Mengapa Anak Tengah Sering Merasa Berbeda?
Pernahkah muncul sebuah perasaan berbeda yang mengganjal di antara saudara kandung di dalam rumah? Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terkadang disadari atau tidak telah menciptakan sebuah standar ganda yang memaksa anak untuk selalu memaklumi situasi keluarga dibandingkan dengan saudara lain. Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti “Apakah kemampuan kognitif diri ini tidak sebaik kakak?” atau “Mengapa pencapaian diri tidak sebanyak adik?” mungkin terkadang terlintas di dalam benak. Urutan kelahiran (birth order) dalam sebuah keluarga menjadi elemen krusial yang mempengaruhi kepribadian, pola pikir, dan kemampuan adaptasi individu terhadap lingkungan sosial yang lebih luas (Rohayati, 2018). Ketika anak sulung kerap dibebani ekspektasi tinggi sebagai panutan utama dan anak bungsu mendapatkan perlakuan istimewa, anak tengah justru berada di posisi rumit yang terjepit di tengah dinamika saudara kandung (Rasyid et al., 2020). Posisi interpersonal yang tidak seimbang ini memicu sebuah diskursus penting mengenai bagaimana keadilan emosional didistribusikan di dalam keluarga.
Posisi anak tengah dalam struktur keluarga terkadang memicu fenomena psikologis yang dikenal luas sebagai middle child syndrome. Kondisi ini terjadi karena struktur keluarga memiliki kecenderungan alami untuk menempatkan anak pertama sebagai sosok utama yang dinantikan kehadiran serta pertumbuhannya pertama kali. Sementara itu, anak bungsu ditempatkan sebagai sosok kecil yang dianggap belum mengerti apa-apa sehingga secara otomatis mendapatkan perlindungan serta perhatian ekstra dari orang tua. Akibat dari posisi yang terjepit ini, anak tengah menjadi pihak yang paling rentan mengalami pengabaian emosional (emotional neglect) karena mereka kehilangan status sebagai pusat perhatian. Hal tersebut pada akhirnya memicu krisis eksistensial yang membuat anak tengah merasa kesulitan agar keberadaannya dapat benar-benar “dilihat” dan diakui secara utuh oleh orang tua mereka sendiri (Ramadhan & Selian, 2026).
Perasaan yang dialami anak tengah ini ter manifestasi melalui tuntutan implisit untuk selalu mengalah dalam berbagai situasi. Mengacu pada teori psikologi individual yang dikemukakan oleh Alfred Adler, anak tengah senantiasa terhimpit oleh sebuah ekspektasi ganda yang membingungkan fungsi peran mereka. Sebagai seorang adik, mereka diwajibkan untuk menaruh rasa hormat yang tinggi kepada kakak yang lebih tua, namun pada saat yang sama sebagai seorang kakak mereka juga dituntut untuk menghargai dan mengalah demi kepentingan adik mereka. Anak tengah pada akhirnya sering kali diposisikan oleh sistem keluarga sebagai sosok yang “harus selalu mengerti” mengenai roda kehidupan dan keterbatasan keluarga. Sebagai contoh konkret ketika anak tengah memiliki sebuah impian besar atau tujuan hidup yang sudah mereka buat, terkadang mereka terpaksa meredam ambisi tersebut agar saudara lainnya tercukupi dalam fasilitas atau biaya pendidikan.
Dampak dari pengabaian emosional yang terjadi secara konstan dan berulang ini tentu memicu stres emosional yang sangat mendalam pada perkembangan mental anak tengah (Ramadhan & Selian, 2026). Rasa terabaikan ini akan semakin diperparah oleh adanya fenomena perbandingan sosial (social comparison) yang tidak disengaja di dalam rumah, khususnya yang terkait dengan capaian kognitif atau prestasi akademik. Ketika kakak atau adiknya dinilai jauh lebih pintar oleh lingkungan sekitarnya maka anak tengah akan merasa tersisih serta terisolasi karena lingkungan domestik menganggap dirinya tidak terlalu pintar untuk terlihat. Sebaliknya, ketika anak tengah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya, orang tua tetap akan memberikan perhatian dan usaha keras yang jauh lebih besar untuk memfasilitasi kakak atau adiknya yang dianggap lebih membutuhkan bantuan. Dinamika interaksi yang tidak seimbang ini secara langsung memperkuat keyakinan batin mereka bahwa eksistensi dan pencapaian mereka kurang dihargai dalam keluarga (Ramadhan & Selian, 2026).
