Salahkah Aku Bila Berhenti Sebentar?
Aku pernah berada pada satu fase ketika aku merasa kelelahan yang cukup signifikan. Aku merasa seolah-olah terus dikejar, padahal tidak ada siapa pun yang mengejarku. Setelah direnungkan, yang mengejarku hanyalah ekspektasi dan pikiranku sendiri. Aku merasa bahwa membuang waktu tanpa melakukan sesuatu merupakan suatu kerugian besar, bahkan aku merasa bersalah apabila beristirahat atau tidak melakukan hal yang produktif. Siapa sangka pikiran tersebut malah menjerumuskanku ke dalam suatu lubang yang membuatku mengalami kelelahan secara fisik maupun mental. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah toxic productivity.
Mari membahas lebih dalam mengenai fenomena ini. Apa itu toxic productivity? Toxic productivity merupakan keinginan untuk selalu produktif setiap saat dengan segala cara serta enggan untuk berhenti meskipun tugasnya telah selesai (Ramadhina dkk., 2023). Toxic productivity mencakup dorongan untuk bekerja secara berlebihan atau terus-menerus, serta berpikir bahwa nilai seseorang tergantung pada seberapa banyak yang mereka hasilkan, dan merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat atau tidak melakukan hal yang produktif (Ramadhina dkk., 2023).
Lantas, mengapa seseorang dapat mengalami toxic productivity? Toxic productivity dapat terjadi akibat pengaruh media sosial yang menampilkan konten prestasi secara masif yang dapat menimbulkan motivasi untuk sama atau lebih dari pencapaian orang lain karena takut tertinggal dari orang lain atau FOMO (Fear Of Missing Out) (Tsabita dkk., 2023). Selain itu, toxic productivity juga dapat muncul dari budaya yang meninggikan nilai suatu produktivitas atau kagum dengan seseorang yang memiliki beragam aktivitas di kehidupan sehari-hari, bahkan seringkali memuji orang yang rela mengurangi waktu istirahatnya hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka (Ramadhina dkk., 2023). Sehingga karena adanya budaya tersebut, muncul keinginan dalam diri untuk menjadi salah satu diantara kelompok tersebut.
Toxic productivity dapat menimbulkan berbagai dampak, seperti mengalami kelelahan fisik dan mental, kecemasan, stres berlebihan, burnout, bahkan dapat terjadi penurunan motivasi intrinsik karena merasa ditekan untuk menjadi lebih produktif (Tsabita dkk., 2023). Adapun cara untuk mengatasi toxic productivity antara lain, menentukan pencapaian yang praktis atau membuat fokus kerja yang wajar, menyadari dan memahami kemampuan atau kapasitas diri, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk berkomunikasi dan berempati (Ramadhina dkk., 2023). Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, karena diri kita membutuhkan waktu untuk beristirahat. Produktif adalah hal yang baik, namun produktif berlebihan hingga mengorbankan waktu istirahat dapat berdampak negatif bagi diri kita. Oleh karena itu, sayangilah diri sendiri dan berikan dirimu waktu untuk beristirahat.
Penulis
Eireneva Christa Handrea (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Penyunting
Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Ramadhina, C., Safitri, D., Annisa, F., & Fadilah, Q. (2023). PENGENDALIAN “TOXIC PRODUCTIVITY” DALAM MENJAGA KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA DI MASA PANDEMI COVID-19. Interaksi Jurnal Ilmu Komunikasi, 12(2), 250–266. https://doi.org/10.14710/interaksi.12.2.250-266
Tsabita, A., Febriyanti, F., Komariah, S., & Wahyuni, S. (2023). Tren Toxic Productivity Sebagai Gejala Terjadinya Burnout Syndrome Terhadap Prestasi Akademik pada Remaja Rentang Usia 18-23 Tahun di Kota Bandung. SOSMANIORA Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(4), 495–501. https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v2i4.2774
Sumber Gambar
Eireneva Christa Handrea (Asisten P2TKP Angkatan 2025)