Mati Rasa: Menyelami Kekosongan Emosi dari Perspektif Psikologi
Pernahkah kamu merasa kosong? Hampa? Atau mati rasa? Saat kamu sebenarnya sedang mengalami kegembiraan atau kesedihan tapi malah tidak merasakan apapun? Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu?
Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tekanan, banyak individu mengalami fenomena “mati rasa” atau kekosongan emosi. Tekanan pekerjaan yang terus meningkat, paparan media sosial yang membanjiri pikiran, serta ritme hidup yang tidak memberikan ruang untuk berhenti dan merenung, kian menciptakan kondisi psikologis yang rawan terhadap kelelahan emosional. Dalam situasi ini, muncul kondisi di mana seseorang merasa datar, kehilangan kemampuan merasakan, merespons, atau bahkan terhubung secara emosional, baik dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Orang-orang yang merasakan ini tidak merasakan sukacita saat berada di tengah keluarga, tidak tergugah oleh kabar gembira atau sedih, dan bahkan merasa asing dengan batinnya sendiri.
Emosi yang dulunya akrab kini terasa jauh, inilah yang disebut emotional numbness. Bukan sekadar ketiadaan emosi, melainkan kegagalan tubuh dan pikiran untuk merespons secara emosional terhadap dunia sekitar (Roberts, 2018). Fenomena ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk tergantung seberapa luas dan dalam ketidakhadiran emosi itu dirasakan seseorang. Misalnya, kondisi global numbness sebagai kegagalan total untuk merasakan, dunia terasa datar, hampa, dan tidak menyentuh. Kondisi specific absence merujuk pada ketidakmampuan merespons dalam konteks spesifik, seperti dulunya mudah meneteskan air mata ketika menonton film tapi sekarang kehilangan kemampuan untuk merasakan empati. Lalu, kondisi cessation awareness atau kesadaran bahwa respons emosional yang dulu ada kini telah menghilang, seperti “Kenapa aku tidak bisa sedih ketika seharusnya aku sedih?”. Kesadaran ini seringkali membawa rasa kehilangan yang mendalam karena kemampuan untuk merasakan telah menghilang.
Mekanisme psikologis di balik kondisi ini beragam. Salah satunya adalah keterlibatan proses kognitif yang terlalu dominan. Studi oleh Rocklage, Rucker, dan Nordgren (2021) menunjukkan bahwa individu dengan keahlian tinggi dalam bidang tertentu, seperti sommelier dalam dunia wine atau kritikus film profesional, cenderung mengalami penurunan intensitas emosional karena fokus mereka bergeser pada aspek teknis, seperti aroma kompleks wine atau teknik pengambilan gambar dalam film, daripada pengalaman afektif mereka terlarut dalam rasa, suasana, dan emosi. Alih-alih merasakan keindahan secara langsung, mereka cenderung menganalisis dan mengevaluasi, sehingga pengalaman emosionalnya menjadi tumpul. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat keahlian seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan “terpisah” dari keterlibatan emosional spontan karena pikirannya terlalu sibuk mengurai secara rasional apa yang sedang ia alami. Selain itu, emotional numbness juga muncul sebagai respons defensif terhadap tekanan emosional yang besar, seperti trauma atau penolakan sosial. Dalam kondisi ini, tubuh dan pikiran secara otomatis mengaktifkan mekanisme perlindungan psikologis yang bertujuan untuk meredam rasa sakit emosional yang ekstrem. DeWall, Baumeister, dan Masicampo (2008) menunjukkan bahwa eksklusi atau penolakan sosial dapat memicu kondisi numbness yang mirip analgesia emosional, di mana individu menjadi tidak responsif terhadap rasa sakit emosional maupun fisik.
Lebih lanjut, mati rasa emosional menciptakan ketegangan batin karena munculnya disonansi antara ekspektasi afektif, seperti kesedihan saat kehilangan atau kebahagiaan saat meraih sesuatu dengan kenyataan bahwa tubuh dan emosi tidak merespons. Ketidaksesuaian ini memunculkan jarak antara pikiran dan pengalaman tubuh (persepsi somatik), yang sering kali dirasakan sebagai kehampaan fisik, seperti rasa kosong di dada atau perut (D’Agostino et al., 2020). Lebih jauh, kondisi ini menyentuh dimensi eksistensial yang mencakup di mana seseorang kehilangan makna hidup dan keutuhan diri. Ketika seseorang tidak lagi mampu merasakan apapun, muncul pertanyaan mendasar tentang “Siapa saya jika saya tidak bisa merasakan apapun?”, yang menandakan bahwa emotional numbness bukan sekadar gejala psikologis, tetapi krisis keberadaan yang menyentuh inti diri manusia.
Dampak psikologis dan sosial dari emotional numbness sangat luas. Pada tingkat personal, kondisi ini dapat menyebabkan krisis identitas, mengganggu hubungan sosial karena menurunnya empati, dan meningkatkan risiko perilaku merusak diri, seperti nonsuicidal self-injury (D’Agostino et al., 2020). Dalam konteks relasi interpersonal, emotional numbness juga merusak keintiman emosional dan komunikasi dalam hubungan, menjadikan pasangan hidup tampak seperti sekadar “Teman serumah” tanpa ikatan batin (Kim, 2025).
