LAYANAN KAMI

TESTING

Menyediakan layanan psikotes untuk berbagai jenis instansi dengan beragam tujuan, antara lain:

  • Perusahaan: seleksi, promosi, pengangkatan pegawai tetap, dsb;
  • Pendidikan: penerimaan siswa baru, penjurusan, pengarahan jurusan kuliah, minat & bakat, kepribadian, dsb;
  • Tes klasikal dan individual;
  • Pengetesan di dalam dan luar DIY.

Klik untuk daftar psikotes.

KONSELING

Layanan bagi Anda yang membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan permasalahan maupun memerlukan konsultasi psikologis, antara lain:

  • Konseling: bantuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah;
  • Asesmen: penggalian kebutuhan psikologis dengan alat tes psikologi;
  • Konsultasi: pertukaran pikiran untuk mendapatkan solusi.

Klik untuk daftar konseling.

TRAINING

Kami melayani berbagai jenis training untuk pelatihan dan pengembangan bagi sekolah, organisasi, perusahaan, instansi pemerintahan, dan universitas. Jenis team building, fun games, seminar, workshop, motivation training, dan lain sebagainya.

P2TKP memberikan fasilitas seperti psikotes, konseling, merchandise, modul training, P3K, outbond, sertifikat, dokumentasi, hingga asuransi yang dapat didiskusikan bersama.

Klik untuk daftar training.

ULASAN, ARTIKEL, RENUNGAN

Apa Itu Bahagia Menurutmu?

