Tumbuh dari Luka dan Tanda Tanya yang Belum Terjawab: Unfinished Business
Mengapa setiap aku berbicara dengan orang tertentu, nada bicaraku menjadi tinggi? Seolah-olah marah, padahal itu pertanyaan sederhana. Mengapa emosiku terasa meluap setiap kali berbicara dengan mereka, padahal sebenarnya aku tidak ingin marah?
Apakah teman-teman tidak asing dengan situasi ini? Terkadang, ketika kita berbicara dengan orang-orang tertentu, baik dengan orang tua, teman, maupun orang terdekat lainnya, emosi meluap dan sangat sulit untuk dikendalikan. Sering kali, kita baru menyadari setelahnya bahwa kita tidak sepenuhnya memahami emosi yang sedang dirasakan. Situasi ini dapat mengarah pada istilah dalam psikologi, yaitu unfinished business, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “urusan yang belum selesai.” Istilah ini cukup sering terdengar akhir-akhir ini, terutama di berbagai platform media sosial yang mayoritas penggunanya adalah remaja. Lebih lanjut, konsep ini pertama kali diperkenalkan dalam pendekatan Gestalt. Pandangan ini menyatakan bahwa pengalaman yang tidak tuntas akan terus-menerus “menghantui” pikiran dan perasaan hingga terdapat kejelasan atau penyelesaian.
Berbagai pengalaman di masa lalu yang belum terselesaikan dapat mengarah pada unfinished business. Perasaan dan emosi yang belum diekspresikan dapat berkaitan dengan ingatan, fantasi atau muatan dalam diri lainnya (Komalasari dkk., dalam Krismonita dkk., 2022). Luapan emosi ini dapat terjadi karena sakit hati, rasa marah, rasa malu, pasrah, atau bahkan perasaan putus asa. Emosi-emosi tersebut terbentuk karena adanya pengalaman masa lalu bersama orang lain, seperti orang tua, keluarga, teman atau significant others. Lebih lanjut menurut Harumi (dalam Fajriani, 2024), unfinished business mengarah pada permasalahan di masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan. Dari kedua pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa unfinished business merupakan beban emosional atau permasalahan dari masa lalu yang melibatkan orang lain dan belum terselesaikan hingga saat ini. Kondisi ini menyebabkan beban yang dirasakan terus membekas dan berdampak negatif pada kondisi psikologis individu.
Apabila dilihat sekilas, situasi ini memang terlihat sederhana karena seiring waktu individu akan membentuk banyak memori baru di masa mendatang sehingga perasaan-perasaan di masa lalu perlahan akan tergantikan. Namun, bagi sebagian orang, situasi ini justru berpengaruh bagi kehidupannya di masa kini dan membawa dampak negatif bagi dirinya. Perasaan dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan dapat menghambat proses dinamika interpersonal individu (Corey, dalam Astriani et al., 2023). Dampaknya tidak hanya pada relasi interpersonal, tetapi juga pada berbagai aspek pribadi, seperti kesehatan mental, produktivitas, kognitif, afektif, dan perilaku. Hal ini bisa terjadi karena individu cenderung kesulitan dalam membedakan beban masa lalu dengan realita di masa kini.
Dampak unfinished business tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga dapat mempengaruhi orang lain serta merusak relasi dengan orang terdekat. Ketika berada dalam situasi yang mengingatkan pada masa lalu, seseorang dapat secara tidak sadar marah, atau bahkan menangis tanpa sebab yang jelas. Rasanya seperti ingin menghindar dari situasi tersebut. Emosi yang belum tuntas ini secara tidak sadar tersimpan dalam waktu lama, bahkan sejak masa kanak-kanak.
Contoh paling sederhana dari pengalaman tersebut adalah sering dibandingkan dengan orang lain, tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan emosi, jarang didengarkan, atau merasa tidak pernah cukup. Pengalaman ini membekas dan tersimpan, hingga akhirnya menjadi sebuah ingatan emosional. Ketika pengalaman tersebut muncul kembali di masa kini, hal itu dapat membuka kembali luka lama.
