LAYANAN KAMI

TESTING

Menyediakan layanan psikotes untuk berbagai jenis instansi dengan beragam tujuan, antara lain:

  • Perusahaan: seleksi, promosi, pengangkatan pegawai tetap, dsb;
  • Pendidikan: penerimaan siswa baru, penjurusan, pengarahan jurusan kuliah, minat & bakat, kepribadian, dsb;
  • Tes klasikal dan individual;
  • Pengetesan di dalam dan luar DIY.

Klik untuk daftar psikotes.

KONSELING

Layanan bagi Anda yang membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan permasalahan maupun memerlukan konsultasi psikologis, antara lain:

  • Konseling: bantuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah;
  • Asesmen: penggalian kebutuhan psikologis dengan alat tes psikologi;
  • Konsultasi: pertukaran pikiran untuk mendapatkan solusi.

Klik untuk daftar konseling.

TRAINING

Kami melayani berbagai jenis training untuk pelatihan dan pengembangan bagi sekolah, organisasi, perusahaan, instansi pemerintahan, dan universitas. Jenis team building, fun games, seminar, workshop, motivation training, dan lain sebagainya.

P2TKP memberikan fasilitas seperti psikotes, konseling, merchandise, modul training, P3K, outbond, sertifikat, dokumentasi, hingga asuransi yang dapat didiskusikan bersama.

Klik untuk daftar training.