Pengalaman dalam enam bulan terakhir memunculkan pertanyaan mengenai “apa itu bahagia menurutmu?”. Selama satu bulan, saya menjalani kehidupan di wilayah pinggiran kota yang jauh dari pusat aktivitas. Hari-hari dimulai tanpa deru kendaraan, tanpa merasa terkejar oleh waktu. Kehidupan dijalani dengan tidur beralaskan karpet, berpakaian sederhana tanpa kekhawatiran akan penilaian sosial, serta mengonsumsi hasil kebun sendiri. Kehidupan berjalan perlahan, tanpa tuntutan untuk selalu bergerak cepat, dan dalam kesederhanaan itu muncul rasa bahagia. Di sisi lain, saya juga pernah tinggal beberapa hari di salah satu kota tersibuk di negara ini. Tinggal dan menjalani kehidupan yang sangat terfasilitasi dengan kemewahan. Mandi air hangat, tidur di bawah selimut yang tebal, makan dengan puluhan sajian yang jarang ditemui, serta diantar-jemput dengan kendaraan pribadi dan duduk tenang di kursi penumpang. Ketika mentari menyapa di pagi hari, semua orang bergegas untuk mencapai tempat tujuan. Kehidupan yang serba terfasilitasi dan mewah tersebut tetap dijalani dengan ritme yang cepat dan penuh tuntutan, yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai kebahagiaan.  Pengalaman hidup di dua konteks sosial yang sangat berbeda menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak melekat pada satu bentuk kehidupan tertentu. Hal tersebut dapat hadir baik dalam kesederhanaan maupun kemewahan dengan makna yang berbeda bagi setiap individu. Dari sini, pengalaman ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukan tentang kondisi materi atau standar yang dianggap ideal, melainkan pada pemaknaan dari masing-masing individu. Lalu, apa itu bahagia menurutmu?  Dalam kajian terkini, subjective well-being dipahami sebagai penilaian individu terhadap kehidupannya sendiri, baik secara emosional maupun kognitif (Koivula dkk., 2025).  Artinya, kebahagiaan bersumber dari pengalaman subjek individu. Makna bahagia tidak diperoleh dari penilaian berdasarkan standar yang diciptakan khalayak umum maupun dari materi yang dimiliki. Meskipun kondisi tersebut dapat memengaruhi kebahagiaan, faktor tersebut tidak bersifat mutlak. Selain itu, bahagia bukan berarti ketiadaan pengalaman negatif, seperti penderitaan, kedukaan, maupun kekecewaan (Diener, 1984). Hal tersebut tetap dapat hadir dalam hidup seseorang yang merasa bahagia. Perbedaannya terletak pada cara seseorang memaknai pengalaman tersebut, bukan pada ketiadaan masalah. Penilaian atas kebahagiaan diperoleh dari seluruh aspek hidup, bukan hanya momen tertentu. Artinya, seseorang melakukan penilaian terintegrasi atas kehidupan secara keseluruhan, dari berbagai pengalaman hidup, baik yang menyenangkan ataupun menyedihkan, menjadi satu makna hidup yang utuh. Pemahaman tentang kebahagiaan bersifat subjektif membantu menjelaskan dua kehidupan dengan konteks sosial yang sangat berbeda.  Kehidupan sederhana di pinggir kota dan mewah di pusat kota sama-sama dimaknai bahagia oleh saya yang menjalaninya. Dengan demikian, perbedaan ritme hidup dan fasilitas tidak menentukan kebahagiaan, melainkan bagaimana seseorang memaknai pengalaman hidup dengan konteks tersebut. Berangkat dari gagasan subjective well-being dengan pengalaman hidup di dua dunia yang sangat berbeda mengingatkan saya kembali bahwa bahagia tidak ditentukan dari standar umum yang diciptakan. Kebahagiaan sering dikaitkan dengan hidup yang nyaman yang difasilitasi oleh rumah mewah, makanan lezat, dan kendaraan pribadi. Namun, pengalaman hidup di pinggir kota juga menunjukkan bahwa bahagia dapat dirasakan dengan menikmati singkong hasil kebun sendiri, secangkir teh di teras rumah, memandangi kelap-kelip bintang di malam hari, dan dari tubuh yang tidak terus-menerus dikejar waktu. Di sisi lain, kehidupan di pusat kota memberi pengalaman yang sangat berbeda, yaitu efisiensi dan kemewahan. Dua-duanya memberi pengalaman bahagia, meski wajahnya tidak sama. Refleksi tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan yang seragam, melainkan hasil pemaknaan saya terhadap kehidupan. Mungkin, yang perlu kita pertanyakan bukan lagi “kehidupan seperti apa yang ingin kamu cari?”, melainkan “bagaimana kamu memaknai hidupmu?”. Dengan demikian, makna kebahagiaan kembali pada interpretasi masing-masing individu.   Penulis Ida Ayu Shinta Pradnyani (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Penyunting Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan Koivula, A., Laaninen, M., & Niemelä, M. (2025). Changes in Subjective Well-Being and its Mechanisms during times of crises in finland. Social Indicator Research. https://doi.org/10.1007/s11205-025-03594-x Diener, E. (1984). Subjective Well-Being. Psychological Bulletin. https://doi.org/10.1037/0033-2909.95.3.542    Sumber Gambar https://unsplash.com/photos/woman-spreading-her-arms-r2nJPbEYuSQ

Ketika Anak Dipaksa untuk Menjadi Dewasa Sejak Dini: Menelisik Fenomena Parentification yang Jarang Disadari

