Artikel,  Karya Tulis

Fenomena Phone Snubbing (Phubbing): Ketika yang Jauh Semakin Dekat, yang Dekat Semakin Menjauh

Interaksi sosial sudah menjadi kebutuhan primer yang fundamental tak terelakan dalam membangun peradaban manusia hingga menjadi seperti saat ini. Castiello et al. (2010) menemukan bahwa, manusia mulai mengembangkan tindakan sosial pertama sejak kehamilan pada trimester kedua. Lebih lanjut, jalinan interaksi positif antar sesama manusia juga berimplikasi positif pada penyakit fisiologis, salah satunya peningkatan kesejahteraan psikologis pada pasien penyakit demensia (Lee & Lee, 2022). Arcuri et al., (2025) juga menemukan bahwa impresi awal dari melihat wajah manusia yang saling berinteraksi menjadi awal pembentuk tindakan motorik dan kognisi sosial. Artinya, interaksi tatap muka merupakan manifestasi gerakan fisik dan bentuk representasi sosial. Melalui hal tersebut, dapat diketahui bahwa manusia sejatinya merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk saling berinteraksi dengan sesamanya. 

Penggunaan smartphone atau yang kerap kita sebut sebagai ponsel pintar telah berkembang menjadi kebutuhan yang lekat dengan aktivitas sehari-hari. Terutama sebagai media interaksi dengan masyarakat luas, memperoleh informasi, melakukan pekerjaan, mengekspresikan emosi satu sama lain, hingga membentuk citra sosial (Ali et al., 2020).  Di tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penggunaan telepon seluler (HP) mencapai 82,05% dari total penduduk di Indonesia, sementara penggunaan telepon kabel atau telepon rumah semakin berkurang dengan total pengguna aktif sebesar 0,99%. 

Kendati dengan masifnya penggunaan smartphone, akhirnya akan menimbulkan berbagai tantangan dampak yang ditimbulkan. Salah satu diantaranya adalah fenomena phone snubbing (phubbing), yang merupakan suatu bentuk perilaku pengabaian komunikasi interpersonal, dimana individu fokus dan sibuk menggunakan smartphone saat berinteraksi dengan orang lain (Knausenberger et al., 2022). Istilah phubbing berasal dari gabungan kata “phone” yang artinya telepon dan “snubbing” yang berarti menghina yang masuk dalam perilaku bermasalah dari penggunaan smartphone (Chotpitayasunondh & Douglas, 2016). Penggunaan smartphone yang problematik diungkap oleh Rozgonjuk et al., (2021) berdampak terhadap seberapa besar kepuasan hidup dan rasa memiliki dari individu. Hal ini juga selaras dengan temuan Çikrikci et al., (2022) bahwa phubbing mengembangkan perilaku hedonis dan menghambat proses kehidupan sosial yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kepuasan hidup terlebih pada individu dengan kecenderungan neurotik. 

Lv & Wang (2023) menemukan terdapat tiga faktor penyebab dari perilaku phubbing, diantaranya: 

  • Boredom proneness atau bosan, merupakan kondisi dimana ketidakmampuan individu mendapatkan kepuasan terhadap stimulus internal maupun eksternal sehingga memanifestasikan gairah, atensi, dan motivasi yang rendah. 
  • Fear of missing out (FOMO), merupakan perasaan yang kompleks mencakup kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan dalam melewatkan informasi terkini. FOMO dalam konteks daring merujuk pada smartphone sebagai media yang aksesibel dalam memberikan kebutuhan informasi yang cepat, dimana manusia ingin mencapai perasaan kompeten (Przybylski et al., 2013).
  • Online vigilance atau kewaspadaan daring, merupakan kondisi dimana individu merasa terus menyadari, memikirkan, dan mengantisipasi interaksi dunia daring, namun di saat yang sama menghiraukan realitas luring disekitarnya.