ULASAN, ARTIKEL, RENUNGAN

Dari Penolakan sampai Penerimaan

Dalam psikologi, kematian merupakan tahap akhir dalam perkembangan manusia. Kematian merupakan sesuatu yang pasti datang dan tidak dapat dielakkan dan akan mengakhiri kehidupan setiap manusia. Kematian dapat menghampiri siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Kematian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Secara psikologis, kematian diartikan sebagai suatu keadaan ketika individu mulai menerima kenyataan akan kematiannya dan menarik diri dari lingkungan sosial,  serta mengalami kemunduran ke dalam diri sendiri. Lebih lanjut dapat dipahami bahwa psikologi mempelajari bagaimana sikap yang diambil dan juga pandangan manusia terhadap masalah kematian serta kondisi psikis  individu ketika kematian yang semakin mendekat (Amaliyah & Turistiani, 2025).  Menurut Berk (2012), terdapat tiga tahap proses transisi dari kehidupan menuju kematian. Tahap pertama disebut fase agonal, yang berarti perjuangan. Pada fase ini manusia mengalami hembusan napas dan kejang otot, serta detak jantung yang terputus-putus. Tahap selanjutnya adalah fase kematian klinis yaitu kematian yang terjadi dalam jeda yang pendek. Hal ini terjadi ketika jantung, peredaran darah, pernapasan dan otak berhenti berfungsi, namun masih terdapat kemungkinan dilakukan tindakan penyadaran. Dan tahap terakhir adalah tahap kematian, yaitu kondisi ketika  seseorang mengalami kematian secara permanen.  Dalam proses kematian, terdapat pula emosi yang menyertai kondisi psikologis seseorang. Secara umum, emosi yang biasanya menyertai proses kematian adalah kecemasan (Amaliyah & Turistiani, 2025). Kecemasan merupakan suatu kondisi emosi dimana individu merasa gelisah, bingung, tegang dan tidak nyaman. Selain kecemasan, terdapat pula ketakutan terhadap penderitaan dan rasa sakit dalam menghadapi kematian, serta takut meninggalkan proyek kehidupan yang belum terealisasi (Tombeng, 2020).  Seseorang yang berada pada tahap ini juga biasanya akan lebih mudah tersinggung akan perkataan atau tindakan orang lain yang dianggap kurang sesuai dengan apa yang diyakininya. Ciri perilaku yang dapat diamati adalah perilaku menghindar, perilaku kelekatan, dan perilaku terguncang. Kondisi yang lazim ditemukan adalah individu mulai menolak untuk dikunjungi oleh orang-orang yang dikenalnya bahkan mungkin dengan orang-orang yang dekat padanya.  Kecemasan dapat terjadi karena kekhawatiran akan kehidupan di masa lalu yang belum dapat diterima dengan baik. Masa lalu yang memiliki banyak pengalaman keputusasaan akan membuat seseorang menjadi lebih sulit melepaskan dunia dan masa lalunya dengan bebas. Kelekatan akan dunia menjadi penghambat bagi seseorang untuk dapat berserah pada kehendak Tuhan. Selain kecemasan, ada emosi ketakutan yang mungkin dirasakan oleh seseorang yang sedang di ambang kematian. Perasaan takut ini membuat seseorang mengalami gangguan untuk sulit tidur bahkan tidak ingin tidur karena takut tidak akan bisa bangun lagi keesokan harinya. Menurut Kübler-Ross (Rachmat, 2015), ada lima respons khas yang dialami oleh seseorang dalam proses kematian. Lima tahap tersebut adalah tahap penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Pada tahap penyangkalan, seseorang menolak adanya kematian yang pasti dialami oleh setiap orang. Menurut pengalaman seseorang ketika mendampingi saudara yang sedang dalam proses kematian, orang biasanya menolak dengan tidak mau didoakan dan tidak mau dirawat di rumah sakit meskipun keadaannya (fisik) sudah menurun bahkan semakin memburuk. Kemudian setelah tahap penyangkalan, seseorang menjadi marah karena sekuat apa pun menyangkal, kematian tetap tidak dapat dihindarinya. Tahap ini disebut tahap kemarahan. Pada tahap kemarahan seseorang akan menjadi lebih agresif, sehingga apabila sedang dirawat di rumah sakit seseorang tersebut akan memberontak dengan melakukan tindakan-tindakan agresif seperti mencabut infus pada tangannya secara paksa atau tindakan agresif lainnya. Setelah melalui proses kemarahan, seseorang akan memasuki tahap tawar-menawar yaitu seseorang berharap bahwa kematian dapat ditunda atau diundur. Seseorang masih berharap bahwa kehidupannya masih bisa diperpanjang. Tahap selanjutnya adalah depresi, yaitu ketika individu menerima kepastian atas kematiannya. Pada tahap ini ada perubahan-perubahan sikap yang terjadi, misalnya seseorang menjadi lebih pendiam, menolak untuk dikunjungi, serta menghabiskan banyak waktu untuk menangis dan berduka. Tahap terakhir adalah tahap penerimaan, yaitu seseorang mengembangkan rasa damai, menerima nasibnya, dan dalam banyak pengalaman, ingin dibiarkan sendiri. Dalam tahap penerimaan, perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang menandai akhir dari perjuangan menjelang kematian.    Penulis: Agata Anggita Mukti Ningtyas (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2023 )   Penyunting: Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan: Amaliyah, R. & Turistiani, T. (2025). Gambaran tahapan pergolakan emosi dalam novel serangkai: perspektif psikologi kematian E. Kuebler-Ross. IDENTIK: Jurnal Ilmu Ekonomi, Pendidikan dan Teknik, 2(4), 109-117.    Berk, L. A. (2012).Development through the lifespan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.   Tombeng, I. (2020). Studi komparasi antara teori Victor Frankl, Ester Ahn Kim dan Elisabeth Kubler-Ross tentang kematian bagi konstruksi pendampingan pastoral. Educatio Christi, 1(2), 10-28.    Rachmat, A. (2015). E. Kubler-Ross: Tanda & tahap menjelang kematian. ECF Filsafat kematian, 2. https://doi.org/10.26593/ecf.v0i2.1996.11-15   Sumber Gambar: Dokumentasi Kongregasi Suster-suster Belas Kasih dari Hati Yesus yang Mahakudus