Pernahkah sewaktu kecil kita merasa menjadi pilar utama keluarga yang menopang beban emosional orang tua? Atau mungkin kita menjadi sosok pemegang tanggung jawab utama dan pada akhirnya merawat orang tua agar kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi meskipun usia kita masih terbilang dini? Situasi ini dalam ilmu psikologi dapat disebut sebagai parentification. Secara konseptual, parentification merupakan fenomena yang menyangkut segala situasi ketika seorang anak mengambil peran orang dewasa atau pengasuh di keluarganya (Boschet et al., 2021; Polomski et al., 2021).  Parentification memiliki dua jenis, yakni emotional parentification dan instrumental parentification (Dariotis et al., 2023; Tiwari & Woodward, 2025). Emotional parentification terjadi apabila individu memegang posisi untuk mendampingi serta mendukung orang tua secara emosional sehingga menuntut mereka untuk membangun kedewasaan di masa kanak-kanak (Dariotis et al., 2023; Tiwari & Woodward, 2025). Sementara itu, instrumental parentification menyangkut situasi ketika individu menanggung tanggung jawab rumah tangga, seperti membersihkan rumah, berbelanja keperluan rumah tangga, hingga memasak, yang umumnya dipegang oleh pengasuh agar kebutuhan sehari-hari semua anggota keluarga dapat terpenuhi (Dariotis et al., 2023; Tiwari & Woodward, 2025). Umumnya fenomena ini terjadi ketika pengasuh merupakan orang tua tunggal atau single parent, kecanduan narkoba atau alkohol, memiliki keterbatasan fisik, hingga mempunyai gangguan psikologis (Boschet et al., 2021; Polomski et al., 2021) Berdasarkan beberapa studi, fenomena parentification terbilang cukup erat dengan konteks budaya. Masyarakat kulit putih di negara Barat yang menganut nilai individualisme cenderung lebih jarang mengalami parentification dibandingkan dengan keluarga Asia, misalnya keluarga Asia-Amerika dan keluarga Filipina (Cho et al., 2025; Alcantara et al., 2022). Kondisi ini terjadi karena keluarga kulit putih seringkali memiliki pembagian peran yang jelas dan struktural serta mengedepankan kemandirian dibandingkan dengan keluarga Asia yang memiliki karakteristik lebih fleksibel pada dinamika keluarga (Cho et al., 2025; Alcantara et al., 2022). Di samping itu, nilai kolektivisme dan patriarki menjadi faktor lain yang menimbulkan fenomena parentification lebih sering dijumpai di keluarga Asia (Tiwari & Woodward, 2025). Anggapan bahwa orang tua harus dihormati dan dilayani juga lebih umum dijumpai dalam budaya Timur dibandingkan dengan budaya Barat. Akibatnya, fenomena parentification yang menuntut individu untuk menangani keluarga menjadi lebih dianggap wajar dan dampak negatifnya kurang diakui oleh lingkungan sosial (Tiwari & Woodward, 2025).  Terkait kelompok yang rentan mengalami parentification, hasil penelitian menunjukkan mengungkapkan bahwa anak perempuan lebih sering mengalami fenomena parentification karena adanya proses sosialisasi peran dari keluarga agar perempuan tumbuh menjadi “pengasuh” yang baik di kemudian hari (Ciarico, 2024). Proses sosialisasi ini dapat berupa tuntutan mengasuh adik maupun orang tua mereka sendiri (Ciarico, 2024). Literatur-literatur terdahulu telah membuktikan beberapa dampak negatif yang mengikuti fenomena parentification pada perkembangan