Karya Tulis,  Podjok Merenung

Dari Tanduk ke Mahkota: Sebuah Tekanan yang Aku Ciptakan Sendiri

Pernahkah kamu merasa bahwa satu-satunya orang yang paling menuntutmu adalah dirimu sendiri? Ya, itulah yang sering aku rasakan. Lucunya, tidak ada yang memintaku untuk menjadi seperti ini. Tidak ada orang tua yang menuntut kesempurnaan, tidak ada pula suara luar yang memaksa untuk terus bergerak. Awalnya aku merasa bersyukur akan hal itu. Tetapi anehnya, aku justru tumbuh dengan membawa sebuah tekanan yang rasanya sangat berat, meski wujudnya tak pernah benar-benar ada. Ia hidup di dalam pikiranku sendiri, seperti bayangan yang kutakuti tanpa tahu bentuknya. Sebuah tekanan yang aku ciptakan sendiri yang membuatku harus menjadi lebih tinggi, lebih peduli, lebih rajin, lebih keras, lebih berguna, dan lebih menyesakkan. 

Namun, pada akhirnya, yang aku rasakan hanyalah rasa bersalah dan kecewa terhadap diriku sendiri karena tidak cukup produktif atau tidak memenuhi semua standar itu. Aku sering kali menolak untuk makan atau beristirahat sebelum semua selesai. Selama aku belum tumbang, artinya aku belum cukup berusaha. Nilai yang aku yakini hanya ditentukan oleh apa dan seberapa keras aku berjuang. Di balik setiap senyuman dan tawa itu, aku hidup dalam bayangan menyesakkan yang aku bangun sendiri.

Lama-kelamaan, aku menyadari bahwa tekanan itu terasa seperti tanduk yang tumbuh di kepalaku. Tanduk itu melelahkan, berat, menyakitkan, dan  seolah melawan diriku sendiri. Oleh karena itu, aku merasa perlu menyingkirkan tanduk itu sesegera mungkin agar tidak menghalangi proses yang aku sebut “bertumbuh”. Dalam proses ini, aku menyadari bahwa tandukku adalah salah satu contoh dari apa yang disebut dengan fixed mindset.  Aku selalu berpikir bahwa kemampuan dan nilai diriku hanya bisa diukur dari apa yang aku lakukan, dan terus memaksaku untuk mengabaikan apa yang sebenarnya aku benar-benar butuhkan serta mewajarkan kehadiran rasa sakit dan lelah.

Menurut Dweck (dalam Beatson dkk, 2019), terdapat dua pola pikir dalam diri individu yaitu fixed mindset dan growth mindset. Berbeda dengan fixed mindset yang berfokus pada hasil, growth mindset berfokus pada proses dan termotivasi untuk belajar serta mengembangkan diri. Dari pengalaman tentang tanduk itu, aku menyadari bahwa aku lupa bahwa tanduk itu juga bagian dari proses pertumbuhan itu sendiri. Alih-alih melihat kegagalan sebagai ketidakmampuan, dengan growth mindset, aku mulai melihatnya sebagai bagian dari diriku yang dapat dikembangkan. Kemudian, aku pun berpikir mengapa aku tidak mencoba untuk mengubah tanduk itu menjadi sebuah mahkota? Mahkota yang menjadi tanda penerimaan akan tekanan itu sendiri, sebagai sebuah tantangan diri sendiri untuk belajar dari kesalahan serta menumbuhkan diri.

Namun, apakah dengan demikian, aku harus berhenti memiliki ambisi? Nyatanya tidak. Melalui pengalaman ini, aku menyadari bahwa ambisi dan standar untuk diri sendiri juga berperan penting dalam mendorongku terus berkembang. Seperti yang disebutkan oleh Allison (2024) dalam refleksinya, tekanan itu bersifat reflektif dan ketahanan bukan hanya tentang terus bangkit untuk berjuang, melainkan juga tentang menggali jati diri dengan menyelaraskan diri dengan kondisi fisiologis kita. Dengan demikian, yang perlu aku lakukan adalah bijak dan jujur pada diriku.

