Solo Date: Kenapa Itu Penting?
Kapan terakhir kali Anda berjalan-jalan sendirian dan pergi ke tempat yang Anda sukai? Sekadar membaca buku favorit Anda sambil ditemani segelas cokelat hangat atau duduk sendirian di taman sambil menikmati keindahan langit yang perlahan berganti jingga.
Tahukah Anda? Banyak orang mungkin mengetahui aktivitas menghabiskan waktu sendirian itu sebagai me time. Namun, aktivitas tersebut memiliki istilah yang tak kalah menarik yaitu solo date. Solo date menekankan pada aktivitas meluangkan waktu secara sadar untuk menikmati kesendirian dan mengeksplorasi minat pribadi. Ketika seseorang menikmati waktu sendirian, ia seolah-olah menciptakan ruang untuk fokus dan terhubung dengan dirinya sendiri. Adapun menurut Ost Mor, dkk. (2020), kesendirian positif merupakan sebuah pilihan untuk mendedikasikan waktu pada aktivitas atau pengalaman yang bermakna dan menyenangkan yang dilakukan secara mandiri. Aktivitas atau pengalaman ini dapat bersifat spiritual, fungsional, rekreasional, atau jenis lainnya, serta dapat berlangsung dengan atau tanpa kehadiran orang lain.
Ketika pertama kali melakukan solo date, berbagai pikiran dan perasaan muncul. Misalnya, ketika pergi ke kafe seorang diri, seseorang dapat merasa takut dan cemas terhadap penilaian orang sekitar seperti tatapan kasihan, heran, dan pertanyaan mengapa ia sendirian. Selain itu, seseorang yang sendirian kerap dianggap kesepian, tidak memiliki teman, atau memiliki sesuatu yang dianggap tidak wajar dalam dirinya. Menurut Philip Koch (1994), masyarakat Amerika bahkan menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang tidak wajar, bermasalah, dan berbahaya. Pandangan inilah yang membuat seseorang enggan untuk pergi sendirian dan melakukan solo date.
Akan tetapi, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi pandangan tersebut. Pertama, melakukan pembingkaian ulang (reappraisal) terhadap kesendirian dengan menantang pemikiran bahwa kesepian adalah kondisi yang tidak wajar. Ketika seseorang sendirian atau kesepian, bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Kesepian identik dengan perasaan terasing dari orang lain (Galanaki, 2004, 2005), sedangkan kesendirian menekankan adanya koneksi dan waktu intim bagi diri sendiri. Kedua, memandang kesendirian itu sebagai pengalaman yang bermanfaat dan berdampak positif bagi individu serta mampu mengembangkan potensi diri (flourish) atau disebut juga dengan positive solitude. Kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang ketika sendirian datang dalam bentuk afek positif seperti relaksasi (Nguyen, dkk., 2018). Seseorang yang melakukan positive solitude akan mendapat ruang istimewa untuk mengenal dirinya lebih mendalam dan tumbuh secara personal (self-growth), memulihkan diri dan energinya dari interaksi sosial yang melelahkan (self-care), serta meningkatkan proses kreativitas (creativity atau productive work).
Menurut Nguyen, dkk. (2021), kesendirian sebagai kondisi tidak bersama orang lain secara fisik justru memberikan berbagai manfaat. Manfaat tersebut dapat terbagi menjadi internal (inward-focused) dan eksternal (outward-focused). Manfaat internal atau terarah ke dalam mencakup peningkatan diri seperti autonomy, self-growth, dan competence. Sedangkan, manfaat eksternal atau terkoneksi ke luar berkaitan dengan peningkatan kualitas koneksi interpersonal.
Dalam aspek autonomy, seseorang memiliki kebebasan memilih. Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan solo date, ia tidak lagi merasa terbebani oleh tekanan sosial. Aspek ini juga menekankan pada kemandirian diri. Solo date juga meningkatkan self-growth karena ketika sendirian, seseorang akan lebih berfokus pada dirinya sendiri. Ia menjadi lebih menghargai waktu yang dapat dimanfaatkan untuk berefleksi dan mengenali diri secara mendalam.
