Karya Tulis,  Podjok Merenung

When Intention is Not Enough

“People with good intentions but limited understanding are more dangerous than people with total ill will.”

— Martin Luther King, Jr.

 

“…Tapi niatku baik!” “Dia nggak berniat begitu,” “Yang penting niatnya!”

Namun, apakah benar demikian—jika hasilnya masih menyakitkan?

 

Seberapa sering kalian merasa terluka oleh tindakan orang terkasih, alih-alih mengakui kesalahan mereka, alasan-alasan tersebut justru yang terucap? Mungkin, jika bukan kata ‘maaf’, setidaknya pengakuan bahwa mereka mengeksekusi niat tersebut dengan buruk. Pengakuan yang tidak hanya sekedar kata, namun bukti bahwa kamu didengarkan olehnya.

Dalam berkomunikasi, verbal maupun non-verbal, makna pesan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimaksudkan oleh pengirim (intensi), tetapi juga oleh bagaimana pesan itu diterima dan dimaknai oleh penerima (persepsi) (McCornack, 2016; Adler, 2017). Niat atau intensi (intention) adalah proses mental yang secara sadar dibuat dan diarahkan untuk menjalankan suatu tindakan yang mencapai tujuan tertentu (APA Dictionary of Psychology, 2018). Dampak (impact) merujuk pada apa yang dirasakan oleh seseorang akibat dari suatu tindakan atau percakapan. 

Maka, tidak dapat dikatakan jika intensi merupakan satu-satunya pembenaran dalam bertindak/berucap. Hal ini karena (1) komunikasi melibatkan dua pihak (bukan hanya pengirim, tetapi juga penerima), maka makna dari suatu tindakan atau ucapan tidak semata-mata ditentukan oleh niat si pelaku, (2) dampak yang menyakitkan menandakan kegagalan dalam tujuan penyampaian niat.

Namun, mengapa hal ini sering terjadi? 

Rupanya, hal ini merupakan tendensi manusia mencoba memahami perilaku orang lain dengan menafsirkan niat di balik tindakan mereka (Heider, 1958; Weiner, 1986). Manusia juga cenderung menilai dirinya berdasarkan niat, sementara menilai orang lain berdasarkan dampak, sebagaimana dijelaskan dalam teori atribusi psikologi.

Kejadian ini cukup sering terjadi di berbagai situasi dan interaksi sehari-hari, terkadang sangat jelas, terkadang hampir tak kentara.

Misalnya, ketika pasanganmu selalu mengecek keberadaanmu, melarang ini-itu, bahkan memintamu berhenti bekerja atau bergaul dengan orang-orang tertentu. Semuanya atas nama cinta dan kata-kata, “Aku cuma ingin melindungi kamu.” Namun, perlahan kamu kehilangan ruang, kehilangan suara, atau kehilangan dirimu sendiri. Niatnya mungkin melindungi, namun caranya mengurung. Dan cinta yang mengurung, tetap menyakitkan, bukan?

Maka, pertanyaan pun muncul: Apa yang mendorong seseorang berperilaku demikian?

Secara umum, niat orang tersebut tidak bisa dibilang sepenuhnya “baik”.  Frase yang lebih tepat yakni “tidak datang dari niat jahat”. Artinya, niat tersebut tidak berada dalam spektrum kejahatan, tetapi juga belum sepenuhnya dapat disebut sebagai kebaikan. 

Tanpa pemahaman emosional yang mendalam terhadap orang lain (seperti batasan pribadi, konteks perasaan, dan kebutuhan mereka) niat yang muncul dari kepedulian pun bisa meleset atau bahkan menyakiti. Tanpa empati, niat cenderung menjadi cerminan dari keinginan pribadi untuk merasa seperti “orang baik”, alih-alih ingin benar-benar hadir bagi orang lain. Apakah memang benar niatnya ingin “menolong” karena orang tersebut membutuhkan bantuan? Atau karena adanya kebutuhan diri seseorang untuk membantu?

Misalnya, orang tua yang mengontrol jalan hidup anaknya, mungkin memproyeksikan kebutuhan pribadinya yakni kebutuhan orang tua sendiri akan rasa aman, kontrol, atau validasi sebagai orang tua yang berhasil. Selain itu, mungkin orang tua pernah gagal di masa mudanya, merasa takut anaknya salah jalan, atau cemas jika anak memilih hal yang “tidak sesuai standar.”

Semakin sering kita terekspos dalam situasi ini, tanpa disadari, kita jatuh dalam asumsi itu sendiri. Asumsi di mana kita merasa paling tahu apa yang terbaik untuk orang lain, mengabaikan perspektif mereka, lalu membungkusnya dengan niat baik seolah-olah itu cukup. Semua dilakukan secara halus dan tak kentara.

Misalnya, kita menghindari suatu hangout karena merasa teman kita akan lebih senang tanpa kita, padahal ia justru menginginkan kita ada. Mungkin, ia akan lebih sakit hati karena kita tidak mengomunikasikan kecemasan kita dengannya. Lebih jauh, mungkin ia akan merasa kalian tidak sedekat itu sebagai teman.

Lalu, bagaimana langkah praktis untuk menghadapi masalah ini?

Mencegah jebakan “tapi niatku baik”…

  1. Tanya dahulu, jangan asal bantu. Pastikan bantuan sesuai kebutuhan orang, bukan keinginanmu sendiri. Mungkin, mereka hanya ingin didengarkan, bukan diberi solusi, atau mungkin sebaliknya.
  2. Sadari motif pribadi. Refleksikan, “Aku bantu karena mereka butuh, atau karena aku nggak nyaman lihat mereka susah?”
  3. Peka terhadap konteks dan budaya. Yang kita anggap baik, belum tentu cocok di situasi atau budaya orang lain.

Namun, jika sudah terlanjur menyakiti…

  1. Akui dampaknya, jangan membela niat. Ucapkan, “Aku sadar tindakanku menyakitimu, dan aku minta maaf.” Validasi perasaan mereka dan biarkan mereka merasakan emosinya tanpa buru-buru kita bantah (White-Gibson, 2021).
  2. Tawarkan perbaikan. Tanyakan, “Apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki ini?”
  3. Refleksi diri. Pelajari letak kesalahan agar tak terulang.

Barangkali, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang bermaksud baik, melainkan orang-orang yang memilih untuk benar-benar hadir, mendengarkan, dan bersedia bertanya: “Apa yang kamu butuhkan dariku?”

For being good is not about feeling right,

but about choosing not to harm in the name of kindness.

 

Penulis
Aulia Salsabila (Asisten P2TKP Angkatan 2023)

Penyunting
Gabriella Setia Maharani (Asisten P2TKP Angkatan 2024)


Daftar Acuan

Adler, R. B., & Proctor, R. F. (2017). Looking out, looking in (15th ed.). Cengage Learning.
APA Dictionary of Psychology. (2018, April 19). Dictionary.apa.org. https://dictionary.apa.org/intention
Heider, F. (1958). The psychology of interpersonal relations. Wiley.
McCornack, S. (2016). Reflect & relate: An introduction to interpersonal communication (4th ed.). Bedford/St. Martin’s.
Weiner, B. (1986). An attributional theory of motivation and emotion. New York, NY: Springer-Verlag.
White-Gibson, Z. (2021, April 28). Intent vs Impact: Meaning, Examples, & Which Matters More. Healthline. https://www.healthline.com/health/intent-vs-impact

Sumber Gambar

Image via Pinterest, artist unknown.