LAYANAN KAMI

TESTING

Menyediakan layanan psikotes untuk berbagai jenis instansi dengan beragam tujuan, antara lain:

  • Perusahaan: seleksi, promosi, pengangkatan pegawai tetap, dsb;
  • Pendidikan: penerimaan siswa baru, penjurusan, pengarahan jurusan kuliah, minat & bakat, kepribadian, dsb;
  • Tes klasikal dan individual;
  • Pengetesan di dalam dan luar DIY.

Klik untuk daftar psikotes.

KONSELING

Layanan bagi Anda yang membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan permasalahan maupun memerlukan konsultasi psikologis, antara lain:

  • Konseling: bantuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah;
  • Asesmen: penggalian kebutuhan psikologis dengan alat tes psikologi;
  • Konsultasi: pertukaran pikiran untuk mendapatkan solusi.

Klik untuk daftar konseling.

TRAINING

Kami melayani berbagai jenis training untuk pelatihan dan pengembangan bagi sekolah, organisasi, perusahaan, instansi pemerintahan, dan universitas. Jenis team building, fun games, seminar, workshop, motivation training, dan lain sebagainya.

P2TKP memberikan fasilitas seperti psikotes, konseling, merchandise, modul training, P3K, outbond, sertifikat, dokumentasi, hingga asuransi yang dapat didiskusikan bersama.

Klik untuk daftar training.

ULASAN, ARTIKEL, RENUNGAN

Solo Date: Kenapa Itu Penting?

