Curhat atau Clickbait? Membaca Sadfishing ala Gen-Z di Media Sosial
Saat ini media sosial sedang marak dengan konten-konten yang membagikan masalah personal maupun kelompok seperti kasus kehilangan, ketidakadilan, dan kekerasan. Gen-Z sebagai generasi yang termasuk dalam kelompok pengguna media sosial terbesar marak mencari, memproduksi, dan membagikan konten seperti itu. Media sosial saat ini mulai diramaikan dengan tagar-tagar pencarian yang mengarah pada kasus-kasus seperti #kawal, #noviralnojustice, dan #wargajagawarga. Kumpulan tagar tersebut merepresentasikan reaksi simpati, peduli, dan solidaritas serta gotong royong dari publik. Melalui sorotan publik, banyak kasus yang akhirnya memperoleh keadilan hingga diselesaikan dengan cepat dan tuntas.
Lebih dari sekadar bentuk solidaritas, fenomena tersebut menunjukkan adanya dorongan kebutuhan psikologis dalam membagikan, menyukai, dan mengomentari kasus kritis di media sosial sebagai sarana untuk meluapkan berbagai emosi (emotional venting) (Lim dkk., 2025). Ekspresi emosi tersebut akrab dikenal oleh Gen-Z sebagai perilaku curhat. Curhat berfungsi sebagai wadah penyaluran emosi negatif, sekaligus sebagai upaya untuk mengatur hingga meredakan perasaan negatif dan penderitaan (Bae, 2023). Curhat dapat membantu individu merefleksikan masalah, sehingga individu dapat menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Kendati demikian, konten media sosial memungkinkan Gen-Z untuk mengembangkan maksud dan tujuan lain yang terselubung di balik aktivitas curhat.
Pengguna media sosial di Indonesia sempat digegerkan dengan kasus bertagar #JusticeForAudrey yang menjadi tren di media sosial Twitter pada April 2019. Kasus ini menyoroti seorang siswi sekolah menengah pertama bernama Audrey yang mengklaim bahwa dirinya mengalami perundungan dan kekerasan fisik oleh sekelompok temannya. Namun, hasil pemeriksaan visum dari kepolisian menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak sesuai dengan fakta medis, yang pada akhirnya mendorong Audrey untuk mengklarifikasi bahwa pernyataannya di media sosial adalah sebuah kekeliruan. Melalui kejadian tersebut, publik ramai mengecam Audrey dengan tuduhan penyebaran berita palsu melalui tagar #AudreyJugaBersalah. Putri dkk. (2020) mengungkap secara spesifik bahwa kasus Audrey merupakan perilaku melebih-lebihkan fakta melalui kebohongan mengenai masalah yang emosional, sebagai upaya untuk mendapat simpati publik di media sosial.
Mengonsumsi konten media sosial yang menyimpan maksud terselubung dapat berkaitan dengan konsep clickbait. Clickbait didefinisikan sebagai konten manipulatif yang bertujuan menarik atensi pengguna media sosial untuk mengklik, mengikuti, atau memperhatikan instruksi yang menyertainya (Potthast dkk., 2016, dalam Jung dkk., 2022). Atensi publik yang diarahkan dengan tidak bertanggung jawab dapat memicu pengalaman tertarik pada konten clickbait. Clickbait juga dapat dikaitkan dengan suatu fenomena yang disebut sebagai sadfishing.
Sadfishing merupakan istilah yang menggambarkan perilaku membagikan kerentanan emosional, perasaan sulit dipahami, dan masalah interpersonal di media sosial dengan tujuan mendapatkan atensi dan simpati dari komunitas daring (Shabahang dkk., 2023). Istilah “sadfishing” berasal dari gabungan kata “sad” (sedih) dan “fishing” (memancing). Hamzah & Putri (2022) menemukan bahwa berkembangnya sadfishing dipengaruhi oleh tiga faktor, antara lain:
- Perasaan terisolasi: Saat individu tidak mendapatkan perhatian yang menjadi kebutuhan psikologis, perasaan terisolasi secara emosional dapat muncul dan mendorong berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kondisi tersebut dapat mendorong individu untuk mencari ruang atau media yang memungkinkan dirinya memperoleh perhatian, pengakuan, dan simpati dari orang lain. Untuk itu, media sosial dipilih karena merupakan salah satu medium yang mudah diakses untuk membagikan cerita tentang frustrasi dengan intensi mendapat simpati dari publik.
- Pengaruh media sosial: Media sosial memfasilitasi ruang bagi individu untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas. Hal tersebut dapat mendorong kepercayaan diri individu dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan. Meskipun kebebasan berekspresi tersebut tetap terikat oleh aturan komunitas dalam bermedia sosial, kondisi ini tidak menutup kemungkinan terbukanya celah bagi sebagian individu untuk memanfaatkannya. Salah satunya melalui sadfishing yang dapat dilakukan seseorang sebagai upaya untuk memperoleh perhatian dan simpati.
