LAYANAN KAMI
TESTING
Menyediakan layanan psikotes untuk berbagai jenis instansi dengan beragam tujuan, antara lain:
- Perusahaan: seleksi, promosi, pengangkatan pegawai tetap, dsb;
- Pendidikan: penerimaan siswa baru, penjurusan, pengarahan jurusan kuliah, minat & bakat, kepribadian, dsb;
- Tes klasikal dan individual;
- Pengetesan di dalam dan luar DIY.
KONSELING
Layanan bagi Anda yang membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan permasalahan maupun memerlukan konsultasi psikologis, antara lain:
- Konseling: bantuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah;
- Asesmen: penggalian kebutuhan psikologis dengan alat tes psikologi;
- Konsultasi: pertukaran pikiran untuk mendapatkan solusi.
TRAINING
Kami melayani berbagai jenis training untuk pelatihan dan pengembangan bagi sekolah, organisasi, perusahaan, instansi pemerintahan, dan universitas. Jenis team building, fun games, seminar, workshop, motivation training, dan lain sebagainya.
P2TKP memberikan fasilitas seperti psikotes, konseling, merchandise, modul training, P3K, outbond, sertifikat, dokumentasi, hingga asuransi yang dapat didiskusikan bersama.
ULASAN, ARTIKEL, RENUNGAN
Tumbuh dari Luka dan Tanda Tanya yang Belum Terjawab: Unfinished Business
Mengapa setiap aku berbicara dengan orang tertentu, nada bicaraku menjadi tinggi? Seolah-olah marah, padahal itu pertanyaan sederhana. Mengapa emosiku terasa meluap setiap kali berbicara dengan mereka, padahal sebenarnya aku tidak ingin marah? Apakah teman-teman tidak asing dengan situasi ini? Terkadang, ketika kita berbicara dengan orang-orang tertentu, baik dengan orang tua, teman, maupun orang terdekat lainnya, emosi meluap dan sangat sulit untuk dikendalikan. Sering kali, kita baru menyadari setelahnya bahwa kita tidak sepenuhnya memahami emosi yang sedang dirasakan. Situasi ini dapat mengarah pada istilah dalam psikologi, yaitu unfinished business, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “urusan yang belum selesai.” Istilah ini cukup sering terdengar akhir-akhir ini, terutama di berbagai platform media sosial yang mayoritas penggunanya adalah remaja. Lebih lanjut, konsep ini pertama kali diperkenalkan dalam pendekatan Gestalt. Pandangan ini menyatakan bahwa pengalaman yang tidak tuntas akan terus-menerus “menghantui” pikiran dan perasaan hingga terdapat kejelasan atau penyelesaian. Berbagai pengalaman di masa lalu yang belum terselesaikan dapat mengarah pada unfinished business. Perasaan dan emosi yang belum diekspresikan dapat berkaitan dengan ingatan, fantasi atau muatan dalam diri lainnya (Komalasari dkk., dalam Krismonita dkk., 2022). Luapan emosi ini dapat terjadi karena sakit hati, rasa marah, rasa malu, pasrah, atau bahkan perasaan putus asa. Emosi-emosi tersebut terbentuk karena adanya pengalaman masa lalu bersama orang lain, seperti orang tua, keluarga, teman atau significant others. Lebih lanjut menurut Harumi (dalam Fajriani, 2024), unfinished business mengarah pada permasalahan di masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan. Dari kedua pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa unfinished business merupakan beban emosional atau permasalahan dari masa lalu yang melibatkan orang lain dan belum terselesaikan hingga saat ini. Kondisi ini menyebabkan beban yang dirasakan terus membekas dan berdampak negatif pada kondisi psikologis individu. Apabila dilihat sekilas, situasi ini memang terlihat sederhana karena seiring waktu individu akan membentuk banyak memori baru di masa mendatang sehingga perasaan-perasaan di masa lalu perlahan akan tergantikan. Namun, bagi sebagian orang, situasi ini justru berpengaruh bagi kehidupannya di masa kini dan membawa dampak negatif bagi dirinya. Perasaan dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan dapat menghambat proses dinamika interpersonal individu (Corey, dalam Astriani et al., 2023). Dampaknya tidak hanya pada relasi interpersonal, tetapi juga pada berbagai aspek pribadi, seperti kesehatan mental, produktivitas, kognitif, afektif, dan perilaku. Hal ini bisa terjadi karena individu cenderung kesulitan dalam membedakan beban masa lalu dengan realita di masa kini. Dampak unfinished business tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga dapat mempengaruhi orang