Secara sederhana, beberapa cara yang mungkin dapat digunakan mengatasi fixed mindset adalah dengan melemahkan pikiran dan tindakan yang terkait dengan pola pikir atau tekanan pribadi yang aku miliki, atau mengembangkan cara-cara alternatif (Haager dkk., 2013). Beberapa cara alternatif juga dijelaskan oleh Brenner (2017), yang bertujuan untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi tekanan pada diri sendiri. Cara-cara alternatif oleh Brenner adalah sebagai berikut:

    1. Recognition: mengenali bahwa aku memiliki tekanan dalam diri sendiri dan perlu menata kembali diriku, serta menyadari bahwa perubahan yang mungkin aku pikir adalah “kegagalan” sebenarnya merupakan proses penyempurnaan.
    2. Gratitude: berhenti sejenak dan menghargai diri sendiri atas hal-hal kecil, khususnya perasaan-perasaan negatif yang sering kali aku arahkan pada diriku sendiri yang mungkin muncul karena tekanan yang aku ciptakan.
    3. Acceptance: menenangkan diri dengan menerima keadaan yang terjadi apa adanya dan menikmati kemajuan maupun kegagalan sambil selalu belajar.
    4. Planning: mengembangkan cara untuk menerima dan menghadapi situasi menantang yang pasti akan muncul suatu saat nanti, salah satunya dengan berusaha untuk mengingat kembali tujuan dan nilai-nilai yang aku pegang secara pribadi.
    5. Implementation: membuat sinyal pribadi yang bertujuan untuk mengarahkan kembali pada nilai-nilai inti dan tugas utama, sekaligus menghambat kebiasaan menekan dan memaksakan diri sendiri.
    6. Appraisal: menilai kembali segala sesuatu yang aku rasakan, aku pikirkan, dan pilihan-pilihan yang aku buat setelah menghadapi suatu hal yang menantang. 

Dalam hal ini, aku belajar untuk selalu bertanya pada diriku sendiri, “apakah semua kerja keras yang aku lakukan memang karena aku ingin berkembang, atau karena aku merasa tidak cukup?” Kini, dibandingkan dengan berkata bahwa “aku harus bekerja keras,” aku belajar untuk berkata, “aku sudah melakukan yang terbaik dan akan belajar dengan baik pula kedepannya.” Perlahan-lahan aku bisa merasakan bahwa tanduk itu menjadi semakin ringan. Kini tekanan itu tidak lagi aku anggap sebagai beban, melainkan aku belajar untuk menyukai dan menerima tekanan itu sebagai suatu aspek dalam diriku yang ingin terus berkembang.

Pada kenyataannya, sampai saat ini aku masih berusaha menjadikan tanduk itu sebagai mahkota. Aku masih punya ambisi dan aku masih menekan diriku dengan sangat keras. Namun setidaknya, kini aku sudah memahami bahwa aku tidak perlu terburu-buru dan belajar untuk menikmati setiap prosesnya. Aku tetap bekerja keras, namun lebih bijak dalam mengatur diriku sendiri serta menerima bahwa setiap kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan. Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa pertumbuhan bukan hanya tentang mencapai target atau prestasi, tetapi juga tentang bagaimana aku belajar untuk menerima dan menghadapi diriku sendiri di setiap langkah kehidupan. 

Pada akhirnya, akan dibutuhkan waktu dan proses yang panjang untuk mengubah tanduk itu menjadi mahkota, sama seperti perjalananku dalam menerima dan mengubah pola pikir, tekanan pribadi, dan ekspektasi diri. Mungkin kalian akan menemukan hal yang sama, kalian,  akan menemukan tanduk dalam diri kalian sebagai bentuk ketakutan akan kegagalan dan ketidaksempurnaan. Namun, mari kita sama-sama belajar bahwa kehadiran mereka dalam diri kita juga merupakan bentuk keberanian untuk selalu berkembang. Aku yakin bahwa suatu hari nanti, tanduk itu tidak lagi menyakitkan tetapi akan menjadi lebih ringan dan berubah menjadi sebuah mahkota.

Penulis

Tabitha Amabile Amalia Napitupulu (Asisten P2TKP Angkatan 2025)

Penyunting

Felicia Galuh Kiranasari (Asisten P2TKP Angkatan 2025)


Daftar Acuan

Allison, M. (2024, April 8). When forcing yourself doesn’t work anymore. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-pressure-paradox/202404/when-forcing-yourself-doesnt-work-anymore  

Beatson, N. J., Berg, D. a. G., & Smith, J. K. (2019). The Sheldon effect: fixed mindset does not always mean fragile confidence. Accounting Education, 28(5), 532–552. https://doi.org/10.1080/09639284.2019.1661858 

Brenner, G. H. (2017, November 24). A six stage tool to stop self-pressuring. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/experimentations/201711/a-six-stage-tool-to-stop-self-pressuring 

Haager, J. S., Kuhbandner, C., & Pekrun, R. (2013). Overcoming fixed mindsets: The role of affect. Cognition & Emotion, 28(4), 756–767. https://doi.org/10.1080/02699931.2013.851645 

Sumber Gambar

Tabitha Amabile Amalia Napitupulu