LAYANAN KAMI

TESTING

Menyediakan layanan psikotes untuk berbagai jenis instansi dengan beragam tujuan, antara lain:

  • Perusahaan: seleksi, promosi, pengangkatan pegawai tetap, dsb;
  • Pendidikan: penerimaan siswa baru, penjurusan, pengarahan jurusan kuliah, minat & bakat, kepribadian, dsb;
  • Tes klasikal dan individual;
  • Pengetesan di dalam dan luar DIY.

Klik untuk daftar psikotes.

KONSELING

Layanan bagi Anda yang membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan permasalahan maupun memerlukan konsultasi psikologis, antara lain:

  • Konseling: bantuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah;
  • Asesmen: penggalian kebutuhan psikologis dengan alat tes psikologi;
  • Konsultasi: pertukaran pikiran untuk mendapatkan solusi.

Klik untuk daftar konseling.

TRAINING

Kami melayani berbagai jenis training untuk pelatihan dan pengembangan bagi sekolah, organisasi, perusahaan, instansi pemerintahan, dan universitas. Jenis team building, fun games, seminar, workshop, motivation training, dan lain sebagainya.

P2TKP memberikan fasilitas seperti psikotes, konseling, merchandise, modul training, P3K, outbond, sertifikat, dokumentasi, hingga asuransi yang dapat didiskusikan bersama.

Klik untuk daftar training.

ULASAN, ARTIKEL, RENUNGAN

Mengapa Anak Tengah Sering Merasa Berbeda?

Pernahkah muncul sebuah perasaan berbeda yang mengganjal di antara saudara kandung di  dalam rumah? Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terkadang disadari atau tidak telah menciptakan sebuah standar ganda yang memaksa anak untuk selalu memaklumi situasi keluarga dibandingkan dengan saudara lain. Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti “Apakah kemampuan kognitif diri ini tidak sebaik kakak?” atau “Mengapa pencapaian diri tidak sebanyak adik?” mungkin terkadang terlintas di dalam benak. Urutan kelahiran (birth order) dalam sebuah keluarga menjadi elemen krusial yang mempengaruhi kepribadian, pola pikir, dan kemampuan adaptasi individu terhadap lingkungan sosial yang lebih luas (Rohayati, 2018). Ketika anak sulung kerap dibebani ekspektasi tinggi sebagai panutan utama dan anak bungsu mendapatkan perlakuan istimewa, anak tengah justru berada di posisi rumit yang terjepit di tengah dinamika saudara kandung (Rasyid et al., 2020). Posisi interpersonal yang tidak seimbang ini memicu sebuah diskursus penting mengenai bagaimana keadilan emosional didistribusikan di dalam keluarga. 

Saat Tak Ada Telinga yang Mendengar

Ada kalanya kita merasa lelah, tetapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Mungkin setelah menjalani hari yang melelahkan, kita duduk sendirian di kamar. Pikiran dipenuhi berbagai hal yang belum selesai, seperti tugas pekerjaan, masalah keluarga, pertemanan, atau kecemasan tentang masa depan. Ada begitu banyak hal yang ingin diungkapkan, tetapi tidak tahu kepada siapa hal tersebut harus disampaikan.  Saat malam mulai sepi, tanpa sadar tangan kita membuka ponsel. Mencari seseorang yang mungkin bisa diajak berbicara. Nama demi nama muncul di layar, tetapi tidak ada yang benar-benar terasa tepat untuk dihubungi. Ada yang sedang sibuk, ada yang sudah tidak sedekat dulu, dan ada pula perasaan tidak enak jika harus membebani orang lain dengan cerita yang dimiliki. Ponsel diletakkan, dan cerita tetap tinggal di dalam kepala.

Tidak Semua Pintu Harus Selalu Terbuka

Sering kali, bibir berkata “ya”, tetapi hati terasa berat. Kita tetap membantu, tetap mengiyakan, dan tetap hadir untuk orang lain, meskipun diri sendiri sedang merasa tidak sanggup. Mengapa mengatakan “tidak” sering kali terasa begitu sulit?  Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada situasi ketika permintaan atau kebutuhan orang lain datang bersamaan dengan keterbatasan kita miliki saat itu. Permintaan bantuan, ajakan untuk hadir, atau berbagai harapan agar kita selalu tersedia untuk orang lain kerap menghiasi hari-hari kita. Hingga tanpa disadari, kita terbiasa menyetujui berbagai permintaan tanpa melihat batas antara “sanggup” dan “tidak sanggup”. Hal ini dapat dipahami sebagai bentuk rendahnya kemampuan asertivitas (assertiveness), yaitu kemampuan untuk mengekspresikan kebutuhan dan batas diri secara jujur tanpa mengorbankan hak orang lain. Maslow (1943) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar, yaitu untuk merasa diterima, menjadi bagian dari kelompok, serta dihargai oleh orang lain. Ketika kebutuhan ini belum sepenuhnya terpenuhi, kita akan cenderung berusaha mempertahankan penerimaan sosial dengan cara menyesuaikan diri, bahkan jika hal itu berarti mengorbankan kenyamanan pribadi. 

KLIEN KAMI