lain serta merusak relasi dengan orang terdekat. Ketika berada dalam situasi yang mengingatkan pada masa lalu, seseorang dapat secara tidak sadar marah, atau bahkan menangis tanpa sebab yang jelas. Rasanya seperti ingin menghindar dari situasi tersebut. Emosi yang belum tuntas ini secara tidak sadar tersimpan dalam waktu lama, bahkan sejak masa kanak-kanak. Contoh paling sederhana dari pengalaman tersebut adalah sering dibandingkan dengan orang lain, tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan emosi, jarang didengarkan, atau merasa tidak pernah cukup. Pengalaman ini membekas dan tersimpan, hingga akhirnya menjadi sebuah ingatan emosional. Ketika pengalaman tersebut muncul kembali di masa kini, hal itu dapat membuka kembali luka lama. Kondisi ini membawa pengaruh negatif bagi individu, jika terus-menerus diabaikan. Contohnya seperti kecemasan berlebihan sehingga individu mengalami kesulitan dalam mengerjakan hal-hal yang lebih penting (preoccupation), kesulitan dalam mengontrol perilaku (compulsive behaviour), kehati-hatian yang berlebihan, serta kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri (Komalasari et al., dalam Kristmonia et al., 2022). Jika emosi masa lalu terus dipendam, hal ini dapat membentuk siklus negatif yang melukai diri sendiri. Kondisi ini dapat memunculkan perasaan menyesal yang mendalam dan munculnya pertanyaan besar atas kejadian di masa lalu. Rasanya situasi ini sangat mengganggu teman-teman bukan? Sepertinya menjalani kehidupan masa kini diiringi dengan “tanda tanya besar” dan rasa sesal bukanlah hal yang kita rencanakan. Kita memang tidak memiliki kendali atas masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu ikut membentuk diri kita di masa kini. Namun, bukan berarti pengalaman di masa lalu harus terus terulang tanpa adanya perubahan. Memulai sesuatu dari diri kita sendiri adalah suatu hal yang paling sederhana yang dapat membawa perubahan besar. Setelah memahami situasi unfinished business yang kompleks, mungkin muncul pertanyaan: “Bagaimana cara mengelolanya?” Kita bisa memulai dengan langkah-langkah sederhana, seperti: Menyadari dan mengakui bahwa pengalaman masa lalu: Pengalaman masa lalu dapat membantu kita bertumbuh dan berkembang di masa kini, meskipun terkadang masih menimbulkan perasaan yang mengganjal. Mengenali emosi: Perlahan, coba kenali emosi yang dirasakan saat ini. Dalam teori Gestalt, dijelaskan bahwa untuk menuju suatu kesembuhan, individu harus bisa menyadari situasi yang ia rasakan saat ini. Hal tersebut dapat dimulai dengan sebuah pertanyaan pemantik, seperti: “Apa emosi yang paling dominan muncul saat aku membahas tentang seseorang?” Apakah emosi marah, sedih, atau bahkan malu? Sadari dan kenalilah emosi ini dengan perlahan namun pasti. Mengekspresikan emosi: Salah satu alasan mengapa emosi di masa kini dapat meluap-luap adalah emosi tersebut tidak diekspresikan di masa lalu. Self-reward: Mulai apresiasi segala hal yang telah dilalui. Melakukan evaluasi dan menghargai segala hal yang sudah dilalui, maafkan segala kekurangan yang ada dan fokus pada prosesnya. Mencari bantuan profesional: Jika teman-teman merasa membutuhkan adanya pendampingan dari tenaga profesional seperti psikolog, jangan ragu ataupun takut untuk menemui psikolog dan membuat janji sesi konseling. Teman-teman, apa yang terjadi di masa lalu merupakan rangkaian kecil dari cerita kehidupan kita. Kenangan, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, memiliki peran dalam membentuk siapa kita di masa kini. Meskipun tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, mengakhiri bukan berarti melupakan bukan? Dengan keberanian untuk membuka kembali cerita di masa lalu dan belajar darinya merupakan hal yang perlu diapresiasi. Selamat melanjutkan cerita kita masing-masing dan terus bertumbuh. Penulis Patricia Karina Putri (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022) Penyunting Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025) Daftar Acuan Astriani, D., Puspasari, K. D., Purwaningru, D., Lestari, A. A., & Nisa, A. R. (2023, Desember). Memperbaiki Hubungan Interpersonal dalam Keluarga pada Individu dengan Unfinished Business melalui Teknik Empty Chair. Jurnal SINDA, 3(3). doi.org/10.28926/sinda.v3i3 1140 Fajriani, A. F. (2024, April 28). Konseling Individual dengan Teknik Empty Chair Mengatasi Unfinished Business Siswa di Pendidikan Menengah Kejuruan. Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), 3(3), 103-109. 10.31960/dikdasmen-v3i3-2418 Kristmonia, Sutja, A., & Wahyuni, H. (2022). Penerapan Teknik Kursi Kosong Untuk Mengatasi Unfinished Business Rasa Bersalah di SMP 17 Kota Jambi. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(4). Sumber Gambar: Patricia Karina Putri