Ketika seseorang mampu menghadapi kecemasan terhadap stigma dan pandangan negatif masyarakat mengenai kesendirian, ia akan merasa senang dan puas karena mendapatkan pengalaman baru. Ia pun dapat melakukan solo date tanpa takut dipandang negatif oleh orang lain. Hal ini dapat dipandang sebagai sebuah pencapaian karena individu tersebut berhasil melewati rasa takutnya. Perasaan berhasil dan mampu ini berkaitan dengan aspek competence yang didapatkan ketika seseorang berada dalam kondisi solitude, yang menekankan bahwa ia mampu mengendalikan kecemasan dan menghadapi rasa takutnya secara efektif.
Setelah menghabiskan banyak waktu sendiri, seseorang menjadi lebih sadar akan pentingnya hubungan dan koneksi sosial. Banyak orang akan lebih menghargai waktu bersama orang-orang terdekatnya. Akhirnya, semakin banyak orang yang kembali menjalin komunikasi dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Seperti yang dikemukakan oleh Bailey (dalam Styles, 2024), solo date merupakan bentuk mencintai diri sendiri, menemukan jati diri, pertumbuhan, serta penguatan diri, yaitu waktu untuk mengeksplorasi diri tanpa hiruk-pikuk dan gangguan dari orang lain. Setelah mengetahui banyak manfaat yang didapatkan dari solo date, terdapat beberapa contoh aktivitas yang dapat dilakukan seperti pergi ke toko bunga dan membeli bunga favorit, menonton film tanpa distraksi, memulai kembali olahraga di pusat kebugaran, duduk santai sambil membaca buku yang sudah lama ingin dibaca, pergi ke museum untuk belajar hal baru, atau sekadar berjalan-jalan di taman kota sambil menikmati pemandangan sang surya yang terbenam. Tidak ada waktu spesifik tentang seberapa lama atau seberapa sering seseorang harus melakukan solo date. Hal terpenting dari solo date adalah memberi ruang untuk mengenal diri sendiri serta menikmati waktu di tempat ini dan saat ini.
Penulis:
Felicia Naya Pradasiwi (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2024)
Penyunting:
Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan:
References
Gregor, H. (2025, Maret 13). The art of solo dating. mancunion.com. Retrieved December 17, 2025, from https://mancunion.com/2025/03/13/the-art-of-solo-dating/
Novak, J. M. (2025, Februari 11). Why You Should Date Yourself (Plus 39 Self-Date Ideas). believeandcreate.com. Retrieved December 17, 2025, from https://believeandcreate.com/why-you-should-date-yourself-plus-39-self-date-ideas/
Rodriguez, M., Pratt, S., Bellet, B. W., & McNally, R. J. (2025). Solitude can be good— If you see it as such: Reappraisal helps lonely people experience solitude more positively. Journal of Personality, 93, 118-135. https://doi.org/10.1111/jopy.12887
Styles, J. (2024, August 12). Solo Dating: How To Embrace Me Time & Why It Could Improve Your Mental Wellbeing. Service95. Retrieved December 17, 2025, from https://www.service95.com/solo-dating-trend
Tovima.com. (2025, October 16). Alone, Not Lonely: The Rise of the ‘Solo Date’. tovima.com. Retrieved Desember 17, 2025, from https://www.tovima.com/society/alone-not-lonely-the-rise-of-the-solo-date
Weinstein, N., Hansen, H., & Nguyen, T. (2023). Definitions of Solitude in Everyday Life. Personality and Social Psychology Bulletin., 49(12). https://doi.org/10.1177/01461672221115941
Weinstein, N., Nguyen, T., & Hansen, H. (2021). What Time Alone Offers: Narratives of Solitude From Adolescence to Older Adulthood. Frontiers in Psychology, 12. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.714518
Sumber Gambar: Felicia Naya Pradasiwi