Faktor Penyebab Tunagrahita
Sebelum menyinggung tentang penyebab Tunagrahita, dalam DSM-5 American Psychiatric Association-Diagnostic sudah mengganti sebutan Retardasi Mental (Mental Retardation) menjadi Keterbatasan Intelektual (Intellectual Disability). Di Indonesia sendiri, istilah tersebut dikenal dengan Tunagrahita.
Merujuk pada DSM-5, faktor penyebab Tunagrahita adalah karena faktor genetik atau fisiologis. Ketika masih berada dalam kandungan, bayi dapat mengalami gangguan kromosom atau penyakit bawaan dari ibu atau adanya pengaruh eksternal seperti alkohol, obat-obatan, dan racun yang mempengaruhi pertumbuhan otak janin. Bayi yang pernah memiliki riwayat kejang juga berpotensi mengalami Tunagrahita.
Klasifikasi Tunagrahita
Klasifikasi pada Tunagrahita dibagi menjadi 4 jenis berdasarkan tingkatan IQ anak, yaitu mild, moderate, severe, dan profound.
Karakteristik anak pada kategori ini mengalami perkembangan fisik yang agak lambat dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Mereka juga kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik di sekolah. Namun mereka dapat melakukan keterampilan praktis dan rumah tangga sehingga kelak dapat hidup secara mandiri.
Dilihat dari perkembangan bahasanya, anak memiliki kemampuan komunikasi yang sederhana bahkan hanya komunikasi untuk menyampaikan kebutuhan dasar seperti makan, mandi, dan minum. Penampilan fisiknya juga menunjukkan kelainan sebagai gejala bawaan. Meskipun begitu, mereka masih dapat dididik untuk mengurus dirinya sendiri meskipun membutuhkan proses yang cukup lama.
Pada rentang ini, anak tidak mampu untuk mengurus dirinya sendiri maupun melakukan tugas-tugas sederhana. Anak dengan Tunagrahita memiliki gangguan bicara dan kelainan fisik yang dapat dilihat pada bagian lidah serta ukuran kepala yang lebih besar dari ukuran kepala normal. Secara keseluruhan, kondisi fisik mereka lemah karena mengalami gangguan fisik motorik yang cukup berat.
Pada kategori terberat ini, anak menunjukkan kelainan fisik dan intelegensi dalam bentuk ukuran kepala yang membesar seperti hyrdrochephalus dan mongolism. Mereka juga membutuhkan pelayanan medis yang intensif karena kemampuan beradaptasi yang sangat kurang. Terlebih lagi, mereka tidak dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan orang lain.
Ciri-Ciri Tunagrahita
James D. Page (1995) menyebutkan beberapa ciri-ciri yang dimiliki oleh penyandang Tunagrahita, yaitu kecerdasan intelektual, sosial, fungsi mental, dorongan dan emosi, kemampuan berbahasa, kemampuan secara akademis, dan kemampuan berorganisasi. Berikut penjelasannya:
Tingkat kecerdasan penyandang Tunagrahita selalu di bawah rata-rata teman sebayanya. Perkembangan kecerdasannya juga sangat terbatas. Umumnya, mereka hanya mampu mencapai tingkat usia mental setingkat anak SD kelas IV atau bahkan ada yang hanya mampu mencapai tingkat usia mental anak pra-sekolah.
Kemampuan bidang sosial anak Tunagrahita mengalami keterlambatan. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan anak Tunagrahita yang rendah dalam hal mengurus, memelihara, dan memimpin dirinya sendiri sehingga acap kali tidak mampu bersosialisasi dengan orang lain.
Anak Tunagrahita mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang mampu menghadapi tugas.
Perkembangan dorongan emosi anak Tunagrahita berbeda-beda tergantung pada tingkat klasifikasi Tunagrahita yang dimiliki. Pada tingkat Severe dan Profound, penyandang Tunagrahita umumnya tidak dapat menunjukkan dorongan untuk mempertahankan diri. Contoh, mereka tidak dapat memberi tahu saat sedang merasa lapar, tidak dapat menjaukan diri saat mendapat stimulus yang memberikan rasa sakit. Secara umum, kehidupan emosinya terbatas pada perasaan senang, takut, marah, dan benci.
Kemampuan bahasa anak Tunagrahita sangat terbatas, terutama pada perbendaharaan kata. Anak Tunagrahita tingkat Severe dan Profound umumnya memiliki gangguan bicara berat yang disebabkan cacat artikulasi dan masalah dalam pembentukan bunyi di pita suara dan rongga mulut.
Anak Tunagrahita sulit mempelajari sesuatu yang bersifat akademis, terutama membaca dan berhitung. Namun, hal ini dapat diatasi dengan melakukan pendampingan belajar yang mendasar dan intensif.
Dari berbagai penelitian oleh Leahy, Balla, dan Zigler (dalam Hallahan & Kauffman, 1988), disebutkan bahwa anak Tunagrahita umumnya memiliki kepercayaan diri yang rendah sebab tidak mampu mengontrol dirinya sendiri dan bergantung pada orang lain. Hal tersebut berdampak pada kemampuan berorganisasi yang sangat kurang.
Sumber:
(PSIBK, Oktober 2018)
So if you would like how to start paper to be prosperous, you need to make sure that you’re writing an essay your audience is going to be interested in.
You must be logged in to post a comment.
About the author