Impostor Syndrome: Earned It or Am I Really Just Lucky
Pernah tidak teman-teman berada di posisi sedang disanjung atau dipuji, tapi kita merasa tidak berhak atas pujian tersebut?
Kadang, saya menemukan diri saya menepis pujian orang lain dengan mengatakan bahwa semua itu adalah faktor keberuntungan atau karena peran orang lain. Mungkin tanpa kemampuan komunikasi ‘B’, proyek yang saya tangani tak akan berjalan. Tanpa problem solving ‘C’, kinerja saya pasti buruk. Pengalaman kerja yang baik? Itu semua berkat bantuan ‘D’ yang selalu mengecek kinerja saya. Saya sendiri rasanya tidak banyak berperan penting dalam hal yang dianggap baik oleh orang lain. Meski selama ini tidak ada keluhan besar dari pihak lain atas kinerja saya, saya sering kali merasa tidak banyak ambil bagian, seakan-akan keberhasilan atau pencapaian itu bukan milik saya sepenuhnya.
Apakah teman-teman pernah merasa berada di posisi yang sama? Jika teman-teman menyadari, sebenarnya terdapat suatu poin besar dalam situasi tersebut, yakni adanya suatu proses mengaitkan keberhasilan atau pencapaian terhadap hal-hal di luar diri, misalnya seperti orang lain atau situasi tertentu.
Clance dan Imes (1978) melakukan penelitian terhadap fenomena ini dan menyebutnya sebagai impostor syndrome. Impostor syndrome dijelaskan sebagai suatu kondisi psikologis di mana individu merasa tidak pantas atas prestasi yang dicapai serta meyakini bahwa keberhasilan tersebut semata-mata karena faktor eksternal seperti keberuntungan atau bantuan orang lain. Pada hal ini, individu dengan impostor syndrome biasanya cenderung meremehkan kontribusinya sendiri dan sering kali menganggap bahwa kinerjanya “tidak cukup”.
Jika teman-teman termasuk dalam jajaran individu yang mengalami impostor syndrome, mungkin kalian bertanya-tanya, apa pengaruhnya terhadap diri kita? Penelitian terbaru oleh Swaidan & Maalouf (2025) mengumpulkan data dari 155 partisipan dosen menggunakan pendekatan kuantitatif mono-metode. Hasilnya mereka menemukan bahwa level ‘impostorisme’ yang lebih tinggi, berkorelasi dengan kesejahteraan karyawan, kepuasan kerja, dan penilaian kinerja diri yang lebih rendah. Penelitian lainnya oleh Campos et al., (2022) menguji korelasi antara- Impostor syndrome dengan kecemasan, depresi dan burnout pada 425 mahasiswa kedokteran. Hasilnya, mereka menemukan korelasi yang sangat positif antara- Impostor syndrome dengan 2 komponen burnout yaitu, kelelahan emosional dan sikap sinis. Mereka juga menemukan bahwa Impostor Syndrome berkorelasi pula dengan kecemasan dan depresi. Penelitian baru-baru ini di Indonesia juga menemukan korelasi yang positif antara- Impostor syndrome pada karyawan generasi Z dengan rendahnya perkembangan karier mereka (Vercelli et al., 2025). Penelitian-penelitian ini menunjukan bahwa terdapat konsekuensi jangka panjang yang cukup negatif dari impostor syndrome, seperti burnout, kecemasan, depresi, kepuasan kerja yang rendah dan perkembangan karier yang rendah.
Sepertinya cukup tidak membuat nyaman ya? Tapi tidak usah takut, di Indonesia sendiri fenomena Impostor syndrome adalah fenomena umum yang sering kali dimiliki oleh generasi Z yang cenderung lebih perfeksionis. Salah satu penelitian oleh Prettycia et al., (2025) terhadap 200 karyawan generasi Z Indonesia menemukan bahwa 110 partisipan memiliki tingkat impostor syndrome sedang, sementara 59 lainnya menunjukan tingkat impostor syndrome tinggi. Hal ini menunjukan bahwa Impostor syndrome adalah fenomena yang lumrah terjadi dan tentunya teman-teman tidak sendiri.
Lalu bagaimana caranya untuk lebih meregulasi kondisi psikologis yang dikenal sebagai Impostor Syndrome ini? Untuk saya pribadi, langkah awalnya adalah menyadari bahwa terdapat suatu hal yang keliru dengan cara kita mengartikan pencapaian. Intinya adalah menyadari bahwa pola pikir kita saat ini membuat kita kehilangan banyak momen pencapaian yang membanggakan. Alih-alih merasa senang, kita malah tidak memperoleh perasaan bangga sama sekali karena lagi-lagi keberhasilan tersebut dipersepsikan sebagai milik orang lain. Apakah teman-teman sudah menyadari seberapa banyak kalian kehilangan momen berharga itu?
