Tenggelam dalam Pikiran, Tersesat dalam Perasaan
Pada usia 20-an ke atas, kita pasti memikirkan banyak hal. Ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di kepala tentang masa depan, tentang pilihan hidup, bahkan tentang hal-hal kecil yang kadang tak penting tapi sulit diabaikan. Ya, itulah yang sedang saya rasakan akhir-akhir ini. Pikiran yang saya miliki seolah perlahan merusak perasaan yang ada dalam diri. Saya terlalu sering memikirkan “bagaimana jika” dan “seandainya”, sampai lupa menikmati apa yang sedang terjadi saat ini. Hal itu membuat saya lelah, baik secara psikis maupun fisik.
Setiap hari rasanya seperti berperang dengan diri sendiri. Antara ingin berhenti memikirkan semuanya, tapi juga tidak bisa benar-benar diam. Tubuh saya bisa saja beristirahat, tapi pikiranku terus berlari tanpa arah. Kadang saya merasa hampa, seolah perasaan yang dulu hangat kini berubah menjadi beban, dan membuat saya ingin menyudahi segalanya. Saya tahu tidak seharusnya seperti ini, tapi sulit rasanya mengendalikan sesuatu yang berasal dari dalam kepala sendiri.
Ada saat-saat di mana saya ingin berhenti sejenak dari semuanya. Ingin menenangkan pikiran, melepaskan beban, dan hanya membiarkan diri ini bernapas tanpa harus memikirkan apa pun. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Selalu ada suara kecil di dalam kepala yang memaksa saya untuk tetap waspada, untuk terus memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi. Akhirnya saya lelah bukan karena dunia terlalu keras, tapi karena pikiran saya sendiri yang tidak tenang.
Hal itu membuat perasaan saya semakin tenggelam dan mengalami kesedihan terus-menerus. Kadang saya merasa terjebak dalam pikiranku sendiri, ingin merasa ringan dan bebas dari rasa cemas yang datang tanpa alasan. Namun, di balik kelelahan itu masih ada harapan kecil untuk sembuh dan menemukan ketenangan, meski harus dijalani perlahan dengan kejujuran pada diri sendiri.
Pengalaman yang saya rasakan ini disebut overthinking. Menurut Suroiyya & Habsy (2024), overthinking atau berpikir secara berlebihan adalah keadaan seorang individu memikirkan hal yang belum terjadi maupun sudah terjadi, tetapi secara terus-menerus tanpa adanya solusi. Ketika individu mengalami overthinking, mereka cenderung memiliki pikiran negatif pada suatu hal sehingga berdampak pada perasaan dan perilakunya yang menjadi maladaptif. Hal tersebut sesuai dengan asumsi dasar teori Cognitive Behavioral Therapy dalam psikologi bahwa perasaan dan perilaku kita sangat dipengaruhi oleh cara kita berpikir (Ryum dkk., 2024).
Selain itu, pengalaman saya ini juga terkait dengan adanya Repetitive Negative Thinking (RNT), yang mendorong keinginan seseorang untuk terus-menerus memikirkan satu atau lebih topik negatif yang dirasa sulit untuk dikendalikan (Ehring & Watkins, 2008; Segerstrom dkk., 2000 dalam Krzikalla dkk., 2025). Repetitive Negative Thinking (RNT) ini termasuk dalam ruminasi dalam psikologi, yaitu respons terhadap stres yang ditandai dengan berpikir secara pasif dan berulang tentang gejala kesedihan, penyebab, serta konsekuensi dari perasaan negatif yang dialami (Nolen-Hoeksema, 1991; Nolen-Hoeksema dkk., 2008 dalam Krzikalla dkk., 2025).
Saya menyadari bahwa hal yang terjadi dalam diri saya berakar dari pikiran yang terus-menerus tanpa henti, sehingga saya mulai mencari cara untuk mengatasinya. Salah satu langkah pertama yang saya ambil adalah mencoba untuk lebih hadir di saat ini. Saya mulai berlatih mindfulness atau ketika pikiran-pikiran negatif mulai muncul, saya berusaha untuk tidak melawannya, tetapi justru menikmatinya tanpa terjebak di dalamnya. Cara tersebut membantu saya untuk sedikit mengurangi beban mental dan mulai merasakan ketenangan walaupun belum sepenuhnya.
Selain itu, saya juga mulai mencatat pikiran-pikiran yang mengganggu saya dalam jurnal. Dengan menuliskan apa yang ada di pikiran, saya merasa bisa melepaskan sebagian dari tekanan tersebut. Proses ini membawa saya pada pemahaman bahwa banyak dari kekhawatiran yang saya miliki sebenarnya tidak berdasar, dan sebagian besar merupakan hasil dari kecemasan yang berlebihan.
Penulis
Jessica Natasha Dirgajaya (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Penyunting
Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Krzikalla, C., Buhlmann, U., Andor, T., & Morina, N. (2025). Repetitive Negative Thinking as a Predictor of Cognitive Behavioral Therapy Outcomes in a Naturalistic Outpatient Treatment. Cognitive Therapy and Research, 49(3), 483-496.
Ryum, T., & Kazantzis, N. (2024). Elucidating the process-based emphasis in cognitive behavioral therapy. Journal of Contextual Behavioral Science, 33, 100819.
Suroiyya, F. O., & Habsy, B. A. (2024). Tinjauan Overthingking dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya. Jurnal BK UNESA, 14(2).
Sumber Gambar
Jessica Natasha Dirgajaya