Memaknai Hidup di Dunia Tanpa Makna
“Apa sebenarnya makna hidup?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar terlalu besar, terlalu filosofis, atau bahkan terlalu melelahkan untuk dipikirkan di tengah rutinitas harian yang sibuk. Tapi sesekali, saat hidup terasa seperti kita hanya sekadar mengulang hari demi hari. Ketika rutinitas kita terasa semakin hambar —pertanyaan ini muncul kembali, diam-diam menyelinap ke dalam benak kita: “Semua ini untuk apa?”
Beberapa orang mencari makna hidup melalui agama, keluarga, pekerjaan, atau dalam hubungannya dengan orang lain. Namun, tidak semua orang seberuntung itu. Seringkali hidup tidak memberikan petunjuk arah, tidak menjanjikan hasil, dan tidak menjamin bahwa semua perjuangan ini akan berakhir dengan sesuatu yang berarti. Dunia terasa acak. Kosong. Tidak ada makna bawaan yang bisa kita pegang sebagai mercusuar kita dalam mengarungi lautan kehidupan yang gelap ini.
Tapi mungkinkah, justru karena ketiadaan makna itu sendiri, kita diberi kebebasan untuk menciptakannya sendiri?
Friedrich Nietzsche, seorang filsuf asal Jerman, pernah berkata, “Ia yang memiliki alasan untuk hidup, dapat menanggung hampir segala hal.” Kalimat sederhana, yang menyimpan pemaknaan yang dalam.
Ketika seseorang tahu “mengapa” ia hidup, entah karena cinta, impian, tanggung jawab, atau harapan—maka penderitaan, kesulitan, dan ketidakpastian pun akan menjadi suatu hal yang bisa dihadapi. Makna tidak menghilangkan rasa sakit, tapi memberi arah. Ia tidak melenyapkan beban, tapi membuat beban itu layak untuk dipikul, layak untuk diperjuangkan.
Bayangkan jika suatu hari, seseorang datang padamu dan berkata: “Hidup yang sedang kamu jalani sekarang—dengan semua suka dan dukanya—akan kamu ulangi lagi, dan lagi, dan lagi, tanpa akhir. Tidak ada yang bisa diubah. Tidak ada yang bisa dihapus.”
Apakah kamu akan tersenyum dan berkata, “Ya, aku rela,” atau justru merasa ngeri dan menyesal?
Pertanyaan ini bukan ramalan. Ini adalah cara untuk menguji: apakah kamu sedang menjalani hidup yang benar-benar kamu pilih? Atau kamu hanya mengikuti arus, berharap semuanya berakhir dengan sendirinya?
Nietzsche menyebut ide ini sebagai eternal recurrence—sebuah ujian imajinatif. Ia tidak mengajarkan kita untuk takut pada pengulangan abadi, tetapi untuk lebih menjadi individu yang sadar dalam menjalani setiap harinya, karena setiap hari yang kita jalani adalah pilihan kita. Dan jika kita harus mengulang hidup ini, tidakkah kita ingin hidup yang layak untuk diulang?
Makna bukan sesuatu yang ditemukan seperti menemukan kunci yang terjatuh di jalan. Ia bukan hadiah yang turun dari langit. Ia adalah sesuatu yang dibentuk—dalam diam, mengiringi perjalanan dan perjuangan kita dalam hidup yang membingungkan ini.
Bagi sebagian orang, makna hidup muncul ketika mereka merawat seseorang yang mereka cintai. Bagi yang lain, makna hidup terasa saat mereka menciptakan sesuatu—lukisan, taman, tulisan, ataupun rumah. Ada juga yang menemukan makna dalam perjuangan, dalam belajar, atau dalam memberi harapan pada orang lain.
Yang penting bukanlah seberapa besar atau mulia makna itu di mata dunia. Yang penting adalah seberapa dalam ia terasa bagimu. Seberapa jujur kamu memilihnya. Seberapa rela kamu menjalaninya berulang kali—meski dunia tidak memberi jaminan apa-apa.
Hidup di dunia tanpa suatu makna bukan kutukan. Justru di situlah terdapat ruang untuk merdeka. Dunia yang tidak memberi makna bawaan adalah dunia yang memberi ruang untuk kita menciptakannya. Bukan untuk membuat hidup sempurna—tapi untuk membuatnya berarti menurut versi kita sendiri.
Dan jika suatu saat kamu merasa hilang, bingung, atau lelah dan dirimu bertanya “semua ini untuk apa”—mungkin bukan jawaban besar yang kamu butuhkan. Mungkin yang kamu butuhkan hanya satu hal kecil yang kamu percaya cukup penting untuk diulang.
Karena dalam dunia tanpa makna, kamulah yang membuat hidup ini layak dijalani.
Penulis
Muhammad Lilo Al Fadil (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Penyunting
Hapsari Gagana Atitasitala (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Daftar Acuan
Nietzsche, F. (2006). Thus Spoke Zarathustra (G. Parkes, Trans.). Oxford University Press. (Original work published 1883–1891).
Sumber Gambar
Karya Muhammad Lilo Al Fadil (Editor dan Fotografer)