Karya Tulis,  Podjok Merenung

Dunia Terlalu Luas untuk Sekadar Mengejar Tepuk Tangan

Ekspektasi sosial yang tiada habisnya selalu mengikuti di mana pun kita berada. Sejak kecil hingga dewasa, ada saja komentar orang lain tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Saat masih kecil kita diberitahu, “Kamu kan anak pertama, harus jadi contoh buat adik-adikmu”. Saat sudah kuliah muncul pertanyaan, “Teman-teman sudah sidang, kamu kapan?”. Ketika sudah merasa bahagia dan mapan dengan diri sendiri, ada yang berkomentar “Sudah umur segini, kok masih belum ada gandengan?”. Bahkan setelah menikah kembali ada pertanyaan, “Sudah isi belum? Tetangga kita, yang seumuran kamu barusan lahiran lho” Seolah-olah, apa pun yang kita lakukan tidak akan pernah cukup di mata orang lain. 

 

Kita seperti harus menyesuaikan diri sesuai dengan apa yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat. Namun, bagaimana jika kita merasa tidak sesuai dengan standar tersebut? Bagaimana jika segala tuntutan itu justru membuat kita merasa seperti orang asing dalam lingkungan kita sendiri?

Tekanan sosial adalah fenomena nyata dalam kehidupan manusia. Menurut Panagopoulos & Van Der Linden (dalam Weinschenk et al., 2018), tekanan sosial merupakan suatu keadaan di mana orang diberikan informasi tentang perilaku orang lain yang dianggap sebagai standar perilaku atau norma deskriptif. Informasi ini kemudian mendorong individu untuk menyesuaikan perilakunya agar diterima oleh lingkungannya. Sejak kecil, kita diajarkan untuk mengikuti aturan yang sudah ada, seperti bagaimana cara berpakaian, berbicara, berperilaku, hingga menentukan pilihan-pilihan penting yang berpengaruh bagi hidup kita agar sesuai dengan harapan orang lain. Tuntutan ini tidak hanya datang dari keluarga, tetapi juga dari lingkungan sekolah, pertemanan, tempat kerja, hingga media sosial.

Semakin bertambahnya usia, semua tuntutan menjadi semakin besar dan semakin mengekang langkah hidup kita. Banyak orang menjalani hidup dengan berusaha memenuhi ekspektasi sosial agar dianggap “berhasil”. Sekalinya kita mengambil jalan yang berbeda dari ekspektasi mereka, kita akan langsung dianggap seolah-olah kita telah menjadi seseorang yang ‘gagal’. Pilihan-pilihan hidup yang tidak sesuai dengan standar sosial ini sering kali malah membuat kita dihadapkan pada rasa keterasingan dari lingkungan sosial kita.

Perasaan terasing atau feeling left out tidak hanya berarti dijauhi secara fisik, tetapi juga merasa tidak dianggap atau tidak terhubung dengan orang lain karena memiliki pilihan hidup yang berbeda. Keterasingan ini menimbulkan perasaan seolah-olah tidak memiliki tempat di lingkungannya sendiri. Seiring waktu, perasaan ini bisa menimbulkan dilema, antara apakah tetap mempertahankan identitas diri dengan risiko dijauhi, atau mengorbankan keunikan diri demi diterima oleh orang lain. 

Manusia memiliki dua kebutuhan sosial utama yang sering kali bertentangan, yaitu kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok (need for inclusion) dan kebutuhan untuk mempertahankan identitas uniknya (need for differentiation) (Leonardelli, 2014). Ketika kita terlalu berbeda dari lingkungan, maka kita bisa mengalami keterasingan, seolah-olah tidak cukup baik atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Sebaliknya, jika kita terlalu menyesuaikan diri hanya demi diterima oleh lingkungan, kita bisa kehilangan jati diri dan merasa menjadi orang lain yang bukan menggambarkan diri kita sepenuhnya. Tekanan sosial inilah yang sering kali membuat kita bertanya-tanya apakah kita harus mengubah diri menjadi orang lain agar bisa diterima atau tetap menjadi diri sendiri tanpa memikirkan omongan orang lain. 

Namun, apakah satu-satunya cara untuk menghindari keterasingan adalah dengan mengorbankan diri sendiri dan mengikuti apa yang orang lain anggap benar? Kenyataannya, tidak ada satu standar hidup yang harus diikuti semua orang. Setiap orang memiliki jalan hidup dan keunikannya masing-masing. Tidak semua orang ingin menikah pada usia tertentu. Tidak semua orang ingin bekerja pada suatu lembaga terkenal atau mengejar karir cemerlang. Tidak semua orang menginginkan gaya hidup yang sesuai dengan standar sosial yang umum. Setiap orang punya keunikan dan jalannya sendiri, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. 

Daripada memaksakan diri untuk masuk ke lingkungan yang sulit menerima kita apa adanya, lebih baik mencari orang-orang yang bisa memahami dan mendukung kita. Pada akhirnya, dunia ini terlalu luas jika hanya memiliki satu definisi tentang keberhasilan dan kebahagiaan. Kita tidak harus selalu menuruti ekspektasi sosial yang belum tentu sesuai dengan diri kita. Tidak apa-apa jika kita berbeda. Tidak apa-apa jika kita belum mencapai apa yang orang lain capai. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa merasa nyaman dengan diri sendiri, tanpa harus terus merasa tertinggal atau ditinggalkan oleh dunia.

“Happiness is not something ready made. It comes from your own actions.” 

Dalai Lama

 

Penulis
Catharina Siena Pannanindriya (Asisten P2TKP Angkatan 2024)

Penyunting
Maria Gracia Aprilianova (Asisten P2TKP Angkatan 2024)


Daftar Acuan
Leonardelli, G. (2014, Maret). Optimal distinctiveness theory: How to balance inclusion and differentiation in social groups?. Rotman Insights Hub. https://www-2.rotman.utoronto.ca/insightshub/talent-management-inclusion/are-you-optimally-distinctive#:~:text=Human%20beings%20are%20characterized%20by,need%20for%20differentiation%20from%20others.
Weinschenk, A. C., Panagopoulos, C., Drabot, K., & van der Linden, S. (2018). Gender and social conformity: Do men and women respond differently to social pressure to vote? Social Influence, 13(2), 53–64. https://doi.org/10.1080/15534510.2018.1432500

Sumber Gambar
Kleiser, F. (2024, June 22). A yellow flower surrounded by purple flowers. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-yellow-flower-surrounded-by-purple-flowers-EfvnJ1uiqrI.