Kapan terakhir kali Anda berjalan-jalan sendirian dan pergi ke tempat yang Anda sukai? Sekadar membaca buku favorit Anda sambil ditemani segelas cokelat hangat atau duduk sendirian di taman sambil menikmati keindahan langit yang perlahan berganti jingga.  Tahukah Anda? Banyak orang mungkin mengetahui aktivitas menghabiskan waktu sendirian itu sebagai me time. Namun, aktivitas tersebut memiliki istilah yang tak kalah menarik yaitu solo date. Solo date menekankan pada aktivitas meluangkan waktu secara sadar untuk menikmati kesendirian dan mengeksplorasi minat pribadi. Ketika seseorang menikmati waktu sendirian, ia seolah-olah menciptakan ruang untuk fokus dan terhubung dengan dirinya sendiri. Adapun menurut Ost Mor, dkk. (2020), kesendirian positif merupakan sebuah pilihan untuk mendedikasikan waktu pada aktivitas atau pengalaman yang bermakna dan menyenangkan yang dilakukan secara mandiri. Aktivitas atau pengalaman ini dapat bersifat spiritual, fungsional, rekreasional, atau jenis lainnya, serta dapat berlangsung dengan atau tanpa kehadiran orang lain. Ketika pertama kali melakukan solo date, berbagai pikiran dan perasaan muncul. Misalnya, ketika pergi ke kafe seorang diri, seseorang dapat merasa takut dan cemas terhadap penilaian orang sekitar seperti tatapan kasihan, heran, dan pertanyaan mengapa ia sendirian. Selain itu, seseorang yang sendirian kerap dianggap kesepian, tidak memiliki teman, atau memiliki sesuatu yang dianggap tidak wajar dalam dirinya. Menurut Philip Koch (1994), masyarakat Amerika bahkan menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang tidak wajar, bermasalah, dan berbahaya. Pandangan inilah yang membuat seseorang enggan untuk pergi sendirian dan melakukan solo date.  Akan tetapi, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pandangan tersebut. Pertama, melakukan pembingkaian ulang (reappraisal) terhadap kesendirian dengan menantang pemikiran bahwa kesepian adalah kondisi yang tidak wajar. Ketika seseorang sendirian atau kesepian, bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Kesepian identik dengan perasaan terasing dari orang lain (Galanaki, 2004, 2005), sedangkan kesendirian menekankan adanya koneksi dan waktu intim bagi diri sendiri. Kedua, memandang kesendirian itu sebagai pengalaman yang bermanfaat dan berdampak positif bagi individu serta mampu mengembangkan potensi diri (flourish) atau disebut juga dengan positive solitude. Kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang ketika sendirian datang dalam bentuk afek positif seperti relaksasi (Nguyen, dkk., 2018). Seseorang yang melakukan positive solitude akan mendapat ruang istimewa untuk mengenal dirinya lebih mendalam dan tumbuh secara personal (self-growth), memulihkan diri dan energinya dari interaksi sosial yang melelahkan (self-care), serta meningkatkan proses kreativitas (creativity atau  productive work).  Menurut Nguyen, dkk. (2021), kesendirian sebagai kondisi tidak bersama orang lain secara fisik justru memberikan berbagai manfaat. Manfaat tersebut dapat terbagi menjadi internal (inward-focused) dan eksternal (outward-focused). Manfaat internal atau terarah ke dalam mencakup peningkatan diri seperti autonomy, self-growth, dan competence. Sedangkan, manfaat eksternal atau terkoneksi ke luar berkaitan dengan peningkatan kualitas koneksi interpersonal. Dalam aspek autonomy, seseorang memiliki kebebasan memilih. Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan solo date, ia tidak lagi merasa terbebani oleh tekanan sosial. Aspek ini juga menekankan pada kemandirian diri. Solo date juga meningkatkan self-growth karena ketika sendirian, seseorang akan lebih berfokus pada dirinya sendiri. Ia menjadi lebih menghargai waktu yang dapat dimanfaatkan untuk berefleksi dan mengenali diri secara mendalam. Ketika seseorang mampu menghadapi kecemasan terhadap stigma dan pandangan negatif  masyarakat mengenai kesendirian, ia akan merasa senang dan puas karena mendapatkan pengalaman baru. Ia pun dapat melakukan solo date tanpa takut dipandang negatif oleh orang lain. Hal ini dapat dipandang sebagai sebuah pencapaian karena individu tersebut berhasil melewati rasa takutnya. Perasaan berhasil dan mampu ini berkaitan dengan aspek competence yang didapatkan ketika seseorang berada dalam kondisi solitude, yang menekankan bahwa ia mampu mengendalikan kecemasan dan menghadapi rasa takutnya secara efektif.  Setelah menghabiskan banyak waktu sendiri, seseorang menjadi lebih sadar akan pentingnya hubungan dan koneksi sosial. Banyak orang akan lebih menghargai waktu bersama orang-orang terdekatnya. Akhirnya, semakin banyak orang yang kembali menjalin komunikasi dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Seperti yang dikemukakan oleh Bailey (dalam Styles, 2024), solo date merupakan bentuk mencintai diri sendiri, menemukan jati diri, pertumbuhan, serta penguatan diri, yaitu waktu untuk mengeksplorasi diri tanpa hiruk-pikuk dan gangguan dari orang lain. Setelah mengetahui banyak manfaat yang didapatkan dari solo date, terdapat beberapa contoh aktivitas yang dapat dilakukan seperti pergi ke toko bunga dan membeli bunga favorit, menonton film tanpa distraksi, memulai kembali olahraga di pusat kebugaran, duduk santai sambil membaca buku yang sudah lama ingin dibaca, pergi ke museum untuk belajar hal baru, atau sekadar berjalan-jalan di taman kota sambil menikmati pemandangan sang surya yang terbenam. Tidak ada waktu spesifik tentang seberapa lama atau seberapa sering seseorang harus melakukan solo date. Hal terpenting dari solo date adalah memberi ruang untuk mengenal diri sendiri serta menikmati waktu di tempat ini dan saat ini.   Penulis: Felicia Naya Pradasiwi (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2024)   Penyunting: Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan: References Gregor, H. (2025, Maret 13). The art of solo dating. mancunion.com. Retrieved December 17, 2025, from https://mancunion.com/2025/03/13/the-art-of-solo-dating/ Novak, J. M. (2025, Februari 11). Why You Should Date Yourself (Plus 39 Self-Date Ideas). believeandcreate.com. Retrieved December 17, 2025, from https://believeandcreate.com/why-you-should-date-yourself-plus-39-self-date-ideas/ Rodriguez, M., Pratt, S., Bellet, B. W., & McNally, R. J. (2025). Solitude can be good— If you see it as such: Reappraisal helps lonely people experience solitude more positively. Journal of Personality, 93, 118-135. https://doi.org/10.1111/jopy.12887 Styles, J. (2024, August 12). Solo Dating: How To Embrace Me Time & Why It Could Improve Your Mental Wellbeing. Service95. Retrieved December 17, 2025, from https://www.service95.com/solo-dating-trend Tovima.com. (2025, October 16). Alone, Not Lonely: The Rise of the ‘Solo Date’. tovima.com. Retrieved Desember 17, 2025, from https://www.tovima.com/society/alone-not-lonely-the-rise-of-the-solo-date Weinstein, N., Hansen, H., & Nguyen, T. (2023). Definitions of Solitude in Everyday Life. Personality and Social Psychology Bulletin., 49(12). https://doi.org/10.1177/01461672221115941 Weinstein, N., Nguyen, T., & Hansen, H. (2021). What Time Alone Offers: Narratives of Solitude From Adolescence to Older Adulthood. Frontiers in Psychology, 12. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.714518 Sumber Gambar: Felicia Naya Pradasiwi

