Get To Know About Autism

Get To Know About Autism

Menurut American Psychological Association (APA) Autism Spectrum Disorder (ASD) merujuk kepada kelompok gangguan dengan onset yang biasanya terjadi pada usia prasekolah dan ditandai dengan kesulitan untuk komunikasi sosial dan interaksi sosial, serta pola-pola perilaku, ketertarikan, dan aktivitas yang berulang dan terbatas. Autism sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko. Berdasarkan Santrock (2024), faktor risiko penyebab terjadinya autism terbagi menjadi empat aspek, yaitu aspek organik, aspek intrapersonal, aspek interpersonal, dan aspek superordinat. Aspek organik meliputi penyebab genetik, gangguan neurologis, komplikasi saat kehamilan, paparan zat beracun serta kekurangan nutrisi selama kehamilan. Aspek intrapersonal mencakup  kesulitan dalam theory mind (sulit memahami perspektif atau perasaan orang lain), masalah regulasi emosi, serta kesulitan dalam mengelola stres atau perubahan. Selanjutnya, aspek interpersonal, berkaitan dengan kurangnya interaksi sosial, tidak adanya minat terhadap kontak mata atau senyum pada usia dini, kesulitan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal, serta adanya stres dalam keluarga. Adapun pada aspek superordinat, mencakup kondisi status sosial ekonomi yang rendah, kurangnya akses ke layanan kesehatan, lingkungan parental yang kurang mendukung, serta lingkungan dengan minim edukasi maupun akses terhadap intervensi dini. Karakteristik Autisme menurut DSM 5-TR (2022), yaitu:

A. Defisit yang menetap dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial (di berbagai konteks), ditunjukkan oleh:

  • Defisit dalam timbal balik sosial-emosional, misalnya:
    1. Kesulitan memulai atau mempertahankan percakapan.
    2. Minimnya berbagi minat, emosi, atau afeksi dengan orang lain.
    3. Respons sosial yang terbatas terhadap interaksi.
  • Defisit dalam perilaku komunikasi nonverbal, misalnya:
    1. Kontak mata yang tidak konsisten.
    2. Ekspresi wajah, gerak tubuh, atau bahasa tubuh yang terbatas/aneh.
    3. Kesulitan memahami atau menggunakan isyarat sosial nonverbal.
  • Defisit dalam mengembangkan, mempertahankan, dan memahami hubungan, misalnya:
    1. Kesulitan menyesuaikan perilaku dengan berbagai konteks sosial.
    2. Sulit berbagi imajinasi dalam permainan.
    3. Sulit membangun atau mempertahankan pertemanan.

B. Pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan repetitif, ditunjukkan oleh minimal 2 gejala berikut:

  1. Gerakan, penggunaan benda, atau ucapan yang stereotip/repetitif, misalnya:
    1. Mengepakkan tangan, mengulang kata/frasa (echolalia).
    2. Menyusun benda secara kaku.
  2. Ketekunan pada kesamaan, misalnya:
    1. Sangat sulit menghadapi perubahan.
    2. Kaku dengan rutinitas tertentu.
    3. Pola berpikir atau perilaku ritualistik.
  3. Minat yang sangat terbatas dan intens, misalnya:
    1. Terfokus berlebihan pada suatu objek/topik.
    2. Intensitas atau keluasan minat yang tidak wajar.
  4. Hiper- atau hipo-reaktivitas terhadap input sensorik, misalnya:
    1. Sangat sensitif terhadap suara, cahaya, atau tekstur tertentu.
    2. Terpesona pada aspek sensorik (misalnya mengamati gerakan roda berulang kali).

C. Gejala harus muncul sejak periode perkembangan awal

(bisa baru terlihat jelas ketika tuntutan sosial meningkat atau tersamarkan di masa kecil).

