Karya Tulis,  Podjok Merenung

Merangkul Duka, Menemukan Makna

Kata orang “Level tertinggi manusia ketika mencintai seseorang adalah ketika sudah dapat mengikhlaskan orang yang dicintai” 

Kehilangan adalah salah satu kata yang paling tidak disukai oleh semua orang. Kehilangan seseorang yang kita sayangi dan cintai adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidup. Rasa duka yang mendalam bisa datang dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda dan dapat memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda. Proses berduka adalah reaksi alami yang dirasakan  oleh manusia ketika kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Secara psikologis, duka tidak hanya berpengaruh pada aspek emosional, tetapi juga memengaruhi kondisi kognitif dan fisik seseorang.

Menurut Elisabeth Kübler-Ross (2005), proses berduka (griefing) terdiri dari lima tahapan, yaitu penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tahap penolakan ditandai dengan ketidakpercayaan terhadap peristiwa kehilangan. Seseorang akan merasa seolah-olah peristiwa tersebut tidak nyata atau masih berharap orang yang telah pergi akan kembali lagi. Setelah menyadari akan kehilangan, sering muncul perasaan marah dan frustrasi. Kemarahan ini dapat ditujukan kepada diri, orang lain, bahkan Tuhan. Setelah itu, akan masuk tawar-menawar dimana kita akan berpikir, “Seandainya saya melakukan ini pasti tidak akan terjadi” atau berusaha untuk mencari cara mengubah kondisi. Kemudian, muncul perasaan depresi yang mendalam, hilangnya semangat, dan dapat mengarah kepada rasa putus asa akan hidup. Pada akhirnya, tahap penerimaan yang terjadi ketika seseorang mulai menerima kenyataan atas kehilangan dan mulai mau belajar untuk menjalani kehidupan meskipun tanpa kehadiran orang yang dicintai.

Meskipun kehilangan adalah peristiwa yang sangat berat, ada beberapa cara yang dapat membantu seseorang dalam menghadapi duka. Cara yang pertama  adalah mengizinkan diri untuk berduka dengan menyadari perasaan sedih yang muncul. Kedua, mencari dukungan dari orang lain yang dapat membantu meringankan beban emosional. Selain itu, menjaga kesehatan fisik dengan makan, berolahraga, dan istirahat yang cukup dapat membantu proses pemulihan rasa duka. Mencari kegiatan lain yang menyenangkan juga dapat menjadi fasilitas untuk menyalurkan emosi sedih yang dirasakan.

Pada akhirnya, kehilangan seseorang memang bukan hal yang mudah untuk dihadapi, tetapi dengan memahami proses berduka dan memberikan waktu diri sendiri untuk merasakan dan memahami dapat membuat rasa itu menjadi pulih. Tidak ada cara yang pasti dan benar untuk melewati fase berduka, yang terpenting adalah menerima perasaan sendiri dan mencari dukungan yang diperlukan untuk melewati masa sulit ini. Kehilangan mengajarkan kita tentang nilai kehidupan dan betapa berharganya setiap momen yang kita miliki bersama orang yang kita cintai dan sayangi. Meskipun duka bisa menyakitkan, namun hal ini juga dapat menjadi pengingat bahwa kita pernah mencintai dan menyayangi seseorang dengan tulus.

 

Penulis
Dwi Pandanwanginingwidi Prastutiputri (Asisten P2TKP Angkatan 2024 )

Penyunting
Gabriella Setia Maharani (Asisten P2TKP Angkatan 2024)


Daftar Acuan

Kübler-Ross, E., & Kessler, D. (2005). On Grief and Grieving: Finding the Meaning of Grief Through the Five Stages of Loss. New York, Scribner.
Info Psikologis. (2024, Februari 22). Trauma Kehilangan Orang Tersayang dan Cara Mengatasinya. Kumparan. https://kumparan.com/info-psikologi/trauma-kehilangan-orang-tersayang-dan-cara-mengatasinya-22DRFpmHWhV/full

Sumber Gambar

Mortimer, Jane (2019, November 20). Man hugging his knee statue [Photo]. Unsplash.com. https://unsplash.com/photos/man-hugging-his-knee-statue-IqSaG9zv2e0