I Never Had to Worry About You, You Were My Easy Child
“Just because you think I’m easy, doesn’t mean I deserve less.”
Sejak kecil, aku sering mendengar kalimat yang masih melekat di kepalaku hingga kini: “Kamu anak yang paling mudah diatur, tidak pernah merepotkan, tidak pernah minta yang aneh-aneh.” Menjadi easy child dalam konteks ini bukanlah istilah akademis soal temperamen, melainkan pengalaman pribadiku sebagai anak yang penurut dan jarang menimbulkan masalah. Identitas itu tumbuh bersamaku dan sampai sekarang orang tuaku pun masih mengakuinya. Rasanya seperti ada label tak tertulis bahwa aku adalah anak yang “aman” sehingga tidak perlu terlalu dicemaskan.
Di satu sisi, pengalaman itu membuatku tumbuh dengan rasa syukur. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup harmonis, penuh dengan upaya saling mengayomi, dan berusaha hadir satu sama lain. Orang tuaku tidak pernah menuntutku menjadi “seseorang” sesuai ekspektasi mereka. Aku bebas memilih jalanku sendiri, dan itu membuatku merasa dihargai sebagai individu. Namun, kebebasan itu ternyata juga menghadirkan paradoks. Aku jarang ditanya tentang pilihanku, karena dianggap mampu mengatur diri sendiri. Akibatnya, kadang muncul perasaan seolah-olah aku dibiarkan mengurus semuanya sendirian. Aku tahu, niat orang tuaku bukanlah abai, melainkan bentuk kepercayaan penuh. Tapi bukankah terkadang kita juga ingin dipedulikan secara eksplisit? Bukankah wajar kalau seorang anak ingin ditanya, “Apa kamu baik-baik saja?” tanpa harus membuktikan diri sebagai anak yang kuat lebih dulu?
Menjadi easy child membentuk pola kepribadianku hingga sekarang. Aku cenderung menyelesaikan masalah sendiri tanpa banyak melibatkan orang lain, bahkan ketika masalah itu terasa berat. Alih-alih “merepotkan” keluarga atau teman, aku memilih memendamnya. Aku juga tumbuh dengan kecenderungan introvert, lebih nyaman berpikir dalam diam daripada tampil sebagai pusat perhatian. Saat mendapat pujian pun aku sering merasa canggung, karena tidak terbiasa dihargai secara terbuka oleh orang-orang terdekat. Mungkin karena keluargaku dulu punya budaya komunikasi yang tidak begitu asertif dimana ada gengsi untuk memuji, gengsi untuk bertanya langsung mengenai perasaan, atau sekadar mengatakan, “Aku bangga padamu.”
Saat awal kuliah di Yogyakarta, aku pernah ragu menyampaikan kebutuhanku soal kendaraan pribadi. Orang tuaku semula mengira kendalaku ada di biaya transportasi, jadi solusinya adalah memberi uang transport tambahan di luar uang jajan bulanan. Baru beberapa bulan lalu aku akhirnya memberanikan diri berkata bahwa masalahku bukan soal biaya, melainkan soal waktu dan kepraktisan. Bayangkan saja pengalaman dicancel driver, menunggu lama ketika sedang buru-buru, atau sekadar ingin pergi beribadah tapi terhambat karena transportasi. Saat itu juga orang tuaku langsung memahami dan menawarkan untuk membelikan kendaraan pribadi. Pikirku, “Oh, ternyata semudah ini hidup kalau aku bisa langsung menyampaikan kebutuhan dan keinginanku. Andai saja aku berani bilang sejak awal semester.”
Dari pengalaman sederhana itu, aku belajar satu hal penting yaitu orang tidak akan tahu kebutuhan kita kalau kita tidak mengatakannya. Harapan agar orang lain selalu peka hanyalah ilusi. Dalam psikologi, hal ini sejalan dengan prinsip komunikasi asertif yakni kemampuan mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan dengan jujur tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain (Alberti & Emmons, 2017). Tanpa komunikasi semacam itu, banyak kebutuhan emosional (bahkan praktis) yang bisa terabaikan, apalagi bagi anak-anak yang dianggap “mudah” karena tidak banyak menuntut. Justru di situlah paradoksnya, karena tidak pernah “merepotkan”. Sehingga, ada kalanya kami malah terlewat untuk diberi ruang bercerita. Dan benar saja, hal yang dulu kupikir mustahil ternyata bisa terwujud ketika aku berani menyuarakannya.