Sakit Saat Itu, Berarti Saat Ini

Dalam hidup, semua orang pasti pernah merasakan yang namanya kegagalan, bukan? Kegagalan dapat terjadi dalam berbagai konteks, seperti  gagal dalam hubungan percintaan, gagal dalam mencapai target pekerjaan, ataupun gagal dalam hal akademis, misalnya tidak lolos masuk universitas impian. Ironisnya, sebuah kegagalan terkadang dianggap seperti aib yang perlu disembunyikan. Padahal kenyataannya, kegagalan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengalaman kegagalan ini tentu saja pernah terjadi dalam hidupku.  Tahun 2021, seharusnya menjadi tahun yang membawaku melangkah maju dan menemukan pengalaman-pengalaman baru. Namun, pada tahun itu langkahku justru harus terhenti. Tahun yang seharusnya membawaku menjadi mahasiswa baru, harus kukubur dalam-dalam. Apakah ini bagian dari rencanaku? Tentu saja tidak. Rencanaku sama seperti siswa pada umumnya, yaitu belajar dan berjuang agar bisa diterima oleh kampus impian. Namun, takdir berkata lain dan masa-masa itu membuatku harus rehat sejenak. Anak zaman sekarang sering menyebutnya dengan gap year. Saat itu, aku merasa seperti tidak memiliki kesempatan yang sama dengan teman-temanku. Mereka melangkah maju, sementara aku masih di tempat yang sama, dengan pertanyaan yang selalu tidak kutemukan jawabannya: Mengapa? Mengapa aku? Disitulah aku menyadari bahwa, aku gagal. Ada perasaan kecewa, sedih, marah, malu, dan merasa tidak cukup mampu. Terlebih lagi, membandingkan diriku dengan yang lain menambah rasa penyesalan dan rasa bersalah terhadap diriku sendiri. Saat itu, aku menganggap bahwa gap year adalah sebuah aib yang perlu disembunyikan, karena jelas hal tersebut merupakan suatu kegagalan yang menyakitkan. Dalam teori resiliensi, hal ini disebut sebagai faktor risiko, yaitu kondisi yang meningkatkan kemungkinan munculnya hasil yang buruk. Masa-masa gap year ini menjadi situasi yang penuh dengan risiko karena membuat munculnya keraguan terhadap kemampuan diri bagi individu yang mengalaminya. Namun seiring berjalannya waktu, aku mencoba untuk menelan semua pil pahit itu, menerima kenyataan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.  Jeda tersebut aku gunakan untuk merefleksikan apa yang sebelumnya terjadi dan menemukan kembali motivasi yang pernah hilang. Aku kembali membuka diri, keluar dari zona nyaman, dan mencoba hal-hal baru yang ada di sekitarku. Aku tidak lagi membandingkan diriku dengan teman-temanku. Aku tidak lagi menyalahkan diriku sendiri atas kegagalan yang aku alami. Hari demi hari kulalui untuk mengenali lebih jauh tentang diriku. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa gap year bukan hanya sekedar keterlambatan, tetapi merupakan proses pertumbuhan diri. Tahun yang awalnya penuh dengan kekecewaan dan rasa malu, berubah menjadi tahun penuh pembelajaran.   Dalam perspektif psikologis, kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan berkembang setelah mengalami tekanan atau kesulitan disebut sebagai resiliensi. Masten (2001), menekankan bahwa resiliensi bukanlah kemampuan luar biasa melainkan ordinary magic, yaitu sumber daya adaptif yang secara alami dapat berkembang pada setiap individu. Teori resiliensi juga menekankan bahwa kegagalan bukan merupakan akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses penting yang melibatkan pengalaman reflektif didalamnya. Individu belajar untuk menerima kenyataan, memahami kesalahan, serta mengevaluasi tujuan yang ingin dicapai. Proses refleksi ini merupakan bagian penting dari resiliensi, karena membantu individu membentuk makna baru dari kegagalan. Sehingga kegagalan tidak lagi dilihat sebagai ketidakmampuan, tetapi sebagai ruang bagi perubahan dan perkembangan diri yang optimal.  Melalui pengalaman tersebut, aku belajar untuk tidak hanya menerima hal-hal baik yang terjadi dalam hidup, namun juga belajar untuk menerima kegagalan. Belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan. Selain itu, belajar untuk melihat kegagalan melalui sudut pandang yang berbeda. Ketika melihat kembali ke belakang, aku tidak lagi melihat gap year sebagai sebuah aib, tapi sebagai pengalaman berharga yang membentuk diriku menjadi lebih kuat seperti sekarang. Terkadang kita perlu berhenti sejenak agar dapat melihat makna yang lebih dalam dan menghargai proses dalam hidup, bukan hanya sekedar mencapai tujuan. Dan pada akhirnya, kegagalan bukan akhir dari segalanya, namun sebuah permulaan untuk sesuatu yang lebih baik.  Penulis Ni Komang Dita Tria Rahayu (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Penyunting Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)    Daftar Acuan Masten, A. S. (2001). Ordinary Magic: Resilience Processes in Development. American Psychologist, 56(3), 227-238.   Sumber Gambar Ni Komang Dita Tria Rahayu