Baru-baru ini saya mencoba menerapkan self-compassion sebagai upaya untuk menepis impostor syndrome. Neff (2003) mendefinisikan self-compassion sebagai sikap penuh kebaikan dan pengertian terhadap diri sendiri ketika menghadapi penderitaan, kegagalan, atau perasaan tidak cukup. Sesuai definisinya self-compassion mengajarkan kita untuk menerima bahwa manusia merupakan makhluk yang jauh dari kata sempurna dan bahwa kita sendirilah yang harus belajar memeluk dan menerima diri kita sendiri dengan segala kegagalan, kekurangan, dan penderitaannya. Pada penelitiannya, Neff (2003) memperkenal 3 komponen self-compassion, yaitu self kindness, common humanity, dan mindfulness.
Apabila 3 komponen tersebut diterapkan untuk menepis Impostor syndrome dalam diri teman-teman, kira-kira dialog internal yang mungkin terjadi adalah:
- Self Kindness : “Aku memang terbantu oleh si A yang bisa berbicara di depan banyak orang, tapi aku juga berkontribusi dengan mengoordinasi bagian tertentu dan tetap hadir di situasi yang mendadak.”
- Common Humanity : “Aku bisa melihat bahwa kebersamaan dalam menyelesaikan pekerjaan adalah sesuatu yang wajar sebagai dinamika kerja tim yang sehat, bukan bukti bahwa aku tidak pantas atas hasilnya.”
- Mindfulness : “Aku memang merasa dibantu banyak orang, tapi aku juga bekerja keras. Jadi, keberhasilan ini adalah hasil kombinasi dari kerja sama tim sekaligus kontribusi pribadiku bukan semata-mata keberuntungan.”
Kira-kira seperti itu teman-teman, sedikit saran yang dapat kuberikan sebagai sesama yang mengalami impostor syndrome.
Sebagai kalimat penutup, aku ingin mengutip sedikit quote dari Buddha yang mungkin merupakan inspirasi dari lahirnya istilah self compassion. Sebagaimana Buddha pernah berkata,
“You yourself, as much as anybody in the entire universe, deserve your love and affection.”
Sesuai kalimat ini teman-teman, yuk berani untuk merayakan dan tidak meninggalkan diri sendiri dalam setiap keberhasilan. Tentu saja karena sekecil apa pun langkah yang teman-teman berikan dalam keberhasilan itu, pada akhirnya kita memiliki peran tersendiri untuk membentuk pencapaian tersebut.
“Flex a little and hype yourself up, ’cause you definitely own it.”
Penulis
Fransisca Vannia Rahmadi / Asisten P2TKP Angkatan 2024
Penyunting
- Ariolietha Joanna Kintanayu / Asisten P2TKP Angkatan 2023
- Natasha Albertine / Asisten P2TKP Angkatan 2025
- Gabriella Setia Maharani / Asisten P2TKP Angkatan 2024
Daftar Acuan
Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The Impostor Phenomenon in High-Achieving Women: Dynamics and Therapeutic Interventions. Psychotherapy: Theory, Research & Practice, 15(3), 241–247. https://doi.org/10.1037/h0086006
Swaidan, E., & Jabbour Al Maalouf, N. (2025). Impostor Phenomenon Unveiled: Exploring Its Impact on Well-Being, Performance, and Satisfaction Among Employees. Administrative Sciences, 15(2), 67.https://doi.org/10.3390/admsci15020067
Campos, I. F. D. S., Camara, G. F., Carneiro, A. G., Kubrusly, M., Peixoto, R. A. C., & Peixoto Junior, A. A. (2022). Impostor Syndrome and its association with depression and burnout among medical students. Revista Brasileira de Educação Médica, 46, e068.https://doi.org/10.1590/1981-5271v46.2-20200491.ING
Vercelli, T. A., Zamralita, Z., & Fahlevi, R. (2025, July). The Role of Impostor Phenomenon on Career Development in Gen Z Employees. In Tarumanagara International Conference on the Applications of Social Sciences and Humanities (TICASH 2024) (pp. 313-321). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-446-4_34
Prettycia, T., Aurelia, N., & Fahlevi, R. (2025). Peran Impostor Syndrome Terhadap Kesejahteraan Karyawan Generasi Z. Jurnal Psimawa: Diskursus Ilmu Psikologi dan Pendidikan, 8(1), 181-190. https://doi.org/10.36761/jp.v8i1.6006
Neff, K. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and identity, 2(2), 85-101.https://doi.org/10.1080/15298860309032
Sumber Gambar
Donato, Maro. (2022, 24 June). Dinding dengan Grafiti. https://unsplash.com/id/foto/dinding-dengan-grafiti-0pANi1hp6LY