Menemukan Kebermaknaan Hidup dalam Percakapan Kecil dengan Orang Asing
Sebagai mahasiswa kadang kita merasa bersalah karena menikmati waktu bersantai seperti menonton film favorit atau menghabiskan sore di kafe tanpa menyelesaikan tugas perkuliahan. Di sisi lain, pernahkan muncul perasaan hampa meskipun target hidup sudah tercapai? Kedua pengalaman ini mencerminkan dua wajah kebahagiaan yang selama ini menjadi perdebatan dalam psikologi, yaitu kebahagiaan hedonik dan eudaimonik.
Konsep kebahagiaan dalam psikologi tidak sesederhana hanya merasa senang. Ryan & Deci (2001) membedakannya menjadi dua wajah. Wajah yang pertama disebut “hedonik”, yaitu sebagai kebahagiaan yang lahir dari kesenangan, kenyamanan, dan momen-momen singkat yang terasa menyenangkan. Wajah yang kedua disebut “eudamonik”, yaitu kebahagiaan yang tumbuh dari makna dan pertumbuhan diri. Sekilas, keduanya tampak seperti dua kutub yang berlawanan. Namun apakah harus demikian?
Ternyata tidak. Dalam konteks sosial, kesenangan yang bersifat hedonik seringkali dipandang sebagai pemborosan waktu dan dianggap tidak ambisius. Kondisi ini yang terkadang menciptakan self-policing, yaitu ketika individu mulai menghakimi kesenangannya sendiri. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa individu yang hanya berfokus pada pencapaian makna dan mengabaikan kesenangan sehari-hari akan lebih rentan mengalami kelelahan secara emosional (Steger et al. 2008). Selain itu, menurut Huta & Waterman (2014) menegaskan bahwa kebahagiaan hedonik dan eudaimonik bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua fungsi psikologis yang saling melengkapi. Hedonik berperan untuk menjaga individu tetap berenergi dan termotivasi, sedangkan eudaimonik berperan untuk menentukan arah dari perjalanan hidup. Keduanya berjalan seperti langkah dan kompas pada kehidupan manusia yang sedang memulai perjalanan. Hedonik menggerakan kaki untuk melangkah maju, sedangkan eudaimonik berperan seperti kompas yang memastikan langkah menuju arah yang benar.
Analogi ini menjadi nyata terutama di masa perkuliahan. Masa ini merupakan fase kehidupan yang intens dalam pencarian identitas dan pemaknaan hidup. Di satu sisi, mahasiswa dituntut untuk mempersiapkan rencana masa depan dan menyelesaikan studi. Di sisi lain, mereka juga menjalani momen-momen yang tampak kecil, namun memiliki dampak psikologis yang besar seperti berbincang di kafe hingga lupa waktu, mengerjakan tugas kelompok yang seringkali berakhir dengan saling bercerita, serta melakukan perjalanan spontan ke berbagai tempat hanya karena salah satu dari teman merasa bosan. Momen-momen ini bukan sesuatu yang perlu disesali. Dalam kerangka teori broaden-and-build theory yang dikemukakan oleh Fredrickson (2001), emosi positif yang lahir dari momen atau pengalaman hedonik mampu menjadi fondasi bagi kebermaknaan di masa depan. Menariknya, fondasi ini tidak selalu dibangun bersama orang terdekat, tetapi juga dapat tumbuh dari pertemuan yang tidak terduga.
Peterson et al. (2005) memperkenalkan konsep the full life, yaitu kondisi ketika individu menggabungkan kehidupan yang menyenangkan (the pleasant life) dan hidup yang bermakna (the meaningful life). Individu yang menjalani the full life memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya berfokus pada salah satu orientasi saja. Hal ini relevan dengan realitas kehidupan yang dijalani oleh mahasiswa, terutama pada masa-masa penuh tekanan. Ketika tiba-tiba muncul pertanyaan tentang masa depan yang terasa berat, momen-momen kecil yang menyenangkan seperti berbincang dengan orang yang baru ditemui dapat menjadi bagian dari the full life yang seringkali tidak disadari. Hanya saja, mengapa pada momen-momen kecil seperti bertemu dan berbincang dengan orang asing terkadang tidak terasa bermakna? Salah satu penyebabnya adalah kecenderungan manusia dalam meremehkan dampak dari koneksi sosial yang singkat.
