Benarkah Menangis selalu Berhubungan dengan Kesedihan?
Kapan terakhir kali Anda menangis? Apakah ada manusia di dunia ini yang belum pernah menangis? Semua manusia pasti pernah menangis, ya! Menangis merupakan respon pertama yang kita keluarkan ketika kita lahir di dunia ini. Kemudian, tangisan juga menjadi sarana kita untuk berkomunikasi dengan orang tua ketika kita masih bayi. Semakin dewasa, tangisan yang kita keluarkan lebih sering dikaitkan dengan kesedihan. Menangis karena jatuh dari sepeda untuk pertama kali, menangis karena takut pergi ke sekolah, menangis karena mendapatkan nilai yang buruk, menangis karena gagal mendapatkan apa yang kita inginkan, menangis karena putus cinta, atau bahkan menangis karena menonton film sedih. Akan tetapi, apakah menangis selalu berkaitan dengan hal-hal yang menyedihkan?
Menangis adalah peristiwa universal yang dialami oleh seluruh manusia (Vingerhoets & Bylsma, 2007). Ketika kita menangis, kita pasti akan mengeluarkan air mata. Ada tiga jenis air mata yang dapat membantu kita untuk mengategorikan tangisan yang kita alami. Pertama, basal tears atau air mata basal, yaitu air mata yang muncul atau keluar dengan tujuan untuk melumasi atau memberikan nutrisi pada kornea mata kita dan berfungsi untuk menjaga agar mata manusia tetap bersih dan terhindar dari debu ataupun infeksi bakteri (Murube, 2009). Selanjutnya, ada reflex tears, yaitu air mata yang berfungsi untuk melindungi mata manusia dari kerusakan fisik dan kimia. Misalnya, ketika kita menuangkan obat tetes mata, pasti kita akan mengeluarkan air mata (Murube, 2009). Air mata yang keluar akibat obat inilah yang disebut sebagai reflex tears. Kemudian, jenis air mata yang terakhir adalah emotional tears. Air mata inilah yang sering keluar karena dipicu oleh berbagai macam hal.
Ada berbagai macam alasan yang menyebabkan seseorang menangis, salah satunya adalah karena adanya perasaan tidak berdaya (Miceli & Castelfranchi, 2003). Menurut Miceli dan Castelfranchi (2003), alasan dasar mengapa seseorang menangis adalah karena mereka merasa tidak berdaya. Adanya perasaan frustrasi, menderita serta tidak percaya pada kemampuan sendiri dapat memperkuat perasaan tidak berdaya yang dimiliki seseorang, sehingga hal ini dapat menjadi salah satu dari penyebab menangis (Miceli & Castelfranchi, 2003). Selain karena ketidakberdayaan, Miceli dan Castelfranchi (2003) juga mengungkapkan penyebab lain dari menangis yang diakibatkan oleh physical pain, kehilangan atau perpisahan, kegagalan, marah, dan perasaan bersalah. Tidak hanya itu, seseorang bisa menangis karena membutuhkan bantuan atau dukungan dari orang lain, dan/atau karena bersimpati dengan orang lain.
Meskipun menangis sering dikaitkan dengan emosi sedih atau disebabkan oleh peristiwa negatif seperti menerima penolakan, berduka, dan lain sebagainya, ternyata menangis juga dapat disebabkan karena peristiwa positif atau bahagia (Frome, 2014; Wągrowska & Wróbel, 2022). Penelitian yang dilakukan oleh Zickfeld et al. (2021) juga berhasil menunjukkan bahwa emotional tears tidak selalu disebabkan oleh penyebab negatif tapi juga memiliki penyebab positif. Dalam banyak penelitian, air mata atau tangisan yang disebabkan karena emosi atau hal positif disebut sebagai happy tears atau crying for joy atau tears of joy (Miceli & Castelfranchi, 2003; Luong et al., 2010; Sreenivasan & Welnberger, 2017). Happy tears dapat terjadi ketika seseorang merasa lega atau terbebas dari peristiwa kompleks yang penuh dengan ketidakpastian. Peristiwa kompleks yang memicu ketidakpastian dan berbagai macam emosi negatif ini dapat memberikan hasil positif dan kelegaan yang sejalan dengan harapan positif seseorang, sehingga hal ini dapat memicu seseorang untuk menangis dalam kondisi bahagia (crying for joy) (Miceli & Castelfranchi, 2003). Selain itu, happy tears juga bisa terjadi selama seseorang mengalami peristiwa mendalam ketika dewasa, misalnya ketika seseorang memprioritaskan hubungan sosial dan memilih fokus pada kualitas hubungan yang ia miliki (Luong et al., 2010; Sreenivasan & Welnberger, 2017).
