Karya Tulis,  Podjok Merenung

The Power of Presence

“Can you breathe when you’re on the run? Slow down, my darling.” 

– Come Into My Arms (by November Ultra)

 

Ada masa-masa ketika nasihat, solusi, atau motivasi bukan yang paling kamu butuhkan. Kamu hanya ingin ditemani, sebuah pelukan yang tulus, atau sekadar kehadiran seseorang di sampingmu, yang bisa menenangkan diri tanpa menuntut kamu untuk kuat.

Lirik dari November Ultra ini seperti bisikan lembut ketika seseorang sedang tidak baik-baik saja. Lirik tersebut seolah menjadi teguran untuk mode bertahan hidup yang selama ini dijalani, yang membuat kita merasa harus terus berlari karena dunia berputar terlalu cepat. Membuat kita tidak peka bahwa kita sedang rapuh, membuat kita mengesampingkan perasaan, tanpa kita sadari bahwa semua akan menumpuk dan retak pada akhirnya.

Satu hal yang terus aku pelajari sampai saat ini adalah bagaimana menerima seseorang di sisiku ketika aku benar-benar membutuhkan penghiburan. Teman yang bisa aku izinkan untuk melihat sisi lemahku, yang bisa aku percaya ketika aku tidak tahu bagaimana harus kuat. Ketika ingin menangis, ingin marah, atau ketika menginginkan sebuah ketenangan hati, kita tidak ragu untuk meminta pertolongan. Beberapa dari kita merasa bersalah jika merepotkan orang lain. Akibatnya, semua masalah disimpan sendiri, kegundahan bertumpuk, dan pecah ketika tumpukan kegundahan itu sudah di luar batas. Sehingga pada akhirnya, kita menangis dalam diam, merasa diri tidak layak, dan menyesali ini itu yang sudah di luar kontrol diri kita. 

Sebagai orang yang tidak suka merepotkan orang lain, meminta tolong itu seperti sebuah gengsi, takut terlihat lemah di depan orang lain, takut membuat orang lain risih dan lelah dengan masalah yang dialami, hingga takut ditinggalkan oleh orang terdekat. Namun di tengah prosesku memahami sebuah pertemanan, perlahan aku belajar, bahwa ada satu kekuatan yang sebenarnya sangat berpengaruh namun sering tidak disadari.

The power of presence, ketika seseorang hadir bagi kita, membuat kita merasa didengar, diterima tanpa dihakimi, dan ditemani tanpa ditekan untuk segera “baik-baik saja”. Merasakan kehadiran seseorang juga tidak perlu harus menunggu keterpurukan datang terlebih dahulu. Sebagai contoh sederhana dan yang sedang happening akhir-akhir ini, yaitu jika seseorang menjalani sidang skripsi dan teman-teman dekatnya datang tidak hanya sekadar mengucapkan selamat, tapi juga membantunya dari awal hingga akhir, memberi support berupa kehadiran mereka untuk membantu dan menyemangatinya. Kita akan merasa lebih tenang ketika kita tahu ada seseorang yang menemani kita saat sedang cemas karena gugup. Kita juga tentu akan merasakan kehangatan dari teman-teman yang datang mengunjungi kita.

Mengapa ketenangan dan kenyamanan bisa hadir hanya dengan keberadaan seseorang di samping kita? Hal ini kita kenal dengan Unconditional Positive Regards, yaitu prinsip yang dipopulerkan oleh Carl Rogers, yang mana merupakan bagian dari terapi humanistik, dan sangat penting karena dapat menciptakan ruang yang aman bagi kita untuk menjadi diri sendiri (Guangrong, 2024). Ketika seseorang menerapkan unconditional positive regards kepada kita, orang tersebut berbicara dalam diam, bukan lewat kata-kata, melainkan lewat “rasa” bahwa kita layak didengar, dihargai, dan dicintai, bahkan dengan ketidaksempurnaan yang kita miliki. 

Bagaimana caranya bisa memperoleh penerimaan tanpa syarat tersebut? Timbal balik. Hadirlah juga bagi temanmu. Aku sendiri belum sepenuhnya berhasil untuk melakukannya, sebab aku memahami bahwa ini adalah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, temanmu juga masih belajar hal yang sama, kan? Kalian sama-sama berusaha untuk menjadi teman yang baik dan bisa diandalkan. Mengapa harus melibatkan orang lain jika kita bisa mengatasinya sendiri? Sebab sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Kita tumbuh, belajar, dan bertahan melalui hubungan bersamadengan orang lain, dengan lingkungan, dan dengan cerita-cerita yang saling melengkapi. 

Sendiri bukan berarti selalu kuat, dan berbagi bukan berarti selalu lemah. Maka dari itu, jika suatu hari kamu merasa terlalu lelah, dunia terasa berat namun kamu merasa sendirian… tidak apa-apa untuk mencoba membuka ruang kecil dalam dirimu dan memberikan izin seseorang untuk hadir. Kamu tidak harus langsung menceritakan semuanya. Duduklah dulu. Cobalah rasakan kehangatan dari kehadiran temanmu, keluargamu, atau bahkan orang asing senasib yang kamu temui di media sosial itu. Ingat, kamu berhak mendapatkan bantuan dan tidak harus menghadapi semua ini sendirian.

 

”Your heart will need to rest, so come into my arms.”


Penulis
Maria Gracia Aprilianova (Asisten P2TKP Angkatan 2024)

Penyunting
Ariolietha Joanna Kintanayu (Asisten P2TKP Angkatan 2023)

Daftar Acuan
Guangrong, J. (2024). Unconditional Positive Regard. In Z. Kan (Ed.), The ECPH Encyclopedia of Psychology (pp. 1564). Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-97-7874-4_1049.

Sumber Gambar
Maria Gracia Aprilianova (dokumentasi pribadi).