Karya Tulis,  Podjok Merenung

Kesepian yang Tidak Selalu Sunyi

Pada masa kini, kesepian tidak selalu datang dalam bentuk kamar kosong atau hari tanpa pesan masuk. Justru, seringkali kerap muncul saat ponsel kita penuh notifikasi, grup percakapan ramai, dan media sosial tidak pernah benar-benar sunyi. Ada banyak nama di layar, tapi tetap terasa tidak ada tempat untuk benar-benar “pulang” secara emosional.

Dalam psikologi, kesepian bukan semata-mata soal sendirian. Kesepian lebih berkaitan dengan perasaan tidak terhubung, meskipun secara fisik dan sosial kita terlihat “baik-baik saja”. Teori psikologi menjelaskan bahwa kesepian muncul ketika ada jarak antara hubungan yang kita miliki dan hubungan yang sebenarnya kita butuhkan. Jadi wajar jika seseorang bisa tertawa di tengah keramaian, aktif di media sosial, tapi tetap merasa hampa saat malam tiba (Kirana, 2021).

Bagi Generasi Z, kesepian sering kali terasa membingungkan. Kita hidup di era yang sangat terhubung, namun justru kerap merasa sendirian. Banyak interaksi, tapi sedikit yang benar-benar intim. Banyak obrolan, tapi jarang yang menyentuh hal-hal yang paling jujur. Terkadang, ada keinginan untuk bercerita, tapi bingung harus mulai dari mana. Atau lebih tepatnya, takut tidak benar-benar dipahami.

Psikologi juga menjelaskan bahwa manusia tidak hanya butuh kehadiran orang lain, tapi kedekatan emosional. Kondisi ini dikenal sebagai kesepian emosional ketika tidak ada sosok yang membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri. Generasi Z sering berada di fase kehidupan yang penuh transisi: mencari arah, membangun identitas, mengejar ekspektasi, sambil diam-diam bertanya, “Apakah aku sudah cukup?” Di tengah semua itu, rasa kesepian bisa muncul tanpa permisi.

Media sosial turut memperumit pengalaman tersebut. Kita terbiasa melihat potongan hidup orang lain yang terlihat bahagia, produktif, dan penuh makna. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan versi terbaik kehidupan orang lain. Saat itulah kesepian berubah menjadi perasaan tertinggal, tidak cukup, atau merasa sendirian dalam perjuangan yang sebenarnya juga dialami banyak orang (Warella & Pratikto, 2021).

Sebagian  dari kita yang terbiasa menahan diri. Tidak ingin merepotkan dan tidak ingin terlihat lemah. Dalam teori attachment, beberapa orang belajar sejak awal bahwa bergantung pada orang lain terasa tidak aman, sehingga memilih terlihat mandiri dan kuat. Tapi di balik kemandirian itu, sering tersembunyi kesepian yang tidak pernah benar-benar diberi ruang (Akbas & Altıntas, 2016).

Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa kesepian bukanlah tanda kegagalan sosial, apalagi kelemahan pribadi. Kesepian adalah sinyal, yang memberi tahu bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Sehingga sinyal ini bukan untuk diabaikan, melainkan didengarkan. Mengakui bahwa kita merasa kesepian tidak membuat kita kurang kuat justru itu bentuk kejujuran pada diri sendiri (Simanjuntak et al., 2021).

Menghadapi kesepian tidak selalu berarti harus segera mencari banyak teman atau memaksa diri untuk selalu sibuk. Kadang yang dibutuhkan adalah satu hubungan yang aman, satu ruang untuk jujur, atau bahkan belajar hadir untuk diri sendiri dengan lebih penuh. Psikologi menyebut ini sebagai self compassion kemampuan untuk bersikap lembut pada diri sendiri saat merasa rapuh.

Kesepian yang tidak selalu sunyi mengajarkan satu hal penting, yaitu bahwa ramai tidak selalu berarti terhubung, dan sendiri tidak selalu berarti kesepian. Di balik perasaan sepi, sering kali ada kebutuhan untuk dipahami, diterima, dan dicintai tanpa harus berpura-pura. Dan mungkin, dengan berani mengakui kesepian itu, kita sedang selangkah lebih dekat untuk benar-benar terhubung baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

Penulis

Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Penyunting

Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan

Akbas & Altıntas (2016). Attachment insecurity predicts loneliness and lower relationship satisfaction among emerging adults. Journal of Social and Personal Relationships, 33(8), 1085–1102. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5008440/

Kirana, K. C. (2021). Logoterapi pada perempuan lansia warga binaan panti wreda yang mengalami kesepian. Insight Jurnal Ilmiah Psikologi, 23(1), 46–64. https://doi.org/10.26486/psikologi.v23i1.1409

Simanjuntak, J. G. L. L., Prasetio, C. E., Tanjung, F. Y., & Triwahyuni, A. (2021). Psychological Well-Being sebagai prediktor tingkat kesepian mahasiswa. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 11(2), 158–175. https://doi.org/10.26740/jptt.v11n2.p158-175

Warella, & Pratikto. (2021). Kesepian dan kecemasan sosial: Dapatkah menjadi prediktor kecanduan media sosial?. INNER: Journal of Psychological Research, 1(1), 1–13. Retrieved from https://aksiologi.org/index.php/inner/article/view/16

Sumber Gambar

Natasha Albertine