Pygmalion Effect vs Golem Effect: Ekspektasi Sebagai Takdir Hidup Manusia Saat Ini
Pernahkah Anda merasa sedang hidup melalui harapan dan ekspektasi orang lain? Di tengah dunia yang dipenuhi sorotan media sosial, ekspektasi seakan menjadi napas kedua bagi sebagian besar manusia. Sebagai makhluk sosial, Anda tentu pernah merasakan bertumbuh dalam dunia yang semakin pesat dan kompetitif. Harapan dan ekspektasi orang lain masuk dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bagaimana cara Anda berkomunikasi, berpikir, bertindak, hingga menilai diri sendiri. Hal ini menggambarkan hidup menjadi seperti cermin yang tidak hanya memantulkan diri Anda, tetapi juga keyakinan orang lain tentang siapa Anda. Terbentuk suatu paradoks, seolah harapan dan ekspektasi merupakan takdir kehidupan manusia yang berat. Dalam hal ini, harapan serta ekspektasi orang lain dapat menjadi sayap yang membangun hidup manusia. Namun, turut menjadi rantai penahan langkah kehidupannya.
Dalam psikologi, terdapat fenomena yang kerap dikenal sebagai “Pygmalion effect” dan “Golem effect”. Dalam artikel jurnal yang ditulis oleh Haynes (2023), secara etimologis istilah “Pygmalion” diambil dari mitos Yunani yang dikisahkan dalam Metamorphoses karya Ovid. Pygmalion merupakan seorang seniman pemahat yang jatuh cinta pada patung ciptaannya sendiri. Bersama dengan bantuan para dewa dan keyakinannya yang kuat, patung tersebut memperoleh kehidupan. Kisah ini merupakan suatu metafora terhadap keyakinan yang mampu membangkitkan potensi tersembunyi seseorang. Sementara itu, kata “Golem” berasal dari legenda Yahudi kuno mengenai makhluk tanah liat yang diciptakan oleh seorang rabbi dengan kekuatan spiritual. Menurut catatan Jewish Museum Berlin, awal penciptaan makhluk ini berkaitan dengan sebuah ritual mistik dengan tujuan mendekatkan diri pada sang pencipta. Ciptaan ini lahir untuk memenuhi tujuan mulia, tetapi berakhir menjadi destruktif sehingga penciptaannya harus dihentikan. Sama seperti makhluk ciptaan yang berakhir menjadi suatu ancaman, Golem Effect menggambarkan bagaimana ekspektasi negatif seseorang terhadap orang lain dapat mengakibatkan suatu kerugian.
Fenomena Pygmalion pertama kali diperkenalkan oleh Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson (1968) melalui eksperimen di sekolah dasar. Studi tersebut menemukan bahwa ketika seorang guru percaya bahwa anak dapat berkembang, ia secara tidak sadar akan memperlakukan anak tersebut dengan lebih positif. Pada akhirnya, hal ini mampu meningkatkan prestasi nyata pada anak melalui peningkatan IQ. Sedangkan, fenomena Golem pertama kali diperkenalkan oleh Babad, E., Inbar, J., dan Rosenthal, R. (1982) sebagai kebalikan dari Pygmalion Effect. Penelitian tersebut memperoleh bahwa siswa yang diyakini memiliki potensi rendah menunjukkan penurunan motivasi dan prestasi. Selain itu, bias harapan yang diberikan oleh guru terhadap muridnya juga dapat mempengaruhi hasil belajar. Temuan-temuan tersebut diperkuat oleh penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Leung dan Sy (2018). Temuannya menjelaskan bahwa Pygmalion Effect merupakan fenomena ketika harapan positif yang diberikan orang lain terhadap diri seseorang dapat meningkatkan kinerja, motivasi, serta hasil nyata. Fenomena ini turut dikenal sebagai “Self-fulfilling prophecy”, di mana keyakinan seseorang terhadap individu lain dapat mewujudkan hasil yang sesuai dengan harapan tersebut. Sementara itu, Golem Effect merupakan ekspektasi negatif dari orang lain yang dapat menurunkan performa dan kepercayaan diri seseorang.
Dalam Kehidupan modern, Pygmalion Effect dan Golem Effect turut memengaruhi cara seseorang berdinamika dalam hidup. Dalam bidang pendidikan, ekspektasi guru terhadap murid dapat menjadi penentu arah perkembangan mereka. Hal serupa juga terjadi di dunia kerja. Atasan yang menaruh kepercayaan dan ekspektasi tinggi pada karyawannya cenderung akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kinerja yang baik. Sedangkan, atasan yang skeptis justru akan menciptakan lingkungan kerja penuh dengan stagnasi serta keraguan. Dalam hubungan sosial, ekspektasi antar individu juga dapat membentuk dinamika emosional. Misalnya, seseorang yang selalu dianggap “tidak mampu diandalkan” bisa saja akan berperilaku demikian karena merasa tidak ada gunanya untuk membuktikan dirinya. Selain itu, dalam kehidupan canggih saat ini, ekspektasi orang lain dalam media sosial juga mempengaruhi identitas diri seseorang. Bahkan pada tingkat personal sekalipun, ekspektasi dari orang lain yang ditanam oleh seseorang terhadap dirinya sendiri dapat menjadi penentu dalam perjalanan hidup.