anak (Tiwari & Woodward, 2025; Ciarico, 2024; Boschet et al., 2021). Dalam penelitian-penelitian tersebut disebutkan bahwa dampak yang paling menonjol adalah hilangnya kesempatan anak untuk menikmati masa kanak-kanak secara optimal. Individu yang sudah dilimpahkan tanggung jawab untuk mengasuh keluarga semenjak kecil akan mencurahkan waktu dan tenaganya dalam aktivitas tersebut alih-alih bermain atau berkegiatan selayaknya anak-anak pada umumnya. Peran yang mendorong anak untuk menjadi lebih dewasa dibandingkan usianya juga dapat menyulitkan mereka untuk bersosialisasi dengan teman sepantaran atau membangun relasi romantis di kemudian hari (Ciarico, 2024; Masiran et al., 2023). Hal ini terjadi karena individu cenderung pribadi yang tertutup dan rentan menarik diri setiap kali mengalami ketidaknyamanan saat menjalani hubungan (Tiwari & Woodward, 2025; Masiran et al., 2023).  Walaupun demikian, ditemukan pula dampak positif dari fenomena ini. Individu mengaku bahwa pengalaman menjadi pengasuh keluarga di masa kecil membuat mereka merasa lebih tangguh (Polomski et al., 2021). Tidak dapat dimungkiri bahwa fenomena parentification ini mencerminkan ketidakadilan dalam sebuah dinamika keluarga. Namun, situasi ini dapat kemudian dapat disadari saat individu beranjak dewasa dan dimaknai secara mendalam.  Individu mampu mengembangkan perspektif negatifnya dan kemudian meninjau ulang pengalaman tersebut dengan pandangan yang lebih luas (Tiwari & Woodward, 2025). Selain itu, tuntutan untuk menjadi sosok dewasa semenjak dini dapat mendorong individu untuk mengembangkan metode dalam menjaga kondisi psikologis maupun emosional mereka (Tiwari & Woodward, 2025). Pada sebuah penelitian, disebutkan bahwa apabila individu mengalami instrumental parentification mereka akan lebih terbantu dalam mengorganisir tugas-tugas akademik dan proses pembelajarannya sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar (Masiran et al., 2023). Masih dalam literatur yang sama, beberapa partisipan menyebutkan kerap menulis (journaling), melakukan mindfulness, hingga membiasakan diri untuk bermeditasi.  Lalu kira-kira apa yang harus dilakukan untuk menangani fenomena parentification? Eratnya fenomena ini dengan budaya di Asia mungkin memberikan tantangan tersendiri. Perlu ditekankan bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya berdampak negatif. Beberapa individu mungkin secara sukarela dan senang hati menjalankan peran ini sedari kecil. Parentification dapat dipandang negatif jika tindakan dan jerih payah individu tidak diapresiasi atau bahkan diremehkan dengan dalih budaya bahwa sudah selayaknya seorang anak berbakti pada orang tua (Boschet et al., 2021). Kondisi ini yang sering kali melahirkan efek-efek negatif yang telah dijelaskan sebelumnya. Tidak ada salahnya untuk menemui pihak profesional seperti psikolog apabila merasa dampak negatif terlalu memengaruhi kehidupan sehari-hari.  