Berdamai dengan Diri Sendiri: Melepaskan Luka Masa Lalu untuk Bertumbuh
Setiap orang memiliki cerita masa lalu yang berbeda-beda. Ada kenangan yang membuat kita tersenyum saat mengingatnya, tetapi ada juga pengalaman yang meninggalkan luka. Mungkin itu berupa kegagalan yang masih teringat, keputusan yang pernah disesali, atau perasaan bahwa kita belum menjadi versi diri yang kita harapkan. Banyak dari kita pernah berada di titik ketik masa lalu terasa seperti beban yang terus dibawa ke masa sekarang. Namun, kita tidak sendirian dalam perasaan tersebut. Banyak orang juga sedang belajar memahami dirinya, menerima masa lalu, dan mencoba melangkah maju. Berdamai dengan diri sendiri bukanlah proses yang instan, melainkan sebuah perjalanan yang perlahan-lahan mengajarkan kita untuk melihat diri dengan lebih lembut dan penuh pengertian. Sering kali, luka masa lalu muncul dalam bentuk rasa bersalah, penyesalan, atau kritik terhadap diri sendiri. Kita mungkin terus memikirkan hal-hal yang seharusnya dapat dilakukan dengan lebih baik. Dalam situasi seperti ini, tidak jarang seseorang menjadi sangat keras terhadap dirinya sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang terus terjebak dalam rasa bersalah atau penyesalan, hal tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Sebaliknya, kemampuan untuk memaafkan diri sendiri dapat membantu individu menerima pengalaman hidup dengan lebih sehat dan meningkatkan kesejahteraan mental (Vismaya et al., 2024). Menyadari bahwa luka tersebut ada merupakan langkah pertama yang penting. Tidak apa-apa jika prosesnya terasa berat, karena setiap orang memiliki waktu dan cara masing-masing dalam menghadapi masa lalu. Salah satu langkah penting dalam berdamai dengan diri sendiri adalah self-forgiveness, yaitu kemampuan untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang pernah terjadi. Self-forgiveness bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan menerima bahwa kita adalah manusia yang dapat belajar dari pengalaman. Dalam proses ini, kita belajar mengatakan pada diri sendiri bahwa kesalahan yang pernah terjadi tidak sepenuhnya menentukan siapa diri kita hari ini (Aydin, 2025; Vismaya et al., 2024). Setiap pengalaman, baik maupun buruk, dapat menjadi bagian dari proses pertumbuhan. Penelitian menunjukkan bahwa pemaafan diri membantu individu melepaskan emosi negatif serta membangun kembali pandangan yang lebih sehat terhadap dirinya (Aydın, 2025; Vismaya et al., 2024). Ketika kita mulai memaafkan diri sendiri, perlahan-lahan beban yang terasa berat itu dapat berkurang. Selain memaafkan diri sendiri, penting juga untuk belajar memiliki self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri. Self-compassion berarti memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan ketika kita mengalami kesulitan atau kegagalan, sebagaimana kita memperlakukan teman yang sedang terluka. Penelitian menunjukkan bahwa self-compassion berhubungan dengan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi serta kemampuan mengelola emosi dengan lebih baik (Baxter & Sirois, 2025; Wang et al., 2025; Huangfu et al., 2024). Ketika seseorang belajar bersikap lebih lembut terhadap dirinya, ia tidak lagi terus-menerus mengkritik dirinya secara berlebihan. Bayangkan jika kita mulai mengganti kalimat dalam pikiran seperti “Aku gagal” menjadi “Aku sedang belajar”. Perubahan kecil dalam cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat memberikan ruang bagi proses penyembuhan. Proses berdamai dengan diri sendiri sering kali terasa seperti perjalanan yang sepi. Padahal, banyak orang di sekitar kita yang juga sedang berjuang dengan luka dan cerita masa lalunya. Menyadari hal ini dapat membantu kita merasa lebih terhubung dan tidak sendirian. Kita dapat saling menguatkan dengan berbagi cerita, mendengarkan satu sama lain, atau sekadar mengingatkan bahwa setiap orang sedang berproses. Dalam perjalanan ini, tidak ada langkah yang terlalu kecil. Setiap usaha untuk memahami diri sendiri merupakan bagian dari proses penyembuhan. Berdamai dengan diri sendiri dan luka masa lalu bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi perjalanan ini sangat berharga. Dengan belajar memaafkan diri sendiri dan menghadirkan self-compassion, secara perlahan kita dapat melepaskan beban emosional yang selama ini dibawa. Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memperlakukan diri kita dengan lebih baik hari ini. Jika perjalanan ini terasa berat, ingatlah bahwa kita tidak harus melaluinya sendirian. Banyak orang yang juga sedang belajar, berjuang, dan berjalan di jalan yang sama menuju versi diri yang lebih damai dan lebih kuat. Penulis Inocensia Dies Cinintya Rosari (Asisten P2TKP Angkatan 2024) Penyunting Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025) Daftar Acuan Aydin, F. (2025). Does attachment to God matter? Role of spiritual attachment in mental health through self-forgiveness: Lessons from Turkish college sample. Frontiers in Psychology, 16, 1603654. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1603654 Baxter, R., & Sirois, F. M. (2025). Self-compassion and psychological distress in chronic illness: A meta-analysis. British Journal of Health Psychology, 30(1), e12761. https://doi.org/10.1111/bjhp.12761 Huangfu, H., Li, L., & Shuai, W. (2024). Mediating effects of self-esteem and self-compassion on the relationship between body dissatisfaction and depression among adolescents with polycystic ovary syndrome. Frontiers in Public Health, 12, 1420532. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1420532 Vismaya, A., Gopi, A., Romate, J., & Rajkumar, E. (2024). Psychological interventions to promote self-forgiveness: A systematic review. BMC Psychology, 12, 258. https://doi.org/10.1186/s40359-024-01671-3 Wang, Q., Cao, X., & Tai, Q. (2025). The mediating role of self-compassion in the relationship between big five personality traits and depression among preclinical medical students. BMC Psychiatry, 25, 988. https://doi.org/10.1186/s12888-025-07442-7 Sumber Gambar Bertelli, G. (2016, May 20). Woman wearing silver-colored ring. Unsplash. https://unsplash.com/photos/woman-wearing-silver-colored-ring-dvXGnwnYweM
Bertahan Tanpa Menyakiti Diri: Self-Compassion sebagai Fondasi Ketekunan dalam Menghadapi Ketidaknyamanan
Tidak semua perjalanan hidup berjalan dengan menyenangkan. Ketika sedang berada dalam situasi yang kurang nyaman seperti diliputi perasaan sedih, bingung, dan hilang arah, kita cenderung ingin segera keluar dari ketidaknyamanan tersebut. Namun, pada kenyataannya, tidak semua tantangan dapat dilewati dengan cepat dan mudah. Terkadang, perjalanan terasa berliku, bahkan ujungnya tidak kunjung tampak. Dalam situasi seperti ini, ada kalanya seseorang perlu belajar bertahan di tengah perasaan yang berat. Bertahan bukan hanya tentang menahan luka dan kesedihan, tetapi juga perlu diiringi dengan langkah yang tidak menyakiti diri sendiri. Ketekunan dalam menghadapi situasi tidak nyaman dalam hidup sering disebut sebagai perseverance. Perseverance dipahami sebagai upaya berkelanjutan yang terarah pada suatu tujuan serta memungkinkan seseorang untuk tetap gigih serta teguh dalam mengejar tujuan jangka panjang, meskipun menghadapi berbagai rintangan, kesulitan, atau hambatan (Nas dkk., 2025). Dalam konsep Grit yang diinisiasi oleh Duckworth dkk. (2007), perseverance tidak hanya berkaitan dengan kekuatan untuk terus berusaha dalam mencapai sesuatu, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan individu untuk menghadapi ketidaknyamanan yang hadir tanpa kehilangan arah dan harapan dalam prosesnya melangkah ke depan. Konsep perseverance sebagai dimensi inti Grit berperan penting dalam membantu individu mengatasi kesulitan serta mempertahankan upaya dalam mencapai tujuan jangka panjang. Individu dengan perseverance yang tinggi, cenderung memiliki tingkat harapan yang lebih baik dan kecemasan yang lebih rendah dalam melalui proses menghadapi tantangan (Datu, 2021). Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua bentuk respon menghadapi situasi kurang nyaman dapat berkembang dengan cara yang sehat. Terkadang, seseorang tetap bertahan dengan cara yang keras terhadap dirinya sendiri, misalnya mengkritik diri secara berlebihan, memelihara rasa bersalah, atau menuntut diri untuk selalu kuat tanpa istirahat. Padahal, bertahan tidak harus selalu memosisikan diri sebagai musuh. Seseorang tetap dapat berjalan dalam ketidaknyamanan dengan cara yang lebih sehat, yaitu dengan memperlakukan diri sendiri secara lebih lembut. Memberikan ruang untuk merasakan emosi secara jujur tanpa harus tenggelam dalam penilaian diri yang keras dan kaku, dapat membantu mengurangi beban di tengah ketidaknyamanan yang dihadapi. Memperlakukan diri dengan lemah lembut merupakan hal penting sebagai teman dalam bertahan di tengah kesulitan. Welas asih pada diri atau self-compassion mengacu pada cara individu memandang dirinya saat menghadapi kegagalan, rasa tidak mampu, atau penderitaan. Self-compassion membentuk sikap yang hangat dan penuh perhatian terhadap diri sendiri. Untuk menumbuhkan self-compassion, kita harus bersedia menghadapi penderitaan, seberapapun hal tersebut memberikan ketidaknyamanan (Neff, 2022). Alih-alih memandang tantangan sebagai musuh yang harus segera disingkirkan karena menghantui dan mengganggu pikiran, kita dapat melihatnya sebagai teman perjalanan untuk bertumbuh. Sebagai teman, tantangan tersebut dapat dikenali bersama dengan setiap perasaan yang menyertainya. Kemudian, kita dapat mencoba menjalaninya secara berdampingan sambil mencari langkah terbaik. Dalam menghadapi tantangan, penting untuk menyadari bahwa ini merupakan fase kehidupan yang akan terlewati. Dengan memilih langkah untuk lebih memahami diri dan memberikan ruang untuk merasakan emosi yang hadir dapat membantu seseorang untuk lebih mampu menghadapi tantangan dengan cara yang lebih sehat. Sikap ini membantu seseorang untuk tetap melangkah, sekalipun langkah tersebut terasa kecil dan perlahan. Pada akhirnya, kehidupan memang tidak selalu berjalan mudah, lurus, dan mulus. Ada masa ketika langkah terasa ringan, tetapi ada pula saat perjalanan terasa berat dan penuh ketidakpastian. Ketekunan yang sehat dalam menghadapi ketidaknyamanan bukan berarti memaksa diri untuk selalu kuat, melainkan belajar berjalan dengan lebih lembut terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, self-compassion membantu seseorang mengasah ketekunan yang lebih sehat untuk tetap melangkah di tengah kesedihan, kedukaan, maupun kesulitan yang hadir tanpa harus memusuhi diri sendiri. Melalui sikap ini, harapan dapat tumbuh secara perlahan seiring dengan proses penerimaan bahwa setiap perjalanan hidup selalu menyimpan ruang untuk belajar, berkembang, dan menemukan makna baru. “Mengasah ketekunan dalam mengalami kesedihan, kedukaan, kesulitan. Menumbuhkan harapan dalam proses penerimaan. Hidup adalah proses belajar seumur hidup, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak dan beristirahat di tengah ramainya dunia. Terima kasih untuk tetap berusaha berdaya. Setiap langkah, sekecil apapun, akan tetap berharga.” Penulis Patricia Shania Avioleta (Asisten P2TKP Angkatan 2025) Penyunting Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025) Daftar Acuan Kristin D. Neff. 2022. Self-Compassion: Theory, Method, Research, and Intervention. Annual Review Psychology. 74:193-218. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-032420-031047 Datu, J. A. D. (2021). Beyond passion and perseverance: Review and future research initiatives on the science of grit. Frontiers in Psychology, 11, 545526. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.545526 Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: perseverance and passion for long-term goals. Journal of personality and social psychology, 92(6), 1087–1101. https://doi.org/10.1037/0022-3514.92.6.1087 Nas, E., Taytaş, M. & Vangölü, M.S. (2025) The role of self compassion and psychological flexibility in the relationship between perseverance and life satisfaction among academics. BMC Psychol 14, 9 (2025). https://doi.org/10.1186/s40359-025-03757-y Sumber Gambar NEOM. (2023, April 28). A man climbing up the side of a mountain photo. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-man-climbing-up-the-side-of-a-mountain-85ey1vFIwkc