Hustle Culture: Mengejar Makna atau Pengakuan?
Apakah kesibukan yang Anda lakukan sekarang adalah bagian dari tujuan hidup Anda atau hanya sekadar untuk membuktikan sesuatu?
Kini, media sosial tidak lagi menjadi tempat asing sebagai ajang pameran pencapaian. Semakin mudahnya akses dan penggunaan media sosial, semakin mudah pula informasi mengalir dan semakin besar pula dorongan bagi orang-orang untuk ikut membagikan apa yang mereka capai. Tidak lagi sebatas menunjukkan pencapaian berupa penghargaan atau penerimaan beasiswa, tetapi juga memamerkan kesibukan, seperti menjalankan dua pekerjaan penting di saat yang bersamaan, mengikuti berbagai komunitas, memegang beberapa posisi penting di sebuah organisasi, dan sebagainya. Tidak jarang jika hal-hal tersebut mendorong pengguna media sosial untuk melakukan hal yang sama. Berlomba-lomba untuk mengikuti banyak kegiatan dan segera mengunggahnya di media sosial. Lantas, apakah seseorang benar-benar termotivasi oleh makna atau pengakuan?
Secara tidak sadar, kesibukan yang diburu dan dibanggakan ini telah menjadi budaya dan dikenal dengan istilah hustle culture. Hustle culture didefinisikan sebagai tekanan sosial untuk bekerja keras, cepat, dan kuat di berbagai situasi (Tlongson, 2021). Di negara Cina, istilah ini juga dikenal dengan “966” yang berarti bahwa bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam dalam 6 hari selama seminggu (Zhong, 2019). Lalu, jika berbicara mengenai dampak, tentu budaya ini akan memberi konsekuensi negatif jika seseorang kurang mampu mengontrol diri, misalnya burnout. Menurut Maslach & Leiter, 2016, burnout dipahami sebagai sindrom psikologis yang muncul karena adanya tekanan sehingga seseorang bisa mengalami kelelahan emosional, tidak peduli dengan orang lain (depersonalization), dan merasa kurang efektif dalam pekerjaan.
Kembali pada pertanyaan sebelumnya, apakah seseorang benar-benar termotivasi oleh makna atau pengakuan, bisa dijelaskan dengan self-determination theory. Dalam teori tersebut, motivasi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dibedakan menjadi dua, yakni motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik dipahami sebagai dorongan dari dalam diri individu yang membuatnya bergerak dan melakukan kegiatan. Seseorang melakukan aktivitas tertentu bukan karena ada hal konkret yang ingin dicapai, tetapi karena ia menikmati atau merasakan kepuasan dalam melakukannya. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik diartikan bahwa seseorang mengejar hasil tertentu dalam melakukan aktivitasnya (Deci dkk., 2017). Adanya media sosial yang lekat dalam keseharian dapat memperkuat dorongan ekstrinsik tersebut. Ketika seseorang berusaha memiliki berbagai kesibukan dan segera menunjukkannya di media sosial, bukan lagi berasal dari dalam diri, tetapi untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau validasi dari orang lain.
Namun demikian, apakah setiap unggahan tentang kesibukan di media sosial selalu mencerminkan motivasi ekstrinsik? Sayangnya, pertanyaan ini tidak memiliki jawaban bulat seutuhnya. Beberapa orang mengunggah karena ingin membangun personal branding sehingga menjadi mudah dikenal, sebagian mengunggah karena ingin memberdayakan dan menginspirasi orang lain. Dengan demikian, tidak pasti semua orang yang memamerkan kesibukan didorong untuk mendapatkan pengakuan. Banyak faktor yang melatarbelakangi unggahan tersebut dan memahaminya dapat menjadi langkah awal untuk memahami diri.
Terlepas dari segala pencapaian atau kesibukan dengan berbagai latar belakangnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memaknai hidupnya. Apakah semua yang dilakukan sejalan dengan siapa dirinya? Ketika seseorang mampu memahami makna hidupnya, maka ia selangkah lebih dekat untuk mencapai kesejahteraan (Martela & Steger, 2016). Tentu pemaknaan hidup tidak berasal dari pencapaian atau berbagai kesibukan yang dimiliki, tetapi bagaimana seseorang mampu merasa hidup dapat dimengerti dan masuk akal (coherence), merasa hidup memiliki arah dan tujuan, bukan hanya sekedar sibuk (purpose), serta merasa bahwa hidup adalah penting, layak, dan berharga untuk dijalani (significance) (Martela & Steger, 2016). Dengan demikian, pertanyaan berikutnya yang mungkin lebih tepat untuk ditanyakan kepada diri sendiri bukanlah tentang kesibukan apalagi yang perlu dijalani, tetapi apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri. Pada akhirnya, hidup yang bermakna bukanlah tentang seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi tentang seberapa dalam seseorang memaknainya.
Penulis
Ida Ayu Shinta Pradnyani (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)
Penyunting
Gabriella Setia Maharani (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Daftar Acuan
Deci, E. L., Olafsen, A., & Ryan, R. (2017). Self-determination theory in work organizations: The state of a science. The Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych 032516-113108
Martela, F., & Steger, M. (2016). The three meanings of meaning in life: Distinguishing coherence, purpose, and significance. The Journal of Positive Psychology. http://dx.doi.org/10.1080/17439760.2015.1137623
Maslach, C., & Leiter, M. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry.
Tlongson, H. (2021). Hustle culture and toxic productivity are ruining your brain. The Concordian. https://theconcordian.com/2021/03/hustle-culture-and-toxic-productivity-are-ruining-your-brain/
Zhong, R. (2019, April 29). ‘996’ Is china’s version of hustle culture. tech workers are sick of it. The New York Times. Retrieved May 16, 2025, from https://www.nytimes.com/2019/04/29/technology/china-996-jack-ma.html
Sumber Gambar
Sampson, Garrhet. (2016, 23 December). Black and white Hustle-printed ceramic mug on table. Unsplash. https://unsplash.com/photos/black-and-white-hustle-printed-ceramic-mug-on-table-CmF_5GYc6c0