Penting untuk membedakan emotional numbness dari depresi dan banalitas. Dalam konteks depresi, dibedakan dua bentuk yaitu anaclitic depression, yang ditandai oleh emptiness dan intoleransi terhadap kesendirian, berbeda dengan melancholic depression yang lebih didominasi oleh rasa bersalah (D’Agostino et al., 2020). Meski keduanya bisa tampak seperti mati rasa, emotional numbness berbeda karena tidak selalu melibatkan perasaan sedih atau bersalah secara aktif. Seseorang yang mengalami emotional numbness bisa terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sesungguhnya mereka mengalami ketidakmampuan internal untuk merespons secara emosional. Hal ini bukan karena merasakan emosi terlalu banyak, tetapi justru karena tidak bisa ”merasakan” sama sekali. Ini adalah defisit afektif, bukan dominasi afek negatif seperti pada depresi. Di sisi lain, banalitas atau banality lebih mengacu pada kedangkalan makna dalam aktivitas sehari-hari. Seseorang yang mengalami banalitas menjalani hidupnya secara otomatis, tanpa refleksi atau kesadaran mendalam akan apa yang sedang dilakukan. Aktivitas yang dijalani seperti “mengisi waktu”, bukan karena bermakna atau memuaskan. Konsep ini sering kali bersifat eksistensial dan tidak selalu memunculkan ketidaknyamanan secara afektif. Berbeda dengan kebosanan yang memicu keinginan untuk berpindah ke situasi yang lebih menarik, banalitas justru menandakan keterjebakan pada rutinitas yang kehilangan kedalaman dan refleksi, sering kali dijalani secara otomatis dan tanpa kesadaran penuh (Roberts, 2018). Dengan demikian, emotional numbness adalah hambatan internal terhadap keterhubungan afektif, sedangkan banalitas adalah kehilangan makna dalam keberulangan hidup yang tidak dipertanyakan. Keduanya sama-sama menciptakan keterputusan dari pengalaman hidup, tetapi berasal dari mekanisme yang berbeda.
Dalam upaya pemulihan, terdapat berbagai pendekatan yang dapat digunakan. Salah satu cara efektif dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, karena berolahraga dapat meningkatkan zat kimia otak seperti enkephalin yang membantu mengembalikan kemampuan untuk merasakan emosi (Killian, 2023). Teknik grounding seperti teknik pernapasan mendalam, observasi apa yang dilihat dan dirasakan, atau menikmati teh hangat secara sadar terbukti membantu mengembalikan kesadaran terhadap tubuh. Selain itu, penggunaan media fiktif seperti film atau musik emosional dapat berfungsi sebagai sarana katarsis. Penting juga untuk berinteraksi sosial; berbicara dengan orang yang dipercaya bisa membantu membangun kembali koneksi emosional (Killian, 2023). Namun, jika numbness berakar dari trauma mendalam, maka bantuan dari terapis profesional sangat diperlukan, seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Acceptance and Commitment Therapy (ACT).
Dengan demikian, mati rasa emosional adalah fenomena kompleks yang mencerminkan interaksi dinamis antara tubuh, pikiran, dan lingkungan sosial. Untuk mengatasinya, diperlukan pemahaman menyeluruh (baik biologis, psikologis, maupun sosial) dan pendekatan yang terintegrasi (seperti olahraga, teknik pernapasan, atau membangun hubungan sosial). Ketika seseorang berani membuka diri secara emosional lagi, ia akan memberikan dirinya peluang untuk menjalani hidup yang lebih lengkap dan bermakna.
Penulis
Bernadheta Manna Sukmaningrum / Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2021
Penyunting
Maria Gracia Aprilianova (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Daftar Acuan
D’Agostino, A., Pepi, R., Monti, M. R., & Starcevic, V. (2020). The feeling of emptiness: a review of a complex subjective experience. Harvard review of psychiatry, 28(5), 287-295.
DeWall, C. N., Baumeister, R. F., & Masicampo, E. J. (2008). Rejection: Resolving the paradox of emotional numbness after exclusion. Emotion, 8(5), 651–654.
Killian, K. D. (2023, December 19). (Un)comfortably numb: 5 ways to alleviate emotional numbing. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/intersections/202312/uncomfortably-numb-5-ways-to-alleviate-emotional-numbing
Kim, J. (2025). How emotional numbness steals your relationship. The Angry Therapist Blog. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-angry-therapist/202503/how-emotional-numbness-steals-your-relationship
Roberts, T. (2019). Feeling nothing: Numbness and emotional absence. European journal of philosophy, 27(1), 187-198.
Rocklage, M. D., Rucker, D. D., & Nordgren, L. F. (2021). Emotionally numb: Expertise dulls consumer experience. Journal of Consumer Research, 48(3), 355-373.
Sumber Gambar
Kotik, K. (n.d.). Arte Inspo [Pinterest pin]. Pinterest. Retrieved April 25, 2025, from https://id.pinterest.com/pin/1106337464716618619/