Aktivitas seperti mindfulness dapat menjadi alternatif agar membantu individu meningkatkan kesadaran diri serta regulasi emosi (Tiwari & Woodward, 2025). Kedua aspek ini tergolong penting untuk proses pertumbuhan dari situasi traumatis. Selain itu, penting juga mengadakan edukasi mengenai batasan dalam berkeluarga yang sehat dan tetap sesuai dengan konteks budaya (Tiwari & Woodward, 2025) serta mengenai peran orang tua dewasa (adult role taking) pada orang tua atau pengasuh (Masiran et al., 2023). Dukungan sosial dari lingkungan sekitar juga berperan dalam membantu individu yang mengalami fenomena parentification dan merasakan efek negatifnya. Langkah ini dilakukan untuk mengawasi perkembangan serta dinamika individu bersangkutan dengan keluarganya (Polomski et al., 2021).  Dapat disimpulkan bahwa fenomena parentification terkadang tidak sepenuhnya berdampak negatif. Tidak jarang metode ini digunakan orang tua atau pengasuh agar dinamika keluarga tetap stabil saat dihadapkan pada krisis kehidupan. Namun, perlu disadari jika pada dasarnya seorang anak perlu dibiarkan untuk tumbuh sesuai usianya dan tidak dibebani tanggung jawab orang dewasa. Oleh karena itu, kematangan emosional dan psikologis orang tua menjadi faktor penting. Jangan sampai anak bersangkutan mengalami hambatan dan gangguan dalam pertumbuhannya agar di masa depan ia dapat menjadi pribadi yang utuh dan sehat, baik secara jasmani hingga psikologis.   Penulis Alexandra Daniella Arshinta (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)   Penyunting Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan Alcantara, A. S. V., Marrero, X. F., Saquilabon, J. J., & Dominiguez, J. (2022). A phenomenological study of the experiences of parentified Filipino young adults. Proceeding of Biopsychosocial Issues,  Borchet, J., Lewandowska-Walter, A., Polomski, P., Peplinska, A., & Hopper, L. M. (2021). The relations among types of parentification, school achievement, and quality of life in early adolescence: An exploratory study. Frontiers in Psychology, 12. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.635171  Cho, S., Glebova, T., Seshadri, G., Hsieh, A. (2025). A phenomenological study of parentification experiences of Asian American young adults. Contemporary Family Therapy, 47, 225-287. https://doi.org/10.1007/s10591-024-09723-x  Ciarico, I. L. (2024). The parentification of eldest daughters. University of Dakota Dariotis, J. K., Chen, F. R., Park, Y. R., Nowak, M. K., French, K. M., & Codamon, A. M. (2023). Parentification vulnerability, reactivity, resilience, and thriving: A mixed methods systematic literature review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(13), 6197. https://doi.org/10.3390/ijerph20136197  Masiran, R., Ibrahim, N., Awang, H., & Lim, P. Y. (2023). The positive and negative aspects of parentification: An integrated review. Children and Youth Services Review, 144. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2022.106709  Połomski, P., Peplińska, A., Lewandowska-Walter, A., & Borchet, J. (2021). Exploring resiliency and parentification in Polish adolescents. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(21), 11454. https://doi.org/10.3390/ijerph182111454  Tiwari, S., & Woodward, A. (2025). Navigating parentification dualities: A qualitative analysis of cultural influences and growth among South Asian Adults. Contemporary Family Therapy. https://doi.org/10.1007/s10591-025-09764-w    Sumber Gambar Cleveland Clinic. (October 14, 2024). What is parentification? Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/parentification 

