Sakit Saat Itu, Berarti Saat Ini
Dalam hidup, semua orang pasti pernah merasakan yang namanya kegagalan, bukan? Kegagalan dapat terjadi dalam berbagai konteks, seperti gagal dalam hubungan percintaan, gagal dalam mencapai target pekerjaan, ataupun gagal dalam hal akademis, misalnya tidak lolos masuk universitas impian. Ironisnya, sebuah kegagalan terkadang dianggap seperti aib yang perlu disembunyikan. Padahal kenyataannya, kegagalan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengalaman kegagalan ini tentu saja pernah terjadi dalam hidupku.
Tahun 2021, seharusnya menjadi tahun yang membawaku melangkah maju dan menemukan pengalaman-pengalaman baru. Namun, pada tahun itu langkahku justru harus terhenti. Tahun yang seharusnya membawaku menjadi mahasiswa baru, harus kukubur dalam-dalam. Apakah ini bagian dari rencanaku? Tentu saja tidak. Rencanaku sama seperti siswa pada umumnya, yaitu belajar dan berjuang agar bisa diterima oleh kampus impian. Namun, takdir berkata lain dan masa-masa itu membuatku harus rehat sejenak. Anak zaman sekarang sering menyebutnya dengan gap year. Saat itu, aku merasa seperti tidak memiliki kesempatan yang sama dengan teman-temanku. Mereka melangkah maju, sementara aku masih di tempat yang sama, dengan pertanyaan yang selalu tidak kutemukan jawabannya: Mengapa? Mengapa aku?
Disitulah aku menyadari bahwa, aku gagal. Ada perasaan kecewa, sedih, marah, malu, dan merasa tidak cukup mampu. Terlebih lagi, membandingkan diriku dengan yang lain menambah rasa penyesalan dan rasa bersalah terhadap diriku sendiri. Saat itu, aku menganggap bahwa gap year adalah sebuah aib yang perlu disembunyikan, karena jelas hal tersebut merupakan suatu kegagalan yang menyakitkan. Dalam teori resiliensi, hal ini disebut sebagai faktor risiko, yaitu kondisi yang meningkatkan kemungkinan munculnya hasil yang buruk. Masa-masa gap year ini menjadi situasi yang penuh dengan risiko karena membuat munculnya keraguan terhadap kemampuan diri bagi individu yang mengalaminya. Namun seiring berjalannya waktu, aku mencoba untuk menelan semua pil pahit itu, menerima kenyataan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Jeda tersebut aku gunakan untuk merefleksikan apa yang sebelumnya terjadi dan menemukan kembali motivasi yang pernah hilang. Aku kembali membuka diri, keluar dari zona nyaman, dan mencoba hal-hal baru yang ada di sekitarku. Aku tidak lagi membandingkan diriku dengan teman-temanku. Aku tidak lagi menyalahkan diriku sendiri atas kegagalan yang aku alami. Hari demi hari kulalui untuk mengenali lebih jauh tentang diriku. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa gap year bukan hanya sekedar keterlambatan, tetapi merupakan proses pertumbuhan diri. Tahun yang awalnya penuh dengan kekecewaan dan rasa malu, berubah menjadi tahun penuh pembelajaran.
Dalam perspektif psikologis, kemampuan seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan berkembang setelah mengalami tekanan atau kesulitan disebut sebagai resiliensi. Masten (2001), menekankan bahwa resiliensi bukanlah kemampuan luar biasa melainkan ordinary magic, yaitu sumber daya adaptif yang secara alami dapat berkembang pada setiap individu. Teori resiliensi juga menekankan bahwa kegagalan bukan merupakan akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses penting yang melibatkan pengalaman reflektif didalamnya. Individu belajar untuk menerima kenyataan, memahami kesalahan, serta mengevaluasi tujuan yang ingin dicapai. Proses refleksi ini merupakan bagian penting dari resiliensi, karena membantu individu membentuk makna baru dari kegagalan. Sehingga kegagalan tidak lagi dilihat sebagai ketidakmampuan, tetapi sebagai ruang bagi perubahan dan perkembangan diri yang optimal.
Melalui pengalaman tersebut, aku belajar untuk tidak hanya menerima hal-hal baik yang terjadi dalam hidup, namun juga belajar untuk menerima kegagalan. Belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan. Selain itu, belajar untuk melihat kegagalan melalui sudut pandang yang berbeda. Ketika melihat kembali ke belakang, aku tidak lagi melihat gap year sebagai sebuah aib, tapi sebagai pengalaman berharga yang membentuk diriku menjadi lebih kuat seperti sekarang. Terkadang kita perlu berhenti sejenak agar dapat melihat makna yang lebih dalam dan menghargai proses dalam hidup, bukan hanya sekedar mencapai tujuan. Dan pada akhirnya, kegagalan bukan akhir dari segalanya, namun sebuah permulaan untuk sesuatu yang lebih baik.
Penulis
Ni Komang Dita Tria Rahayu (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Penyunting
Theresia Karina Satya Pramesti (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan
Masten, A. S. (2001). Ordinary Magic: Resilience Processes in Development. American Psychologist, 56(3), 227-238.
Sumber Gambar
Ni Komang Dita Tria Rahayu