Lebih lanjut Hanoum et al., (2023) membagi penyebab terjadinya perilaku phubbing dari faktor internal dan eksternal. Faktor penyebab internal mencakup perasaan loneliness, dimana terjadi ketidaksesuaian kebutuhan hubungan sosial yang diharapkan, dan self-concept yang negatif dengan memandang diri secara pesimis. Sedangkan dari faktor eksternal mencakup akademik cyberloafing, mengacu pada perilaku menyalahgunakan fungsi smartphone yang kurang sesuai pada konteks nya, misalnya saat diberikan tugas sekolah individu sibuk membuka game alih-alih menggunakannya untuk mencari sumber di internet, dan Fear of Missing Out (FOMO). Aagaard (2020) melihat perilaku phubbing dilakukan secara tidak sadar yang sering kali bertentangan dengan kompas moral diri individu, dimana fenomena ini didefinisikan sebagai akrasia digital. 

Knausenberger et al., (2022) mendefinisikan tipe atau jenis perilaku phubbing dalam dua tipe, yakni:

  1. Tipe reactive phubbing, merupakan perilaku dimana individu memberikan atensi dan reaksi terhadap smartphone tepat saat setelah menerima notifikasi dari smartphone nya.
  2. Tipe proactive phubbing, merupakan perilaku individu yang aktif memberikan atensi terhadap smartphone tanpa ada stimulus notifikasi dari smartphone nya.

Lantas bagaimana cara mengetahui diri kita mengalami gangguan perilaku phubbing? Hal ini dapat dilakukan melalui metode wawancara, observasi, dan psikotes. Isrofin (2020) mengembangkan alat tes generic scale of phubbing (GSP) versi Bahasa Indonesia dengan 15 butir pertanyaan yang merangkum kategori nomophobia, konflik interpersonal, isolasi diri, dan mengakui masalah yang ada. Pendekatan terhadap cara mengatasi masalah perilaku phubbing dapat dilakukan melalui serangkaian intervensi yang salah satunya dikembangkan oleh Fatchurahman et al., (2023) mengenai intervention group logotherapy. Teknik intervensi ini masuk dalam praktik konseling yang bertujuan membuat pasien menjadi lebih bertanggung jawab dan adaptif mencapai aktualisasi nilai-nilai hidup yang bermakna, dengan fokus teknik reflektif. Teknik konseling ini terdiri dari beberapa tahap, diantaranya adalah:

  1. Tahap coaching rapport; klien di ajak untuk mengenal konsep logotherapy, lalu memahami keterbukaan dari konselor, hingga menciptakan kesan confidential, keterbukaan, dan kesukarelaan dari klien untuk menceritakan masalah tanpa tekanan dan komprehensif.
  2. Tahap exploring dan posing problem; konselor mendalami klien dengan mengulik latar belakang, situasi saat ini, dan konteks lainnya yang memicu perilaku phubbing.
  3. Tahap diskusi; konselor dan klien berdiskusi arah perilaku phubbing hingga menentukan realitas objektif yang dapat diwujudkan oleh klien kedepannya.
  4. Tahap evaluasi dan kesimpulan; konselor memaparkan interpretasi dari hasil pengumpulan data dan harapan klien.
  5. Tahap attitude change dan terminasi; konselor menyusun praktik perilaku terstruktur atau tindakan yang aplikatif terhadap klien dalam menghadapi perilaku phubbing, serta menyimpulkan dan menutup pertemuan konseling.

Pada akhirnya tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman membentuk kebiasaan kita, salah satunya adalah tuntutan penggunaan smartphone dalam hampir keseluruhan aktivitas sehari-hari. Maka, tantangan akan dampak dari masuknya berbagai hal baru tersebut juga semakin meningkat pesat. Kita sebagai individu yang menjadi agen aktif dalam menentukan kehidupan, dapat menyadari berbagai hal atau kondisi yang dirasa sudah mengancam titik batasan adaptif dari diri kita. Selayaknya kita sebagai manusia memiliki kendali atas alat yang membangun diri hingga situasi saat ini, melalui artikel ini diharapkan berimplikasi terhadap bagaimana kita dapat memaknai fenomena pengabaian orang disekitar dari penggunaan smartphone dalam proses dinamika interaksi sosial. 

Phubbing membatasi interaksi sosial hingga menyebabkan pengabaian akan hubungan sosial yang sehat dengan sesama. Mulai dari sini, tinggal bagaimana kita melihat apakah fenomena phubbing sering kali muncul secara berulang dan relevan terjadi di lingkungan sekitar kita. Sadar tidak sadar, smartphone seakan menjadi alat yang mendekatkan kita dari orang yang jauh, namun disaat yang sama menjauhkan orang terdekat. Berangkat dari hal itu, sudah waktunya kita mengambil aksi dan tindakan mulai dari diri sendiri dan orang disekitar kita.

