
Yogyakarta (9/4/19), Pusat Studi Invidu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) menyelenggarakan seminar dengan tema “Disabilitas : Memaknai Individu sebagai Citra Allah”. Seminar ini merupakan kerja sama antara PSIBK, Fakultas Teologi serta Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) yang berlangsung di Ruang Koendjono kampus 2 Mrican. Acara ini menjadi sebuah wadah untuk memperkenalkan disabilitas dari dua sudut pandang yang dipaparkan oleh masing-masing narasumber sesuai dengan bidang yang digelutinya. Acara ini dipandu oleh Fani Stefani dan Wining Windarti dan dimoderatori oleh Dra . M. J. Retno Priyani. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh MC, dan kemudian dilanjutkan dengan sambutan singkat yang diberikan oleh Ibu Laurensia Aptik Evanjeli, M.A. selaku kepala PSIBK. Selanjutnya terdapat pengenalan bahasa isyarat oleh teman-teman dari Deaf Art Community (DAC) yang merupakan sebuah komunitas tuli di Yogyakarta. Menjadi suatu kebahagiaan tersendiri, ketika seluruh peserta seminar serentak menyambut hangat ilmu yang dibagikan oleh DAC, karena peserta dengan antusias mengikuti gerakan untuk mempelajari bahasa isyarat. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Br. Martin De Pores dan Dr. T. Priyo Widiyanto sebagai narasumber. Seminar ini juga diselingi dengan pertunjukan pantonim oleh siswi SLBB Dena Upakara dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.
Dalam pemaparannya, Br. Martin menyampaikan sepenggal kalimat pembuka “Tuhan tak iseng ciptakan saya” sebagai pancingan untuk merefleksikan siapa kita di hadapan Tuhan. Beliau juga menyinggung bahwa mereka yang berusaha untuk memahami citra Allah ini adalah pengertian yang sopan untuk tidak merepotkan orang- non disabilitas untuk memahami orang disabilitas yang juga merupakan citra Allah. Dalam persoalan pembebasan Br. Martin menegaskan bahwa citra Allah dikatakan pembebasan karena ada faktor inklusinya. Menurutnya teologi harus sampai pada pembebasan, baik yang umum maupun yang khusus. “Inklusi di teologi membawa level setara atau derajat. Setara tidak sama, kita berbeda tetapi setara”. Dalam ajaran gereja, ia menjelaskan persoalan bahwa gereja tidak mengajarkan disabilitas sebagai orang yang berkekurangan atau tidak normal. Tetapi dalam sejarah, kita sebagai manusia yang membuat segala sesuatu terjadi. Kita punya keyakinan bahwa segala sesuatu akan diterapkan dimasyarakat. Oleh sebab itu, beliau meyakini bahwa penghayatan dan pengamatan citra Allah akan sangat berpengaruh dan cara untuk memahami Allah itu ada pada unsur horizontal dan vertical, bahwa kita sebagai manusia juga menjadi bagian dari proses pembebasan itu.

Beralih ke sudut pandang psikologi, Dr. T. Priyo Widiyanto langsung menghangatkan seluruh peserta seminar dengan sebuah pertanyaan singkat “Bahagiakah mereka ?”. Beliau menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan khusus adalah individu yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pendidikan khusus. Berbagai pengalaman yang dialami dan didapatkan disekitar kehidupan bermasyarakat membuat Pak Priyo yang merupakan sapaan sehari-harinya menjelaskan dari sudut pandang psikologi menjelaskan berbagai macam individu berkebutuhan khusus yang terdiri atas tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, tunalaras, lamban belajar, anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik, dan individu yang mengalami gangguan komunikasi.
Menurutnya, khusus untuk ketulian, manusia akan mengalami karena usia. Adapun hambatan berupa emosional, sosial, pengetahuan, bahasa (komunikasi), kecerdasan, fisik, dan pekerjaan. Lalu ia menarik beberapa kesimpulan dari beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan materinya yakni bagaimana mereka berbahagia?, apa peran kita dalam kebahagian mereka?, siapa yang harus menyesuaikan agar tumbuh kembang kebahagiaan di dalam diri mereka? “ kita lupa betapa luhurnya Tuhan ketika mengambil salah satu indra dari kita, indra lainnya dibuatNya lebih peka” tuturnya. Beliau juga menghimbau agar kita lebih saling menghargai dan mengenal tanpa pandang bulu karena orang-orang disabilitas menjadi sumber belajar bagi orang lain, terkhususnya kita.

Seusai penyajian materi oleh kedua pembicara, suasana kembali dihangatkan dengan hiburan pantonim yang dibawakan oleh salah satu teman disabilitas yang hadir pada kesempatan itu yakni siswi SLBB Dena Upakara. Kemudian, dilanjtkan dengan sesi diskusi atau sesi tanya jawab oleh peserta seminar terkait makna citra Allah dari sudut pandang Teologi dan Psikologi. Sesi pertanyaan ini dibuka dalam dua termin yang terdiri atas tiga peserta penanya pertama dan dibawakan oleh moderator sekaligus langsung dijawab oleh masing-masing pemateri secara runut. Setelah kurang lebih setengah jam berdiskusi antara peserta seminar dengan pemateri, moderator akhirnya menyimpulkan berbagai pertanyaan dan jawaban pada kesempatan itu ‘Bahwa sebagai manusia kita harusnya tidak saling menjatuhkan, melainkan saling menguatkan dan saling membangun terlebih kepada mereka yang memiliki keterbatasan’.
(PSIBK, April 2019)
You must be logged in to post a comment.
About the author