Kondisi pengabaian ini jika dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat dapat menimbulkan luka emosional yang terbawa hingga individu tersebut menginjak usia dewasa. Anak tengah yang terbiasa diabaikan emosinya cenderung tumbuh menjadi pribadi yang selalu merasa harus menyenangkan orang lain (people pleaser) untuk mendapatkan pengakuan yang tidak mereka dapatkan di rumah. Mereka mengalami kesulitan untuk mengekspresikan emosi negatif seperti kemarahan atau kekecewaan karena sejak kecil mereka dikondisikan untuk selalu memendam perasaan demi menjaga harmoni keluarga. Rasa tidak aman (insecurity) terhadap nilai diri sendiri juga sering kali membuat mereka kesulitan dalam mengambil keputusan di masa depan. Ketakutan terhadap penolakan sosial membuat mereka cenderung menarik diri dari kompetisi atau hubungan interpersonal yang terlalu intens karena menganggap diri mereka tidak akan pernah menjadi pilihan utama bagi orang lain.
Selain harus berhadapan dengan minimnya perhatian dan kehangatan emosional di lingkungan domestik, kondisi ini secara paradoks akan membawa dampak positif bagi perkembangan kepribadian mereka (Ramadhan & Selian, 2026). Kurangnya perhatian dari orang tua secara tidak langsung justru menjadikan anak tengah tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ketangguhan (resilience), fleksibilitas yang tinggi, dan tingkat kemandirian yang matang dalam menjalani kehidupan (Ramadhan & Selian, 2026). Karena terbiasa untuk menyelesaikan masalah sendiri tanpa bergantung dengan proteksi orang tua, mereka menjadi lebih siap jika dihadapkan pada realitas kehidupan sosial yang lebih menantang di luar rumah. Menariknya, dalam interaksi sosial anak tengah justru berhasil mengembangkan kemampuan interpersonal yang lebih unggul dibandingkan saudara-saudara yang lain. Mereka mampu menjadi penyeimbang dinamika keluarga dan berperan sebagai mediator atau penengah konflik ketika terjadi perselisihan di antara saudara-saudaranya (Ramadhan & Selian, 2026). Kemampuan adaptasi ini didorong oleh tingginya motivasi sosial anak tengah untuk membangun serta mempertahankan hubungan baik dengan lingkungan luar demi mendapatkan validasi yang kurang mereka dapatkan di rumah, sehingga mereka mampu berinteraksi di lingkungan sekolah maupun kelompok sebayanya (Devine & Apperly, 2022).
Pada akhirnya, rumah yang ideal akan menjadi tempat setiap suara didengar tanpa perlu berteriak dan setiap kehadiran dirayakan tanpa perlu dibandingkan. Mengenali bentuk dinamika ini akan memberikan sebuah ruang jeda untuk melihat kembali bagaimana afeksi mengalir di antara sela-sela pintu kamar, memastikan tidak ada sudut yang dibiarkan menjadi dingin dan baru diketahui oleh sekitarnya. Setiap urutan kelahiran membawa cerita tersendiri dan memahami kerumitan emosional di dalamnya adalah langkah untuk merajut kehangatan. Bagi mereka yang tumbuh di posisi “terjepit” akan menjadi ruang dan langkah mereka yang menjelma menjadi pondasi kokoh, dengan mengubah rasa asing dirumah sendiri menjadi sebuah kebijaksanaan, kemandirian yang matang, serta empati yang mendalam saat melangkah keluar menuju dunia yang lebih luas.
Penulis
Filumena Nindya Nara Putri Indrasmoro (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2024)
Penyunting
Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2026)
Daftar Acuan (min. 3 sumber yang valid dan reliabel + wajib sesuai APA Style 7th Ed.)
Devine, R. T., & Apperly, I. A. (2022). Willing and able? Theory of mind, social motivation, and social competence in middle childhood and early adolescence. Developmental Science, 25(1), Article e13137. https://doi.org/10.1111/desc.13137
Ramadhan, S., & Selian, S. N. (2026). Karakter pribadi mandiri anak kedua atau anak tengah. Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(4), 1926–1931. https://publikasi.ahlalkamal.com/index.php/sinergi
Rasyid, A., Rahmawati, E., & Utami, S. (2020). Analisis perkembangan sosial emosional ditinjau dari urutan kelahiran anak. Jurnal Perkembangan Anak, 4(2), 115–128. https://doi.org/10.23887/jpa.v4i2.25410
Rohayati, T. (2018). Pengaruh urutan kelahiran (birth order) terhadap pembentukan kepribadian remaja. Jurnal Psikologi Sosial, 12(1), 45–56. https://doi.org/10.7454/jps.v12i1.19821
Sumber Gambar