pdf

Grogan, G. (2015). Supporting Students with Autism in Higher Education through Teacher Educator Programs. SRATE Journal, Vol. 24, No. 2.

Nachman, B. R. (2022). Preparing Future Faculty to More Inclusively Teach Autistic College Students: Examining an Inclusive Teaching Professional Development Course. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, Vol. 33, No. 3.

Dixon, R. (2019, June 28). Supporting students with autism: Strategies that really work in the classroom [Article]. NSW Teachers Federation. https://cpl.nswtf.org.au/journal/semester-2-2019/supporting-students-with-autism-strategies-that-really-work-in-the-classroom/

 

Penulis: Aura Ainela Kasih

Get To Know About Autism

Menurut American Psychological Association (APA) Autism Spectrum Disorder (ASD) merujuk kepada kelompok gangguan dengan onset yang biasanya terjadi pada usia prasekolah dan ditandai dengan kesulitan untuk komunikasi sosial dan interaksi sosial, serta pola-pola perilaku, ketertarikan, dan aktivitas yang berulang dan terbatas. Autism sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko. Berdasarkan Santrock (2024), faktor risiko penyebab terjadinya autism terbagi menjadi empat aspek, yaitu aspek organik, aspek intrapersonal, aspek interpersonal, dan aspek superordinat. Aspek organik meliputi penyebab genetik, gangguan neurologis, komplikasi saat kehamilan, paparan zat beracun serta kekurangan nutrisi selama kehamilan. Aspek intrapersonal mencakup  kesulitan dalam theory mind (sulit memahami perspektif atau perasaan orang lain), masalah regulasi emosi, serta kesulitan dalam mengelola stres atau perubahan. Selanjutnya, aspek interpersonal, berkaitan dengan kurangnya interaksi sosial, tidak adanya minat terhadap kontak mata atau senyum pada usia dini, kesulitan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal, serta adanya stres dalam keluarga. Adapun pada aspek superordinat, mencakup kondisi status sosial ekonomi yang rendah, kurangnya akses ke layanan kesehatan, lingkungan parental yang kurang mendukung, serta lingkungan dengan minim edukasi maupun akses terhadap intervensi dini. Karakteristik Autisme menurut DSM 5-TR (2022), yaitu:

A. Defisit yang menetap dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial (di berbagai konteks), ditunjukkan oleh:

  • Defisit dalam timbal balik sosial-emosional, misalnya:
    1. Kesulitan memulai atau mempertahankan percakapan.
    2. Minimnya berbagi minat, emosi, atau afeksi dengan orang lain.
    3. Respons sosial yang terbatas terhadap interaksi.
  • Defisit dalam perilaku komunikasi nonverbal, misalnya:
    1. Kontak mata yang tidak konsisten.
    2. Ekspresi wajah, gerak tubuh, atau bahasa tubuh yang terbatas/aneh.
    3. Kesulitan memahami atau menggunakan isyarat sosial nonverbal.
  • Defisit dalam mengembangkan, mempertahankan, dan memahami hubungan, misalnya:
    1. Kesulitan menyesuaikan perilaku dengan berbagai konteks sosial.
    2. Sulit berbagi imajinasi dalam permainan.
    3. Sulit membangun atau mempertahankan pertemanan.

B. Pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan repetitif, ditunjukkan oleh minimal 2 gejala berikut:

  1. Gerakan, penggunaan benda, atau ucapan yang stereotip/repetitif, misalnya:
    1. Mengepakkan tangan, mengulang kata/frasa (echolalia).
    2. Menyusun benda secara kaku.
  2. Ketekunan pada kesamaan, misalnya:
    1. Sangat sulit menghadapi perubahan.
    2. Kaku dengan rutinitas tertentu.
    3. Pola berpikir atau perilaku ritualistik.
  3. Minat yang sangat terbatas dan intens, misalnya:
    1. Terfokus berlebihan pada suatu objek/topik.
    2. Intensitas atau keluasan minat yang tidak wajar.
  4. Hiper- atau hipo-reaktivitas terhadap input sensorik, misalnya:
    1. Sangat sensitif terhadap suara, cahaya, atau tekstur tertentu.
    2. Terpesona pada aspek sensorik (misalnya mengamati gerakan roda berulang kali).

