Karya Tulis,  Podjok Merenung

Opposite Attract or Similarity Attract?

Pernahkah teman-teman bertemu pasangan atau sahabat yang perbedaannya bagaikan langit dan bumi, tetapi justru terlihat serasi? Misalnya, salah satu dari mereka ekstrover yang gemar berbicara, sementara yang lain cenderung introver dan lebih nyaman mendengarkan. Fenomena ini sering kita kenal dengan istilah populer “opposites attract”

Namun, pengalaman pribadi saya justru berbeda. Sahabat terdekat saya adalah orang yang ternyata “mirip” dengan saya. Bahkan, sahabat terdekat saya memiliki selera makanan, artis K-Pop favorit, dan hobi yang sama persis dengan saya. Hal ini membuat saya bertanya-tanya. Benarkah “opposites attract”, atau sebenarnya relasi antarmanusia lebih dikuatkan oleh kesamaan?

Pertanyaan inilah yang kemudian membawa saya pada bacaan mengenai bagaimana relasi manusia terbentuk. Ternyata, ada penjelasan yang bisa membantu kita memahami mengapa kesamaan maupun perbedaan berperan dalam hubungan.

Setiap manusia hadir dengan ”warna” masing-masing. Warna ini tercermin dalam nilai, sikap, kebiasaan, gaya hidup, latar belakang, hingga visi kehidupan yang dijalani. Dalam menjalin relasi, kita tidak hanya menampilkan warna diri sendiri, tetapi juga perlu mengenali dan berbaur dengan warna orang lain. 

Penelitian menunjukkan bahwa relasi antarmanusia banyak dipengaruhi oleh similarity attraction effect (Curry & Dunbar, 2013). Studi ini menemukan bahwa kesamaan hobi, kepribadian, dan nilai merupakan prediktor kuat kedekatan emosional antarindividu. Dengan kata lain, orang cenderung lebih tertarik dan merasa nyaman dengan mereka yang memiliki kesamaan, bukan yang berlawanan (Curry & Dunbar, 2013; Till & Freedman, 2010). 

Seperti yang dikatakan oleh Tanya Horwitz, ”birds of a feather are indeed more likely to flock together”. Tidak heran jika kesamaan tersebut dapat menjadi penguat fondasi relasi antarmanusia, atau mungkin menyebabkan adanya kecenderungan merasa nyaman dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang mirip dengan kita. Hmm… mungkin contohnya, jika gaya komunikasi kamu dengan temanmu mirip, kemungkinan kalian konflik karena salah paham akan jadi berkurang, kan?

Lalu, apakah artinya kita sebaiknya hanya menjalin relasi dengan orang-orang yang mirip dengan kita? Tidak juga. Kalau menurut Field (2023), menjalin relasi dengan seseorang yang bertolak belakang dengan kita ternyata tidak seburuk itu. Justru adanya perbedaan dapat membawa manfaat. Perbedaan dapat mendorong kita untuk belajar berkompromi dan toleransi, membantu kita belajar lebih sabar, berempati, bahkan membuka kesempatan bagi kita untuk mempelajari hal-hal baru. Adanya perbedaan dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk saling melengkapi dengan catatan bahwa dibutuhkan komunikasi dan keterampilan adaptasi untuk menjaga keharmonisan relasi. 

Jadi, fenomena birds of a feather flock together memang menunjukkan bahwa kesamaan cenderung lebih dominan dalam membentuk hubungan berkelanjutan. Dalam pertemanan, mungkin kesamaan yang menjadi pintu masuk kita membangun kedekatan, tetapi perbedaan juga membantu kita belajar menemukan cara untuk saling melengkapi. Dalam relasi romantis, menyadari kesamaan dapat menumbuhkan rasa aman dan kelekatan, sementara perbedaan melatih kita untuk tumbuh lebih dewasa bersama pasangan. Begitu pula dalam konteks kerja sama tim, adanya keberagaman menjadi peluang kolaborasi dan ide kreatif yang tidak terduga. 

Pada akhirnya bukan kesamaan atau perbedaan yang membuat relasi bertahan, melainkan kesediaan dua orang untuk terus tumbuh bersama. Saling menguatkan dalam kesamaan, sekaligus belajar dari perbedaan. Dengan begitu, relasi kita dengan orang lain tidak hanya menjadi tempat untuk merasa aman, namun juga menjadi sarana kita untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. 

 

Penulis
Hapsari Gagana Atitasitala (Asisten P2TKP Angkatan 2024)

Penyunting
Maria Gracia Aprilianova (Asisten P2TKP Angkatan 2024)


Daftar Acuan
Curry, O., & Dunbar, R. I. (2013). Do birds of a feather flock together? The relationship between similarity and altruism in social networks. Human nature, 24(3), 336-347.
Field, Barbara. (2023). Why do opposites attract?. Verywell Mind. Diakses pada 21 Agustus 2025 melalui https://www.verywellmind.com/is-it-true-that-opposites-attract-in-relationships-5194818
Till, A., & Freedman, E. M. (1978). Complementarity versus similarity of traits operating in the choice of marriage and dating partners. The Journal of Social Psychology, 105(1), 147-148. https://doi.org/10.1080/00224545.1978.9924101

Sumber Gambar
Talashuk, Viktor. (2021, 3 December). A couple of black cats sitting next to each other. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-couple-of-black-cats-sitting-next-to-each-other-AqceIiqZWlI.