“Menangis hanya untuk orang lemah,” “Gak ada gunanya menangis, jangan buang-buang waktu kamu untuk menangis”. Apakah kamu familiar dengan ungkapan-ungkapan seperti itu? Masih banyak anggapan kalau menangis tidak memiliki manfaat dan hanya membuang-buang waktu atau energi yang kita miliki, tetapi ternyata penelitian berhasil membuktikan bahwa menangis memiliki manfaat tersendiri, loh! Menurut Miceli dan Castelfranchi (2003), menangis dapat membantu individu untuk melepaskan atau mengurangi ketegangan yang dihasilkan oleh suatu emosi. Pendapat ini secara tidak langsung juga didukung oleh pernyataan Vingerhoets dan Bylsma (2007) yang mengungkapkan bahwa menangis adalah salah satu mekanisme koping yang dapat membantu individu dalam mengatasi stres.
Selain bermanfaat untuk meredakan tekanan dari emosi yang kita rasakan, menangis juga dapat menjadi salah satu cara untuk berkomunikasi. Ketika kita masih berada di tahap perkembangan bayi, satu-satunya cara yang kita gunakan untuk berkomunikasi adalah dengan menangis. Dalam teori perkembangan, bayi menggunakan tangisan sebagai bentuk komunikasi ketika dia membutuhkan bantuan, dukungan ataupun perlindungan, yang mana hal ini tentu saja akan mempengaruhi tumbuh kembang anak (Miceli & Castelfranchi, 2003). Ketika beranjak dewasa, tangisan juga dapat diartikan sebagai bentuk, ungkapan atau sarana manusia dalam meminta pertolongan dan/atau dukungan dari orang lain, bahkan terkadang orang dewasa menggunakan tangisan untuk mencari rasa nyaman dan aman (Miceli & Castelfranchi, 2003). Terakhir, menangis juga dapat membantu untuk mendetoksifikasi tubuh melalui reflex tears atau basal tears.
Pada dasarnya, menangis memang merupakan respon alami atau peristiwa alami yang terjadi pada manusia. We all need to cry sometimes and crying does not mean that a person is weak, but it means that a person has a heart.
Penulis
Angelica Vania Aruna Nismara / Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2021
Penyunting
Hapsari Gagana Atitasitala (Asisten P2TKP Angkatan 2024)
Daftar Acuan
Frome, J. (2014). Melodrama and the Psychology of Tears. Projections, 8(1), 23-40.
Legg, T. J. (2017). 9 benefits of crying and why it’s good and when to get help. Healthline. https://www.healthline.com/health/benefits-of-crying#emotionalbalance
Luong, G., Charles, S. T., & Fingerman, K. L. (2010). Better with age: Social relationships across adulthood. Journal of Social and Personal Relationships, 28, 9–23. https://doi.org/10.1177/0265407510391362
Miceli, M., & Castelfranchi, C. (2003). Crying: Discussing its basic reasons and uses. New ideas in Psychology, 21(3), 247-273.
Murube, J. (2009). Basal, reflex, and psycho-emotional tears. The Ocular Surface, 7, 60–66. https://doi.org/10.1016/s1542-0124(12)70296-3
Newhouse, L. (2021). Is crying good for you? Harvard Health. https://www.health.harvard.edu/blog/is-crying-good-for-you-2021030122020
Sreenivasan, S. & Welnberger, L. E. (2017). Tears of pain and tears of joy: Is crying a healthy behavior?. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/emotional-nourishment/201703/tears-pain-and-tears-joy
Vingerhoets, A., & Bylsma, L. (2007). Crying as a multifaceted health psychology conceptualisation: crying as coping, risk factor, and symptom. European Health Psychologist, 9(4), 68-74
Wągrowska, J., & Wróbel, M. (2022). What Makes People Cry? A Preliminary Analysis of Situations that Evoke Emotional Tears. Roczniki Psychologiczne, 25(4), 277-307.
Zickfeld, J. H., et al. (2021). Tears trigger the intention to offer social support: A systematic investigation of the interpersonal effects of emotional crying across 41 countries. Journal of Experimental Social Psychology, 95, 1–24. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2021.104137
Sumber Gambar
Knight, Charlotte. (2021, 11 November). A man holding his hands to his face. Unsplash. https://unsplash.com/photos/a-man-holding-his-hands-to-his-face-aUw2sgqnG9s