Karya Tulis,  Podjok Merenung

Bertahan Tanpa Menyakiti Diri: Self-Compassion sebagai Fondasi Ketekunan dalam Menghadapi Ketidaknyamanan

 

Tidak semua perjalanan hidup berjalan dengan menyenangkan. Ketika sedang berada dalam situasi yang kurang nyaman seperti diliputi perasaan sedih, bingung, dan hilang arah, kita cenderung ingin segera keluar dari ketidaknyamanan tersebut. Namun, pada kenyataannya, tidak semua tantangan dapat dilewati dengan cepat dan mudah. Terkadang, perjalanan terasa berliku, bahkan ujungnya tidak kunjung tampak. Dalam situasi seperti ini, ada kalanya seseorang perlu belajar bertahan di tengah perasaan yang berat. Bertahan bukan hanya tentang menahan luka dan kesedihan, tetapi juga perlu diiringi dengan langkah yang tidak menyakiti diri sendiri.

Ketekunan dalam menghadapi situasi tidak nyaman dalam hidup sering disebut sebagai perseverance. Perseverance dipahami sebagai upaya berkelanjutan yang terarah pada suatu tujuan serta memungkinkan seseorang untuk tetap gigih serta teguh dalam mengejar tujuan jangka panjang, meskipun menghadapi berbagai rintangan, kesulitan, atau hambatan (Nas dkk., 2025). Dalam konsep Grit yang diinisiasi oleh Duckworth dkk. (2007), perseverance tidak hanya berkaitan dengan kekuatan untuk terus berusaha dalam mencapai sesuatu, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan individu untuk menghadapi ketidaknyamanan yang hadir tanpa kehilangan arah dan harapan dalam prosesnya melangkah ke depan. Konsep perseverance sebagai dimensi inti Grit berperan penting dalam membantu individu mengatasi kesulitan serta mempertahankan upaya dalam mencapai tujuan jangka panjang. Individu dengan perseverance yang tinggi, cenderung memiliki tingkat harapan yang lebih baik dan kecemasan yang lebih rendah dalam melalui proses menghadapi tantangan (Datu, 2021).

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua bentuk respon menghadapi situasi kurang nyaman dapat berkembang dengan cara yang sehat. Terkadang, seseorang tetap bertahan dengan cara yang keras terhadap dirinya sendiri, misalnya mengkritik diri secara berlebihan, memelihara rasa bersalah, atau  menuntut diri untuk selalu kuat tanpa istirahat. Padahal, bertahan tidak harus selalu memosisikan diri sebagai musuh. Seseorang tetap dapat berjalan dalam ketidaknyamanan dengan cara yang lebih sehat, yaitu dengan memperlakukan diri sendiri secara lebih lembut. Memberikan ruang untuk merasakan emosi secara jujur tanpa harus tenggelam dalam penilaian diri yang keras dan kaku, dapat membantu mengurangi beban di tengah ketidaknyamanan yang dihadapi.

Memperlakukan diri dengan lemah lembut merupakan hal penting sebagai teman dalam bertahan di tengah kesulitan. Welas asih pada diri atau self-compassion mengacu pada cara individu memandang dirinya saat menghadapi kegagalan, rasa tidak mampu, atau penderitaan. Self-compassion membentuk sikap yang hangat dan penuh perhatian terhadap diri sendiri. Untuk menumbuhkan self-compassion, kita harus bersedia menghadapi penderitaan, seberapapun hal tersebut memberikan ketidaknyamanan (Neff, 2022). Alih-alih memandang tantangan sebagai musuh yang harus segera disingkirkan karena menghantui dan mengganggu pikiran, kita dapat melihatnya sebagai teman perjalanan untuk bertumbuh. Sebagai teman, tantangan tersebut dapat dikenali bersama dengan setiap perasaan yang menyertainya. Kemudian, kita dapat mencoba menjalaninya secara berdampingan sambil mencari langkah terbaik.

Dalam menghadapi tantangan, penting untuk menyadari bahwa ini merupakan fase kehidupan yang akan terlewati. Dengan memilih langkah untuk lebih memahami diri dan memberikan ruang untuk merasakan emosi yang hadir dapat membantu seseorang untuk lebih mampu menghadapi tantangan dengan cara yang lebih sehat. Sikap ini membantu seseorang untuk tetap melangkah, sekalipun langkah tersebut terasa kecil dan perlahan.

Pada akhirnya, kehidupan memang tidak selalu berjalan mudah, lurus, dan mulus. Ada masa ketika langkah terasa ringan, tetapi ada pula saat perjalanan terasa berat dan penuh ketidakpastian. Ketekunan yang sehat dalam menghadapi ketidaknyamanan bukan berarti memaksa diri untuk selalu kuat, melainkan belajar berjalan dengan lebih lembut terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, self-compassion membantu seseorang mengasah ketekunan yang lebih sehat untuk tetap melangkah di tengah kesedihan, kedukaan, maupun kesulitan yang hadir tanpa harus memusuhi diri sendiri. Melalui sikap ini, harapan dapat tumbuh secara perlahan seiring dengan proses penerimaan bahwa setiap perjalanan hidup selalu menyimpan ruang untuk belajar, berkembang, dan menemukan makna baru.

 

“Mengasah ketekunan dalam mengalami kesedihan, kedukaan, kesulitan. Menumbuhkan harapan dalam proses penerimaan. Hidup adalah proses belajar seumur hidup, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak dan beristirahat di tengah ramainya dunia. Terima kasih untuk tetap berusaha berdaya. Setiap langkah, sekecil apapun, akan tetap berharga.”

 

Penulis

Patricia Shania Avioleta  (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Penyunting

Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

 

Daftar Acuan 

Kristin D. Neff. 2022. Self-Compassion: Theory, Method, Research, and Intervention. Annual  Review Psychology. 74:193-218. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-032420-031047

Datu, J. A. D. (2021). Beyond passion and perseverance: Review and future research initiatives  on the science of grit. Frontiers in Psychology, 11, 545526. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.545526

Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: perseverance and  passion for long-term goals. Journal of personality and social psychology, 92(6),  1087–1101. https://doi.org/10.1037/0022-3514.92.6.1087

Nas, E., Taytaş, M. & Vangölü, M.S. (2025) The role of self compassion and psychological  flexibility in the relationship between perseverance and life satisfaction among  academics. BMC Psychol 14, 9 (2025). https://doi.org/10.1186/s40359-025-03757-y

Sumber Gambar

NEOM. (2023, April 28). A man climbing up the side of a mountain photo. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-man-climbing-up-the-side-of-a-mountain-85ey1vFIwkc