Apa Itu Bahagia Menurutmu?
Pengalaman dalam enam bulan terakhir memunculkan pertanyaan mengenai “apa itu bahagia menurutmu?”. Selama satu bulan, saya menjalani kehidupan di wilayah pinggiran kota yang jauh dari pusat aktivitas. Hari-hari dimulai tanpa deru kendaraan, tanpa merasa terkejar oleh waktu. Kehidupan dijalani dengan tidur beralaskan karpet, berpakaian sederhana tanpa kekhawatiran akan penilaian sosial, serta mengonsumsi hasil kebun sendiri. Kehidupan berjalan perlahan, tanpa tuntutan untuk selalu bergerak cepat, dan dalam kesederhanaan itu muncul rasa bahagia.
Di sisi lain, saya juga pernah tinggal beberapa hari di salah satu kota tersibuk di negara ini. Tinggal dan menjalani kehidupan yang sangat terfasilitasi dengan kemewahan. Mandi air hangat, tidur di bawah selimut yang tebal, makan dengan puluhan sajian yang jarang ditemui, serta diantar-jemput dengan kendaraan pribadi dan duduk tenang di kursi penumpang. Ketika mentari menyapa di pagi hari, semua orang bergegas untuk mencapai tempat tujuan. Kehidupan yang serba terfasilitasi dan mewah tersebut tetap dijalani dengan ritme yang cepat dan penuh tuntutan, yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai kebahagiaan.
Pengalaman hidup di dua konteks sosial yang sangat berbeda menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak melekat pada satu bentuk kehidupan tertentu. Hal tersebut dapat hadir baik dalam kesederhanaan maupun kemewahan dengan makna yang berbeda bagi setiap individu. Dari sini, pengalaman ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bukan tentang kondisi materi atau standar yang dianggap ideal, melainkan pada pemaknaan dari masing-masing individu. Lalu, apa itu bahagia menurutmu?
Dalam kajian terkini, subjective well-being dipahami sebagai penilaian individu terhadap kehidupannya sendiri, baik secara emosional maupun kognitif (Koivula dkk., 2025). Artinya, kebahagiaan bersumber dari pengalaman subjek individu. Makna bahagia tidak diperoleh dari penilaian berdasarkan standar yang diciptakan khalayak umum maupun dari materi yang dimiliki. Meskipun kondisi tersebut dapat memengaruhi kebahagiaan, faktor tersebut tidak bersifat mutlak.
Selain itu, bahagia bukan berarti ketiadaan pengalaman negatif, seperti penderitaan, kedukaan, maupun kekecewaan (Diener, 1984). Hal tersebut tetap dapat hadir dalam hidup seseorang yang merasa bahagia. Perbedaannya terletak pada cara seseorang memaknai pengalaman tersebut, bukan pada ketiadaan masalah.
Penilaian atas kebahagiaan diperoleh dari seluruh aspek hidup, bukan hanya momen tertentu. Artinya, seseorang melakukan penilaian terintegrasi atas kehidupan secara keseluruhan, dari berbagai pengalaman hidup, baik yang menyenangkan ataupun menyedihkan, menjadi satu makna hidup yang utuh.
Pemahaman tentang kebahagiaan bersifat subjektif membantu menjelaskan dua kehidupan dengan konteks sosial yang sangat berbeda. Kehidupan sederhana di pinggir kota dan mewah di pusat kota sama-sama dimaknai bahagia oleh saya yang menjalaninya. Dengan demikian, perbedaan ritme hidup dan fasilitas tidak menentukan kebahagiaan, melainkan bagaimana seseorang memaknai pengalaman hidup dengan konteks tersebut.
Berangkat dari gagasan subjective well-being dengan pengalaman hidup di dua dunia yang sangat berbeda mengingatkan saya kembali bahwa bahagia tidak ditentukan dari standar umum yang diciptakan. Kebahagiaan sering dikaitkan dengan hidup yang nyaman yang difasilitasi oleh rumah mewah, makanan lezat, dan kendaraan pribadi. Namun, pengalaman hidup di pinggir kota juga menunjukkan bahwa bahagia dapat dirasakan dengan menikmati singkong hasil kebun sendiri, secangkir teh di teras rumah, memandangi kelap-kelip bintang di malam hari, dan dari tubuh yang tidak terus-menerus dikejar waktu. Di sisi lain, kehidupan di pusat kota memberi pengalaman yang sangat berbeda, yaitu efisiensi dan kemewahan. Dua-duanya memberi pengalaman bahagia, meski wajahnya tidak sama. Refleksi tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan yang seragam, melainkan hasil pemaknaan saya terhadap kehidupan. Mungkin, yang perlu kita pertanyakan bukan lagi “kehidupan seperti apa yang ingin kamu cari?”, melainkan “bagaimana kamu memaknai hidupmu?”. Dengan demikian, makna kebahagiaan kembali pada interpretasi masing-masing individu.
Penulis
Ida Ayu Shinta Pradnyani (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Penyunting
Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Koivula, A., Laaninen, M., & Niemelä, M. (2025). Changes in Subjective Well-Being and its Mechanisms during times of crises in finland. Social Indicator Research. https://doi.org/10.1007/s11205-025-03594-x
Diener, E. (1984). Subjective Well-Being. Psychological Bulletin. https://doi.org/10.1037/0033-2909.95.3.542
Sumber Gambar
https://unsplash.com/photos/woman-spreading-her-arms-r2nJPbEYuSQ