A Softer Way to Grow : Becoming a Good Friend to Yourself
“Not because life has spared them from hardship, but because they refuse to turn against themselves when hardship comes.”
Pernah tidak, tanpa sengaja kita membuka media sosial hanya untuk mengisi waktu luang, lalu beberapa menit kemudian justru kita merasa tidak nyaman dengan diri sendiri? Kita melihat teman yang baru wisuda, diterima bekerja di perusahaan impiannya, melanjutkan studi, membangun bisnis, atau sekadar membagikan potongan kehidupan yang terlihat menyenangkan. Awalnya mungkin tidak ada yang salah. Namun perlahan muncul pikiran-pikiran yang sulit diabaikan:
“Kok orang lain sudah sejauh itu, ya?”,
“Aku sebenarnya sedang ada di mana?” atau bahkan
“Kenapa hidupku terasa tidak mengalami kemajuan?”
Membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya merupakan hal yang sangat manusiawi. Kita hidup di tengah lingkungan sosial yang membuat kita terus-menerus menyaksikan pencapaian, pilihan hidup, dan perjalanan orang lain. Namun, masalah sering kali tidak berhenti pada proses membandingkan diri. Tanpa disadari, kita mulai menghakimi diri sendiri. Kita merasa kurang berhasil, kurang produktif, kurang pintar, atau bahkan merasa tertinggal dari orang-orang seusia kita. Pada titik tertentu, kita tidak lagi sekadar membandingkan diri, tetapi mulai menjadi kritikus paling keras bagi diri sendiri.
Fenomena ini terasa semakin dekat dengan kehidupan banyak anak muda yang sedang berada dalam fase peralihan menuju dewasa. Ada begitu banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipersiapkan. Kita dituntut menentukan arah pendidikan, memilih jalur karier, membangun hubungan yang lebih serius, belajar mandiri secara finansial, hingga memahami siapa diri kita sebenarnya. Tidak jarang semua tuntutan tersebut datang secara bersamaan dan membuat kita merasa kewalahan.
Menurut Arnett (2006), rentang usia sekitar 18 hingga 25 tahun dikenal sebagai masa emerging adulthood, yaitu periode transisi yang berada di antara masa remaja dan masa dewasa. Fase ini ditandai oleh eksplorasi identitas, perubahan yang cepat, ketidakpastian, dan berbagai kemungkinan yang terbuka di masa depan. Karena itulah, masa ini sering kali terasa membingungkan. Di satu sisi, seseorang mulai memperoleh kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun di sisi lain, kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab dan tekanan yang tidak sedikit.
Tidak mengherankan jika banyak individu pada fase ini mengalami kecemasan mengenai masa depan. Ada yang khawatir belum memiliki pekerjaan tetap, ada yang merasa tertinggal dari teman-temannya, ada pula yang mempertanyakan apakah pilihan hidup yang diambil selama ini sudah benar. Perasaan-perasaan tersebut dapat muncul bahkan ketika sebenarnya tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Terkadang, yang membuat seseorang merasa tertekan bukan hanya dari situasi yang sedang dihadapi, tetapi juga dari cara ia berbicara kepada dirinya sendiri.
Bayangkan, ketika seorang teman dekat datang kepada kita dan menceritakan bahwa ia gagal dalam sesuatu yang sangat penting baginya. Mungkin ia tidak diterima di pekerjaan yang diinginkan, gagal dalam hubungan yang selama ini diperjuangkan, atau merasa hidupnya tidak berkembang seperti yang diharapkan. Sebagian besar dari kita kemungkinan akan berusaha memahami perasaannya. Kita akan mendengarkan, memberikan dukungan, dan mengingatkannya bahwa satu kegagalan tidak menentukan nilai dirinya sebagai manusia.
Akan tetapi, ketika situasi yang sama terjadi pada diri sendiri, respons kita seringkali berbeda. Kita mungkin mengatakan hal-hal yang tidak akan pernah kita katakan kepada orang lain. Kita menyebut diri sendiri bodoh, tidak kompeten, tidak cukup baik, atau tidak pantas berhasil. Kita menganggap satu kesalahan sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Tanpa disadari, kita memberikan standar yang jauh lebih keras kepada diri sendiri dibandingkan kepada orang lain.
Di sinilah konsep self-compassion menjadi relevan. Neff (2003a) menjelaskan bahwa self-compassion merupakan kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pemahaman, dan penerimaan ketika menghadapi kesulitan, kegagalan, maupun kekurangan diri. Self-compassion bukan berarti memanjakan diri atau mencari alasan atas kesalahan yang dilakukan. Sebaliknya, self-compassion membantu seseorang tetap jujur melihat kenyataan tanpa harus menghukum dirinya secara berlebihan.