Kesepian yang Tidak Selalu Sunyi

Pada masa kini, kesepian tidak selalu datang dalam bentuk kamar kosong atau hari tanpa pesan masuk. Justru, seringkali kerap muncul saat ponsel kita penuh notifikasi, grup percakapan ramai, dan media sosial tidak pernah benar-benar sunyi. Ada banyak nama di layar, tapi tetap terasa tidak ada tempat untuk benar-benar “pulang” secara emosional. Dalam psikologi, kesepian bukan semata-mata soal sendirian. Kesepian lebih berkaitan dengan perasaan tidak terhubung, meskipun secara fisik dan sosial kita terlihat “baik-baik saja”. Teori psikologi menjelaskan bahwa kesepian muncul ketika ada jarak antara hubungan yang kita miliki dan hubungan yang sebenarnya kita butuhkan. Jadi wajar jika seseorang bisa tertawa di tengah keramaian, aktif di media sosial, tapi tetap merasa hampa saat malam tiba (Kirana, 2021). Bagi Generasi Z, kesepian sering kali terasa membingungkan. Kita hidup di era yang sangat terhubung, namun justru kerap merasa sendirian. Banyak interaksi, tapi sedikit yang benar-benar intim. Banyak obrolan, tapi jarang yang menyentuh hal-hal yang paling jujur. Terkadang, ada keinginan untuk bercerita, tapi bingung harus mulai dari mana. Atau lebih tepatnya, takut tidak benar-benar dipahami. Psikologi juga menjelaskan bahwa manusia tidak hanya butuh kehadiran orang lain, tapi kedekatan emosional. Kondisi ini dikenal sebagai kesepian emosional ketika tidak ada sosok yang membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri. Generasi Z sering berada di fase kehidupan yang penuh transisi: mencari arah, membangun identitas, mengejar ekspektasi, sambil diam-diam bertanya, “Apakah aku sudah cukup?” Di tengah semua itu, rasa kesepian bisa muncul tanpa permisi. Media sosial turut memperumit pengalaman tersebut. Kita terbiasa melihat potongan hidup orang lain yang terlihat bahagia, produktif, dan penuh makna. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan versi terbaik kehidupan orang lain. Saat itulah kesepian berubah menjadi perasaan tertinggal, tidak cukup, atau merasa sendirian dalam perjuangan yang sebenarnya juga dialami banyak orang (Warella & Pratikto, 2021). Sebagian  dari kita yang terbiasa menahan diri. Tidak ingin merepotkan dan tidak ingin terlihat lemah. Dalam teori attachment, beberapa orang belajar sejak awal bahwa bergantung pada orang lain terasa tidak aman, sehingga memilih terlihat mandiri dan kuat. Tapi di balik kemandirian itu, sering tersembunyi kesepian yang tidak pernah benar-benar diberi ruang (Akbas & Altıntas, 2016). Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa kesepian bukanlah tanda kegagalan sosial, apalagi kelemahan pribadi. Kesepian adalah sinyal, yang memberi tahu bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Sehingga sinyal ini bukan untuk diabaikan, melainkan didengarkan. Mengakui bahwa kita merasa kesepian tidak membuat kita kurang kuat justru itu bentuk kejujuran pada diri sendiri (Simanjuntak et al., 2021). Menghadapi kesepian tidak selalu berarti harus segera mencari banyak teman atau memaksa diri untuk selalu sibuk. Kadang yang dibutuhkan adalah satu hubungan yang aman, satu ruang untuk jujur, atau bahkan belajar hadir untuk diri sendiri dengan lebih penuh. Psikologi menyebut ini sebagai self compassion kemampuan untuk bersikap lembut pada diri sendiri saat merasa rapuh. Kesepian yang tidak selalu sunyi mengajarkan satu hal penting, yaitu bahwa ramai tidak selalu berarti terhubung, dan sendiri tidak selalu berarti kesepian. Di balik perasaan sepi, sering kali ada kebutuhan untuk dipahami, diterima, dan dicintai tanpa harus berpura-pura. Dan mungkin, dengan berani mengakui kesepian itu, kita sedang selangkah lebih dekat untuk benar-benar terhubung baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Penulis Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Penyunting Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan Akbas & Altıntas (2016). Attachment insecurity predicts loneliness and lower relationship satisfaction among emerging adults. Journal of Social and Personal Relationships, 33(8), 1085–1102. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5008440/ Kirana, K. C. (2021). Logoterapi pada perempuan lansia warga binaan panti wreda yang mengalami kesepian. Insight Jurnal Ilmiah Psikologi, 23(1), 46–64. https://doi.org/10.26486/psikologi.v23i1.1409 Simanjuntak, J. G. L. L., Prasetio, C. E., Tanjung, F. Y., & Triwahyuni, A. (2021). Psychological Well-Being sebagai prediktor tingkat kesepian mahasiswa. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 11(2), 158–175. https://doi.org/10.26740/jptt.v11n2.p158-175 Warella, & Pratikto. (2021). Kesepian dan kecemasan sosial: Dapatkah menjadi prediktor kecanduan media sosial?. INNER: Journal of Psychological Research, 1(1), 1–13. Retrieved from https://aksiologi.org/index.php/inner/article/view/16 Sumber Gambar Natasha Albertine  

Salahkah Aku Bila Berhenti Sebentar?