 

Penulis
William (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2022)

Penyunting
Ariolietha Joanna Kintanayu (Asisten P2TKP Angkatan 2023)


Daftar Acuan
Aagaard, J. (2020). Digital akrasia: a qualitative study of phubbing. AI & SOCIETY, 35, 237–244. https://link.springer.com/article/10.1007/s00146-019-00876-0

Ali, I., Danaee, M., & Firdaus, A. (2020). Social networking sites usage & needs scale (SNSUN): a new instrument for measuring social networking sites’ usage patterns and needs. Journal of Information and Telecommunication, 4(2), 151–174. https://doi.org/10.1080/24751839.2019.1675461

Arcuri, E., Ardizzi, M., & Gallese, V. (2025). Reading out bodily cues to predict interactions. Scientific Reports, 15(18865). https://doi.org/10.1038/s41598-025-01224-7

Castiello, U., Becchio, C., Zoia, S., Nelini, C., Sartori, L., Blason, L., D’Ottavio, G., Bulgheroni, M., & Gallese, V. (2010). Wired to Be Social: The Ontogeny of Human Interaction. PloS one, 5(10), e13199. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0013199

Chotpitayasunondh, V., & Douglas, K. M. (2016). How “phubbing” becomes the norm: The antecedents and consequences of snubbing via smartphone. Computers in Human Behavior, 63(25), 9-18. http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2016.05.018

Çikrikci, Ö., Griffiths, M. D., & Erzen, E. (2022). Testing the Mediating Role of Phubbing in the Relationship Between the Big Five Personality Traits and Satisfaction with Life. International Journal of Mental Health and Addiction, 20, 44–56. https://doi.org/10.1007/s11469-019-00115-z

Fatchurahman, M., Setiawan, M., & Karyanti Karyanti, K. (2023). Intervention group logotherapy and performance measures for reducing phubbing in Generation Z. Estudos de Psicologia (Campinas), 40(1). http://dx.doi.org/10.1590/1982-0275202340e200244

Hanoum, M., Ekasari, A., Mumpuni, S., Purwantini, L., Indah, A., & Puspitasari, N. (2023). Phone Snubbing (Phubbing) conduct at school: a review based on academic cyberloafing, fear of missing out (FOMO), loneliness and self concept. Proceeding of International Conference on Innovations in Social Sciences Education and Engineering, 3, 047-047. https://www.conference.loupiasconference.org/index.php/icoissee3/article/download/396/359

Isrofin, B. (2020). Validasi generic scale of phubbing (GSP) versi bahasa indonesia dengan rasch model. Nusantara of Research: Jurnal Hasil-hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri, 7(1), 9-18. http://dx.doi.org/10.29407/nor.v7i1.13883.

Knausenberger, J., Giesen-Leuchter, A., & Echterhoff, G. (2022). Feeling Ostracized by Others’ Smartphone Use: The Effect of Phubbing on Fundamental Needs, Mood, and TrustUpdated. Frontiers in psychology, 13, 883901. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.883901

Lee, K. H., & Lee, J. Y. (2022). Social interaction and psychological well-being of persons living with dementia in long-term care. Innovation in Aging, 6(Supplement_1), 704–705. https://doi.org/10.1093/geroni/igac059.2578

Lv, S., & Wang, H. (2023). The Effect of College Students’ Boredom Proneness on Phubbing: The Chain-Mediating Effects of Fear of Missing Out and Online Vigilance. Perspectives in Psychiatric Care, (1). https://doi.org/10.1155/2023/9713789.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841-1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014.

Rozgonjuk, D., Davis, K. L., & Montag, C. (2021). The Roles of Primary Emotional Systems and Need Satisfaction in Problematic Internet and Smartphone Use: A Network Perspective. Front. Psychol, 12(709805). https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2021.709805/full

Sumber Gambar
Trung Manh cong. (2024, 12 March). A group of people sitting around a table eating food. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-group-of-people-sitting-around-a-table-eating-food-OYmTEFrpzCk