Dikutip dari laman Psyche Humanus dengan judul “Pygmalion Effect: Pengaruh Ekspektasi Terhadap Kinerja”, terdapat beberapa cara menerapkan Pygmalion Effect dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, berikan ekspektasi positif terhadap orang lain, dengan memberikan dorongan, umpan balik, dan tantangan yang sesuai dengan orang tersebut. Kedua, perlakukan orang lain dengan penuh keyakinan karena lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang untuk berkembang. Dalam dunia penuh tekanan pada hasil dan persaingan berat, seseorang dapat merasa lebih dihargai serta termotivasi untuk berusaha keras jika berada dalam lingkungan yang baik. Ketiga, bangun kepercayaan diri. Pygmalion Effect dapat bekerja dengan efektif apabila Anda memperhatikan rasa percaya diri orang lain. Hal ini juga berlaku sebaliknya, ketika orang lain juga memperhatikan rasa percaya diri Anda. Dalam konteks ini, berikanlah dorongan agar seseorang mampu melihat diri sendiri dengan cara yang positif serta percaya terhadap kemampuan mereka. Dengan menambah keyakinan bahwa mereka mampu, Anda tidak hanya membantu dalam pencapaian target orang lain, tetapi juga turut membantu dalam menentukan arahan bernilai dalam hidupnya. Terakhir, jangan takut untuk meningkatkan harapan. Terkadang manusia memiliki rasa takut dalam menetapkan harapan tinggi kepada orang lain atas dasar kemungkinan munculnya kegagalan. Namun, memberikan tantangan yang lebih terhadap seseorang justru dapat membawa mereka pada pencapaian yang besar.
Pada akhirnya, kekuatan suatu ekspektasi tidak hanya terletak pada bagaimana seseorang memberi dan membentuk lingkungan yang baik. Hal ini juga didukung dengan cara penyampaian ekspektasi tersebut terhadap orang lain. Komunikasi adalah kunci penting dari penyampaian ekspektasi. Penelitian yang dilakukan oleh Yurong Wang dan Lin Li (2014), menyimpulkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam Pygmalion Effect. Pada konteks ini, cara seseorang menyampaikan harapan, ekspektasi, serta pujian dapat menjadi suatu kekuatan yang membangun maupun menghancurkan kepercayaan diri orang lain. Dalam kehidupan, komunikasi merupakan kunci untuk meminimalisir Golem Effect. Sering kali seseorang salah memberi arti terhadap ekspektasi dan harapan orang lain sebagai suatu beban. Sejatinya, ekspektasi dapat menjadi pedang bermata dua. Pada satu sisi, hal ini dapat mendorong manusia untuk tumbuh. Namun, di sisi lain hal ini dapat berubah menjadi tekanan apabila tidak dikelola dengan baik. Dari sini, kita belahjar bahwa ekspektasi bukan sekadar “takdir”, tetapi juga sebagai pembangun potensi dalam hidup manusia. Maka dari itu, jadilah seseorang yang dapat menaruh benih ekspektasi positif terhadap satu sama lain.
Penulis:
Dania Christy Ndapamerang (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)
Penyunting:
Natasha Albertine (Asisten P2TKP Angkatan 2025)
Daftar Acuan:
Babad, E. Y., Inbar, J., & Rosenthal, R. (1982). Pygmalion, Galatea, and the Golem: Investigations of biased and unbiased teachers. Journal of Educational Psychology, 74(4), 459. https://doi.org/10.1037/0022-0663.74.4.459
Haynes, M. (2023). The skin of a statue: rethinking Ovid’s Pygmalion. Sculpture Journal, 32(2),
175-191. https://doi.org/10.3828/sj.2023.32.2.03
Jewish Museum Berlin. (n.d.). Golem. https://www.jmberlin.de/en/topic-golem
Khabibulloh, M. N. (2024, December 3). Pygmalion effect: Pengaruh ekspektasi terhadap
kinerja. Psyche Humanus. https://psychehumanus.id/pygmalion-effect/
Leung, A., & Sy, T. (2018). I am as incompetent as the prototypical group member: An investigation of naturally occurring Golem effects in work groups. Frontiers in Psychology, 9, 1581. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01581
Rosenthal, R., & Jacobson, L. (1968). Pygmalion in the classroom. The Urban Review, 3(1), 16-20. https://doi.org/10.1007/BF02322211
Wang, Y., & Lin, L. (2014). Pygmalion effect on junior english teaching. Advances in Language and Literary Studies, 5(6), 18-23. http://dx.doi.org/10.7575/aiac.alls.v.5n.6p.18
Sumber Gambar:
Abzinovs, Eriks. (2021, 13 April). HOPE. Unsplash. https://unsplash.com/photos/red-and-gold-round-pendant-u9TOg2ZBMYo