To Be Loved is To Be Heard
Pernahkah kamu berada pada suatu hari ketika begitu banyak hal terjadi, tetapi rasanya tidak ada tempat untuk bercerita? Ada rasa takut, cemas, dan khawatir akan dianggap berlebihan, sehingga pada akhirnya memilih untuk memendam semuanya sendiri. Mungkin sebagian orang akan mengatakan “Cukup diceritakan saja, kan?”, tapi ketakutan itu memang nyata adanya. Alih-alih merasa didengarkan dan lega, kekhawatiran akan penilaian yang membuat kita merasa bersalah atau dihakimi sering kali menjadi alasan untuk lebih berhati-hati dalam membuka diri. Setiap kali ingin bercerita, pertanyaan tentang “Apakah aku akan dianggap berlebihan? Apakah mereka dapat menerima ceritaku? Apakah aku justru akan membebani orang lain?”, selalu berputar dalam pikiran. Aku pun pernah mengalami hal yang sama. Aku belajar terlihat baik-baik saja. Dengan jawaban andalan menjawab “Aku tidak apa-apa”, meskipun isi kepala penuh dan hati terasa sesak. Bukan karena tidak membutuhkan teman, tetapi karena ada ketakutan bahwa kejujuran justru akan membuatku merasa lebih sendirian.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa memendam segala hal sendirian justru membuatku semakin tidak baik-baik saja. Perasaan gundah terus bermunculan, tetapi aku tidak tahu kepada siapa harus bercerita, hingga perlahan pergumulan itu mulai memengaruhi diriku. Namun, ia muncul dalam bentuk yang berbeda, aku menjadi lebih sensitif atau bahkan tidak sengaja meledak ketika sendirian di kamar. Aku membutuhkan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya aku mencoba untuk membuka diri pada beberapa orang di sekitarku. Jauh dari bayanganku, respons mereka sangat baik. Mereka mendengarkan tanpa tergesa-gesa menilai. Mereka mampu memberikan kenyamanan tanpa membuatku merasa terlalu sensitif atau rumit. Mereka juga memberikan ruang ketika isi pikiran terasa saling bertabrakan.
Ketika bercerita dengan seseorang, aku menyadari bahwa sikap menerima tanpa syarat seringkali menjadi hal yang membuat kita merasa didengarkan, sehingga kita cenderung lebih nyaman untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut mendapatkan penilaian dari orang lain. Aku jadi teringat dengan salah satu teori psikologi yang sebelumnya pernah aku pelajari. Teori itu dikenal dengan Unconditional Positive Regard (UPR), yakni ketika seseorang mampu menunjukkan kehangatan, penerimaan, dan penghargaan tanpa syarat. Mengekspresikan Unconditional Positive Regard berarti kita menghargai orang lain, memandang seseorang sebagai pribadi yang tetap bernilai terlepas dari kekurangan atau penilaian terhadap dirinya (Carl Rogers, dalam Ort et al., 2022). Unconditional Positive Regard merupakan salah satu bentuk hubungan yang sehat, baik dalam hubungan yang romantis, pertemanan, dan keluarga maupun antara terapis dan juga kliennya (Myers dalam Cherry, 2025).
Teori ini memang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun, hal yang aku sadari adalah tidak semua orang mampu memberikannya. Aku pun sesekali berpikir, apakah aku sudah menjadi pendengar yang baik juga? Apakah aku mampu memberikan kenyamanan dan kehangatan yang sama atau malah sebaliknya? Untuk menjadi pendengar yang baik bisa dilakukan dengan menyadari bahwa orang-orang yang kita temui adalah unik karena mereka memiliki nilai-nilainya sendiri dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Terkadang, bercerita bukanlah untuk mendapatkan solusi, tapi memiliki seseorang yang dapat menerima merupakan sebuah langkah kecil untuk bertahan. Jadi, cobalah untuk melihat dari sudut pandang mereka sehingga kita tidak terburu-buru untuk menghakimi. Mungkin, kita tidak selalu memiliki jawaban untuk setiap cerita orang lain. Namun, menjadi ruang yang aman bagi seseorang untuk didengar terkadang sudah lebih dari cukup.
Penulis
Ida Ayu Widya Paramitha (Asisten P2TKP Angkatan 2025 )
Penyunting
Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Ort, D., Moore, C., & Farber, B. A. (2022). Therapists’ perspectives on positive regard. Person-Centered & Experiential Psychotherapies. https://doi.org/10.1080/14779757.2022.2104751
Kendra Cherry. (2025). Unconditional Positive Regard in Psychology. Retrieved 2026, from https://www.verywellmind.com/what-is-unconditional-positive-regard-2796005#citation-5
Sumber Gambar
Ida Ayu Widya Paramitha