Aku pernah berada pada satu fase ketika aku merasa kelelahan yang cukup signifikan. Aku merasa seolah-olah terus dikejar, padahal tidak ada siapa pun yang mengejarku. Setelah direnungkan, yang mengejarku hanyalah ekspektasi dan pikiranku sendiri. Aku merasa bahwa membuang waktu tanpa melakukan sesuatu merupakan suatu kerugian besar, bahkan aku merasa bersalah apabila beristirahat atau tidak melakukan hal yang produktif. Siapa sangka pikiran tersebut malah menjerumuskanku ke dalam suatu lubang yang membuatku mengalami kelelahan secara fisik maupun mental. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah toxic productivity.    Mari membahas lebih dalam mengenai fenomena ini. Apa itu toxic productivity? Toxic productivity merupakan keinginan untuk selalu produktif setiap saat dengan segala cara serta enggan untuk berhenti meskipun tugasnya telah selesai (Ramadhina dkk., 2023).  Toxic productivity mencakup dorongan untuk bekerja secara berlebihan atau terus-menerus, serta berpikir bahwa nilai seseorang tergantung pada seberapa banyak yang mereka hasilkan, dan merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat atau tidak melakukan hal yang produktif (Ramadhina dkk., 2023).    Lantas, mengapa seseorang dapat mengalami toxic productivity? Toxic productivity dapat terjadi akibat pengaruh media sosial yang menampilkan konten prestasi secara masif yang dapat menimbulkan motivasi untuk sama atau lebih dari pencapaian orang lain karena takut tertinggal dari orang lain atau FOMO (Fear Of Missing Out) (Tsabita dkk., 2023). Selain itu, toxic productivity juga dapat muncul dari budaya yang meninggikan nilai suatu produktivitas atau kagum dengan seseorang yang memiliki beragam aktivitas di kehidupan sehari-hari, bahkan seringkali memuji orang yang rela mengurangi waktu istirahatnya hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka (Ramadhina dkk., 2023). Sehingga karena adanya budaya tersebut, muncul keinginan dalam diri untuk menjadi salah satu diantara kelompok tersebut.    Toxic productivity dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti mengalami kelelahan fisik dan mental, kecemasan, stres berlebihan, burnout, bahkan dapat terjadi penurunan motivasi intrinsik karena merasa ditekan untuk menjadi lebih produktif (Tsabita dkk., 2023). Adapun cara untuk mengatasi toxic productivity antara lain, menentukan pencapaian yang praktis atau membuat fokus kerja yang wajar, menyadari dan memahami kemampuan atau kapasitas diri, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkomunikasi dan berempati (Ramadhina dkk., 2023). Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, karena diri kita membutuhkan waktu untuk beristirahat. Produktif adalah hal yang baik, namun produktif berlebihan hingga mengorbankan waktu istirahat dapat berdampak negatif bagi diri kita. Oleh karena itu, sayangilah diri sendiri dan berikan dirimu waktu untuk beristirahat.    Penulis Eireneva Christa Handrea (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Penyunting Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)   Daftar Acuan Ramadhina, C., Safitri, D., Annisa, F., & Fadilah, Q. (2023). PENGENDALIAN “TOXIC PRODUCTIVITY” DALAM MENJAGA KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA DI MASA PANDEMI COVID-19. Interaksi Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(2), 250–266. https://doi.org/10.14710/interaksi.12.2.250-266   Tsabita, A., Febriyanti, F., Komariah, S., & Wahyuni, S. (2023). Tren Toxic Productivity Sebagai Gejala Terjadinya Burnout Syndrome Terhadap Prestasi Akademik pada Remaja Rentang Usia 18-23 Tahun di Kota Bandung. SOSMANIORA Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(4), 495–501. https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v2i4.2774   Sumber Gambar Eireneva Christa Handrea (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

KLIEN KAMI