Tidak Semua Pintu Harus Selalu Terbuka
Sering kali, bibir berkata “ya”, tetapi hati terasa berat. Kita tetap membantu, tetap mengiyakan, dan tetap hadir untuk orang lain, meskipun diri sendiri sedang merasa tidak sanggup. Mengapa mengatakan “tidak” sering kali terasa begitu sulit?
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada situasi ketika permintaan atau kebutuhan orang lain datang bersamaan dengan keterbatasan kita miliki saat itu. Permintaan bantuan, ajakan untuk hadir, atau berbagai harapan agar kita selalu tersedia untuk orang lain kerap menghiasi hari-hari kita. Hingga tanpa disadari, kita terbiasa menyetujui berbagai permintaan tanpa melihat batas antara “sanggup” dan “tidak sanggup”. Hal ini dapat dipahami sebagai bentuk rendahnya kemampuan asertivitas (assertiveness), yaitu kemampuan untuk mengekspresikan kebutuhan dan batas diri secara jujur tanpa mengorbankan hak orang lain. Maslow (1943) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar, yaitu untuk merasa diterima, menjadi bagian dari kelompok, serta dihargai oleh orang lain. Ketika kebutuhan ini belum sepenuhnya terpenuhi, kita akan cenderung berusaha mempertahankan penerimaan sosial dengan cara menyesuaikan diri, bahkan jika hal itu berarti mengorbankan kenyamanan pribadi.
Dalam prosesnya, perlahan kita bisa kehilangan kesempatan untuk benar-benar mendengarkan diri sendiri. Kita terlalu sibuk menjaga agar tetap diterima, sampai-sampai tidak sadar bahwa ada bagian dari diri yang mulai terabaikan. Batas antara apa yang sebenarnya kita mampu dan apa yang orang lain harapkan menjadi semakin samar, seolah keduanya harus selalu kita penuhi bersamaan. Pada titik tertentu, kita mungkin tidak lagi bertanya “Aku sanggup atau tidak?”, melainkan lebih sering bertanya “Kalau aku menolak, apakah mereka akan kecewa?”. Perlahan-lahan, kita terbiasa menimbang perasaan orang lain lebih dulu daripada kondisi diri sendiri. Banyak dari kita memilih mengatakan “iya” kepada orang lain karena kebutuhan untuk tetap merasa diterima dan menjadi bagian dari hubungan sosial yang dimiliki. Kebutuhan akan rasa memiliki (belonging) merupakan salah satu kebutuhan psikologis mendasar yang memengaruhi perilaku manusia (Allen dkk., 2022). Hal ini membuat seseorang cenderung menghindari situasi yang berpotensi mengganggu penerimaan sosialnya, termasuk ketika harus menolak permintaan orang lain. Akibatnya, kata “tidak” sering kali terasa lebih berat karena dipersepsikan dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain, meskipun secara pribadi seseorang sebenarnya memiliki keterbatasan.
Tanpa disadari, kita mulai hidup dengan cara yang lebih banyak mempertimbangkan bagaimana kita terlihat di mata orang lain daripada bagaimana kondisi kita sebenarnya. Hingga akhirnya, ada bagian dari diri yang terasa semakin jauh dari kesadaran kita, meskipun kita tetap menjalani hari seperti biasa. Yang sering luput kita sadari adalah bahwa kebutuhan untuk dihargai ternyata juga mencakup bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Namun, ketika terlalu sering mencari penerimaan dari luar, kita bisa lupa bahwa diri sendiri juga perlu ruang untuk didengar, dipahami, dan dihormati.
Pada akhirnya tanpa disadari, kelelahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Seolah-olah mengabaikan diri sendiri merupakan bagian yang wajar dari menjadi orang yang “baik” bagi orang lain. Pada akhirnya, mungkin kita tidak selalu harus menjadi orang yang tersedia untuk semua orang. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, mendengarkan diri sendiri, dan menyadari bahwa batas bukanlah bentuk penolakan terhadap orang lain, melainkan cara untuk tetap hadir secara utuh dalam hidup kita sendiri. Karena ketika kita terus-menerus mengabaikan diri sendiri, kita perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar merasa hidup.
Menjaga batas diri bukan berarti menjauh dari orang lain, tetapi belajar untuk tetap tinggal di dalam diri sendiri. Karena sebelum kita menjadi tempat bagi orang lain, kita juga perlu menjadi tempat yang aman bagi diri kita sendiri.
Penulis
Yosephin Femmy Kurniasari (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Penyunting
Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Allen, K. A., Gray, D. L., Roy FBaumeister, & R, M. (2022). The Need to Belong: a Deep Dive into the Origins, Implications, and Future of a Foundational Construct. Educational Psychology Review, 34. https://doi.org/10.1007/s10648-021-09633-6
Ford, B. Q., & Gross, J. J. (2023). Emotion regulation and interpersonal functioning: Contemporary perspectives. Annual Review of Psychology, 74, 1–28. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-032420-031339
Maslow, A. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370-396.
Sumber Gambar