Menjadi easy child juga membuatku sering menjadi tempat bersandar keluarga. Aku terbiasa mendengarkan keluh kesah orang tua dan saudaraku, bahkan soal kesulitan yang mereka alami. Anehnya, meski sering menjadi “penampung cerita,” aku sendiri jarang berbagi kisah pada mereka. Ada rasa sungkan dan takut menambah beban baru. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai parentification, yaitu ketika anak mengambil peran pendengar, penolong, atau bahkan “pengganti orang tua” dalam relasi keluarga (Hooper et al., 2011). Meskipun membuatku lebih empatik, aku jadi terbiasa menahan cerita sendiri. Di satu sisi aku bangga bisa menjadi sandaran, tapi di sisi lain aku sering merasa seperti pendengar yang tidak punya tempat untuk didengarkan. Pernahkah kamu juga merasakan hal serupa? Menjadi telinga bagi semua orang, tapi bingung ke mana harus menyalurkan isi hati?
Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, posisiku juga unik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa urutan kelahiran dapat memengaruhi dinamika keluarga dan karakter anak. Misalnya, penelitian Dunn dan Plomin (1990) menemukan bahwa anak tengah atau anak kedua cenderung lebih mandiri, fleksibel, dan sering berperan sebagai penengah dalam keluarga. Aku bisa merasakan itu karena aku berusaha menjadi anak yang paling mengerti keadaan orang tua, tidak pernah meminta hal-hal berlebihan, dan selalu menyesuaikan diri agar tidak menambah beban keluarga.
Seiring waktu, aku sadar bahwa tidak ada hidup yang sepenuhnya sempurna. Label sebagai anak “mudah” kadang membuatku merasa kosong. Namun, hal ini juga menempaku menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tidak banyak menuntut, dan mampu berpikir mandiri. Keluargaku memang bukan tipe yang lugas mengekspresikan perasaan, bahkan dulu kami gengsi untuk saling memuji. Tapi justru dari situlah lahir kesadaranku bahwa komunikasi yang jelas adalah kunci. Hal ini juga bisa menjadi pemantik untuk memperbaiki cara kami berkomunikasi dalam keluarga.
Kini, aku lebih memilih mengekspresikan apa yang kurasakan daripada berharap orang lain menebaknya. Aku percaya setiap hubungan baik keluarga maupun profesional hanya bisa tumbuh sehat jika kita saling terbuka. Bagiku, refleksi sebagai easy child bukanlah soal menyalahkan masa lalu, melainkan menyadari bahwa “mudah” bukan berarti tanpa beban. Justru dari pengalaman inilah aku menemukan kekuatan, bahwa menjadi pribadi yang tenang, penurut, atau tidak merepotkan pun tetap membutuhkan ruang untuk didengarkan. Karena pada akhirnya, bukankah setiap anak ‘easy child’ sekalipun tetap berhak merasa diperhatikan?
“I struggle to catch the hints God whispers—how then could I ever catch the subtler code of you?”
Penulis
Valentino / Asisten P2TKP Angkatan 2024
Penyunting
- Theresia Karina Satya Pramesti / Asisten P2TKP Angkatan 2025
- Gabriella Setia Maharani / Asisten P2TKP Angkatan 2024
Daftar Acuan
Alberti, R., & Emmons, M. (2017). Your perfect right: Assertiveness and equality in your life and relationships. new harbinger publications.
Dunn, J., & Plomin, R. (1990). Separate lives: why siblings are so different. Basic Books.
Hooper, L. M., Doehler, K., Jankowski, P. J., & Tomek, S. E. (2012). Patterns of self-reported alcohol use, depressive symptoms, and body mass index in a family sample: The buffering effects of parentification. The Family Journal, 20(2), 164-178.
Sumber Gambar
Dokumentasi pribadi milik Valentino (Asisten P2TKP Angkatan 2024)