Artikel,  Karya Tulis

Bandwagon Effect: Saat Keputusan Kita Dipengaruhi oleh Mayoritas

Dalam kehidupan bermasyarakat, individu tidak hanya dipengaruhi oleh pemikiran dan keyakinan pribadi, tetapi juga oleh lingkungan sosial tempat mereka berinteraksi. Kehadiran opini mayoritas, tren yang sedang berkembang, serta perilaku kelompok sering kali menjadi pertimbangan dalam menentukan sikap maupun keputusan. Fenomena tersebut dikenal sebagai bandwagon effect. 

Bandwagon effect adalah fenomena psikologis yang mendorong seseorang untuk mengikuti tren, gaya, sikap, atau perilaku yang dilakukan oleh banyak orang tanpa terlebih dahulu memahami nilai maupun kebenaran yang mendasari perilaku tersebut (Barnfield, 2019 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). Fenomena ini muncul karena adanya kecenderungan individu untuk mengikuti atau meniru perilaku orang lain, terutama ketika terdapat dorongan atau tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok sosial (Abrahamson & Rosenkopf, 1993; H.-S. Kim & Sundar, 2014; J. Kim & Gambino, 2016; Leibenstein, 1950; McNamara dkk. 2008 dalam Zatrahadi dkk. 2023). 

Istilah bandwagon effect berawal dari penggunaan kereta musik (bandwagon) dalam kampanye politik di Amerika Serikat pada abad ke-19. Kehadiran kereta musik tersebut menarik perhatian masyarakat sehingga banyak orang ikut bergabung tanpa memahami tujuan kampanye yang sedang berlangsung (Farjam & Loxbo, 2023 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). Seiring waktu, istilah ini berkembang menjadi konsep yang menggambarkan upaya memengaruhi individu agar mengikuti suatu tren, baik dalam ranah politik maupun perilaku konsumen (Yudistira, 2022 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). Fenomena ini didasarkan pada anggapan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh banyak orang dianggap benar, baik, atau setidaknya dapat diterima secara sosial. Akibatnya, individu cenderung mengikuti tren yang sedang populer tanpa terlebih dahulu mengevaluasi kembali nilai-nilai, keyakinan, maupun alasan yang mendasari pilihan tersebut (Schmitt‐Beck, 2015 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). 

Untuk memahami mengapa seseorang mudah mengalami bandwagon effect, terdapat tiga aspek utama yang mendasari munculnya fenomena tersebut, yaitu conformity, interpersonal influence, dan status seeking (Farjam, 2020 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). Conformity merupakan kondisi ketika individu cenderung menyesuaikan persepsi, pendapat, maupun perilakunya agar selaras dengan norma, kebiasaan, atau perilaku yang berlaku dalam kelompok tempat ia berada (Farjam & Loxbo, 2023 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). Interpersonal influence mengacu pada pengaruh yang diberikan oleh orang lain (Romadhoni & Ansyah, 2025). Status Seeking merupakan kecenderungan individu untuk memperoleh atau mempertahankan posisi sosial yang lebih tinggi dalam suatu kelompok. Dorongan ini muncul karena status sosial sering dikaitkan dengan berbagai keuntungan, baik yang bersifat material maupun nonmaterial, seperti meningkatnya otonomi, akses terhadap sumber daya, rasa percaya diri yang lebih tinggi, serta penghargaan dan pengakuan dari orang lain (Puspitasari & Suharyono, 2014 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). Seiring dengan perkembangan teknologi digital, ketiga aspek tersebut semakin memperkuat kemunculan bandwagon effect dalam berbagai interaksi sosial di masyarakat (Farjam, 2020 dalam Romadhoni & Ansyah, 2025). 

Dalam kehidupan nyata, terdapat beberapa pengalaman yang dapat dijadikan contoh dari bandwagon effect, yaitu: individu yang memilih mengikuti mata kuliah yang tidak sepenuhnya sesuai dengan dirinya agar bisa tetap berada dalam kelompok pertemanannya; individu mengonsumsi dubai chewy cookie karena pengaruh dari teman sebaya; serta individu mengunjungi suatu tempat yang sedang populer agar bisa mengunggah ke media sosial dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. 