C. Gejala harus muncul sejak periode perkembangan awal

(bisa baru terlihat jelas ketika tuntutan sosial meningkat atau tersamarkan di masa kecil).

D. Gejala menyebabkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya.

E. Gangguan tidak lebih baik dijelaskan oleh disabilitas intelektual atau keterlambatan perkembangan global.

Anak dengan gangguan spektrum autisme (GSA) memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ada anak yang mampu mengikuti pembelajaran di kelas reguler dengan sedikit pendampingan, tetapi ada pula yang lebih sesuai belajar di kelas khusus dengan struktur yang terarah. Hal ini bergantung pada kemampuan komunikasi, kognitif, serta keterampilan diri yang dimiliki masing-masing anak. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang dipilih tidak bisa disamakan, melainkan perlu disesuaikan dengan usia, gaya belajar, serta hambatan yang dialami anak. Beberapa strategi pembelajaran terbukti bermanfaat dalam mendukung anak autis untuk berkembang:

  1. Sensori Integrasi (SI), metode ini membantu anak melatih kemampuan sensoriknya, seperti sentuhan, penciuman, penglihatan, rasa, dan pendengaran. Bagi anak yang cenderung hiperaktif, SI dapat membuat mereka lebih fokus pada aktivitas tertentu.
  2. Terapi Bermain, dengan bermain anak dapat belajar mengenal benda sekaligus melatih motoriknya. Aktivitas sederhana seperti memasukkan bola ke keranjang, menyusun puzzle, atau melewati rintangan bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan.
  3. Terapi Okupasi, pendekatan ini ditujukan bagi anak dengan keterbatasan fisik atau motorik. Fokusnya pada kegiatan sehari-hari, seperti makan, berpakaian, atau berjalan, sehingga anak lebih mandiri dalam aktivitas dasarnya.
  4. Intervensi Perilaku (IP), strategi ini menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan spesifik anak. Materi bisa berupa pengenalan huruf, angka, atau warna. Dengan pendekatan yang individual, anak lebih terbantu untuk menguasai keterampilan akademik maupun keterampilan hidup (Ivony & Desmawati, 2018).

Meskipun memiliki manfaat, tiap strategi juga menyimpan kelemahan. Pada Sensori Integrasi, tidak semua anak mampu merespons sesuai harapan, misalnya tidak merasakan tekstur pasir yang basah. Dalam Terapi Okupasi, ada anak yang justru tidak mampu mengontrol diri, seperti melemparkan baju ketika diajarkan berpakaian. Pada Terapi Bermain, perilaku anak bisa sulit ditebak; ada kalanya mereka tiba-tiba berteriak atau melempar mainan. Sementara pada Intervensi Perilaku, beberapa anak menolak instruksi, bahkan menangis ketika diperkenalkan dengan benda baru (Ivony & Desnawati, 2018).

Selain strategi khusus di atas, terdapat prinsip umum yang perlu diterapkan agar pembelajaran lebih efektif yaitu: (1) Lingkungan belajar yang kondusif (suasana tenang, terstruktur, dan minim distraksi membantu anak lebih fokus), (2) Rutinitas yang konsisten (jadwal yang jelas membuat anak merasa aman dan memahami apa yang diharapkan), (3) Pendekatan visual (penggunaan gambar, kartu, diagram, atau media konkret lebih mudah dipahami anak dengan GSA), (4) Metode interaktif (melibatkan anak secara aktif melalui permainan atau aktivitas kreatif meningkatkan konsentrasi dan keterlibatan), (5) Pemanfaatan media audio (instruksi melalui rekaman suara atau perangkat pendukung dapat membantu pemahaman), (6) Kolaborasi dengan terapis (bimbingan dari tenaga ahli memberikan strategi tambahan sesuai kebutuhan individu anak), (7) Penguatan positif (pemberian pujian atau hadiah sederhana ketika anak berhasil fokus atau menyelesaikan tugas akan meningkatkan motivasi belajar) (Rahmawati & Sunardi, 2024).

