
Jangan Lihat Aku dengan Matamu, Lihatlah Aku dengan Hatimu. Tema yang begitu mendalam terpancar dalam sebuah pertunjukan pantomime yang dikolaborasikan dengan seni bayangan. Diselenggarakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 16 Februari 2019 pukul 15.00 dan 19.00 WIB, keberagaman menjadi gambaran yang sangat jelas disertai dengan rasa antusias. Para disabilitas antara lain autis, Tuli, netra, dan masih banyak lagi yang lainnya turut berbahagia menyaksikan pertunjukkan ini.
Teman-teman difabel yang memerankan pertunjukan ini telah membuat jalan cerita dengan begitu ciamik dan sarat akan makna. Dikisahkan di suatu tempat, ada ibu-ibu yang sedang hamil tua menunggu giliran melahirkan. Ketika hampir semua ibu-ibu yang menunggu kelahiran anaknya telah berhasil melahirkan, ada seorang ibu yang masih duduk terdiam sembari mengelus anaknya yang masih berada di perutnya. Cukup lama waktu yang diperlukannya untuk menunggu. Hingga tibalah saatnya seorang anak laki-laki dengan keterbatasan serta kelebihan yang dimilikinya pun lahir.
Rupa anak tersebut menjadi momok di lingkungannya. Anak laki-laki tersebut tidak hanya dijauhi oleh teman-teman sebayanya, namun juga masyarakat di sekitarnya. Hingga pada suatu hari, anak laki-laki itu bertemu dengan seorang anak perempuan yang tidak bisa melihat. Mereka menjalin persahabatan dengan baik. beberapa saat kemudian, desa tempat anak laki-laki diancam oleh kehadiran seekor monster yang bersiap memangsa penduduk desa setempat. Ketika anak perempuan yang tidak bisa melihat itu sedang berjalan, monster itu hampir memangsanya. Namun sahabatnya datang menyelamatkan nyawanya. Masyarakat pun akhirnya mengakui keberadaan anak laki-laki tersebut.
Seringkali manusia hanya sekedar melihat fisik saja tanpa mengenal lebih jauh kepribadian orang lain. Pertunjukkan ini mengajarkan kita untuk membuka mata hati kita lebih dalam untuk mengenal orang lain dengan baik.
(PSIBK, Maret 2019)
You must be logged in to post a comment.
About the author