Koneksi Lewat Telinga
“Kamu masih mending, kalo aku bla bla bla; kalau aku jadi kamu, aku pasti…; masa gitu aja ga bisa, padahal menurutku ini gampang…; sama dong, aku dulu juga pernah…” adalah pernyataan-pernyataan yang mudah untuk diucapkan namun bisa menyakitkan untuk sebagian orang. Dalam interaksi sehari-hari, tanpa kita sadari, sering kali kita terjebak dalam sudut pandang diri sendiri dan lebih fokus pada apa yang kita rasakan, pikirkan, dan inginkan. Seringkali kita lupa memberikan ruang bagi orang disekitar kita untuk mengungkapkan diri tanpa merasa direndahkan atau disepelekan dan hal ini yang akhirnya mengarah pada istilah ‘egosentrisme’.
Egosentrisme merupakan ketidakmampuan individu dalam memahami bahwa pandangan atau pendapat orang lain mungkin berbeda dari pendapatnya sehingga individu akan berfokus pada dirinya sendiri dan tidak mampu membayangkan perspektif lain selain miliknya (Clarke, 2023). Hal ini dapat termanifestasi dalam berbagai cara, mulai dari mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan diri sendiri, kurang mampu berempati terhadap perasaan orang lain, melebihkan diri sendiri atas orang lain, mendominasi percakapan, atau mudah menyalahkan orang lain. Dalam konteks dunia digital yang semakin maju, sikap egosentris dapat terlihat dalam penggunaan media sosial yang berfokus untuk mencari pengakuan dan pencitraan diri.
Meskipun tidak selalu tampak secara eksplisit, ketika sedang berperilaku dari sudut pandang egosentris, kita mungkin tanpa sadar mengabaikan apa yang orang lain katakan. Pikiran dan perasaan kita mungkin akan lebih sibuk untuk menyiapkan sebuah respon dengan mengaitkan cerita orang lain dengan pengalaman pribadi kita atau memotong pembicaraan dan mengarahkan obrolan ke topik yang kita sukai atau relevan dengan diri kita, alih-alih menyimak atau memahami isi cerita tersebut. Akibatnya, hubungan interpersonal akan merenggang, komunikasi menjadi tidak efektif, muncul perasaan rendah diri karena pendapatnya dinilai tidak penting, dan mengalami kesulitan dalam aktivitas di rumah atau di tempat kerja bahkan dalam hubungan romantis (Scholte, et al, 2010).
Lantas bagaimana kita bisa mengatasi sikap egosentris dan menjadi pendengar yang baik? Tentunya hal ini memerlukan kesadaran diri, latihan, dan keterbukaan diri untuk melihat dunia dari berbagai perspektif. Menurut saya, pasti akan memerlukan banyak waktu, kesabaran, dan komitmen untuk kita bisa bertransformasi menjadi pendengar yang baik. Banyak orang salah mengartikan dan merasa bahwa dirinya sudah menjadi seorang pendengar, padahal kenyataannya mereka hanya mendengarkan melalui telinga dan tidak menggunakan ‘hati’. Oleh karena itu, kita perlu mengenali kecenderungan egosentris dalam diri kita. Apakah kita lebih banyak berbicara daripada mendengarkan? Apakah kita sering menyela atau memberikan kesempatan untuk orang lain? Apakah kita berusaha memahami sudut pandang orang lain, atau hanya menunggu giliran untuk berbicara?
Menjadi pendengar yang baik adalah mendengarkan secara apresiatif, berempati, dan tidak menghakimi. Ketika teman kita sedang bercerita, kita dapat mencoba untuk merasakan apa yang mereka alami seperti mengatakan, “Saya paham. Saya bisa membayangkan betapa sulitnya bagi kamu” dan sebagainya. Dengan demikian, kita dapat membangun koneksi emosional satu sama lain. Sejatinya, dalam hidup, kita tidak harus selalu menjadi tokoh utama, ada kalanya cukup menjadi penonton saja. Hendaknya kita selalu mengingat bahwa ‘setiap cerita ada perannya masing-masing’. Janganlah kita hanya mau didengarkan tanpa mau mendengarkan orang lain. Jadi, cobalah untuk listen and relax dalam berinteraksi dengan orang disekitar terlebih pada orang yang kita kasihi.
“One of the most sincere forms of respect is actually listening to what another has to say”
-Bryant H. McGill-
Penulis
Sinka Alvita Ningtyas (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Penyunting
Ariolietha Joanna Kintanayu (Asisten P2TKP Angkatan 2023)
Daftar Acuan
Clarke, Jodi. (2023, 15 Maret). What Does It Mean To be Egocentric. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-does-it-mean-to-be-egocentric-4164279#citation-5.
Scholte, E. M., Stoutjesdijk, R., Van Oudheusden, M. A. G., Lodewijks, H., & Van der Ploeg, J. D. (2010). Screening of egocentric and unemotional characteristics in incarcerated and community children. International Journal of Law and Psychiatry, 33(3), 164-170.
Sumber Gambar
Ye, Sehoon. (2022, 23 April). A person sits on a bench. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-person-sits-on-a-bench-jagDNcaasfg