Daftar Pustaka:

American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.; DSM-5-TR). American Psychiatric Publishing.

Ivony, T., & Desmawati, L. (Februari 2018). STRATEGI PEMBELAJARAN ANAK AUTIS DI SLB AUTISMA YOGASMARA, SEMARANG. Jurnal Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah, Vol. 3, No. 1, Hal. 17-24.

Rahmawati, S., & Sunardi. (2024). Optimalisasi Fokus: “Strategi Pembelajaran untuk Meningkatkan Konsentrasi pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA)”. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(2), 2527-2534. https://doi.org/10.58230/27454312.599

Santrock, J. W. (2024). Essentials of life-span development (8th ed.). McGraw-Hill Education.

Penulis:

Ancilla Lukma Prasadi

Laura Helzi Situmorang

Aura Ainela Kasih

Book of the Month ( Mei 2023): THE BELL JAR

Saya merasa seperti saya terkunci di dalam suatu jaring laba-laba,

yang terus menyempit dan menyempit,

dan saya harus melawan untuk keluar.”

Read More

Down Syndrome dan Working Memory

Berbicara mengenai Down Syndrome tentu bukanlah suatu hal yang baru bagi kita. Down Syndrome disebabkan oleh kelainan genetik pada semua atau beberapa sel dalam tubuh seseorang. Tubuh manusia terdiri dari sel, di mana setiap sel mengandung inti yang di dalamnya menyimpan gen. Gen yang dikelompokan dalam struktur benang yang disebut kromosom. Orang dengan sindrom Down memiliki 47 kromosom (normalnya 46 kromosom). Kelainan genetik ini terjadi pada kromosom 21 yang jumlahnya menjadi tiga buah (normalnya dua buah kromosom).

Read More

Book of the Month (April 2023): Jika Aku Mereka

Bagaimana jadinya apabila suatu saat dunia kita menjadi gelap?

Kebisingan di sekitar kita menjadi hening?

Atau bahkan suara kita tak bisa lagi tersampaikan?

Read More

Movie of The Month (March 2023): “Can You Hear Me?”

Berawal dari pengalaman kehilangan ayahnya saat bencana tsunami Aceh 2004. Mutia yang merupakan seoarang gadis Tuli,   Read More

Book of the Month (February 2023): The Pretty One

“I should learn to sit in my joy longer and not immediately apologize for being proud and happy.”-Keah Brown

Read More

Hidup tanpa Batas ala Nick Vujicic: Book of the Month January 2023

“The age-old, time-proven, undeniable truth is that you and I may have absolutely no control over what happens to us, but we can control how we respond. If we choose the right attitude, we can rise above whatever challenges we face.” – Nick Vujicic

Read More

Ibu, Ayah, Sudah Tahukah Tentang Cara Penanganan Anak Difabel?

Mengasuh anak  dengan disabilitas bukanlah hal yang mudah karena dalam beberapa kondisi dimana anak tidak dapat melakukan aktivitas apapun secara mandiri dan perilaku anak tidak terkontrol. Merawat anak dengan kebutuhan khusus tentu saja membutuhkan tanggung jawab dan pengasuhan yang lebih, terutama oleh para Ibu.

Read More

MENGENAL EMPAT JENIS DISABILITAS YUK!!

Berdasarkan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia adalah 920.924 orang. Mungkin saja disekitar kita, kita mempunyai teman, kenalan atau saudara penyandang disabilitas. Nah, sudah tau kah teman-teman kalau disabilitas terdapat empat jenis didalamnya?

Jika belum tahu, ayok simak bersama penjelasan dibawah ini, agar teman-teman inklusi semakin mengenal terkait disabilitas.

Read More