Karya Tulis,  Podjok Merenung

Ketika Keyakinan Membentuk Kenyataan

“Apakah mungkin cara kita memandang diri sendiri memang ikut menentukan bagaimana sesuatu akhirnya terjadi?”

Pernahkah kita menyadari seberapa besar sesungguhnya kekuatan mindset dalam menentukan bagaimana kita bertindak, bahkan mungkin bagaimana suatu tindakan pada akhirnya membawa kita pada sebuah hasil? Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tentunya ada banyak tanggung jawab yang kita miliki. Ketika menjalaninya, kita sering kali dihadapkan pada berbagai pilihan dan diharuskan untuk mengambil keputusan. Namun, sering kali kita merasa ragu untuk melangkah, mengambil keputusan, meragukan kemampuan diri sendiri, bahkan mempertanyakan apakah kita benar-benar cukup layak untuk mendapatkan hal-hal yang saat ini kita miliki. Keraguan ini terkadang membuat kita akhirnya tidak berani mencoba suatu hal. Padahal, sebenarnya di balik semua keraguan itu, kita selalu memiliki harapan atau ekspektasi. Harapan untuk berhasil, untuk diterima, untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita mampu, atau bahkan hanya sekadar untuk menjadi versi diri kita yang lebih baik dari hari kemarin. 

Dalam keseharian, mungkin tanpa disadari, kita sering menciptakan “ramalan” tentang diri sendiri dalam pikiran kita. Terlebih, ketika menghadapi suatu hal yang penting dan sulit dalam hidup kita, misalnya, sering kali kita berpikir, “Sepertinya saya akan gagal” atau “Bagaimana pandangan orang lain terhadap saya, terutama jika saya tidak memenuhi ekspektasi mereka?” Pikiran-pikiran ini mungkin terdengar cukup sederhana dan cukup sering kita miliki, tetapi ternyata pemikiran ini memengaruhi cara kita menjalani sesuatu. Dampaknya, kita menjadi lebih takut mengambil risiko, sering meragukan dan mempertanyakan diri sendiri, lebih mudah menyerah, dan terkadang tanpa sadar enggan mengerahkan usaha terbaik yang kita miliki. Pada akhirnya, sesuatu yang sejak awal hanya berupa kekhawatiran justru perlahan terasa seperti kenyataan. Hal ini terus-menerus berputar seperti lingkaran yang tak berkesudahan dan semakin memengaruhi diri kita dalam menyikapi suatu hal. 

Sebaliknya, ketika kita berusaha mengatakan kepada diri sendiri, “Saya bisa,” “Saya percaya akan kemampuan saya sendiri,” dan “Saya mampu melewati dan menyelesaikan ini semua dengan baik,” rasanya kata-kata positif tersebut perlahan-lahan dapat menjadi kenyataan. Kita menjadi lebih berani mencoba, lebih tahan ketika menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan pada akhirnya mampu melewati berbagai hal yang semula tampak sulit dengan baik. Hal-hal inilah yang pada titik tertentu membuat saya mulai bertanya, “Apakah mungkin cara kita memandang diri sendiri memang ikut menentukan bagaimana sesuatu akhirnya terjadi?”

Dalam psikologi, terdapat konsep yang disebut dengan self-fulfilling prophecy. Konsep ini pada mulanya merupakan sebuah pemaknaan yang keliru terhadap suatu situasi. Namun, pemaknaan itu justru memunculkan perilaku baru yang pada akhirnya membuat konsepsi yang semula keliru menjadi kenyataan. Hal inilah yang kemudian memunculkan sebuah “reign of error” karena orang yang meramalkannya akan menganggap jalannya peristiwa sebagai bukti bahwa ramalannya benar (Merton, 1949, dalam Quintero dkk., 2022). Konsep self-fulfilling prophecy kemudian bertemu dengan konsep lain dalam psikologi, yaitu self-efficacy. Menurut Bandura (1986, dalam Quintero dkk., 2022), self-efficacy merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri untuk mengorganisasi dan menjalankan tindakan yang diperlukan guna meraih tujuan tertentu. Oleh karena itu, semakin seseorang percaya bahwa dirinya mampu, semakin besar pula usaha, ketekunan, dan keberanian yang diberikan saat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, keyakinan bahwa diri tidak mampu justru dapat menurunkan usaha itu sendiri sebelum sempat benar-benar mencobanya. 

Maka, ketika saya kembali bertanya kepada diri sendiri, terkadang ramalan yang saya ciptakan untuk diri sendiri, entah berupa rasa takut gagal atau keyakinan bahwa saya mampu melakukan sesuatu, ternyata bukanlah sesuatu yang hanya ada di dalam kepala saya. Hal-hal itu sebetulnya diam-diam memengaruhi langkah saya dan membentuk kenyataan yang akan saya jalani. Oleh karena itu, saya menyadari bahwa keyakinan diri yang positif sebelum memulai suatu hal menjadi fondasi yang sangat penting. Di tengah banyaknya pilihan dalam hidup yang harus diambil, mulai dari hal kecil hingga besar, saya perlu percaya pada diri saya terlebih dahulu, yakin bahwa saya mampu melakukannya dengan baik. Apa pun hasilnya, yang terpenting adalah saya telah berani mencoba dan memercayai diri saya sendiri. Hal itulah yang benar-benar penting. 

Namun, saya juga menyadari bahwa bukan berarti setiap keinginan akan otomatis terwujud hanya dengan berpikir positif. Di dalamnya tetap ada usaha, proses, dan banyak faktor lain yang turut berperan. Dengan demikian, saya menyadari bahwa kita bukanlah sekadar penonton dalam cerita hidup kita sendiri. Cara kita memandang diri, entah dengan keraguan atau kepercayaan, ikut berperan dalam menuliskan bagaimana cerita itu akan berjalan. 

Oleh karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting untuk kita bawa dalam kehidupan sehari-hari bukan lagi “Apakah ramalan itu benar?”, melainkan “Ramalan seperti apa yang sedang saya ciptakan untuk diri sendiri hari ini?”

 

Penulis

Livia Prima Tanujaya (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Penyunting

Cesya Arzyanti Agustina (Asisten P2TKP Angkatan 2026)

Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan

Quintero, J. A. M., Santos, J. A. F., & Valencia, A. D. G. (2022). Approaches between self-efficacy and self-fulfilling prophecy, perspectives from education. Journal of Educational and Social Research, 12(6), 37–52. https://doi.org/10.36941/jesr-2022-0143  

 

Sumber Gambar

Livia Prima Tanujaya