Pygmalion Effect vs Golem Effect: Ekspektasi Sebagai Takdir Hidup Manusia Saat Ini

Pernahkah Anda merasa sedang hidup melalui harapan dan ekspektasi orang lain? Di tengah dunia yang dipenuhi sorotan media sosial, ekspektasi seakan menjadi napas kedua bagi sebagian besar manusia. Sebagai makhluk sosial, Anda tentu pernah merasakan bertumbuh dalam dunia yang semakin pesat dan kompetitif. Harapan dan ekspektasi orang lain masuk dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bagaimana cara Anda berkomunikasi, berpikir, bertindak, hingga menilai diri sendiri. Hal ini menggambarkan hidup menjadi seperti cermin yang tidak hanya memantulkan diri Anda, tetapi juga keyakinan orang lain tentang siapa Anda. Terbentuk suatu paradoks, seolah harapan dan ekspektasi merupakan takdir kehidupan manusia yang berat. Dalam hal ini, harapan serta ekspektasi orang lain dapat menjadi sayap yang membangun hidup manusia. Namun, turut menjadi rantai penahan langkah kehidupannya.    Dalam psikologi, terdapat fenomena yang kerap dikenal sebagai “Pygmalion effect” dan “Golem effect”.  Dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Haynes (2023), secara etimologis istilah “Pygmalion” diambil dari mitos Yunani yang dikisahkan dalam Metamorphoses karya Ovid. Pygmalion merupakan seorang seniman pemahat yang jatuh cinta pada patung ciptaannya sendiri. Bersama dengan bantuan para dewa dan keyakinannya yang kuat, patung tersebut memperoleh kehidupan. Kisah ini merupakan suatu metafora terhadap keyakinan yang mampu membangkitkan potensi tersembunyi seseorang. Sementara itu, kata “Golem” berasal dari legenda Yahudi kuno mengenai makhluk tanah liat yang diciptakan oleh seorang rabbi dengan kekuatan spiritual. Menurut catatan Jewish Museum Berlin, awal penciptaan makhluk ini berkaitan dengan sebuah ritual mistik dengan tujuan mendekatkan diri pada sang pencipta. Ciptaan ini lahir untuk memenuhi tujuan mulia, tetapi berakhir menjadi destruktif sehingga penciptaannya harus dihentikan. Sama seperti makhluk ciptaan yang berakhir menjadi suatu ancaman, Golem Effect menggambarkan bagaimana ekspektasi negatif seseorang terhadap orang lain dapat mengakibatkan suatu kerugian.   Fenomena Pygmalion pertama kali diperkenalkan oleh Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson (1968) melalui eksperimen di sekolah dasar. Studi tersebut menemukan bahwa ketika seorang guru percaya bahwa anak dapat berkembang, ia secara tidak sadar akan memperlakukan anak tersebut dengan lebih positif. Pada akhirnya, hal ini mampu meningkatkan prestasi nyata pada anak melalui peningkatan IQ. Sedangkan, fenomena Golem pertama kali diperkenalkan oleh Babad, E., Inbar, J., dan Rosenthal, R. (1982) sebagai kebalikan dari Pygmalion Effect. Penelitian tersebut memperoleh bahwa siswa yang diyakini memiliki potensi rendah menunjukkan penurunan motivasi dan prestasi. Selain itu, bias harapan yang diberikan oleh guru terhadap muridnya juga dapat mempengaruhi hasil belajar. Temuan-temuan tersebut diperkuat oleh penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Leung dan Sy (2018). Temuannya menjelaskan bahwa Pygmalion Effect merupakan fenomena ketika harapan positif yang diberikan orang lain terhadap diri seseorang dapat meningkatkan kinerja, motivasi, serta hasil nyata. Fenomena ini turut dikenal sebagai “Self-fulfilling prophecy”, di mana keyakinan seseorang terhadap individu lain dapat mewujudkan hasil yang sesuai dengan harapan tersebut. Sementara itu, Golem Effect merupakan ekspektasi negatif dari orang lain yang dapat menurunkan performa dan kepercayaan diri seseorang.   