Kondisi ini membawa pengaruh negatif bagi individu, jika terus-menerus diabaikan. Contohnya seperti kecemasan berlebihan sehingga individu mengalami kesulitan dalam mengerjakan hal-hal yang lebih penting (preoccupation), kesulitan dalam mengontrol perilaku (compulsive behaviour), kehati-hatian yang berlebihan, serta kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri (Komalasari et al., dalam Kristmonia et al., 2022). Jika emosi masa lalu terus dipendam, hal ini dapat membentuk siklus negatif yang melukai diri sendiri. Kondisi ini dapat memunculkan perasaan menyesal yang mendalam dan munculnya pertanyaan besar atas kejadian di masa lalu. Rasanya situasi ini sangat mengganggu teman-teman bukan? Sepertinya menjalani kehidupan masa kini diiringi dengan “tanda tanya besar” dan rasa sesal bukanlah hal yang kita rencanakan.
Kita memang tidak memiliki kendali atas masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu ikut membentuk diri kita di masa kini. Namun, bukan berarti pengalaman di masa lalu harus terus terulang tanpa adanya perubahan. Memulai sesuatu dari diri kita sendiri adalah suatu hal yang paling sederhana yang dapat membawa perubahan besar. Setelah memahami situasi unfinished business yang kompleks, mungkin muncul pertanyaan: “Bagaimana cara mengelolanya?” Kita bisa memulai dengan langkah-langkah sederhana, seperti:
- Menyadari dan mengakui bahwa pengalaman masa lalu: Pengalaman masa lalu dapat membantu kita bertumbuh dan berkembang di masa kini, meskipun terkadang masih menimbulkan perasaan yang mengganjal.
- Mengenali emosi: Perlahan, coba kenali emosi yang dirasakan saat ini. Dalam teori Gestalt, dijelaskan bahwa untuk menuju suatu kesembuhan, individu harus bisa menyadari situasi yang ia rasakan saat ini. Hal tersebut dapat dimulai dengan sebuah pertanyaan pemantik, seperti: “Apa emosi yang paling dominan muncul saat aku membahas tentang seseorang?” Apakah emosi marah, sedih, atau bahkan malu? Sadari dan kenalilah emosi ini dengan perlahan namun pasti.
- Mengekspresikan emosi: Salah satu alasan mengapa emosi di masa kini dapat meluap-luap adalah emosi tersebut tidak diekspresikan di masa lalu.
- Self-reward: Mulai apresiasi segala hal yang telah dilalui. Melakukan evaluasi dan menghargai segala hal yang sudah dilalui, maafkan segala kekurangan yang ada dan fokus pada prosesnya.
- Mencari bantuan profesional: Jika teman-teman merasa membutuhkan adanya pendampingan dari tenaga profesional seperti psikolog, jangan ragu ataupun takut untuk menemui psikolog dan membuat janji sesi konseling.
Teman-teman, apa yang terjadi di masa lalu merupakan rangkaian kecil dari cerita kehidupan kita. Kenangan, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, memiliki peran dalam membentuk siapa kita di masa kini. Meskipun tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, mengakhiri bukan berarti melupakan bukan? Dengan keberanian untuk membuka kembali cerita di masa lalu dan belajar darinya merupakan hal yang perlu diapresiasi. Selamat melanjutkan cerita kita masing-masing dan terus bertumbuh.
Penulis
Patricia Karina Putri (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)
Penyunting
Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Astriani, D., Puspasari, K. D., Purwaningru, D., Lestari, A. A., & Nisa, A. R. (2023, Desember). Memperbaiki Hubungan Interpersonal dalam Keluarga pada Individu dengan Unfinished Business melalui Teknik Empty Chair. Jurnal SINDA, 3(3). doi.org/10.28926/sinda.v3i3 1140
Fajriani, A. F. (2024, April 28). Konseling Individual dengan Teknik Empty Chair Mengatasi Unfinished Business Siswa di Pendidikan Menengah Kejuruan. Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), 3(3), 103-109. 10.31960/dikdasmen-v3i3-2418
Kristmonia, Sutja, A., & Wahyuni, H. (2022). Penerapan Teknik Kursi Kosong Untuk Mengatasi Unfinished Business Rasa Bersalah di SMP 17 Kota Jambi. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(4).
Sumber Gambar: Patricia Karina Putri