Artikel,  Karya Tulis

Ketika Anak Dipaksa untuk Menjadi Dewasa Sejak Dini: Menelisik Fenomena Parentification yang Jarang Disadari

Pernahkah sewaktu kecil kita merasa menjadi pilar utama keluarga yang menopang beban emosional orang tua? Atau mungkin kita menjadi sosok pemegang tanggung jawab utama dan pada akhirnya merawat orang tua agar kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi meskipun usia kita masih terbilang dini? Situasi ini dalam ilmu psikologi dapat disebut sebagai parentification. Secara konseptual, parentification merupakan fenomena yang menyangkut segala situasi ketika seorang anak mengambil peran orang dewasa atau pengasuh di keluarganya (Boschet et al., 2021; Polomski et al., 2021). 

Parentification memiliki dua jenis, yakni emotional parentification dan instrumental parentification (Dariotis et al., 2023; Tiwari & Woodward, 2025). Emotional parentification terjadi apabila individu memegang posisi untuk mendampingi serta mendukung orang tua secara emosional sehingga menuntut mereka untuk membangun kedewasaan di masa kanak-kanak (Dariotis et al., 2023; Tiwari & Woodward, 2025). Sementara itu, instrumental parentification menyangkut situasi ketika individu menanggung tanggung jawab rumah tangga, seperti membersihkan rumah, berbelanja keperluan rumah tangga, hingga memasak, yang umumnya dipegang oleh pengasuh agar kebutuhan sehari-hari semua anggota keluarga dapat terpenuhi (Dariotis et al., 2023; Tiwari & Woodward, 2025). Umumnya fenomena ini terjadi ketika pengasuh merupakan orang tua tunggal atau single parent, kecanduan narkoba atau alkohol, memiliki keterbatasan fisik, hingga mempunyai gangguan psikologis (Boschet et al., 2021; Polomski et al., 2021)

Berdasarkan beberapa studi, fenomena parentification terbilang cukup erat dengan konteks budaya. Masyarakat kulit putih di negara Barat yang menganut nilai individualisme cenderung lebih jarang mengalami parentification dibandingkan dengan keluarga Asia, misalnya keluarga Asia-Amerika dan keluarga Filipina (Cho et al., 2025; Alcantara et al., 2022). Kondisi ini terjadi karena keluarga kulit putih seringkali memiliki pembagian peran yang jelas dan struktural serta mengedepankan kemandirian dibandingkan dengan keluarga Asia yang memiliki karakteristik lebih fleksibel pada dinamika keluarga (Cho et al., 2025; Alcantara et al., 2022). Di samping itu, nilai kolektivisme dan patriarki menjadi faktor lain yang menimbulkan fenomena parentification lebih sering dijumpai di keluarga Asia (Tiwari & Woodward, 2025). Anggapan bahwa orang tua harus dihormati dan dilayani juga lebih umum dijumpai dalam budaya Timur dibandingkan dengan budaya Barat. Akibatnya, fenomena parentification yang menuntut individu untuk menangani keluarga menjadi lebih dianggap wajar dan dampak negatifnya kurang diakui oleh lingkungan sosial (Tiwari & Woodward, 2025). 

Terkait kelompok yang rentan mengalami parentification, hasil penelitian menunjukkan mengungkapkan bahwa anak perempuan lebih sering mengalami fenomena parentification karena adanya proses sosialisasi peran dari keluarga agar perempuan tumbuh menjadi “pengasuh” yang baik di kemudian hari (Ciarico, 2024). Proses sosialisasi ini dapat berupa tuntutan mengasuh adik maupun orang tua mereka sendiri (Ciarico, 2024). Literatur-literatur terdahulu telah membuktikan beberapa dampak negatif yang mengikuti fenomena parentification pada perkembangan anak (Tiwari & Woodward, 2025; Ciarico, 2024; Boschet et al., 2021). Dalam penelitian-penelitian tersebut disebutkan bahwa dampak yang paling menonjol adalah hilangnya kesempatan anak untuk menikmati masa kanak-kanak secara optimal. Individu yang sudah dilimpahkan tanggung jawab untuk mengasuh keluarga semenjak kecil akan mencurahkan waktu dan tenaganya dalam aktivitas tersebut alih-alih bermain atau berkegiatan selayaknya anak-anak pada umumnya. Peran yang mendorong anak untuk menjadi lebih dewasa dibandingkan usianya juga dapat menyulitkan mereka untuk bersosialisasi dengan teman sepantaran atau membangun relasi romantis di kemudian hari (Ciarico, 2024; Masiran et al., 2023). Hal ini terjadi karena individu cenderung pribadi yang tertutup dan rentan menarik diri setiap kali mengalami ketidaknyamanan saat menjalani hubungan (Tiwari & Woodward, 2025; Masiran et al., 2023). 

