Karya Tulis,  Podjok Merenung

Lebih dari Sekadar IPK: Menemukan Makna Hidup di Tengah Tekanan Skripsi

Skripsi dan revisinya mungkin berjalan lancar, tetapi ketika ditanya “setelah ini rencananya apa?, seketika langsung merasa bingung dan tidak yakin. Fenomena ini menjadi pintu masuk yang paling jujur bagi mahasiswa semester akhir untuk mulai mempertanyakan purpose in life. Bukan sekadar mencari jawaban instan tentang bekerja atau melanjutkan studi, melainkan menyadari bahwa kebingungan setelah menyelesaikan tugas akademik yang terstruktur adalah sinyal sehat dari kesadaran bahwa hidup tidak lagi dapat dijalani hanya dengan daftar target jangka pendek. 

Di sinilah letak keberanian sejati, yaitu dengan membiarkan diri merasa hilang sejenak, tidak terburu-buru mengisi kekosongan dengan rencana orang lain, serta mulai mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti “Apa yang membuat aku bangun dengan semangat selain karena takut tidak lulus?” atau “Nilai-nilai apa yang ingin saya  bawa ke dunia kerja, bukan sekadar gaji?”. Dengan menerima ketidakpastian sebagai bagian dari proses pencarian makna, mahasiswa tingkat akhir dapat mengubah momen transisi yang menegangkan menjadi kesempatam untuk merancang tujuan yang benar-benar otentik, bukan sekadar melanjutkan rutinitas karena takut berhenti sejenak.

Fenomena ini bukanlah hal yang jarang ditemukan. Dalam penelitian Putri (2025), dideskripsikan bahwa dinamika quarter life crisis yang dialami mahasiswa tingkat akhir, yang ditandai dengan kebingungan dalam mengambil keputusan, rasa putus asa, tekanan dari lingkungan, serta kecemasan terhadap masa depan. Kondisi ini muncul karena mahasiswa berada dalam masa transisi menuju kedewasaan dengan tekanan akademik dan ketidakpastian karier yang kompleks.

Mahasiswa semester akhir juga dihadapkan pada pentinganya memiliki purpose in life. Seperti pada penelitian Lin (2024) yang menyatakan bahwa purpose in life dapat meningkatkan adaptabilitas karier mahasiswa melalui dua jalur, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung melalui gaya koping positif (positive coping) serta harapan sebagai mediator berantai. Temuan ini menjelaskan bagaimana tujuan hidup membantu mahasiswa menghadapi ketidakpastian karier.

Lebih dari sekadar membantu menghadapi ketidakpastian, purpose in life juga berfungsi sebagai fondasi yang menopang kepuasan jangka panjang setelah mahasiswa benar-benar memasuki dunia kerja. Individu yang memiliki kejelasan arah sebelum lulus cenderung lebih tahan terhadap kerasnya realitas pekerjaan, mampu menafsirkan tantangan sebagai bagian dari proses belajar, serta tidak mudah kecewa ketika ekspektasi selama kuliah tidak sepenuhnya terpenuhi di dunia kerja. 

Artinya, memiliki purpose in life bukanlah sekadar konsep filosofis, melainkan bekal nyata yang melindungi individu dari perasaan hanyut tanpa arah dan kepahitan pada masa transisi yang paling rentan. Mahasiswa tingkat akhir yang berani bertanya, “untuk apa saya melakukan semua ini?” sesungguhnya sedang membangun fondasi ketahanan mental yang akan menopang mereka dalam jangka panjang, bahkan jauh setelah lembar judul skripsi itu tersimpan rapi.

Menjadi mahasiswa semester akhir adalah posisi yang unik. Di satu sisi, terdapat rasa lega karena skripsi dan revisi hampir selesai. Di sisi lain, ada kekosongan yang muncul ketika pertanyaan “setelah  ini akan melakukan apa?” tidak lagi bisa dijawab dengan daftar tugas akademik yang menumpuk. Kebingungan ini, bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal kesadaran bahwa hidup membutuhkan arah yang lebih besar dari sekadar target jangka pendek. 

Lalu, bagaimana cara menemukan purpose in life di tengah ketidakpastian ini? Berdasarkan penelitian oleh Wells (2023) ditemukan bahwa intervensi singkat selama 16 menit yang mendorong mahasiswa untuk menulis secara ekspresif tentang nilai-nilai, hasrat, dan tindakan yang dapat mengarahkan mereka menuju masa depan yang ideal terbukti secara statistik meningkatkan purpose in life pada mahasiswa tahun kedua dan keempat. Temuan ini mengonfirmasi bahwa aktivitas refleksi terstruktur dan penjernihan nilai pribadi, bahkan dalam durasi yang singkat sekalipun, merupakan langkah awal yang efektif untuk membangun kejelasan tujuan hidup di masa transisi.

Penelitian Sepulveda et al. (2024) menunjukkan bahwa mahasiswa yang berhasil menemukan purpose in life melalui proses refining dan redefining, yang melibatkan pengenalan terhadap kekuatan pribadi, eksplorasi pengalaman baru, serta integrasi antara hasrat pribadi dengan keinginan untuk berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari  diri sendiri. Maka dari itu, bagi mahasiswa semester akhir yang sedang merasa bingung dan tidak yakin, penting untuk mengizinkan diri merasa hilang sejenak. Tidak perlu terburu-buru mengisi kekosongan dengan rencana orang lain hanya karena takut tertinggal.

 

Penulis

Maria Eillen Beatrice Pandang (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Penyunting

Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan

Lin, Z. (2024). The influence mechanism underlying meaning in life on career adaptability among college students: a chain intermediary model. Frontiers in Psychology, 15, 1292996.

Putri, N. A. (2025). Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Universitas Islam Riau.

Sepulveda, J., Zhou, M., Amorosi, A., Rauen, J., Boyer, M., Liang, B., Lund, T., & Mousseau, A. D. (2024). The R and R of Purpose in College Students: Refining and Redefining Purpose over Time. Journal of Adolescent Research, 39(5), 1296-1325.

Wells, J. (2024). Purpose, coherence, mattering, and life crafting: The development and validation of a novel meaning-making intervention (Doctoral dissertation, Institute of Art, Design+ Technology).

 

Sumber Gambar

Danielle B. (n.d). https://id.pinterest.com/pin/695806211216930829/