Launching PSLDa dan Seminar – Universitas Ahmad Dahlan

Launching PSLDa dan Seminar – Universitas Ahmad Dahlan

Seminar yang diadakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada hari Kamis, 21 Maret 2019 bertempat di kampus 2B UAD. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian acara  launching Pusat Studi dan Layanan Difabel di  UAD. Pembicara yang dihadirkan dalam acara seminar ini adalah Prof. Dr. Edi Purwanto, M.Pd dan  Dr. Arif Maftuhir,M.Ag.,M.A.I.S. Peserta yang hadir pada acara ini diantaranya adalah dosen-dosen dari berbagai universitas, mahasiswa dari berbagai perwakilan program studi yang ada di UAD dan berbagai undangan dari lembaga-lembaga di universitas yang memiliki visi dan misi yang sama yakni memperjuangkan hak teman-teman yang memiliki kebutuhan khusus. Adapun tema yang diangkat pada acara seminar ini adalah “Akseptabilitas dan Asesabilitas Mahasiswa Berkebutuhan Khusus: Menuju Kampus yang Inklusif”.

Kampus Inklusif yang dimaksud adalah kampus yang mau menerima siswa-siswa yang difabel untuk mengikuti kuliah bersama secara reguler. Dalam hal ini dibuat penyetaraan antara orang yang difabel dengan mahasiswa yang lainnya. Dalam usaha menjadikan kampus yang inklusif banyak hal yang harus dipersiapkan diantaranya :

  1. Fasilitas yang ada harus memadai, dapat membantu mahasiswa yang difabel, sehingga mahasiswa tersebut memiliki fasilitas sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing yang dapat membantu mereka dalam mengikuti pembelajaran dan lain sebagainya.
  2. Mempersiapkan lingkungan yang dapat menerima mahasiswa difabel, contohnya adalah mahasiswa lain yang mampu menerima kekurangan yang dimiliki oleh mahasiswa yang difabel dan mampu membantu mereka dalam belajar maupun kegiatan lainnya.
  3. Tenaga pengajar yang mau mengajari mahasiswa difabel, dosen harus mampu menyesuaikan dengan mahasiswa difabel tanpa pandang bulu dengan mahasiswa lainnya. Dosen harus mampu merangkul setiap mahasiswa difabel dan mahasiswa lainnya.
  4. Media pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap mahasiswa, dalam hal ini setiap kelas harus memiliki media yang dapat berpihak kepada semua mahasiswa.

Adapun tantangan yang akan dihadapi oleh berbagai universitas yang menerapkan kampus yang inklusif adalah:

  1. Tugas Akhir : dalam perkuliahan tentunya sudah tidak asing lagi dengan skripsi. Sesuai dengan aturan kurikulum yang berlaku, adanya skripsi tentu saja harus dalam bentuk tulisan, lalu bagaimana hal ini akan diterapkan bagi mahasiswa difabel. Jadi perlu pertimbangan kembali oleh universitas yang menyelenggarakan.
  2. Kebutuhan mahasiswa difabel tidak sama, mungkin para pendamping dapat membantu mahasiswa difabel dalam pembelajaran lalu bagaimana dengan keperluan-keperluan seperti ke toilet dan sebagainya.
  3. Mahasiswa difabel memiliki sikap yang berbeda-beda, ada yang memiliki motivasi yang baik tapi ada juga yang merasa dirinya tidak layak sehingga dibutuhkan waktu ekstra dalam mendampingi mahasiswa difabel.
  4. Terkadang mahasiswa difabel memilih program studi yang mungkin didalam prodi tersebut mereka akan mendapat tantangan yang lebih lagi. Contohnya mahasiswa yang tuna netra ingin mengambil program studi kimia.
  5. Banyak mahasiswa difabel yang tidak mengecap jenjang SD, SMP, SMA tetapi langsung kuliah dan kemudian akan menjadi sebuah kewalahan bagi universitas yang menerima mahasiswa tersebut.

Berdasarkan pengalaman dari Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang sudah menerapkan kampus inklusif di lingkungan kampus, mereka sudah membuka pendaftaran mahasiswa difabel setiap tahunnya sebanyak 15 orang melalui jalur khusus. Jika ada mahasiswa difabel yang ingin mendaftar ke universitas, pihak universitas akan menanyakan kebutuhan apa yang harus dipersiapkan oleh kampus tersebut contoh pendamping bahasa isyarat, kursi roda dan lain sebagainya. Selain berbicara mengenai kebutuhan yang diperlukan oleh mahasiswa difabel, universitas biasanya juga memberitahukan fasilitas yang ada di program studi tersebut dan kembali mempertanyakan apakah mahasiswa difabel tersebut mampu mencapai pembelajaran dengan fasilitas yang diberikan.

Selain universitas-universitas yang sudah membuka diri untuk memberikan hak yang sama untuk siswa difabel, pemerintah juga sudah memberikan kesempatan bagi masyarakat yang difabel untuk mengembangkan diri diantaranya adalah dengan adanya bantuan bagi mahasiswa difabel yang memiliki keterbelakangan ekonomi berupa  beasiswa “Bidikmisi”. Hanya saja yang menjadi tantangan yang paling besar mengenai masyarakat difabel diantaranya  keluarga dan lingkungan sekitar, terkadang keluarga dan masyarakat tidak memberikan dorongan positif kepada teman-teman difabel melainkan mendiskriminasi teman-teman difabel.

MOTTO Universitas Islam Negri dalam hal ini ialah melalui HAM untuk setiap individu, Universitas Ahmad Dahlan berencana untuk menyetarakan hak yang ada antar manusia dengan tidak membedakan mahasiswa difabel dan nondifabel. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada anak difabel untuk mengenal dunia pendidikan dan merasakan kesetaraan untuk memperoleh pendidikan yang layak hingga perguruan tinggi.

 

(PSIBK, Maret 2019)

About the author

Admin PSIBK administrator

Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Englighting and empowering people with special needs

You must be logged in to post a comment.