- Perasaan tidak aman: Manusia memiliki konteks dan keunikan situasi tertentu dalam menghadapi suatu hal, misalnya perasaan tidak aman dalam mengungkapkan, menyalurkan, dan menggambarkan suatu hal. Maka, media sosial memungkinkan terciptanya ruang yang dianggap aman dalam memanifestasikan sesuatu secara anonim.
Dengan menyadari faktor penyebab sadfishing, kita dapat lebih terbantu dalam memahami alasan individu melakukannya. Lebih lanjut, kita perlu memahami pula bagaimana ciri-ciri perilaku sadfishing dapat memengaruhi interaksi dalam bermedia sosial. Berikut akan dipaparkan lebih lanjut mengenai ciri-ciri tersebut:
- Mengumbar emosi secara berlebihan: Sadfishing erat kaitannya dengan emosi negatif yang ekstrem. Saat individu mengunggah postingan yang bermuatan emosi negatif secara intens, hal ini dapat menjadi indikator awal dalam mengidentifikasi sadfishing yang dilakukan orang lain.
- Perubahan pola postingan secara signifikan: Pelaku dapat dengan mudah berpindah dari perasaan positif menjadi negatif dalam menunjukkan dirinya di media sosial. Pelaku dapat meyakini bahwa apa yang ditampilkan merupakan sebuah kebutuhan yang layak didapatkan hingga akhirnya dinormalisasi.
- Respons emosi yang kuat: Sadfishing dapat berkembang ketika pelaku mengharapkan adanya respons dan dukungan dari publik. Semakin banyak respons, dukungan, dan perhatian, semakin besar kemungkinan perilaku tersebut dipertahankan hingga menjadi kebiasaan dalam mengatasi atau meregulasi masalah yang dialami.
Mulai dari sini, kita memahami bahwa konten media sosial yang bermuatan pengalaman emosional seseorang dapat mengarah pada tujuan sekadar curhat atau menarik simpati publik, seperti pada sadfishing. Berkembangnya sadfishing di media sosial dapat menutup ruang curhat yang seharusnya dapat membantu individu memperoleh dukungan dan berdiskusi untuk menemukan solusi. Oleh karena itu, menghindari, menjaga jarak, dan menyikapi secara kritis berbagai konten sadfishing menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga lingkungan bermedia sosial yang aman.
Pada akhirnya, kebutuhan untuk mendapatkan simpati, atensi, dan solusi melalui media sosial dapat memberikan dampak positif. Namun, saat kebutuhan tersebut berubah menjadi ketergantungan untuk melibatkan publik dalam masalah pribadi, hal tersebut mulai menjadi masalah. Memahami batasan dalam mengungkap masalah di media sosial menjadi penting, seperti halnya menyadari intensi terselubung dari seseorang yang mencari perhatian publik melalui konten emosional. Bijak dalam memproduksi, mengunggah, dan menanggapi berbagai konten media sosial menjadi kapasitas yang penting untuk dimiliki oleh Gen-Z.
Penulis
William (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)
Penyunting
Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Bae, M. (2023). Coping strategies initiated by COVID-19-related stress, individuals’ motives for social media use, and perceived stress reduction. Internet Research, 33(1), 124–151. https://doi.org/10.1108/INTR-05-2021-0269
Hamzah, R. E., & Putri, C. E. (2022). Fenomena Memancing Kesedihan di Media Sosial (sadfishing) pada Literasi Digital Remaja. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 21(2), 311-323. https://journal.moestopo.ac.id/index.php/wacana/article/view/2290/1140
Jung, A.-K., Stieglitz, S., Kissmer, T., Mirbabaie, M., & Kroll, T. (2022). Click me. . .! The influence of clickbait on user engagement in social media and the role of digital nudging. PLoS ONE, 17(6), e0266743. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0266743
Lim, H. S., & Natalie Brown-Devlin. (2025). Venting crisis emotions in secondary crisis communication on social media: the moderating roles of brand identification and social media metrics. Journal of Communication Management, 1(24). https://doi.org/10.1108/JCOM-01-2025-0018
Putri, C. E., Damayanti, N., & Hamzah, R. E. (2020). Sadfishing Phenomenon of #Justiceforaudrey (Hashtag) On Twitter. MediaTor, 13(1), 58-67. https://doi.org/10.29313/mediator.v13i1.5598
Shabahang, R., Shim, H., Aruguete, M. S., & Zsila, Á. (2023). Adolescent sadfishing on social media: anxiety, depression, attention seeking, and lack of perceived social support as potential contributors. BMC Psychol, 11(378). https://doi.org/10.1186/s40359-023-01420-y
Sumber Gambar
William (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)