Karya Tulis,  Podjok Merenung

The One Who Never Left

“Dari semua orang yang pernah singgah dalam hidup, hanya diri sendiri yang tidak pernah benar-benar pergi.”

Selama ini saya sering mendengar nasihat untuk menyayangi diri sendiri, tetapi baru belakangan saya benar-benar memahami maksudnya. Awalnya saya berpikir menyayangi diri sendiri hanya soal memanjakan diri, membeli sesuatu yang disukai, atau beristirahat ketika lelah. Namun setelah melalui beberapa pengalaman, terutama saat merasa kecewa karena bergantung pada orang lain, saya menyadari bahwa menyayangi diri sendiri sebenarnya berkaitan dengan kesediaan untuk hadir dan bertanggung jawab atas diri sendiri, terutama di saat tidak ada orang lain yang bisa diandalkan.

Saya pernah berada pada titik ketika rasa aman saya terlalu bergantung pada orang lain, entah teman dekat maupun keluarga. Ketika mereka tidak dapat hadir sesuai harapan, saya merasa kecewa dan sempat menyalahkan diri sendiri karena merasa terlalu banyak berharap. Dari situ saya mulai belajar bahwa orang lain, sebaik apa pun niatnya, tetap memiliki keterbatasan masing-masing. Mereka pun sedang menghadapi persoalan masing-masing, sehingga wajar apabila mereka tidak selalu bisa hadir sesuai harapan saya. Kesadaran ini membawa saya pada satu kesimpulan sederhana bahwa sebelum berharap pada orang lain, saya perlu terlebih dahulu belajar mengandalkan dan menjaga diri sendiri.

Mengutamakan diri sendiri sering disalahpahami sebagai sikap egois. Namun, menurut saya mengutamakan diri sendiri lebih tepat dimaknai sebagai proses mengenali kebutuhan dan batasan pribadi, kemudian bertindak sesuai dengan itu tanpa harus mengorbankan kesehatan mental demi pengakuan dari orang lain. Proses ini tidak mudah dan tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ada kalanya saya harus belajar menolak hal-hal yang membuat tidak nyaman, menetapkan batasan pada hubungan yang tidak sehat, atau berhenti mencari pengakuan dari orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli. Dalam prosesnya, saya memang sempat merasa sendirian, tetapi perasaan itu berbeda dengan ketidakberdayaan. Justru dari sanalah saya belajar mengenal diri sendiri dengan lebih baik.

Refleksi ini sejalan dengan penelitian Dreisoerner, Junker, dan van Dick (2021) mengenai komponen-komponen self-compassion. Ketiganya menjelaskan bahwa self-compassion terbentuk dari kebaikan pada diri sendiri (self-kindness) yang menggantikan kebiasaan menghakimi diri secara berlebihan, kesadaran akan kemanusiaan bersama (common humanity) yang mengingatkan bahwa kegagalan dan penderitaan merupakan bagian dari pengalaman manusia pada umumnya, serta kesadaran penuh (mindfulness) yang membantu seseorang menghadapi emosi yang menyakitkan tanpa larut secara berlebihan di dalamnya. Dalam penelitian tersebut, Dreisoerner dkk., (2021) menemukan bahwa latihan menulis reflektif yang berfokus pada ketiga komponen ini terbukti mampu meningkatkan sikap welas asih terhadap diri sendiri. Temuan ini relevan dengan pengalaman saya, sebab menyayangi diri sendiri bukan berarti membenarkan setiap kesalahan yang pernah dilakukan, melainkan cara untuk tetap bangkit tanpa terus-menerus menghukum diri sendiri. Ketika saya mulai memperlakukan diri dengan cara yang sama seperti saya memperlakukan orang lain, saya menjadi lebih siap menghadapi kekecewaan, termasuk kekecewaan karena orang lain tidak selalu bisa diandalkan.

Penelitian Al-Refae, Al-Refae, Munroe, Sardella, dan Ferrari (2021) turut memperkuat pemahaman ini. Mereka mengembangkan intervensi berbasis self-compassion dan mindfulness untuk membantu individu mengelola depresi, kecemasan, dan stres. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa intervensi semacam ini mendorong regulasi emosi yang lebih adaptif serta menumbuhkan kebijaksanaan dalam menghadapi tekanan hidup, bukan melalui ketergantungan pada pengakuan eksternal, melainkan melalui kekuatan yang dibangun dari dalam diri. Bagi saya, temuan ini menjadi pengingat bahwa sebelum dapat menghadapi persoalan hidup dengan tenang, saya perlu terlebih dahulu belajar mengatur emosi saya sendiri, bukan menunggu kehadiran orang lain untuk merasa baik-baik saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman ini saya coba terapkan dengan cara yang sederhana. Ketika mengalami kegagalan, saya berusaha untuk tidak menyalahkan diri secara berlebihan, melainkan memperlakukan diri dengan pengertian seperti yang dijelaskan dalam komponen self-compassion, tanpa melepaskan tanggung jawab atas kesalahan yang telah terjadi. Ketika orang lain tidak dapat hadir sesuai harapan, saya belajar untuk tidak menggantungkan seluruh rasa aman pada mereka, melainkan pada kemampuan saya sendiri dalam mengelola emosi dan berpikir jernih, sesuai dengan yang ditunjukkan dalam penelitian Al-Refae dkk., (2021).

Melalui refleksi ini, saya menyadari bahwa memilih dan menyayangi diri sendiri bukan berarti menjauh dari orang lain, melainkan justru memungkinkan saya untuk hadir secara lebih utuh dalam setiap hubungan yang dijalani, tanpa datang dari rasa kosong atau ketergantungan yang berlebihan. Sebab pada akhirnya, satu-satunya rumah yang tidak akan pernah kita tinggalkan dan tidak akan pernah meninggalkan kita adalah diri kita sendiri.

 

Penulis

Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Penyunting

Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025 )

 

Daftar Acuan

Al-Refae, M., Al-Refae, A., Munroe, M., Sardella, N. A., & Ferrari, M. (2021). A self-compassion and mindfulness-based cognitive mobile intervention for depression, anxiety, and stress: Promoting adaptive emotional regulation and wisdom. Frontiers in Psychology, 12, 839. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.648087

Dreisoerner, A., Junker, N. M., & van Dick, R. (2021). The relationship among the components of self-compassion: A pilot study using a compassionate writing intervention to enhance self-kindness, common humanity, and mindfulness. Journal of Happiness Studies, 22, 21–47. https://doi.org/10.1007/s10902-019-00217-4

 

Sumber Gambar

Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)