Walaupun demikian, ditemukan pula dampak positif dari fenomena ini. Individu mengaku bahwa pengalaman menjadi pengasuh keluarga di masa kecil membuat mereka merasa lebih tangguh (Polomski et al., 2021). Tidak dapat dimungkiri bahwa fenomena parentification ini mencerminkan ketidakadilan dalam sebuah dinamika keluarga. Namun, situasi ini dapat kemudian dapat disadari saat individu beranjak dewasa dan dimaknai secara mendalam.  Individu mampu mengembangkan perspektif negatifnya dan kemudian meninjau ulang pengalaman tersebut dengan pandangan yang lebih luas (Tiwari & Woodward, 2025). Selain itu, tuntutan untuk menjadi sosok dewasa semenjak dini dapat mendorong individu untuk mengembangkan metode dalam menjaga kondisi psikologis maupun emosional mereka (Tiwari & Woodward, 2025). Pada sebuah penelitian, disebutkan bahwa apabila individu mengalami instrumental parentification mereka akan lebih terbantu dalam mengorganisir tugas-tugas akademik dan proses pembelajarannya sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar (Masiran et al., 2023). Masih dalam literatur yang sama, beberapa partisipan menyebutkan kerap menulis (journaling), melakukan mindfulness, hingga membiasakan diri untuk bermeditasi. 

Lalu kira-kira apa yang harus dilakukan untuk menangani fenomena parentification? Eratnya fenomena ini dengan budaya di Asia mungkin memberikan tantangan tersendiri. Perlu ditekankan bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya berdampak negatif. Beberapa individu mungkin secara sukarela dan senang hati menjalankan peran ini sedari kecil. Parentification dapat dipandang negatif jika tindakan dan jerih payah individu tidak diapresiasi atau bahkan diremehkan dengan dalih budaya bahwa sudah selayaknya seorang anak berbakti pada orang tua (Boschet et al., 2021). Kondisi ini yang sering kali melahirkan efek-efek negatif yang telah dijelaskan sebelumnya. Tidak ada salahnya untuk menemui pihak profesional seperti psikolog apabila merasa dampak negatif terlalu memengaruhi kehidupan sehari-hari. 

Aktivitas seperti mindfulness dapat menjadi alternatif agar membantu individu meningkatkan kesadaran diri serta regulasi emosi (Tiwari & Woodward, 2025). Kedua aspek ini tergolong penting untuk proses pertumbuhan dari situasi traumatis. Selain itu, penting juga mengadakan edukasi mengenai batasan dalam berkeluarga yang sehat dan tetap sesuai dengan konteks budaya (Tiwari & Woodward, 2025) serta mengenai peran orang tua dewasa (adult role taking) pada orang tua atau pengasuh (Masiran et al., 2023). Dukungan sosial dari lingkungan sekitar juga berperan dalam membantu individu yang mengalami fenomena parentification dan merasakan efek negatifnya. Langkah ini dilakukan untuk mengawasi perkembangan serta dinamika individu bersangkutan dengan keluarganya (Polomski et al., 2021). 

Dapat disimpulkan bahwa fenomena parentification terkadang tidak sepenuhnya berdampak negatif. Tidak jarang metode ini digunakan orang tua atau pengasuh agar dinamika keluarga tetap stabil saat dihadapkan pada krisis kehidupan. Namun, perlu disadari jika pada dasarnya seorang anak perlu dibiarkan untuk tumbuh sesuai usianya dan tidak dibebani tanggung jawab orang dewasa. Oleh karena itu, kematangan emosional dan psikologis orang tua menjadi faktor penting. Jangan sampai anak bersangkutan mengalami hambatan dan gangguan dalam pertumbuhannya agar di masa depan ia dapat menjadi pribadi yang utuh dan sehat, baik secara jasmani hingga psikologis.

 

Penulis

Alexandra Daniella Arshinta (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)

 

Penyunting

Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan

Alcantara, A. S. V., Marrero, X. F., Saquilabon, J. J., & Dominiguez, J. (2022). A phenomenological study of the experiences of parentified Filipino young adults. Proceeding of Biopsychosocial Issues

Borchet, J., Lewandowska-Walter, A., Polomski, P., Peplinska, A., & Hopper, L. M. (2021). The relations among types of parentification, school achievement, and quality of life in early adolescence: An exploratory study. Frontiers in Psychology, 12. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.635171 

Cho, S., Glebova, T., Seshadri, G., Hsieh, A. (2025). A phenomenological study of parentification experiences of Asian American young adults. Contemporary Family Therapy, 47, 225-287. https://doi.org/10.1007/s10591-024-09723-x 

Ciarico, I. L. (2024). The parentification of eldest daughters. University of Dakota

Dariotis, J. K., Chen, F. R., Park, Y. R., Nowak, M. K., French, K. M., & Codamon, A. M. (2023). Parentification vulnerability, reactivity, resilience, and thriving: A mixed methods systematic literature review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(13), 6197. https://doi.org/10.3390/ijerph20136197 

Masiran, R., Ibrahim, N., Awang, H., & Lim, P. Y. (2023). The positive and negative aspects of parentification: An integrated review. Children and Youth Services Review, 144. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2022.106709 

Połomski, P., Peplińska, A., Lewandowska-Walter, A., & Borchet, J. (2021). Exploring resiliency and parentification in Polish adolescents. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(21), 11454. https://doi.org/10.3390/ijerph182111454 

Tiwari, S., & Woodward, A. (2025). Navigating parentification dualities: A qualitative analysis of cultural influences and growth among South Asian Adults. Contemporary Family Therapy. https://doi.org/10.1007/s10591-025-09764-w 

 

Sumber Gambar

Cleveland Clinic. (October 14, 2024). What is parentification? Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/parentification