Munculnya perilaku bandwagon effect dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pemikiran kelompok, keinginan untuk diterima di suatu kelompok, dan ketakutan akan dikucilkan (Djuna & Fadillah, 2022).

Bandwagon effect dapat memberikan dampak terhadap perkembangan individu. Dampak pertama adalah pada pembentukan identitas individu. Individu cenderung mengikuti minat, gaya hidup, maupun preferensi yang sedang populer di lingkungan pertemanan mereka meskipun hal tersebut belum tentu mencerminkan minat atau karakteristik pribadi mereka (J. Kim & Gambino, 2016; Leibenstein, 1950 dalam Zatrahadi dkk. 2023). Kecenderungan ini muncul karena individu ingin diterima sebagai bagian dari kelompok sehingga mereka merasa perlu menyesuaikan diri dengan mayoritas agar dianggap wajar dan memperoleh penerimaan sosial (Barnfield, 2020; Schmitt‐Beck, 2015 dalam Zatrahadi dkk. 2023). 

Dampak kedua berkaitan dengan proses pengambilan keputusan pada individu. Dalam berbagai situasi, individu dapat terdorong untuk membeli suatu produk atau melakukan suatu tindakan hanya karena perilaku tersebut banyak dilakukan oleh teman sebayanya (Cho dkk. 2022; J. Kim dkk. 2020; Leibenstein, 1950 dalam Zatrahadi dkk. 2023). Akibatnya, keputusan yang diambil sering kali didasarkan pada keinginan untuk mengikuti tren dibandingkan dengan pertimbangan yang rasional, seperti manfaat, dampak jangka panjang, atau kesesuaiannya dengan nilai dan kebutuhan pribadi (Anantharaman dkk. 2022; Cho dkk. 2022; Leibenstein, 1950 dalam Zatrahadi dkk. 2023). Kondisi tersebut berpotensi membuat individu menjadi konsumen yang kurang kritis serta lebih mudah terpengaruh oleh pola pikir kelompok daripada mempertimbangkan apa yang benar-benar mereka perlukan (Zatrahadi dkk. 2023). 

Bandwagon effect merupakan fenomena psikologis yang menunjukkan bahwa keputusan seseorang sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku mayoritas. Keinginan untuk diterima dalam kelompok, mengikuti tren, atau memperoleh pengakuan dapat membuat seseorang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan apakah keputusan tersebut benar-benar sesuai dengan nilai dan kebutuhannya. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk tetap berpikir kritis sebelum mengikuti suatu tren atau pendapat yang sedang populer. Dengan memahami adanya bandwagon effect, individu dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan sehingga tidak sekadar mengikuti perilaku mayoritas tanpa pertimbangan, tetapi benar-benar didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan sesuai dengan diri sendiri. 

 

“Mayoritas bisa memengaruhi keputusan kita, tetapi hanya diri sendirilah yang bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.”

 

Penulis

Sela Sariputri (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)

 

Penyunting

Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan

Djuna, K., & Fadillah, A. N. (2022). Pemanfaatan fenomena The Bandwagon Effect pada generasi muda Indonesia. SANISA Jurnal Kreativitas Mahasiswa Hukum, 2(1), 18–23. https://doi.org/10.47268/sanisa.v2i1.994

Romadhoni, Z. A., & Ansyah, E. H. (2025). Conformity and interpersonal drivers of adolescent bandwagon behavior. Academia Open, 10(2). https://doi.org/10.21070/acopen.10.2025.7495

Zatrahadi, M. F., Darmawati, D., Rahmad, R., Syarifah, S., & Arsy, N. (2023). Analisis dampak sosial Efek Bandwagon pada eksistensi remaja: Studi di Kota Pekanbaru dan Kota Bukitinggi. Jurnal EDUCATIO Jurnal Pendidikan Indonesia, 9(2), 1048. https://doi.org/10.29210/1202323581

 

Sumber Gambar

https://pin.it/219GMiVaC