Karya Tulis,  Podjok Merenung

Lihat Segalanya Lebih Dekat

Adakalanya kita terlalu cepat menyimpulkan segala sesuatu hanya dari apa yang terlihat oleh mata. Melihat orang lain tersenyum, kita mengira bahwa mereka dalam kondisi baik-baik saja. Melihat seseorang diam, kita mengira bahwa ia sedang marah atau kesal. Melihat rekan yang berhasil mencapai sesuatu dalam hidup, kita berpikir bahwa hidupnya berjalan dengan mudah. Padahal, apa yang terlihat tidak selalu benar-benar menceritakan keseluruhan cerita.

Kita hidup di tengah perkembangan zaman, dan hal tersebut mendorong kita melihat segala sesuatu dengan cepat. Sebuah foto di media sosial hanya membutuhkan beberapa detik untuk dilihat dan diberi like. Sebuah pesan hanya dinilai dari satu kalimat dan sebuah video pendek yang kita lihat terkadang dapat membentuk penilaian tersendiri bagi para penonton. Tanpa disadari, kita terbiasa mengambil kesimpulan sebelum benar-benar memahami apa yang ada di baliknya. Hal yang sama juga terjadi ketika kita melihat diri sendiri.

Ketika nilai tidak sesuai harapan, kita dapat merasa kurang mampu. Ketika sebuah hubungan tidak berjalan dengan baik, kita dapat menyalahkan diri sendiri atau menganggap orang tersebut tidak peduli. Saat rencana tidak sesuai dengan keinginan, kita dapat merasa semuanya gagal. Namun, bagaimana jika kita melihatnya sedikit lebih dekat?

Mungkin nilai yang kurang baik bukan semata-mata tentang kemampuan, tetapi juga tentang kelelahan yang selama ini tidak disadari. Mungkin seseorang yang terlihat menjauh sedang menghadapi sesuatu yang tidak pernah diceritakannya. Mungkin kegagalan yang kita anggap sebagai akhir justru sedang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu dipelajari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering larut dalam pikiran dan emosi yang muncul saat menghadapi suatu situasi. Melalui decentering, individu belajar untuk mengambil jarak sejenak dari pengalaman tersebut sehingga pikiran dan emosi dapat diamati dari sudut pandang yang lebih objektif tanpa terlarut di dalamnya. Decentering adalah kemampuan untuk mengamati pikiran atau perasaan yang ada dalam pikiran (Bennett et al., 2021). Dengan demikian, ketika individu mengambil jarak dari pikiran dan perasaan yang muncul, individu memiliki kesempatan untuk melihat suatu pengalaman secara lebih utuh, tidak hanya berdasarkan emosi atau pemikiran yang sedang dirasakan pada saat itu.

Setelah mampu mengambil jarak dari pikiran dan perasaan yang muncul, kita dapat melihat kembali pengalaman tersebut dengan lebih tenang. Jarak tersebut memberikan kesempatan untuk tidak langsung memercayai pemaknaan pertama yang muncul. Kita dapat berhenti sejenak, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dengan begitu, melihat lebih dekat bukan berarti mengubah apa yang telah terjadi, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk memahami suatu pengalaman dengan lebih utuh.

Melihat lebih dekat bukan berarti membenarkan segala sesuatu, dan bukan berarti kita harus selalu mencari alasan untuk setiap situasi. Melihat lebih dekat artinya memberi diri sendiri kesempatan untuk memahami sebelum menghakimi. Kita tidak pernah benar-benar tahu seluruh isi cerita manusia hanya dari apa yang ditunjukkan. Oleh karena itu, adakalanya kita perlu memperlambat langkah dan tidak terburu-buru menyimpulkan atau memberikan label hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Kita sendirilah yang paling tahu apa yang kita butuhkan. 

Sudah saatnya melihat diri sendiri dan orang lain lebih dekat. Terkadang, saat kita bersedia melihat lebih dekat, segala sesuatu yang semula dirasa buruk ternyata sedang memberikan pelajaran penuh makna. Tidak segala hal harus dipahami dengan cepat. Ada yang hal-hal yang memerlukan waktu, perhatian, dan kesediaan untuk memahami. Barangkali yang dibutuhkan bukan sudut pandang yang berbeda, melainkan kesediaan untuk melihat segalanya lebih dekat. 

Jangan hanya melihat apa yang tampak. Beri diri sendiri waktu untuk melihat segala sesuatu lebih dekat agar kita dapat memahami keseluruhan cerita dan menilainya dengan lebih bijaksana.

 

Penulis

Theresia Tyas Petrisilia (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Penyunting

Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan

Bennett, M. P., Knight, R., Patel, S., So, T., Dunning, D., Barnhofer, T., Smith, P., Kuyken, W., Ford, T., & Dalgleish, T. (2021). Decentering as a core component in the psychological treatment and prevention of youth anxiety and depression: a narrative review and insight report. Translational Psychiatry, 11. https://doi.org/10.1038/s41398-021-01397-5

 

Sumber Gambar

Theresia Tyas Petrisilia