Dari Penolakan sampai Penerimaan

Dalam psikologi, kematian merupakan tahap akhir dalam perkembangan manusia. Kematian merupakan sesuatu yang pasti datang dan tidak dapat dielakkan dan akan mengakhiri kehidupan setiap manusia. Kematian dapat menghampiri siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Kematian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Secara psikologis, kematian diartikan sebagai suatu keadaan ketika individu mulai menerima kenyataan akan kematiannya dan menarik diri dari lingkungan sosial,  serta mengalami kemunduran ke dalam diri sendiri. Lebih lanjut dapat dipahami bahwa psikologi mempelajari bagaimana sikap yang diambil dan juga pandangan manusia terhadap masalah kematian serta kondisi psikis  individu ketika kematian yang semakin mendekat (Amaliyah & Turistiani, 2025).  Menurut Berk (2012), terdapat tiga tahap proses transisi dari kehidupan menuju kematian. Tahap pertama disebut fase agonal, yang berarti perjuangan. Pada fase ini manusia mengalami hembusan napas dan kejang otot, serta detak jantung yang terputus-putus. Tahap selanjutnya adalah fase kematian klinis yaitu kematian yang terjadi dalam jeda yang pendek. Hal ini terjadi ketika jantung, peredaran darah, pernapasan dan otak berhenti berfungsi, namun masih terdapat kemungkinan dilakukan tindakan penyadaran. Dan tahap terakhir adalah tahap kematian, yaitu kondisi ketika  seseorang mengalami kematian secara permanen.  Dalam proses kematian, terdapat pula emosi yang menyertai kondisi psikologis seseorang. Secara umum, emosi yang biasanya menyertai proses kematian adalah kecemasan (Amaliyah & Turistiani, 2025). Kecemasan merupakan suatu kondisi emosi dimana individu merasa gelisah, bingung, tegang dan tidak nyaman. Selain kecemasan, terdapat pula ketakutan terhadap penderitaan dan rasa sakit dalam menghadapi kematian, serta takut meninggalkan proyek kehidupan yang belum terealisasi (Tombeng, 2020).  Seseorang yang berada pada tahap ini juga biasanya akan lebih mudah tersinggung akan perkataan atau tindakan orang lain yang dianggap kurang sesuai dengan apa yang diyakininya. Ciri perilaku yang dapat diamati adalah perilaku menghindar, perilaku kelekatan, dan perilaku terguncang. Kondisi yang lazim ditemukan adalah individu mulai menolak untuk dikunjungi oleh orang-orang yang dikenalnya bahkan mungkin dengan orang-orang yang dekat padanya.  Kecemasan dapat terjadi karena kekhawatiran akan kehidupan di masa lalu yang belum dapat diterima dengan baik. Masa lalu yang memiliki banyak pengalaman keputusasaan akan membuat seseorang menjadi lebih sulit melepaskan dunia dan masa lalunya dengan bebas. Kelekatan akan dunia menjadi penghambat bagi seseorang untuk dapat berserah pada kehendak Tuhan. Selain kecemasan, ada emosi ketakutan yang mungkin dirasakan oleh seseorang yang sedang di ambang kematian. Perasaan takut ini membuat seseorang mengalami gangguan untuk sulit tidur bahkan tidak ingin tidur karena takut tidak akan bisa bangun lagi keesokan harinya. Menurut Kübler-Ross (Rachmat, 2015), ada lima respons khas yang dialami oleh seseorang dalam proses kematian. Lima tahap tersebut adalah tahap penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Pada tahap penyangkalan, seseorang menolak adanya kematian yang pasti dialami oleh setiap orang. Menurut pengalaman seseorang ketika mendampingi saudara yang sedang dalam proses kematian, orang biasanya menolak dengan tidak mau didoakan dan tidak mau dirawat di rumah sakit meskipun keadaannya (fisik) sudah menurun bahkan semakin memburuk. Kemudian setelah tahap penyangkalan, seseorang menjadi marah karena sekuat apa pun menyangkal, kematian tetap tidak dapat dihindarinya. Tahap ini disebut tahap kemarahan. Pada tahap kemarahan seseorang akan menjadi lebih agresif, sehingga apabila sedang dirawat di rumah sakit seseorang tersebut akan memberontak dengan melakukan tindakan-tindakan agresif seperti mencabut infus pada tangannya secara paksa atau tindakan agresif lainnya. Setelah melalui proses kemarahan, seseorang akan memasuki tahap tawar-menawar yaitu seseorang berharap bahwa kematian dapat ditunda atau diundur. Seseorang masih berharap bahwa kehidupannya masih bisa diperpanjang. Tahap selanjutnya adalah depresi, yaitu ketika individu menerima kepastian atas kematiannya. Pada tahap ini ada perubahan-perubahan sikap yang terjadi, misalnya seseorang menjadi lebih pendiam, menolak untuk dikunjungi, serta menghabiskan banyak waktu untuk menangis dan berduka. Tahap terakhir adalah tahap penerimaan, yaitu seseorang mengembangkan rasa damai, menerima nasibnya, dan dalam banyak pengalaman, ingin dibiarkan sendiri. Dalam tahap penerimaan, perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang menandai akhir dari perjuangan menjelang kematian.    Penulis: Agata Anggita Mukti Ningtyas (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2023 )   Penyunting: Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan: Amaliyah, R. & Turistiani, T. (2025). Gambaran tahapan pergolakan emosi dalam novel serangkai: perspektif psikologi kematian E. Kuebler-Ross. IDENTIK: Jurnal Ilmu Ekonomi, Pendidikan dan Teknik, 2(4), 109-117.    Berk, L. A. (2012).Development through the lifespan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.   Tombeng, I. (2020). Studi komparasi antara teori Victor Frankl, Ester Ahn Kim dan Elisabeth Kubler-Ross tentang kematian bagi konstruksi pendampingan pastoral. Educatio Christi, 1(2), 10-28.    Rachmat, A. (2015). E. Kubler-Ross: Tanda & tahap menjelang kematian. ECF Filsafat kematian, 2. https://doi.org/10.26593/ecf.v0i2.1996.11-15   Sumber Gambar: Dokumentasi Kongregasi Suster-suster Belas Kasih dari Hati Yesus yang Mahakudus

KLIEN KAMI