Boothby et al. (2018) mengidentifikasi fenomena ini yang disebut dengan liking gap, yaitu kecenderungan individu untuk meremehkan kesan yang ditinggalkan serta dampak koneksi atau interaksi singkat, baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Setelah berbicara dengan orang baru, kita cenderung merasa bahwa percakapan tersebut tidak berkesan, padahal lawan bicara bisa saja menilainya sebagai percakapan yang bermakna.
Lebih jauh lagi, menurut Van Lange & Columbus (2021) menjelaskan bahwa berinteraksi dengan orang asing atau biasa disebut weak ties, dapat menciptakan pemaknaan hidup yang lebih besar. Berbeda dengan hubungan yang sudah dekat atau berlangsung lama, weak ties menawarkan perspektif baru yang dapat memengaruhi cara pandang individu terhadap diri sendiri. Hal inilah yang membuat interaksi singkat seperti berbincang dengan orang asing di tempat umum berpotensi menjadi jembatan menuju pengalaman eudaimonik.
Pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi “mana kehidupan yang lebih baik antara hedonik atau eudaimonik?”, melainkan “apakah kita sudah memberi ruang bagi bagi keduanya dalam hidup saat ini? Menjalani kehidupan yang bermakna tidak berarti harus selalu serius, produktif, dan penuh pencapaian. Dengan berjalan pelan-pelan, kebermaknaan akan hidup tumbuh di sela-sela momen yang tampak sederhana di tengah kesibukan yang kita jalani, seperti percakapan singkat dengan seseorang yang baru saja ditemui. Mulailah dari hal kecil, seperti mengizinkan diri sendiri untuk beristirahat tanpa rasa bersalah, menjalani setiap langkah dengan penuh rasa syukur, serta menyapa terlebih dahulu dengan orang-orang di sekitar sebagai bentuk keterbukaan diri. Jadi, sudahkah kita mengizinkan diri sendiri untuk bahagia dengan cara apapun?
Penulis
Beatricea Averilliquinn Setio Wibowo (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)
Penyunting
Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Boothby, E. J., Cooney, G., Sandstrom, G. M., & Clark, M. S. (2018). The liking gap in conversations: Do people like us more than we think? Psychological Science, 29(11), 1742–1756. https://doi.org/10.1177/0956797618783714
Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226. https://doi.org/10.1037/0003-066X.56.3.218
Huta, V., & Waterman, A. S. (2014). Eudaimonia and its distinction from hedonia: Developing a classification and terminology for understanding conceptual and operational definitions. Journal of Happiness Studies, 15(6), 1425–1456. https://doi.org/10.1007/s10902-013-9485-0
Peterson, C., Park, N., & Seligman, M. E. P. (2005). Orientations to happiness and life satisfaction: The full life versus the empty life. Journal of Happiness Studies, 6(1), 25–41. https://doi.org/10.1007/s10902-004-1278-z
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on hedonic and eudaimonic well-being. Annual Review of Psychology, 52, 141–166. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.52.1.141
Steger, M. F., Kashdan, T. B., & Oishi, S. (2008). Being good by doing good: Daily eudaimonic activity and well-being. Journal of Research in Personality, 42(1), 22–42. https://doi.org/10.1016/j.jrp.2007.03.004
Van Lange, P. A. M., & Columbus, S. (2021). Vitamin S: Why is social contact, even with strangers, so important to well-being? Current Directions in Psychological Science, 30(3), 267–273. https://doi.org/10.1177/09637214211002538
Sumber Gambar: Beatricea Averilliquinn Setio Wibowo (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)