Karya Tulis

Menemukan Diri Sendiri di Tengah Bisingnya Ekspektasi

Pernahkah kamu berpikir, “Sebenarnya, kita hidup itu untuk siapa sih? Apakah kita sudah hidup menjadi diri sendiri? Atau justru kita menjalani hidup yang diharapkan dari orang lain?” Mungkin pernyataan-pernyataan seperti ini pernah terbersit dalam benak kita. Hidup di tengah berbagai ekspektasi, membuat diri kita tanpa sadar berusaha menjadi versi diri terbaik. Namun bukan karena keinginan kita sendiri, tetapi karena ingin dianggap cukup oleh orang lain. Banyak dari kita yang terlalu sibuk memenuhi ekspektasi sosial hingga lupa bagaimana menjadi diri sendiri. Melalui artikel, saya mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan menengok, apakah hidup yang saat ini kita jalani benar-benar milik kita?

Tanpa kita sadari, hidup kita ibarat sebuah panggung dimana kita menjadi pemeran utama yang berdiri di tengah sorotan. Panggung orang lain terkadang terlihat begitu sempurna hingga membuat kita sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri. Berbagai pencapaian di potret kehidupan orang lain, membuat kita ikut mengejar pencapaian untuk menyamakan langkah dengan orang-orang. Hal-hal tersebut membuat muncul berbagai pertanyaan di benak kita seperti “Kenapa ya progresku tidak sejauh mereka? Kenapa aku hanya di sini-sini saja? Apakah usaha yang kulakukan masih kurang hingga aku tertinggal seperti ini?”. Menurut Carl Rogers (1967), ketidaksesuaian antara citra diri dan pengalaman yang nyata kita alami dapat menimbulkan kebingungan dan kecemasan. Hal inilah yang membuat kita merasa ada yang salah dengan diri kita, hanya dengan menganggap bahwa diri kita tidak seperti yang terlihat pada orang lain. Terlebih, sebenarnya apa yang kita lihat di media sosial hanyalah potongan cerita kehidupan seseorang yang mereka pilih untuk dibagikan, bukan kehidupan mereka sepenuhnya.

Kita perlu menyadari, bahwa dalam menemukan diri kita bukan berarti kita harus menjauhkan diri dari dunia luar, namun bagaimana kita mencoba membangun kembali hubungan pada diri sendiri. Kita perlu untuk belajar menerima bahwa tidak apa-apa belum seperti orang lain dan tidak apa-apa jika kita belum mendapatkan semuanya sekarang. Seperti penuturan Carl Rogers (1967), bahwa pertumbuhan pribadi kita dimulai saat kita sudah mampu untuk menerima diri apa adanya. Menemukan diri sendiri bukan dilakukan dengan mencari versi terbaik kita untuk ditunjukkan pada orang lain, namun bagaimana kita belajar mendengarkan suara hati kita yang mungkin tertutup oleh ekspektasi orang lain. 

Pada akhirnya, menemukan diri sendiri bukanlah melulu menjadi versi terbaik bagi orang lain, namun bagaimana kita jujur pada diri kita sebenarnya. Mungkin versi yang tidak selalu kuat, tidak selalu berhasil, namun terus berusaha bangkit. Dalam perjalanan menemukan diri, mengenal diri merupakan proses yang akan kita jalani seumur hidup, sehingga tidak ada salahnya untuk berhenti sejenak dan mendengar isi hati kita yang sebenarnya.

 

“Jangan biarkan orang lain menjadi penulis kisahmu, karena hanya dirimulah yang dapat menentukan kisahmu. So, don’t change yourself just to make someone loving you.”

 

Penulis
Yosephin Femmy Kurniasari (Asisten P2TKP Angkatan 2024)

Penyunting
Hapsari Gagana Atitasitala (Asisten P2TKP Angkatan 2024)


Daftar Acuan
Rogers, C. R. (1967). On becoming a person: A therapist’s view of psychotherapy. Constable.

Sumber Gambar
Vigerova, Milada. (2021, 5 February). Woman in black long sleeve shirt standing in front of mirror. Unsplash. https://unsplash.com/photos/woman-in-black-long-sleeve-shirt-standing-in-front-of-mirror-GlIxPKROHMs?utm_content=creditShareLink&utm_medium=referral&utm_source=unsplash