D. Gejala menyebabkan gangguan signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya.

E. Gangguan tidak lebih baik dijelaskan oleh disabilitas intelektual atau keterlambatan perkembangan global.

Anak dengan gangguan spektrum autisme (GSA) memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ada anak yang mampu mengikuti pembelajaran di kelas reguler dengan sedikit pendampingan, tetapi ada pula yang lebih sesuai belajar di kelas khusus dengan struktur yang terarah. Hal ini bergantung pada kemampuan komunikasi, kognitif, serta keterampilan diri yang dimiliki masing-masing anak. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang dipilih tidak bisa disamakan, melainkan perlu disesuaikan dengan usia, gaya belajar, serta hambatan yang dialami anak. Beberapa strategi pembelajaran terbukti bermanfaat dalam mendukung anak autis untuk berkembang:

  1. Sensori Integrasi (SI), metode ini membantu anak melatih kemampuan sensoriknya, seperti sentuhan, penciuman, penglihatan, rasa, dan pendengaran. Bagi anak yang cenderung hiperaktif, SI dapat membuat mereka lebih fokus pada aktivitas tertentu.
  2. Terapi Bermain, dengan bermain anak dapat belajar mengenal benda sekaligus melatih motoriknya. Aktivitas sederhana seperti memasukkan bola ke keranjang, menyusun puzzle, atau melewati rintangan bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan.
  3. Terapi Okupasi, pendekatan ini ditujukan bagi anak dengan keterbatasan fisik atau motorik. Fokusnya pada kegiatan sehari-hari, seperti makan, berpakaian, atau berjalan, sehingga anak lebih mandiri dalam aktivitas dasarnya.
  4. Intervensi Perilaku (IP), strategi ini menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan spesifik anak. Materi bisa berupa pengenalan huruf, angka, atau warna. Dengan pendekatan yang individual, anak lebih terbantu untuk menguasai keterampilan akademik maupun keterampilan hidup (Ivony & Desmawati, 2018).

Meskipun memiliki manfaat, tiap strategi juga menyimpan kelemahan. Pada Sensori Integrasi, tidak semua anak mampu merespons sesuai harapan, misalnya tidak merasakan tekstur pasir yang basah. Dalam Terapi Okupasi, ada anak yang justru tidak mampu mengontrol diri, seperti melemparkan baju ketika diajarkan berpakaian. Pada Terapi Bermain, perilaku anak bisa sulit ditebak; ada kalanya mereka tiba-tiba berteriak atau melempar mainan. Sementara pada Intervensi Perilaku, beberapa anak menolak instruksi, bahkan menangis ketika diperkenalkan dengan benda baru (Ivony & Desnawati, 2018).

Selain strategi khusus di atas, terdapat prinsip umum yang perlu diterapkan agar pembelajaran lebih efektif yaitu: (1) Lingkungan belajar yang kondusif (suasana tenang, terstruktur, dan minim distraksi membantu anak lebih fokus), (2) Rutinitas yang konsisten (jadwal yang jelas membuat anak merasa aman dan memahami apa yang diharapkan), (3) Pendekatan visual (penggunaan gambar, kartu, diagram, atau media konkret lebih mudah dipahami anak dengan GSA), (4) Metode interaktif (melibatkan anak secara aktif melalui permainan atau aktivitas kreatif meningkatkan konsentrasi dan keterlibatan), (5) Pemanfaatan media audio (instruksi melalui rekaman suara atau perangkat pendukung dapat membantu pemahaman), (6) Kolaborasi dengan terapis (bimbingan dari tenaga ahli memberikan strategi tambahan sesuai kebutuhan individu anak), (7) Penguatan positif (pemberian pujian atau hadiah sederhana ketika anak berhasil fokus atau menyelesaikan tugas akan meningkatkan motivasi belajar) (Rahmawati & Sunardi, 2024).

Daftar Pustaka:

American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.; DSM-5-TR). American Psychiatric Publishing.

Ivony, T., & Desmawati, L. (Februari 2018). STRATEGI PEMBELAJARAN ANAK AUTIS DI SLB AUTISMA YOGASMARA, SEMARANG. Jurnal Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah, Vol. 3, No. 1, Hal. 17-24.

Rahmawati, S., & Sunardi. (2024). Optimalisasi Fokus: “Strategi Pembelajaran untuk Meningkatkan Konsentrasi pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA)”. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(2), 2527-2534. https://doi.org/10.58230/27454312.599

Santrock, J. W. (2024). Essentials of life-span development (8th ed.). McGraw-Hill Education.

Penulis:

Ancilla Lukma Prasadi

Laura Helzi Situmorang

Aura Ainela Kasih

About the author

Admin PSIBK administrator

Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Englighting and empowering people with special needs

You must be logged in to post a comment.