Saat Tak Ada Telinga yang Mendengar
Ada kalanya kita merasa lelah, tetapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Mungkin setelah menjalani hari yang melelahkan, kita duduk sendirian di kamar. Pikiran dipenuhi berbagai hal yang belum selesai, seperti tugas pekerjaan, masalah keluarga, pertemanan, atau kecemasan tentang masa depan. Ada begitu banyak hal yang ingin diungkapkan, tetapi tidak tahu kepada siapa hal tersebut harus disampaikan.
Saat malam mulai sepi, tanpa sadar tangan kita membuka ponsel. Mencari seseorang yang mungkin bisa diajak berbicara. Nama demi nama muncul di layar, tetapi tidak ada yang benar-benar terasa tepat untuk dihubungi. Ada yang sedang sibuk, ada yang sudah tidak sedekat dulu, dan ada pula perasaan tidak enak jika harus membebani orang lain dengan cerita yang dimiliki. Ponsel diletakkan, dan cerita tetap tinggal di dalam kepala.
Pengalaman seperti ini mungkin pernah dirasakan banyak orang. Bukan karena tidak memiliki teman atau keluarga, tetapi karena ada hal-hal yang terasa sulit untuk diungkapkan. Akhirnya, semua perasaan itu disimpan sendiri sambil berharap waktu akan membuat keadaan membaik.
Sayangnya, perasaan yang terus dipendam sering kali tidak benar-benar hilang. Perasaan tersebut hanya diam untuk sementara. Kesedihan, kecewa, marah, atau cemas tetap ada, meskipun tidak terlihat oleh siapa pun.
Gross (2015) menjelaskan bahwa mengelola emosi bukan berarti memaksa diri untuk tidak sedih atau tidak kecewa. Justru langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari dan menerima apa yang sedang dirasakan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang lebih sibuk berusaha terlihat kuat daripada benar-benar mendengarkan diri sendiri. Akibatnya, emosi yang diabaikan sering kali kembali muncul dalam bentuk yang berbeda.
Di saat seperti itu, kita sering berpikir bahwa satu-satunya cara agar merasa lebih baik adalah menemukan seseorang yang dapat mendengarkan. Padahal, tidak semua luka membutuhkan jawaban atau solusi. Ada kalanya yang paling dibutuhkan hanyalah ruang yang aman untuk mengakui bahwa hari ini terasa berat.
Ketika tidak ada tempat untuk bercerita, menulis bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu diri sendiri. Menurut Pennebaker dan Chung (2012), menuliskan pengalaman dan perasaan yang sedang dialami dapat membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri. Saat pikiran yang selama ini hanya berputar di kepala mulai dituangkan ke dalam tulisan, kita perlahan melihat diri sendiri dengan lebih jernih.
Tulisan itu tidak harus dibaca oleh siapa pun. Tidak perlu menjadi tulisan yang indah atau rapi. Kadang, proses menulis itu sendiri sudah cukup menjadi ruang untuk melepaskan apa yang selama ini dipendam. Melalui tulisan, kita belajar bahwa setiap perasaan berhak untuk hadir. Kesedihan tidak harus disembunyikan, kelelahan tidak harus selalu ditutupi dengan senyuman, dan kecemasan tidak harus selalu dilawan dengan berpura-pura kuat.
Pada akhirnya, tidak semua hal harus segera dipahami oleh orang lain. Ada kalanya proses pemulihan justru dimulai ketika seseorang berani berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang selama ini diabaikannya.
Menjadi ruang aman bagi diri sendiri bukan berarti menutup diri dari orang lain. Sebaliknya, hal tersebut merupakan cara untuk tetap memiliki tempat pulang ketika dunia terasa terlalu ramai. Sebab, tidak setiap hari kita menemukan seseorang yang siap mendengarkan, tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk belajar hadir bagi diri kita sendiri.
“Tidak semua cerita menemukan pendengarnya, tetapi setiap hati tetap layak untuk didengar”
Penulis
Trivany Dionisia Halawa (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Penyunting
Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Gross, J. J. (2015). Emotion Regulation: Current status and future Prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840x.2014.940781
Pennebaker, J. W., & Chung, C. K. (2012). Expressive writing: connections to physical and mental health. In Oxford University Press eBooks (pp. 417–437). https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780195342819.013.0018
Sumber Gambar
Trivany Dionisia Halawa (Asisten P2TKP Angkatan 2025)