Seseorang yang memiliki self-compassion cenderung mampu mengatakan, “Ya, ini memang tidak berjalan sesuai harapan. Aku kecewa. Aku sedih. Tapi itu tidak berarti aku gagal sebagai manusia.” Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi banyak orang, cara berpikir seperti ini bukanlah sesuatu yang mudah. Kita sering diajarkan untuk terus memperbaiki diri, bekerja lebih keras, dan mengejar standar yang semakin tinggi. Sayangnya, dalam proses tersebut kita terkadang lupa belajar untuk menerima diri sendiri ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Self-compassion juga membantu seseorang menyadari bahwa penderitaan bukanlah pengalaman yang hanya dialami seorang diri. Ketika sedang menghadapi masalah, kita sering merasa seolah-olah hanya kita yang gagal, hanya kita yang kebingungan, atau hanya kita yang belum menemukan arah hidup. Padahal kenyataannya, setiap orang sedang berjuang dengan tantangannya masing-masing. Ada yang sedang berusaha menyelesaikan pendidikan, ada yang sedang mencari pekerjaan, ada yang berjuang dalam hubungan interpersonal, dan ada pula yang sedang berusaha menjaga kesehatan mentalnya. Kesadaran bahwa kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia membuat seseorang merasa lebih terhubung dengan orang lain dan tidak terlalu terjebak dalam perasaan sendirian.
Selain itu, self-compassion membantu seseorang untuk tidak terlalu larut dalam pikiran negatif yang berulang-ulang. Kita mungkin pernah mengalami situasi ketika satu masalah kecil terus berputar di kepala selama berhari-hari. Semakin dipikirkan, masalah tersebut terasa semakin besar. Semakin dipikirkan, semakin sulit pula melihat situasi secara objektif. Kemampuan menerima pengalaman dengan lebih seimbang memungkinkan seseorang untuk menghadapi kesulitan tanpa harus tenggelam di dalamnya.
Pada akhirnya, cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri sedikit banyak akan memengaruhi bagaimana ia menilai kehidupan yang sudah dijalaninya selama ini. Diener dkk,. (1985) menjelaskan bahwa life satisfaction atau kepuasan hidup merupakan evaluasi individu terhadap kualitas kehidupannya berdasarkan standar yang dimiliki oleh dirinya sendiri. Kepuasan hidup tidak selalu ditentukan oleh banyaknya pencapaian yang berhasil diraih. Dua orang dapat berada dalam situasi yang relatif sama, tetapi memiliki tingkat kepuasan hidup yang berbeda karena cara mereka memaknai pengalaman hidupnya juga berbeda.
Seseorang yang terus-menerus menyalahkan dirinya atas setiap kesalahan mungkin akan lebih sulit melihat hal-hal baik yang telah dimilikinya. Sebaliknya, seseorang yang mampu menerima keterbatasan dirinya dengan lebih bijaksana cenderung memiliki ruang yang lebih besar untuk menghargai proses, mensyukuri pencapaian kecil, dan memandang kehidupannya secara lebih positif. Bukan karena hidupnya terbebas dari kesulitan, melainkan karena ia tidak menambah penderitaannya sendiri dengan menjadi musuh bagi dirinya sendiri.
Mungkin inilah salah satu pelajaran yang paling sulit dipelajari ketika beranjak dewasa. Kita sering berpikir bahwa pertumbuhan hanya berkaitan dengan menjadi lebih kuat, lebih sukses, atau lebih tangguh. Padahal terkadang pertumbuhan juga berarti belajar untuk lebih lembut kepada diri sendiri. Belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, tidak semua rencana akan berjalan sempurna, dan tidak semua perjalanan hidup harus mengikuti garis waktu yang sama.
Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat, mencapai lebih banyak hal, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri, mungkin kita perlu sesekali berhenti dan bertanya: “Apakah selama ini aku sudah memperlakukan diriku dengan baik?” Sebab bisa jadi, langkah pertama menuju kehidupan yang lebih bermakna bukanlah berusaha menjadi orang lain, melainkan belajar menerima diri sendiri apa adanya.
Pada akhirnya, hidup mungkin tidak selalu menuntut kita menjadi lebih hebat. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah sedikit lebih ramah kepada diri sendiri. Sebab pertumbuhan yang sehat tidak selalu lahir dari tekanan dan kritik yang terus-menerus. Ada kalanya, pertumbuhan justru dimulai ketika kita belajar memberikan kepada diri sendiri apa yang selama ini begitu mudah kita berikan kepada orang lain: pengertian, penerimaan, dan kasih sayang.
“With self-compassion, we give ourselves the same kindness and care we’d give to a good friend.”
– Kristin Neff –
Penulis
Valentino (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Penyunting
Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Arnett, J. J. (2006). Emerging adulthood: Understanding the new way of coming of age. In J. J. Arnett & J. L. Tanner (Eds.), Emerging adults in America: Coming of age in the 21st century (pp. 3–19). American Psychological Association.
Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., & Griffin, S. (1985). The satisfaction with life scale. Journal of Personality Assessment, 49(1), 71–75.
Neff, K. D. (2003a). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Sumber Gambar
https://pixabay.com/id/photos/sendiri-anak-laki-laki-membutuhkan-7420209/