Dalam Kehidupan modern, Pygmalion Effect dan Golem Effect turut memengaruhi cara seseorang berdinamika dalam hidup. Dalam bidang pendidikan, ekspektasi guru terhadap murid dapat menjadi penentu arah perkembangan mereka. Hal serupa juga terjadi di dunia kerja. Atasan yang menaruh kepercayaan dan ekspektasi tinggi pada karyawannya cenderung akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kinerja yang baik. Sedangkan, atasan yang skeptis justru akan menciptakan lingkungan kerja penuh dengan stagnasi serta keraguan. Dalam hubungan sosial, ekspektasi antar individu juga dapat membentuk dinamika emosional. Misalnya, seseorang yang selalu dianggap “tidak mampu diandalkan” bisa saja akan berperilaku demikian karena merasa tidak ada gunanya untuk membuktikan dirinya. Selain itu, dalam  kehidupan canggih saat ini, ekspektasi orang lain dalam media sosial juga mempengaruhi identitas diri seseorang. Bahkan pada tingkat personal sekalipun, ekspektasi dari orang lain yang ditanam oleh seseorang terhadap dirinya sendiri dapat menjadi penentu dalam perjalanan hidup.    Dikutip dari laman Psyche Humanus dengan judul “Pygmalion Effect: Pengaruh Ekspektasi Terhadap Kinerja”, terdapat beberapa cara menerapkan Pygmalion Effect dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, berikan ekspektasi positif terhadap orang lain, dengan memberikan dorongan, umpan balik, dan tantangan yang sesuai dengan orang tersebut. Kedua, perlakukan orang lain dengan penuh keyakinan karena lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang untuk berkembang. Dalam dunia penuh tekanan pada hasil dan persaingan berat, seseorang dapat merasa lebih dihargai serta termotivasi untuk berusaha keras jika berada dalam lingkungan yang baik. Ketiga, bangun kepercayaan diri. Pygmalion Effect dapat bekerja dengan efektif apabila Anda memperhatikan rasa percaya diri orang lain. Hal ini juga berlaku sebaliknya, ketika orang lain juga memperhatikan rasa percaya diri Anda. Dalam konteks ini, berikanlah dorongan agar seseorang mampu melihat diri sendiri dengan cara yang positif serta percaya terhadap kemampuan mereka. Dengan menambah keyakinan bahwa mereka mampu, Anda tidak hanya membantu dalam pencapaian target orang lain, tetapi juga turut membantu dalam menentukan arahan bernilai dalam hidupnya. Terakhir, jangan takut untuk meningkatkan harapan. Terkadang manusia memiliki rasa takut dalam menetapkan harapan tinggi kepada orang lain atas dasar kemungkinan munculnya kegagalan. Namun, memberikan tantangan yang lebih terhadap seseorang justru dapat membawa mereka pada pencapaian yang besar.   Pada akhirnya, kekuatan suatu ekspektasi tidak hanya terletak pada bagaimana seseorang memberi dan membentuk lingkungan yang baik. Hal ini juga didukung dengan cara penyampaian ekspektasi tersebut terhadap orang lain. Komunikasi adalah kunci penting dari penyampaian ekspektasi. Penelitian yang dilakukan oleh Yurong Wang dan Lin Li (2014), menyimpulkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam Pygmalion Effect. Pada konteks ini, cara seseorang menyampaikan harapan, ekspektasi, serta pujian dapat menjadi suatu kekuatan yang membangun maupun menghancurkan kepercayaan diri orang lain. Dalam kehidupan, komunikasi merupakan kunci untuk meminimalisir Golem Effect. Sering kali seseorang salah memberi arti terhadap ekspektasi dan harapan orang lain sebagai suatu beban. Sejatinya, ekspektasi dapat menjadi pedang bermata dua. Pada satu sisi, hal ini dapat mendorong manusia untuk tumbuh. Namun, di sisi lain hal ini dapat berubah menjadi tekanan apabila tidak dikelola dengan baik. Dari sini, kita belahjar bahwa ekspektasi bukan sekadar “takdir”, tetapi juga sebagai pembangun potensi dalam hidup manusia. Maka dari itu, jadilah seseorang yang dapat menaruh benih ekspektasi positif terhadap satu sama lain.   Penulis: Dania Christy Ndapamerang (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)   Penyunting: Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

KLIEN KAMI