Jalan Yang Jauh, Jangan Lupa Bahagia
Terkadang hidup terasa seperti sebuah perlombaan panjang yang tidak akan pernah benar-benar selesai. Kita akan selalu berusaha menjadi versi terbaik diri kita sendiri, seperti mendapat nilai yang baik, mampu membanggakan keluarga, menjadi pribadi yang kuat, selalu berbuat baik, dan selalu terlihat “baik-baik saja.” Tanpa disadari banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa diri ini hanya layak dicintai ketika berhasil memenuhi harapan orang lain. Ketika kita gagal akan muncul rasa kecewa, malu, bahkan tidak cukup berharga. Inilah yang ada dalam pandangan Carl Rogers yang disebut sebagai conditions of worth, yaitu kondisi seseorang merasa dirinya hanya berharga apabila memenuhi standar tertentu dari orang-orang di sekitarnya (Rogers, 1959).
Tanpa disadari, tekanan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain membuat seseorang menjauh dari dirinya sendiri. Banyak orang akhirnya hidup demi memenuhi ekspektasi orang lain, bukan berdasarkan apa yang benar-benar mereka inginkan. Dalam Self-Determination Theory, terdapat tiga kebutuhan psikologis utama agar seseorang dapat berkembang dengan sehat, yaitu autonomy (kebebasan menentukan pilihan hidup), competence (merasakan kemampuan diri), dan relatedness (keterhubungan) (Deci et al., 2000). Kita memerlukan kebebasan untuk menentukan hidup, merasa mampu atas apa yang dikerjakan, dan merasa diterima tanpa syarat oleh orang lain. Ketika hal ini terpenuhi, maka kita akan lebih mudah menemukan makna, motivasi, dan kebahagiaan yang datang dari dalam dirinya (Glendinning et al., 2021).
Namun kenyataannya, banyak dari kita yang hidup dalam kondisi sebaliknya. Kita hidup dengan terus memaksakan diri untuk memenuhi harapan orang lain, sehingga ketika kita ingin beristirahat sering kali muncul perasaan bersalah. Hal inilah yang membuat hidup semakin lama menjadi sebuah tekanan dan kita akan kehilangan diri kita sendiri. Saat kebutuhan psikologis dasar seseorang tidak terpenuhi, hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya stres, ketidakpuasan hidup, hingga menurunnya kesejahteraan mental. Sebaliknya, terpenuhinya kebutuhan psikologis akan membantu seseorang lebih autentik, bermakna dan sejahtera secara psikologis (Putranto, 2024).
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mulai mengenali kembali apa yang benar-benar kita inginkan, bukan yang diharapkan oleh orang lain. Kita juga bisa mulai menghargai setiap proses kecil yang sudah kita capai, tidak hanya keberhasilan yang besar. Kemudian, menghindari kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain juga menjadi langkah yang penting karena setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Selain itu, dapat diawali dengan berada di dekat orang-orang yang mampu menerima kita tanpa syarat dan dapat membantu kita merasa aman menjadi diri sendiri. Terkadang, dukungan sederhana seperti didengar tanpa dihakimi atau diterima ketika sedang merasa gagal dapat menjadi kekuatan baru. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dan penerimaan diri berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis serta menurunkan tekanan emosional pada individu (Shin & Park, 2022).
Dari sini, kita perlu belajar untuk menyadari bahwa hidup bukanlah tentang pencapaian. Perasaan lelah, ingin beristirahat, ataupun gagal merupakan hal yang wajar. Hal tersebut bukanlah ukuran utama untuk menentukan apakah seseorang dapat hidup bahagia. Bahagia tidak hanya datang dari sebuah keberhasilan yang dicapai, tetapi ketika seseorang dapat memaknai setiap proses dirinya. Ketika kita dapat memilih tanpa rasa takut, merasa cukup tanpa membandingkan pencapaian orang lain, dan diterima oleh lingkungan sekitar, di situlah kebahagiaan perlahan tumbuh.
Jalan hidup setiap orang akan selalu berbeda, tetapi tidak jarang terasa melelahkan. Akan tetapi, apabila kita merasa tertinggal, kehilangan arah, atau mempertanyakan nilai diri sendiri, jangan lupa bahwa diri kita layak dihargai walaupun belum menjadi sempurna. Pada akhirnya, perjalanan panjang akan hanya terasa melelahkan, apabila kita tidak mampu memaknai dan mencari kebahagiaan di setiap prosesnya.
“Kebahagiaan bukanlah sebuah hadiah dari perlombaan, tetapi hal yang perlu dirawat sejak kita memulai hingga perjalanan itu selesai”.
Penulis
Dwi Pandanwanginingwidi Prastutiputri (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Penyunting
Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01
Glendinning, F., Woodman, T., Hardy, L., & Ong, C. W. (2021). The benefits of need satisfaction depend on their relative importance for people with a unidimensional identity: An idiographic analysis. Motivation and Emotion, 45, 728–746. https://doi.org/10.1007/s11031-021-09908-z
Putranto, M. N. S. (2024). Hubungan Kebutuhan Psikologis Dasar (Basic Psychological Needs) dengan Kesejahteraan Psikologis (Psychological Well-being). Universitas Islam Indonesia.
Rogers, C. R. (1959). A Theory of Therapy, Personality, and Interpersonal Relationships as Developed in the Client-Centered Framework. Dalam S. Koch (Ed.), Psychology: A Study of a Science (Vol. 3, hlm. 184–256). New York: McGraw-Hill.
Shin, H., & Park, C. (2022). Social support and psychological well-being in younger and older adults: The mediating effects of basic psychological need satisfaction. Frontiers in Psychology, 13, 1051968. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1051968
Sumber Gambar
Schmid, Austin (2022, Mei 10). Jalan setapak kayu yang melewati ladang berumput [Fotografi]. Unsplash.com. https://unsplash.com/id/foto/jalan-setapak-kayu-yang-melewati-ladang-berumput-mz4u0rwzvAU