Karya Tulis,  Podjok Merenung

Saat Semua Berlalu, Apa yang Tersisa?

“Menghargai diri sendiri bukanlah sikap egois, melainkan bentuk cinta yang paling murni terhadap diri”

 

Dalam perjalanan kehidupan, tidak akan pernah ada hal yang pasti terjadi, kecuali ketidakpastian itu sendiri. Tidak ada hal yang akan benar-benar menetap. Lingkungan tempat kita tumbuh bisa berganti, orang-orang yang dulu sedekat nadi pun dapat menjauh, ditambah lagi dengan tanggung jawab yang kian bertambah seiring dengan bertambahnya usia kita. Seperti satu kalimat yang sering diucapkan oleh teman-teman saya, “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”. Saya percaya prinsip ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang dalam kehidupan kita, tetapi juga berlaku bagi setiap kesulitan, tantangan, bahkan kesenangan yang kita miliki. 

Dalam hidup, kita sering kali terjebak dalam arus kehidupan yang terus bergerak, seolah tak memberi waktu untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apa yang akan tersisa saat semua ini berlalu? Ketika semua hal–pekerjaan, teman, bahkan keluarga–tidak lagi seperti dulu, apalagi yang dapat kita andalkan dan terus kita miliki? Dalam keheningan itu, kita dihadapkan pada satu pertanyaan besar: Apakah selama ini kita sudah hidup sesuai dengan diri kita sendiri? Atau justru kita hanya berjalan mengikuti apa yang orang lain inginkan? Karena pada akhirnya, yang selalu akan tetap tinggal adalah diri kita sendiri. 

Tidak sedikit orang yang menjalani hidupnya dengan terus berusaha memenuhi standar orang lain–menjadi anak yang baik, teman yang menyenangkan, pasangan yang ideal, dan beragam ekspektasi lainnya. Semua itu sering kali dilakukan bukan karena keinginan diri sendiri, melainkan karena tekanan sosial yang tak pernah terlihat, tetapi begitu kuat memengaruhi kehidupan setiap orang. Dalam jurnal Self-Determination Theory and The Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-Being yang dituliskan oleh Deci dan Ryan (2000), dijelaskan bahwa kebahagiaan dan pengembangan diri yang sejati hanya bisa dicapai ketika individu bertindak berdasarkan motivasi internal, bukan untuk memenuhi ekspektasi dan tekanan sosial. Artinya, kebahagiaan yang bertumpu pada penilaian orang lain rentan untuk rapuh. Sementara, kebahagiaan yang bermakna adalah ia yang lahir dari kesadaran dan kendali atas diri sendiri. 

Ketika kita mulai menyadari bahwa tidak semua lingkungan layak dipertahankan, kita akan lebih berani untuk pergi dan menjauh dari tempat dan orang-orang yang tidak lagi menghargai kita. Terkadang, keberanian terbesar bukanlah untuk bertahan, melainkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak lagi selaras dengan nilai dan tujuan hidup kita. Menghargai diri sendiri bukanlah sikap egois, melainkan bentuk cinta yang paling murni terhadap diri. Dengan menciptakan batas yang sehat, menjauhi orang-orang yang tidak menghargai kita, dan memilih ruang yang mendukung pertumbuhan diri, sebenarnya kita sedang membangun fondasi yang kuat untuk kehidupan yang lebih sehat dan bahagia. 

Pada akhirnya, kita akan menemukan bahwa ketenangan dan kebahagiaan sejati tidak terletak pada hal-hal yang berada di luar kendali kita, melainkan pada diri kita sendiri. Ketika kita berhenti menggantungkan harga diri dan kebahagiaan pada validasi orang lain, lalu mulai fokus pada pengembangan diri, kehidupan akan menjadi lebih ringan. Kita tidak lagi sibuk membandingkan diri, dan tidak lagi takut kehilangan, karena kita tahu bahwa semua akan berlalu. Dan ketika semuanya benar-benar berlalu, kita tidak lagi hampa, melainkan penuh, karena kita telah mengenal dan mencintai diri sepenuhnya. 

Maka dari itu, penting bagi kita untuk merawat relasi terdalam dengan diri sendiri. Dunia akan terus berubah, orang akan datang dan pergi, bahkan peran-peran yang kita mainkan dalam hidup pun tak selamanya bertahan. Namun, selama kita memiliki kesadaran untuk hidup dengan jujur pada diri sendiri, dan berani memilih jalan yang sesuai dengan hati nurani, kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan. Sebab, saat semua berlalu, yang tersisa bukanlah kehampaan, melainkan diri kita yang utuh, kuat, dan bertumbuh. 

 

Penulis
Diella Clarissa (Asisten P2TKP Angkatan 2023)

Penyunting
Maria Gracia Aprilianova (Asisten P2TKP Angkatan 2024)


Daftar Acuan
Deci, E. L. & Ryan, R.M. (2000) Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68-78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68 

Sumber Gambar
Dokumentasi pribadi milik Diella Clarissa.