Dari Penolakan sampai Penerimaan
Dalam psikologi, kematian merupakan tahap akhir dalam perkembangan manusia. Kematian merupakan sesuatu yang pasti datang dan tidak dapat dielakkan dan akan mengakhiri kehidupan setiap manusia. Kematian dapat menghampiri siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Kematian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Secara psikologis, kematian diartikan sebagai suatu keadaan ketika individu mulai menerima kenyataan akan kematiannya dan menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami kemunduran ke dalam diri sendiri. Lebih lanjut dapat dipahami bahwa psikologi mempelajari bagaimana sikap yang diambil dan juga pandangan manusia terhadap masalah kematian serta kondisi psikis individu ketika kematian yang semakin mendekat (Amaliyah & Turistiani, 2025).
Menurut Berk (2012), terdapat tiga tahap proses transisi dari kehidupan menuju kematian. Tahap pertama disebut fase agonal, yang berarti perjuangan. Pada fase ini manusia mengalami hembusan napas dan kejang otot, serta detak jantung yang terputus-putus. Tahap selanjutnya adalah fase kematian klinis yaitu kematian yang terjadi dalam jeda yang pendek. Hal ini terjadi ketika jantung, peredaran darah, pernapasan dan otak berhenti berfungsi, namun masih terdapat kemungkinan dilakukan tindakan penyadaran. Dan tahap terakhir adalah tahap kematian, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kematian secara permanen.
Dalam proses kematian, terdapat pula emosi yang menyertai kondisi psikologis seseorang. Secara umum, emosi yang biasanya menyertai proses kematian adalah kecemasan (Amaliyah & Turistiani, 2025). Kecemasan merupakan suatu kondisi emosi dimana individu merasa gelisah, bingung, tegang dan tidak nyaman. Selain kecemasan, terdapat pula ketakutan terhadap penderitaan dan rasa sakit dalam menghadapi kematian, serta takut meninggalkan proyek kehidupan yang belum terealisasi (Tombeng, 2020).
Seseorang yang berada pada tahap ini juga biasanya akan lebih mudah tersinggung akan perkataan atau tindakan orang lain yang dianggap kurang sesuai dengan apa yang diyakininya. Ciri perilaku yang dapat diamati adalah perilaku menghindar, perilaku kelekatan, dan perilaku terguncang. Kondisi yang lazim ditemukan adalah individu mulai menolak untuk dikunjungi oleh orang-orang yang dikenalnya bahkan mungkin dengan orang-orang yang dekat padanya.
Kecemasan dapat terjadi karena kekhawatiran akan kehidupan di masa lalu yang belum dapat diterima dengan baik. Masa lalu yang memiliki banyak pengalaman keputusasaan akan membuat seseorang menjadi lebih sulit melepaskan dunia dan masa lalunya dengan bebas. Kelekatan akan dunia menjadi penghambat bagi seseorang untuk dapat berserah pada kehendak Tuhan. Selain kecemasan, ada emosi ketakutan yang mungkin dirasakan oleh seseorang yang sedang di ambang kematian. Perasaan takut ini membuat seseorang mengalami gangguan untuk sulit tidur bahkan tidak ingin tidur karena takut tidak akan bisa bangun lagi keesokan harinya.
Menurut Kübler-Ross (Rachmat, 2015), ada lima respons khas yang dialami oleh seseorang dalam proses kematian. Lima tahap tersebut adalah tahap penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Pada tahap penyangkalan, seseorang menolak adanya kematian yang pasti dialami oleh setiap orang. Menurut pengalaman seseorang ketika mendampingi saudara yang sedang dalam proses kematian, orang biasanya menolak dengan tidak mau didoakan dan tidak mau dirawat di rumah sakit meskipun keadaannya (fisik) sudah menurun bahkan semakin memburuk. Kemudian setelah tahap penyangkalan, seseorang menjadi marah karena sekuat apa pun menyangkal, kematian tetap tidak dapat dihindarinya. Tahap ini disebut tahap kemarahan. Pada tahap kemarahan seseorang akan menjadi lebih agresif, sehingga apabila sedang dirawat di rumah sakit seseorang tersebut akan memberontak dengan melakukan tindakan-tindakan agresif seperti mencabut infus pada tangannya secara paksa atau tindakan agresif lainnya. Setelah melalui proses kemarahan, seseorang akan memasuki tahap tawar-menawar yaitu seseorang berharap bahwa kematian dapat ditunda atau diundur. Seseorang masih berharap bahwa kehidupannya masih bisa diperpanjang. Tahap selanjutnya adalah depresi, yaitu ketika individu menerima kepastian atas kematiannya. Pada tahap ini ada perubahan-perubahan sikap yang terjadi, misalnya seseorang menjadi lebih pendiam, menolak untuk dikunjungi, serta menghabiskan banyak waktu untuk menangis dan berduka. Tahap terakhir adalah tahap penerimaan, yaitu seseorang mengembangkan rasa damai, menerima nasibnya, dan dalam banyak pengalaman, ingin dibiarkan sendiri. Dalam tahap penerimaan, perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang menandai akhir dari perjuangan menjelang kematian.
Penulis:
Agata Anggita Mukti Ningtyas (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2023 )
Penyunting:
Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan:
Amaliyah, R. & Turistiani, T. (2025). Gambaran tahapan pergolakan emosi dalam novel serangkai: perspektif psikologi kematian E. Kuebler-Ross. IDENTIK: Jurnal Ilmu Ekonomi, Pendidikan dan Teknik, 2(4), 109-117.
Berk, L. A. (2012).Development through the lifespan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tombeng, I. (2020). Studi komparasi antara teori Victor Frankl, Ester Ahn Kim dan Elisabeth Kubler-Ross tentang kematian bagi konstruksi pendampingan pastoral. Educatio Christi, 1(2), 10-28.
Rachmat, A. (2015). E. Kubler-Ross: Tanda & tahap menjelang kematian. ECF Filsafat kematian, 2. https://doi.org/10.26593/ecf.v0i2.1996.11-15
Sumber Gambar: Dokumentasi Kongregasi Suster-suster Belas Kasih dari Hati Yesus yang Mahakudus